Kosong

Kosong
Surprise!


__ADS_3

Pukul 4 dini hari Brian sampai di rumahnya. Ia lelah, namun tak bisa beristirahat, dirinya langsung menelpon nomor telepon Yuna.


Nada tunggu terus berbunyi, tidak ada jawaban sama sekali. Bahkan, saat Brian hendak memanggil yang ke sekian kali, nomornya tidak terhubung lagi.


Diblokir, nomor Brian sudah diblokir oleh Yuna. Brian amat sangat kesal, ia tak tahu apa maksud jelas tujuan Yuna melaporkan pacarnya sendiri ke dalam sel tahanan penjara.


Jika dihitung, sudah hampir setahun Wendy dan Yuna memiliki hubungan, entah ada masalah apa Brian sama sekali tidak mengetahuinya.


Pukul 6 Brian segera mandi dan bersiap, dirinya sudah berjanji akan menemui Yuna secara langsung bersama Anang dan Gilang.


Semantara itu, di tempat Sinta.


Sinta yang berada di kamarnya itu melihat jendela kamar Brian yang nampak tengah terbuka. Sekilas ia melihat sosok serba hitam berjalan lalu menghilang.


Sinta terkejut, ia tak tahu apakah itu adalah penampakan kah? Maling kah? Ataukah Brian sendiri. Sinta segera memastikan dengan langsung mengirim Brian pesan.


Brian berjalan ke depan rumahnya untuk segera berangkat. Ia sudah tak punya motor lagi, motornya ia jual sebab tak mungkin membiarkannya berkarat kedinginan tanpa gesekan.


Balik lagi ke Sinta.


Sinta yang penasaran sudah sedari tadi keluar rumah. Ia mengamati keadaan rumahnya Brian dari arah samping pagar. Tiba-tiba ia melihat sosok hitam tadi muncul dan berjalan menuju arah gerbang. Perlahan Sinta mengiringi langkahnya seraya memperhatikan.


Sosok celana hitam berhoodie hitam. Dari kupluknya, menyembul jambul berwarna kuning terang, Sinta langsung mempercepat langkahnya dengan wajah senang, ia berbelok di tikungan kemudian berlari menuju sosok yang sudah di luar gerbang.


"Briannn!" Teriak Sinta, dan langsung memeluk Brian.


"Brian, kenapa kau datang tanpa mengabariku? Haa Brian, aku sangat rindu kepadamuu!" Sinta mempererat pelukan dan membenamkan wajahnya di dada Brian.


"Ah aku tahu! Kau pasti hendak memberikan kejutan untukku kan? Aku sudah menduga kau tak akan melupakan janji itu!"

__ADS_1


Sinta menengadah, ia amat sangat berbahagia. Brian memang tak datang menghadiri acara wisudanya, tapi sekarang ia datang tanpa bilang dan mengejutkan perasaan Sinta. Namun, tiba-tiba rasa senang Sinta menghilang.


"Aku tidak ada waktu untuk itu Sinta, aku sedang sibuk, kita bicara nanti saja." Brian berusaha melepaskan pelukan Sinta. Ia melihat Anang dan Gilang dari kejauhan.


"Brian? Kau kenapa? Apa sepenting itu? Apa hal itu lebih penting dariku?" Sinta berkaca-kaca.


"Ini menyangkut hidup dan mati Wendy, aku tidak bisa tinggal diam."


Anang dan Gilang akhirnya sampai dengan masing-masing motornya. Sinta dibuat bingung, dan pada akhirnya Brian menjelaskan secara singkat.


"M-mana mungkin Yuna seperti itu Brian! Yuna sering pergi menonton bersamaku, dan sejauh ini semuanya baik-baik saja. Lihat, aku akan coba menghubunginya."


Sinta kemudian menelpon Yuna namun teleponnya langsung ditolak. Dan saat itu juga nomor Sinta nampak diblokir oleh Yuna.


"Y-Yuna?" Sinta terkejut tidak percaya.


"Sudah jelas kan? Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Sekarang lebih baik kau kembali, aku akan segera menyelesaikannya."


Ketiga pria itu langsung pergi ke rumah Yuna, namun baru saja sampai, mereka malah diusir oleh bapak penjaga rumah.


"Cewek sialan! Gak berani keluar dia!" Brian berdecak kesal, ketiganya hanya bisa diam di ujung jalan.


"Dah Yan, kita tunggu aja dulu di sini, ini juga emang salah Si Wendy, tapi gue harap Si Yuna bisa cabut tuntutannya."


Anang yang biasanya paling ceria bahkan terlihat sangat sendu sekarang. Ia tertekan, melihat nasib teman seperjuangannya akan berakhir secara mengenaskan.


Atas laporan yang diajukan Yuna, Wendy dinyatakan terlibat pada kasus pembunuhan yang terjadi 6 tahun silam. Barang bukti sebuah plat nomor ditemukan di dalam rumahnya, selain itu ada banyak bukti lain yang menunjukkan kasus kejahatan yang berbeda-beda dan kakaknya Wendy langsung terseret dikenai hukuman yang sama.


Keduanya kini tengah mendekam di penjara, menunggu hukuman itu untuk segera tiba. Batang hidung Yuna si pelapor sama sekali belum muncul, ketiganya juga tak punya akses untuk bisa menghubungi Yuna.

__ADS_1


'Kalo gak jelas akar masalahnya, gue gak bisa seenaknya nyuruh orang buat ngebebasin Si Wendy dari penjara. Lu kenapa sih Yuna? Bukannya lu cinta sama Si Wendy? Harusnya lu percaya, kalo Si Wendy bukan orang jahat.'


Brian tak yakin Wendy berbuat hal sekeji itu. Jika masalah lain seperti berkelahi macam hal sepele, ia bisa percaya Wendy melakukannya. Kalau kakaknya Wendy mungkin iya, dan Brian sendiri juga tahu perbedaan sikapnya Wendy dengan kakaknya.


Diintipnya gedung besar yang masih membentang hingga ke tempat mereka berdiam saat ini. Ada inisiatif, untuk Anang menerobos masuk secara diam. Ia berpengalaman memanjat dinding, walau sudah lama tak melakukannya, demi Wendy ia akan mencobanya.


"Terus, cara lu masuk ke dalem gimana?" Tanya Gilang merencanakan.


"Gue bakal masuk langsung ke sana, gue yakin itu pasti kamar Si Yuna." Anang menunjuk ke ruang sudut di lantai 2, ia melihat hiasan warna warni dari balik jendelanya. Ia yakin, itu adalah kamarnya Yuna.


Anang meniti tembok tanaman bunga, dipanjatnya dinding pembatas dengan tinggi 2 meter. Dari atas, ia memberanikan diri untuk melompat ke bawah berharap tidak meninggal di tempat.


"Jeb!"


Mendaratlah Anang tanpa ada tulang yang patah dan terkilir sedikitpun. Melihat Anang selamat dan sehat walafiat, satu per satu dari mereka mulai ikut terjun ke pekarangan. Kemudian salah satu dari mereka naik ke atas pohon yang masih berada di area situ, melihat lebih jelas keadaan ruangan yang sebelumnya mereka tuju.


"Ada Bro, ada. Itu pasti si Yuna! Dia lagi di kamarnya!" Ucap Gilang bertengger di atas pohon.


Segera Anang dan Brian mencari cara agar bisa mencapai tempat Yuna berada. Sebuah pilar yang terhubung langsung ke balkon, mereka berinisiatif untuk segera memanjatnya.


Brian tidak bisa memanjat yang seperti itu, berakhirlah ia membantu Anang untuk memanjat. Anang bukanlah ahli parkour atau spiderman, tapi sekarang ia sudah berhasil naik ke balkon. Diintipnya jendela yang ada di sana, menampakkan sosok yang duduk di atas kasur.


Anang mengecek jendela dan mencoba membukanya. Jendela terbuka dan Anang langsung menerobos masuk. Sosok Yuna kini tengah duduk membelakanginya.


'Ni cewek kalo diajak ngomong baik-baik pasti bakalan heboh.' gumam Anang berdiam sejenak di tempat.


Kemudian Anang mengendap-endap, dan saat sampai di ujung kasur, ia mempercepat pergerakannya untuk segera membekap Yuna.


"Mm! Mmm!!" Yuna terkejut, tubuhnya dikekang erat oleh seorang yang tiba-tiba menyergapnya dari belakang.

__ADS_1


Karena posisi Yuna jauh di tengah kasur, jadi Anang yang menyerang Yuna itu pun langsung ikut rebahan di atas kasur. Keduanya berguling, sambil Anang memeluk erat bagian tubuh Yuna.


__ADS_2