
Awokawok.. maaf nih ye tiba-muncul setelah 1 tahun menghilang entah kemana. Btw aduh author udah lupa sama isi ceritanya and harus baca lagi novel yang ngebosenin ini dari awal 🤣 kekeuh hoyong namatkeun 🤣
Do'ain aja semoga author tetep sehat ya aamiin ^-^ Yuk markica.
***
Seakan ada sesuatu yang terenggut saat Yuna mendengar Wendy merelakannya pergi begitu saja. Yuna merasa gemetar, tadinya ia memang ingin pergi, tapi saat dibiarkan pergi dirinya malah bertolak belakang.
Yuna hanya diam di tempat, berbalik menghadap Wendy sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"A-aku suka ke ... "
"Ngengggg!"
Sebuah motor berknalpot bising lewat dan menghapus suara Yuna dari telinga Wendy. Wendy tidak tahu Yuna berbicara apa, Yuna hanya berbicara sebentar dan dengan cepat ia masuk ke dalam pintu gerbang kemudian menutupnya rapat.
Sekilas Wendy melihat wajah mungil dan bibir tipis yang dibasahi dengan derasnya air mata. Wendy tak tahu Yuna kenapa, ia kebingungan dan lantas memanggil Gilang untuk segera datang.
"Gimana Wen? Kok si Yuna malah masuk lagi?" Tanya Gilang.
"Tadi dia ngomong ke gue, tapi gak tau ngomong apaan."
Tadi itu Yuna telah meluapkan gejolak asmaranya. Ia mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan. Ini yang terakhir, Yuna tak ingin mengejar-ngejar lagi Wendy jika ia tetap tidak meresponsnya.
"Klek," Yuna membuka pintu rumahnya.
"Loh kok kamu balik lagi? Kamu kenapa Sayang?! Ada apa?!" Ibunya Yuna heran campur khawatir.
Yuna terlihat condong, ia terus menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Tanpa menghiraukan orang-orang yang ada di sekitarnya, ia berlari menuju ke kamarnya.
Dari luar pintu ibunya terus memanggil, namun Yuna tak ingin diganggu, ia sangat sakit, hatinya saangat sakit, dirinya hanya bisa memandang bar pesan yang sama sekali tidak Wendy balas.
Sebelumnya Yuna izin berpamitan untuk pergi main bersama teman, lantas ibunya Yuna segera pergi ke luar dan mendapati Wendy dan Gilang yang tengah berada di depan gerbang.
"Kalian siapa ya?" Tanya ibunya Yuna, memastikan 2 orang yang berada di hadapannya ini adalah teman anaknya.
"Saya Gilang Bu, temennya Yuna." Gilang menyalami tangan ibunya Yuna dengan sopan.
"Saya Wendy Bu." Wendy juga ikut menyalami, tapi tangannya tak lepas dari telapak tangan ibunya Yuna.
"Wendy? Kamu, kamu bukannya pacar anak saya ya?" Ibunya Yuna menatap serius detail wajah Wendy.
"Emm.. bukan Bu, saya udah punya pacar."
__ADS_1
"Tapi beneran kamu yang namanya Wendy? Anak yang udah gak punya orang tua itu kan?" Ibunya Yuna lanjut bertanya.
Wendy terkejut mendengar pertanyaan itu. Tahu darimana ibunya Yuna soal dirinya?
"Em, iya Bu." Jawab Wendy sedikit tersinggung.
"Ohh.. jadi gara-gara kamu anak saya nangis? Emang, dari dulu saya udah benci sama kamu! Ada-ada saja anak itu ngebelain kamu secara berlebihan. Anak kayak begini? Pantas saja dia gak pernah berani nunjukkin kamu. Kalau kamu gak mau sama anak saya, saya bisa pilih laki-laki yang lebih mapan dari kamu! Saya juga gak yakin anak nakal seperti kamu bisa bikin anak saya seneng." Tiba-tiba ibunya Yuna berkoar.
"Kamu pikir saya takut sama kamu? Kapanpun saya bisa menuntut kamu loh! Jangan berani macam-macam sama anak saya, udah bagus kamu masih aman berkat anak saya, tapi kamu sendiri gak ada balas budi sama sekali! Pergi kamu dari sini! Jangan ada hubungan apapun sama anak saya lagi!" Ucapnya nyerocos lagi.
Gilang yang tengah menyaksikan tak tahu apa sebab dan akibat ibunya Yuna tiba-tiba marah. Jangankan Gilang, Wendy sendiri terkejut dan bingung dengan apa yang dimaksud ibunya Yuna.
Setelah itu ibunya Yuna langsung berbalik dan menuju suatu tempat.
"Drrrt!! Drrrt!! Drrrtt!"
Sedari tadi Wendy merasakan getaran di dalam saku jaketnya, dan ia pun baru merogoh ponselnya saat ibunya Yuna pergi.
'Ada apaan? Tumben tu anak nelpon-nelpon, pasti ada sesuatu lagi!'
Wendy melihat sebuah panggilan suara dari kakaknya, dengan segera ia pun mengangkatnya.
"Goblok, lu kemana aja?! Gue hampir mati nih! Cepetan ..."
"Cepetan Pak! Usir jauh-jauh anak itu dari sini!" Ibunya Yuna kembali bersama bapak security penjaga rumahnya.
"Cepat, kalian harus segera pergi!" Pak Satpam langsung mendorong pergi kedua remaja itu.
"Bisa diem gak sih lu?!"
Wendy yang tengah menerima telpon menepis kasar tangan Pak Satpam dengan tatapan penuh amarah. Hal itu membuat Gilang terkejut, setelah menepis, Wendy berjalan menjauhi rumah Yuna.
Raut wajahnya terlihat cemas, ia terus saja menempelkan ponsel ke telinganya tanpa menghiraukan motor miliknya yang terparkir di depan Gerbang.
"Dasar anak gak tau sopan santun! Emang gitu tuh kelakuannya! Bualan apa coba yang dibicarain Yuna?" Ibunya Yuna langsung masuk ke dalam rumahnya.
Gilang pun mengikuti Wendy, ia juga tak menghiraukan Pak Satpam bersama motor yang terparkir di sana.
Sikap Wendy tiba-tiba berubah setelah menerima telpon, Gilang rasa suatu hal buruk tengah datang menghampiri.
"Gue kudu cabut! Pokoknya lu diem aja di sini, gak usah ngikutin gue!"
Baru saja Gilang hendak bertanya namun Wendy langsung tergesa-gesa menuju ke arah motornya. Ia pun pergi entah ke mana.
__ADS_1
Gilang merasa bingung, baru kali ini ia melihat Wendy sepanik itu. Panggilan dari siapa ia juga tak tahu. Ada rasa ingin membantu, tapi ia tak tahu apa masalahnya dan tak mau ikut campur karena sudah diperingati.
Karena Wendy sudah pergi Gilang pun segera mengabari Brian. Tapi sebelum itu Brian sudah menelponnya duluan.
"Gimana Lang? Kita bisa gabung sekarang gak nih?" Tanya Brian dalam telpon.
"Mendingan elu cepetan dateng ke sini, si Wendy udah cabut gak tau ke mana. Tapi jangan di depan rumah si Yuna, keadaannya lagi kacau, gue tunggu di ujung jalan."
"Hah? Yaudah gue cepetan ke sana."
Telpon dimatikan, Gilang hanya bisa termenung tak tahu harus berbuat apa. Hingga akhirnya Brian dan Sinta pun datang juga.
"Ada apaan Lang? Jadi si Yuna gimana? Kok si Wendy pergi gitu aja?" Brian langsung mewawancara.
"Hahh.. " Gilang menarik nafas bersiap untuk cerita panjang.
"Jadi.. Ba bi bu be bo, wa wi wu we wo.."
"Nye nye nye.."
"Nyo nyo nyo.."
Gilang bercerita dari bagaimana Yuna kembali masuk dan ibunya datang memarahi, kemudian Wendy mendapat telpon dan menghilang begitu saja.
"Kita kudu samperin dia ke rumahnya, kalo emang bener kayak gitu pasti ada apa-apa!" Brian terlihat serius.
"Tapi gue takut salah kalo kita malah ikut campur, si Wendy kan yang bilang sendiri kalo kita gak usah ikut."
"Kalo gitu kita bilang dulu."
Brian pun menelpon Wendy namun beberapa kali ditelpon Wendy sama sekali tidak mengangkatnya.
"Daripada diem di sini mendingan kita cek dulu ke rumahnya sekarang!"
"Tapi Yuna bagaimana Brian? Kamu gak peduli sama Yuna? Mana mungkin kita membiarkannya begitu saja."
Sinta merasa cemas, ia sudah mencoba menghubungi Yuna namun tak ada respons sama sekali.
"Itu urusan belakangan, sekarang kita pastiin dulu keadaan Wendy, kamu ikut dulu ya, nanti kita urus soal Yuna." Brian mencoba membuat Sinta mengerti.
Sinta pun meng iya kan dan mereka menuju ke rumah Wendy.
Arigatou gozaimasu, ditunggu besok updatean selanjutnya ^-^
__ADS_1