Kosong

Kosong
Kaitan Kisah Nyata


__ADS_3

Sebelumnya Wendy bilang kepada kakaknya bahwa ia ingin mempunyai motor, tanpa perlu waktu lama, kakaknya Wendy pun segera mengajak pergi untuk mengabulkan apa yang Wendy inginkan.


Bukan hendak membeli, mereka akan menggunakan jalan haram untuk bisa mendapatkannya. Dengan cara membegal, dan Wendy merasa ragu karena ini masihlah siang.


Karena terus dipaksa dan Wendy memang tengah menginginkan motor, mereka pun berangkat berkeliling ke tempat-tempat yang sangat sepi sambil berharap seseorang juga turut ada di sana.


Sampai saat mereka berkendara di jalanan berbatu yang terdapat hutan di sekelilingnya, dari depan nampak seorang pengendara bermotor yang terlihat tengah sendirian. Benar-benar mangsa yang tidak boleh dilewatkan.


"Siap-siap Wen, lu masih inget kan strateginya? Jangan bikin kacau. Lu tenang aja, kalo lu cepet, semuanya juga bakalan beres!"


Ini memang kali pertama Wendy diajak kakaknya membegal. Keduanya langsung tancap gas dan menyusul pengendara yang ada di depan. Saat motor mereka sudah berdampingan, Wendy menendang pelan motor itu hingga membuatnya langsung terjatuh.


Sementara kakaknya Wendy turun dari motor, Wendy mengambil alih kemudi dan langsung memutar balik motornya. Tapi saat itu, ia melihat seorang pria berlari dari arah belakang. Wendy langsung panik, ia tancap gas menghampiri kakaknya yang tengah beradu tangan dengan si korban.


"Bang! Bang! Ada orang, cepet!" Ucap Wendy di atas motor. Namun, keduanya masih berada dalam laga perkelahian.


Dengan segera, Wendy menolong kakaknya itu agar cepat selesai, ia menendang perut si korban hingga terpental jatuh ke dalam jurang.

__ADS_1


Deg!


Jantung Wendy langsung terdiam seketika. Tubuhnya menjadi dingin, ia tak mengira korban akan terdorong sejauh itu. Apa yang telah ia lakukan? Pria itu pasti tidak akan selamat mengingat ketinggian jurang yang sangat dalam.


Tak disangka, Sandi yang tadi berlari kencang sampai juga dan langsung membuat Wendy bersama kakaknya terjatuh tanpa aba-aba. Wendy hampir melupakan Sandi yang tadi berlari ke arahnya, tapi sekarang ia tak memikirkan Sandi, ia segera menarik lengan kakaknya yang hendak bangkit membalas serangan Sandi.


"Bang, udah Bang!"


Wendy berusaha membujuk kakaknya untuk menyerah. Ia sangat takut, dirinya sudah merasa sangat berdosa, ia tak mau berbuat lebih dari yang tadi.


"Gila lu ya?! Mau masuk ke penjara?!"


Kakaknya Wendy yang memang fisiknya lebih unggul daripada Wendy, mampu dengan mudah melepaskan dirinya dan langsung menyerang Sandi. Salah, ini adalah perbuatan salah, bersusah payah Wendy kembali meraih kakaknya dan menahannya dengan sekuat tenaga.


Hingga, Sandi pun berhasil pergi bersama dengan motor korban yang ia rebut. Dalam perjalanan, hatinya berkecamuk tidak karuan, matanya melihat Wisnu yang hendak ia jemput tengah dibegal dan langsung jatuh ke dalam jurang.


Sandi tidak bisa berbuat apa, satu langkah yang ia ambil, ia hanya bisa pergi melarikan diri. Jari tangannya kini tergores, bahkan ujung jari tengah dan manisnya raib, terpotong oleh pisau tajam pembegal tadi.

__ADS_1


Rasanya amat begitu sakit, perih menusuk-nusuk dan menjalar hingga ke bahu. Sandi bukanlah ahli binaraga, ia tak yakin akan selamat jika menghajar pembegal itu dan yang ia khawatirkan kini adalah Yuna, Yuna terlihat sudah ada di tepi jalan.


Sandi pun menyuruh Yuna untuk segera naik. Ia tidak peduli dengan motor miliknya yang masih terparkir di dekat bangunan renovasi. Keduanya selamat, dan langsung melaporkan hal ini kepada pihak berwajib.


"Maaf Wis, semuanya salahku!!"


Jasad Wisnu telah berhasil ditemukan hari itu juga, sementara motor Sandi yang ia tinggal hilang lenyap entah ke mana.


Sandi menangis sejadi-jadinya, melihat mayat saudaranya yang padahal sama sekali belum sempat ia sapa berpulang nyawa di hadapannya.


Salah memang, mungkin seharusnya Sandi menunggu dulu Wisnu sampai di kota dan mereka pergi berangkat bersama. Tapi kala itu Sandi sebagai pemilik rumah ingin sampai terlebih dahulu menyambut kedatangan tamu.


Keluarga berusaha menguatkan Sandi, semuanya mungkin memang sudahlah takdir.


Tidak, itu bukan takdir, tapi Sandi lah si pembawa sial. Wisnu mati karena Sandi yang mengajaknya ke mari. Dan tempat itu, tempat yang dulu membisu menelan keluarganya memang mungkin menolak untuk dihuni lagi.


Sandi tak mau orang yang ia sayang terkena cipratan sial tempat itu lagi, ia memutuskan untuk mengakhiri proses renovasi bangunannya.

__ADS_1


Sampai sekarang, tempat itu jarang lagi dijamah karena desas-desus pembegalan. Dan bangunan itulah penemuan Wendy, yang para remaja nakal itu klaim sebagai tempat base campnya.


__ADS_2