
Begitulah pengalaman libur akhir tahun mereka. Tidak ada kegiatan yang mereka lakukan bersama sepulang dari sana. Masing-masing sibuk menikmati hari liburnya bersama keluarga.
Sekolah sudah masuk kembali dan sudah berlangsung cukup lama. Kegiatan membolos juga masih sering mereka lakukan. Istilahnya mabal, walau sudah ada peringatan dan sebentar lagi akan ujian, mereka tetap saja membolos bahkan pada saat try out juga.
Cak, daripada terus saja membolos, lebih baik jangan masuk ke area sekolah dan langsung ke tempat yang diinginkan. Tapi entah apa maunya bocah goblok itu, masuk ke sekolah lalu berusaha mencari jalan keluar membuat ribet dirinya saja.
Hari ini adalah hari libur, Sinta sedang berada di ruang tamu dan tengah duduk berhadapan bersama Brian. Mereka asyik membicarakan acara kelulusan yang tinggal menunggu hitungan minggu saja.
"Brian, aku akan ikut juga bersama Ibu, aku tak sabar melihat saat-saat dirimu dipanggil sebagai juara umum." Ucap Sinta yang sebenarnya sedang menyindir.
"Jangankan juara umum Sinta, juara kelas saja aku tidak pernah mendapatkannya." Tutur Brian seadanya.
"Jangan rendah hati begitu, aku tau kau itu sedang menyembunyikan bakatmu. Oh ya, siapa yang akan menjadi pengantinnya? Bukan kau kan?" Sinta menatap serius ke arah Brian.
Satu tahun lalu ia baru mengetahui kalau ada adat seperti itu pada acara kelulusan di negara ini. Ia mengetahuinya waktu ia datang ke acara kenaikan kelasnya Raffa.
"Ya bukan, aku bilang juga aku tidak berprestasi. Yang jadi pengantinnya hanya orang pintar saja." Jawab Brian.
"Bagus kalau begitu."
Sinta merasa lega karena pacarnya yang tampan ini tidak diikutsertakan dalam acara itu. Ia tak rela jika Brian bersanding dengan wanita lain seperti sepasang pengantin meskipun itu hanya bohongan.
"Kau sudah menyiapkan pakaiannya? Mana? Aku ingin lihat." Ucap Sinta penasaran.
"Kainnya sudah ada, tapi belum dijahit."
Brian sudah mendapatkan beberapa meter kain batik, satu kelas sepakat untuk memakai pakaian yang seragam. Pria hanya mendapat batiknya saja, sedangkan wanita mendapat kain polosnya juga.
"Hah? Kenapa? Tukang jahit juga pasti sedang sibuk-sibuknya." Mengingat acara kelulusan, Sinta tahu di bulan ini pasti permintaan menjahit sedang sangat meningkat.
__ADS_1
"Ibu yang mau jahit kok Nak Sinta, jadi santai saja. Kamu juga mau bikin baju yang samaan kayak Brian gak? Kainnya sih memang kurang kalau dibagi dua, tapi kita kreasikan saja."
Ibu ikut duduk dan nimrung. Ia memang sengaja menunda karena tahu bahwa Sinta juga akan ikut ke acaranya. Barangkali Sinta ingin memakai pakaian yang sama dan mengabadikannya.
Sontak Sinta menyetujuinya, ia begitu sangat senang bisa memiliki pakaian yang serasi dengan Brian. Walaupun kain itu seragam satu kelas, tapi Sinta tidak memedulikannya.
Sinta tidak menyangka Ibu bisa menjahit juga, ia belum pernah melihat adanya mesin jahit di rumah sana. Ibu memang menyimpannya di dalam kamar, lebih tepatnya di ruangan khusus menjahit yang hanya bisa dimasuki lewat kamarnya.
"Sekarang kita ukur dulu, Ibu mau catat juga kain tambahannya." Ibu sudah siap dengan meteran dan alat tulisnya.
Mula-mula, Ibu mengukur tubuh Brian, ia hanya akan membuat atasan saja. Untuk bawahan, katanya Brian akan memakai celana jeans, jadi tidak perlu menjahit lagi.
"Bu, Sinta gendut ya?" Ucap Sinta saat giliran dirinya yang sedang diukur.
"Nggak, kok kamu bilang gitu?" Tanya Ibu heran.
Brian yang memang berkata seperti itu langsung merasa malu. Apalagi Ibu terlihat menatapnya. Sinta ini memang comel, ia tak ragu berkata yang sejujurnya.
Diantara keluarga Sinta memang tidak ada yang pipinya tembem. Dari sana memang tidak ada genetiknya. Padahal, pipi Sinta hanya gembung sedikit saja. Ia memang suka ngemil, tak heran badannya juga terlihat montok.
"Bukan gendut, kamu itu sehat. Pipi kamu itu justru yang menarik perhatian. Gemes, Ibu pengen nyubit."
"Hehe.. aku cuma bercanda kok Bu." Brian menarik kata-katanya.
Ibu melihat ukuran tubuh Sinta yang memang lebih lebar daripada dirinya. Jelas berbeda karena Ibu sering berolahraga. Sedangkan Sinta, paling hanya di sekolah pas waktu pelajaran olahraga saja. Meski begitu Sinta tetap terlihat normal dan cantik.
Selesai mengukur, Ibu langsung mengajak keduanya untuk membeli bahan yang dibutuhkan. Tambahan kain polos serta pernak-pernik lain seperti kancing dan hiasan yang mungkin ingin mereka pilih sendiri.
Brian tak ingin ikut, ia tak mau ribet dan menyerahkan saja semuanya kepada Ibu. Sementara Ibu dan Sinta pergi, dirinya pergi ke kamar dan duduk di belakang meja belajar.
__ADS_1
Buku prediksi UN sudah ia dapatkan. Harganya lumayan mahal, buku itu tebal dan berjumlah 4 buah mata pelajaran. Di dalamnya memuat banyak materi beserta soal-soal. Brian lupa materi apa saja ini, jika dilihat-lihat.. mungkin ini merangkum materi dari kelas 1 hingga ke kelas 3.
"Ini mana muat di otak gue. Soal mana sih yang bakalan muncul?" Brian belajar sambil terus mengeluh.
Kenapa guru tidak memberikan kisi-kisi yang pasti? Soal UN tidak mungkin akan sebanyak ini. Begitu pikir Brian merasa geram saat belajar.
Jika dihitung dalam 1 buku prediksi, soal bisa mencapai ratusan buah banyaknya. Melihatnya saja Brian merasa kewalahan, tapi ini satu-satunya media praktis yang bisa ia pelajari.
Hanya satu pelajaran yang ia pelajari dengan senang hati. Belajarnya tidak pusing dan terasa begitu mengasyikkan. Bahasa Inggris, banyak kosa kata yang membuatnya penasaran dengan apa isi artinya.
Dialog-dialog juga bisa ia praktekan. Walau hanya mengerti sebagian, dan pelafalannya juga masih belum benar, tapi rasanya begitu asyik saat dibaca.
Di dalam mulut memang terasa berbelit-belit, Brian memanfaatkannya sebagai olahraga lidah. Lama-kelamaan lidahnya pasti akan fleksibel juga. Ia termotivasi ingin menguasai Bahasa Inggris karena itu adalah sesuatu yang bisa ia banggakan menurutnya.
Jam berlalu terasa singkat, mereka yang tadi keluar sekarang sudah kembali pulang. Brian yang sekarang tengah memegang ponsel segera menghampiri mereka ke lantai bawah. Ia memang sudah dipanggil oleh Ibu sebelumnya.
"Brian, punya kamu gak papa kan digabungin sama yang polos ini? Biar Sinta kebagian kain batiknya." Tanya Ibu menunjukkan kain yang sudah dibelinya.
"Bikin aja Bu." Sekali lagi Brian tidak mau ribet.
Meskipun ia yakin siswa lain hanya akan menjahit baju dengan kain batiknya saja, tapi tak masalah jika ia berbeda sendiri. Lagipula kelas bilang modelnya harus berbeda-beda dan Sinta juga kelihatannya begitu senang.
Model pakaian Brian tentunya simpel, berbeda dengan model pakaian wanita. Ibu menunjukkan model pakaian yang ada pada ponselnya kepada Sinta. Ia memang sudah mengoleksi banyak model yang bagus-bagus.
"Sinta mau yang ini aja Bu, cocok tidak?" Ucap Sinta memilih sebuah gambar.
"Bagus, mau yang mana saja kamu cocok Sinta." Ibu menandai gambar itu agar tidak lupa.
Semua model terlihat bagus dan pastinya akan bagus juga jika wanita cantik yang memakainya. Keputusan sudah dipilih, Ibu sudah bisa memulai kegiatan jahit menjahitnya.
__ADS_1