
Kisah kehidupan Wendy, Yuna sudah lama mengetahuinya. Hal itu ia ketahui sebelum dirinya meminta bantuan kepada Brian. Di bangku yang terletak dengan para pria itu, ia mendengar samar-samar setiap obrolan yang tengah mereka obrolkan.
Ya, terkadang mereka mengobrol di dalam kelas. Tak habis-habis setiap hari mereka luput dari obrolan. Walau yang didengarnya itu hanya sepatah, tapi Yuna menyambungkan apa yang didapatnya dan menyusunnya menjadi sebuah rentetan yang masuk akal.
Mungkin, Wendy bersikap nakal karena frustasi dengan kehidupannya. Yuna di sini ingin meluruskan kehidupan Wendy. Ia tahu di balik sikapnya yang acuh, Wendy menyimpan sendu yang ingin segera ia lupakan.
'Ya ampun! Apa Wendy tahu obat mana yang harus ia makan? Kalau salah obat bagaimana?!'
Yuna baru teringat sesuatu, ia membeli banyak jenis obat dari apotik karena tidak tahu Wendy sakit apa. Diantara obat itu banyak yang tidak disebutkan indikasi dan juga efeknya. Yuna pun hendak kembali lagi tapi sebelum itu ia menyuruh Wita.
"Wita, tadi aku lupa menjelaskan obat-obatnya. Apa kau mau menjelaskannya ke kamar Wendy? Tadi Wendy bilang dia juga ingin bertemu denganmu."
Sebelum pergi ke kamar Wendy tadi, Yuna meminta izin terlebih dahulu kepada Wita. Wita juga tahu bahwa Yuna sudah membelikan pacarnya itu obat, ia sama sekali tidak risih, justru itu bagus karena dirinya tidak perlu repot angkat kaki.
3 hari tak mendapat perhatian Wita selama sakit, Yuna pikir Wendy juga belum diberi obat. Menurut Sinta, para pria itu sama sekali tidak membawa bekal obat-obatan. Hal itu membuat Yuna tak gentar membeli stok obat yang sangat lengkap.
"Alah, lu aja gih yang jelasin. Capek gue harus naik turun tangga." Wita masih fokus ke layar ponsel.
"Mm.. baiklah. Di sana juga ada Brian dan yang lainnya. Jadi kau tidak perlu khawatir." Yuna menjelaskan karena takut dikira sengaja ingin berduaan dengan pacar orang.
Kembali Yuna menaiki anak tangga seorang diri. Ia tak ingin merepotkan orang lain yang tidak memiliki urusan sama sekali dengan Wendy. Para wanita yang ada di bawah membiarkannya, mereka pikir ini kesempatan bagi Yuna untuk bisa akrab lebih jauh bersama Wendy.
'Bagaimana kalau Wendy menyalahgunakan obatnya?!'
Masih menaiki anak tangga, Yuna menduga bahwa Wendy akan menggunakan obat itu untuk mabuk-mabukan. Apalagi obatnya banyak, Yuna pun segera mempercepat langkah kakinya. Sejujurnya ia agak enggan pergi ke lantai atas, mengingat di sana dihuni oleh banyaknya kaum pria.
Pintu masih terbuka, Yuna yakin bahwa di sana masih ada yang lain juga. Namun ternyata, yang ia lihat hanyalah Anang. Yuna sudah berusaha untuk bersikap biasa kepada Anang meskipun tak tau apa sekarang isi hati Anang.
"Kok balik lagi?" Tanya Anang yang tengah memegang kipas di kamar itu, sepertinya ia akan menggugatnya.
"Aku lupa menjelaskan obatnya. Yang lainnya di mana?" Tanya Yuna.
__ADS_1
"Ohh.. lagi di kamar. Bangunin aja tuh, aku mau balik lagi soalnya. Jangan lupa tutup pintunya."
Anang berlalu sambil membawa kipas yang ada di sana. Wendy sedang tidur, Yuna tidak ingin mengganggunya. Ia juga tak ingin kembali ke bawah karena belum memeriksa obat-obatan yang ia tinggalkan. Dan lagi, ia tak tahu kapan Wendy akan terbangun. Kalaupun ia kembali ke bawah, ia harus meminta izin lagi jika hendak pergi ke atas. Jika Wendy belum bangun juga, maka ia harus meminta izin berkali-kali.
Yuna memutuskan untuk masuk ke dalam, ia yakin Wendy tidak bisa berbuat macam-macam dengan tubuhnya yang terlihat lemah itu. Kemudian ia menutup rapat daun pintunya. Tidak enak jika Wendy yang sedang sakit ini dipertontonkan kepada penghuni kamar lain. Dirinya juga takut dikira yang tidak-tidak, jadi ia mencoba bersembunyi seakan tidak pernah masuk ke dalam sini.
'Sepertinya semua masih utuh. Wendy mungkin tidak tahu yang mana obatnya.'
Obat-obatan dalam kantong kresek tadi masih lengkap dan belum ada yang dibuka sama sekali. Yuna pikir Wendy memang tidak tahu yang mana yang harus ia minum, tapi sebenarnya Wendy mengabaikan obat itu dan langsung beristirahat.
Bukannya tidak menghargai obat pemberian Yuna, kepalanya berat dan ingin segera diistirahatkan. Wendy lupa bahwa dirinya harus meminum obat terlebih dahulu.
Sambil menunggu Wendy bangun, Yuna duduk di atas tikar sembari mencari informasi tentang obat-obatan itu pada search engine di ponselnya.
Semua keterangan sudah ia dapatkan, namun ia masih melihat Wendy terbaring di atas sana. Ia tak ingin berdiam terlalu lama, teman-temannya di bawah bisa-bisa nanti curiga. Seperti perintah Anang, Yuna pun berniat untuk membangunkannya.
"Wendy.. Wendy.." ucap Yuna pelan sambil menggoncangkan tangan Wendy.
Jaket dan kupluk tebal berwarna hitam menyelimuti tubuhnya itu. Ia juga diselimuti oleh sebuah kain tipis. Siang-siang begini, Apa Wendy tidak merasa panas?
Yuna merasa ragu, tapi sekarang ia beralih menyentuh tubuh Wendy untuk menggoncang-goncangkannya.
"Wendy.." ucap Yuna masih dengan suara yang pelan.
"Hhh? Ada apa? Uhuk.. uhuk.." akhrinya Wendy terbangun juga. Kepalanya masih terasa berat, ia melihat Yuna dengan mata yang masih buram.
"Kau belum meminum obatnya?" Tanya Yuna.
"Oh, belum. Aku lupa."
Wendy yang baru saja bangun itu pasti masih linglung dan tidak akan menyerap perkataan Yuna dengan baik. Yuna pun mengambilkan segelas air agar Wendy bisa lebih merasa segar.
__ADS_1
'Ukhh.. susah.' Yuna tengah memegang kepala galon.
Tidak ada dispenser, mereka hanya membeli galon isi ulang dan melubangi tutupnya untuk dituangkan. Para wanita biasanya membeli air kemasan botol, Yuna sendiri cukup dengan 1 botol sehari saja.
'Ngangkat galon aja gak bisa, dia pake repot segala.'
Wendy melihat Yuna berhasil menumbangkan galon itu dan menuangkannya. Namun, airnya banyak berceceran. Wendy juga merasa risih mendapat perhatian dari Yuna, ia takut Yuna akan membuat hubungannya dengan Wita menjadi kacau.
"Ini, kau harus banyak minum." Ucap Yuna sambil menyerahkan segelas air. Ia sudah mengelap air tumpah ulahnya tadi.
"Uhuk.. uhuk.." Wendy menerima air itu dan lantas meminumnya.
'Wendy bilang dia kedinginan, lalu aku harus memberinya apa?' Yuna bingung memberi obat yang mana.
"Wendy, apa aku boleh memeriksa tubumu sebentar? Aku tidak bawa termometer soalnya." Ucap Yuna meminta izin, ia tak yakin dengan apa yang Wendy katakan.
Wendy meng iya kan, Yuna lantas menjulurkan tangannya untuk memeriksa suhu di kening Wendy. Rambut Wendy begitu tebal, hampir menutupi seluruh keningnya. Yuna pun menyiahkan rambut gondrong itu, sekilas seperti tengah mengelusnya.
Sementara tangan kirinya memegang rambut, tangan kanannya dibolak-balikkan merasakan suhu di kening Wendy. Rasanya panas, bukan dingin, Wendy pasti salah dengan perkataannya.
"Tubuhmu panas Wendy, kau demam." Ucap Yuna mengambil kesimpulan.
"Uhuk.. uhuk.. dingin.. emang sih kalau gini berasa panas, tapi kalau pegang kaki itu rasanya dingin." Wendy menyentuh wajahnya yang terasa panas.
Yuna pun sedikit menyibakkan ujung kain tipis yang digunakan Wendy untuk menyelimuti tubuhnya. Ia menyentuh telapak kaki Wendy, dan jelas rasanya dingin, sama seperti yang Wendy katakan.
Berlalih ke tangan, Yuna merasakan suhu yang terasa panas. Mungkin karena Wendy hanya menggunakan kain tipis, jadi kakinya itu kedinginan.
"Nanti aku ambilkan selimut untukmu. Sebelum itu kau harus minum obatnya dulu, aku masih ingat resep obat yang bisa dikonsumsi bersamaan."
Bungkus obat itu Yuna buka dan berikan kepada Wendy. Ia menyimpan obat yang harus Wendy minum dan mengambil kembali obat yang tidak diperlukan. Tiga kali sehari, Yuna mengingatkan hal itu kepada Wendy.
__ADS_1
'Kayak dokter aja.' Gumam Wendy menyimak penjelasan Yuna.
Kembali Wendy berbaring setelah kepergian Yuna. Tak lama Yuna kembali dan menyelimutkan selimut bulu miliknya sendiri.