
'A-apa apaan anak SMP ini? Berani-beraninya dia mengajakku untuk berpacaran.'
Sinta yang mendapat pernyataan cinta yang mendadak itu merasa tak nyaman. Mau ditaruh dimana mukanya jika orang-orang tahu bahwa Sinta mengembat laki-laki muda.
"Maaf, aku ada urusan." Sinta langsung pergi meninggalkan Brian sendirian.
Brian yang melihat kepergian Sinta merasa heran. Biasanya para wanita langsung memberikan jawabannya dan tidak meninggalkan dirinya pergi begitu saja. Mungkinkah saat ini penampilannya terlihat buruk?
'Apa rambutku terlihat kusut ya?'
"Rendra, ayo kita masuk. Jangan hiraukan orang yang ada di sana," ucap Sinta kepada pria yang datang bersamanya.
"Y-ya,"
"Sinta, apa dia pacarmu?" Tanya Rendra yang baru saja masuk ke dalam.
"Pacar? Mana mungkin, dia itu anak SMP." Sinta merasa kesal.
"Oh, ku pikir dia seumuran dengan kita." Rendra tak mengira, saat itu Brian memang memiliki tubuh yang tinggi, tetapi masih sedikit kurang jika dibandingkan dengan anak SMA.
*sementara itu di kamar Brian.
"Hahh.. kayaknya gue kudu nanyain ini ke temen-temen gue."
Brian kembali memikirkan ponselnya. Ia rasa, ia sudah tidak bisa lagi meminta bantuan kepada Sinta. Lantas, esoknya, di sekolah Brian menanyakan keberadaan ponselnya itu kepada ketiga temannya. Tapi saat itu mereka sama sekali tidak mengetahui dan tidak melihat dimana saat ini ponsel Brian berada.
Dengan terpaksa ia harus menanyakannya kepada seisi kelas. Dengan sikap yang tidak sopan dan dengan nada yang tinggi, Brian bertanya. Hal itu membuat seisi kelas takut untuk menjawab. Meskipun begitu, tidak ada satupun yang tahu tentang keberadaan ponsel Brian.
Brian akhirnya menyerah dan memilih untuk mengganti ponselnya yang hilang itu. Tapi, uang jajan yang selalu Ibu berikan setiap hari habis dipakainya untuk berfoya-foya.
'Masa gue harus nabung sih? Ngerepotin banget! Pake ilang segala!'
Terpaksa Brian harus mulai menyisihkan sebagian uang jajannya untuk ditabung. Ia tak mau ibunya marah karena telah menghilangkan sebuah ponsel yang harganya lebih dari 4 juta itu.
__ADS_1
Suatu hari, ketika Brian pulang dari sekolah, ia melihat Sinta sedang bersama pria yang bernama Rendra itu. Brian yang melihatnya merasa kesal, ternyata Sinta sama sekali tidak mendengar omongannya yang waktu itu. Dengan cepat, Brian segera keluar lewat pagar samping rumahnya.
"Sinta! Bukankah aku sudah bilang, jangan dekat-dekat dengan laki-laki itu!" Ucap Brian yang saat itu sedang berdiri di dekat pagar rumahnya. Saat itu juga Sinta datang menghampirinya.
"Apa maumu?! Seenaknya saja mengaturku! Memangnya kau ini siapa?!" Sinta merasa kesal.
"Hah? Jadi kau tidak menerima ajakanku yang waktu itu?" Brian tercengang melihat sikap kasar Sinta kepadanya.
"Kau pikir aku menerimanya?! Jangan coba-coba mendekatiku lagi, kau ini masih bocah kencur!"
Sinta pergi meninggalkan Brian dan mengajak Rendra pergi dari tempat itu. Sebagai seorang playboy Brian merasa telah gagal, tapi ia tak ingin menyerah mendapatkan gadis cantik yang rumahnya bersebelahan dengannya itu.
Setiap harinya Brian mencoba mendekati Sinta. Ia selalu menyapa Sinta yang sedang berada di luar rumahnya ataupun di dalam kamarnya.
"Tch! Kenapa mereka membuat jendela kamarku sejajar dengan jendela kamar miliknya!" Sinta merasa kesal, setiap ia membukakan jendela, perasaan tak nyaman terus saja datang menghampirinya.
Rendra temannya Sinta itu tak henti-henti datang berkunjung ke rumahnya Sinta. Tentu saja Brian tidak tinggal diam dan terus mengganggu mereka. Tapi usahanya itu sia-sia. Sinta sama sekali tidak menghiraukan ucapan Brian, dan Rendra pun juga begitu.
Karena merasa ia tak akan bisa mendapatkan Sinta, akhirnya Brian menyerah untuk terus mendekatinya. Ia pikir, Sinta malah akan semakin membencinya jika terus begini.
Sementara itu, Sinta yang sudah tidak melihat lagi kemunculan Brian di depannya merasa heran. Kenapa akhir-akhir ini si kencur sama sekali tidak mengganggunya? Selalunya ia memohon-mohon untuk menjadikan Sinta sebagai pacarnya.
Sinta yang merasa kehilangan itu setiap hari terus menanti-nanti kedatangan Brian. Ia mencoba menyapa kembali Brian yang saat itu tengah berada di jendela kamarnya. Tapi sekarang semua berbalik, Brian sama sekali tidak peduli. Dengan cepat ia menutup kembali jendela kamarnya. Ia tak mau tertipu oleh wanita itu dan kembali memohon-mohon seperti dulu.
Karena merasa bersalah, Sinta ingin mencoba meminta meminta maaf kepada Brian. Ia datang ke rumah Brian dan berbicara kepada ibunya bahwa ia ingin bertemu dengan Brian.
"Brian! Ini ada Nak Sinta datang!" Teriak Ibu dari bawah.
"Biarkan saja Bu," Brian malas menemui Sinta.
"Huhh.. anak itu. Ah, ya sudah kita langsung ke kamarnya saja yuk Nak Sinta."
Ibu membawa Sinta untuk menemui Brian langsung ke kamarnya.
__ADS_1
"Brian, ini Nak Sinta datang. Katanya dia mau bicara sama kamu." Ibu meninggalkan kamar Brian dan membiarkan Sinta untuk masuk.
"Brian, aku ingin minta maaf soal yang waktu itu. Kau pasti sangat kecewa kepadaku. Tapi kau memang tidak bisa memaksaku seperti itu." Ucap Sinta kepada Brian.
"Ya, kalau kau ingin berbicara itu saja lebih baik kau segera pergi dari sini." Ucap Brian masa bodoh.
Sinta merasa permintaan maafnya itu sama sekali belum diterima oleh jawaban Brian yang singkat itu. Ia enggan pergi dari kamarnya Brian.
'Apa Brian benar-benar mencintaiku? Ku pikir aku telah salah menilainya.'
Sinta yang selalu melihat Brian memohon dan meminta itu merasa bahwa perasaan Brian kepadanya memang bukan main-main. Ia ingat bahwa dewasa itu bukan dipandang dari berapa lama usianya.
"Brian, setelah ku pikir-pikir, aku bersedia menjadi pacarmu." Sinta yang menganggap Brian itu laki-laki serius akhirnya berubah pikiran.
"Hah?! Kau tidak bercanda kan?!" Brian yang mendengar perkataan itu langsung tercengang.
"Y-ya, aku tidak bercanda." Sinta mulai merasa malu.
Akhirnya, setelah sekian lama Brian berusaha dan tidak berhasil, ternyata keberhasilan dari usahanya itu hanya tertunda. Kini ia sudah resmi memiliki gadis cantik yang datang dari Australia itu.
"B-baiklah, ku rasa kita harus saling bertukar kontak." Sinta menyerahkan ponselnya.
"A-ah, sebenarnya ponselku sudah hilang. Dan, waktu itu aku ingin meminta bantuanmu untuk menemukan ponselku. Tapi saat itu kau terus saja menjauhiku."
"O-oh, maaf, aku tidak tahu." Sinta merasa bersalah. Tapi memang, saat Brian menemuinya, ia tak pernah sekalipun berbicara tentang ponsel. Yang ia bicarakan hanyalah paksaan dan aturan untuk tidak berdekatan dengan laki-laki lain.
"Tidak papa, lagipula aku akan membeli ponsel baru. Mungkin yang lebih murah dari itu." Ucap Brian sambil memasukkan nomor ponselnya.
"Ini, suatu waktu aku pasti akan aktif di chat. Jadi kau tunggu saja." Brian menyerahkan ponselnya.
Sejak saat itu Brian semakin bersemangat untuk menambah uang tabungannya. Ia selalu memasukkan semua uang jajannya tanpa ada sepeserpun yang tersisa. Tapi, lama kelamaan Brian merasa tersiksa hidup tanpa uang jajan di tangannya.
Brian yang ingin segera mendapatkan ponsel itu akhirnya membuka celengannya yang belum sesuai dengan targetnya. Dengan terpaksa, Brian harus membeli ponsel murah yang harganya sangat jauh berbeda dengan ponsel yang ia miliki dulu. Agar ibu tidak curiga, Brian membeli ponsel yang modelnya sedikit sama dengan yang ia punya dulu.
__ADS_1
Bersambung...
Next Chapter kembali ke masa kini!