
"Lu mau bawa pacar yang mana emang?" Tanya Wendy dengan wajah tanpa dosa.
Seketika Brian mendongak saat mendengar pertanyaan itu.
"Hehe.. ada deh." Brian tak bisa mengelak.
Brian merasa malu, karena saat ini Yuna juga mendengarnya. Tapi saat itu Yuna bersikap biasa saja karena yang ia tahu Brian itu memang suka mempermainkan wanita.
Karena tidak mendapatkan protes dari kedua temannya itu, Brian langsung mengirim pesan kepada Sinta untuk segera datang ke mall.
Dalam perjalanan, terlihat Yuna membeli bahan-bahan kerajinan. Sepertinya Yuna ini adalah orang yang kreatif. Sesekali Brian memulai pembicaraan untuk memecah ketegangan, agar Wendy dan Yuna terbiasa untuk saling mengobrol.
Setelah mendapatkan bahan-bahan kerajinan, Yuna juga membeli beberapa barang kebutuhan lainnya dan belanja pun selesai.
Tapi Sinta masih saja belum juga datang. Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah restoran.
"Briann!"
Terlihat Sinta datang dan berlari ke arah mereka. Sebelumnya Brian sudah mengirim lokasi dimana dirinya berada saat ini.
"Oh, kau baru datang?" Tanya Brian.
"Iya, maaf membuatmu menunggu lama."
Sinta kelamaan berdandan di rumahnya. Ia ingin tampil sempurna di depan pacarnya ini. Saat itu Sinta hanya senyam-senyum dan tidak duduk.
'Cewek itu siapa ya? Dan lagi, ini temannya Brian ya? Dia terlihat menakutkan.'
"Kenapa nggak duduk?" Tanya Brian.
"Mereka itu siapa?" Bisik Sinta kepada Brian.
Brian yang mendapatkan bisikkan halus itu, dengan terpaksa memperkenalkan teman-temannya.
"Kenalin, ini Yuna, dan ini Wendy, mereka temen sekelas aku." Ucap Brian sambil menggerakkan tangannya.
"Oooh.. hallo Yuna! Wendy! Salam kenal, aku Sinta." Setelah membulatkan mulut beberapa detik, Sinta tersenyum dan duduk.
"Hai," ucap Yuna dengan senyuman.
"Kalian sudah pesan makanan?" Tanya Sinta.
Semuanya tidak berbicara dan hanya menggeleng-gelengkan kepala. Mereka langsung melihat daftar menu untuk membuat pesanan.
"Kalo kamu udah makan, jangan pesan. Nanti sakit perut lagi loh." Ucap Brian kepada Sinta.
Sebenarnya Brian berniat mengajak Sinta pergi dari sana dan membiarkan Wendy berduaan dengan Yuna. Brian yakin Wendy tidak akan berbuat macam-macam kepada Yuna, karena ia sangat setia kepada pacarnya.
"Umm.. iya sih, aku udah makan." Ucap Sinta.
__ADS_1
"Nah kan? Yaudah kita jalan-jalan aja, barang kali ada yang kamu pengen." Ajak Brian.
"Whoaa! Ayok ayok!" Sinta merasa sangat bersemangat saat mendengar ajakan dari Brian itu.
"Aku tinggal dulu gak papa kan?" Tanya Brian kepada Yuna dan Wendy.
"Ya udah," ucap Wendy.
"Kalo ada apa-apa telpon aja," ucap Brian sambil meninggalkan Yuna dan Wendy.
Sepanjang jalan Sinta terlihat sangat senang, ia menggenggam kedua tangannya di depan sambil menjaga bentuk bibirnya agar tetap tersenyum.
"Brian! Brian! Kita coba yang itu!" Tiba-tiba Sinta menunjuk-nunjuk ke arah snapshot room dengan antusias. Di sana terlihat begitu ramai. Ada banyak orang yang sedang mengantri.
"Tapi di sana banyak orang," ucap Brian yang malas mengantri.
"Aaa.. aku mau yang itu.. " Sinta memasang wajah sedihnya dan merengek. Ia sudah menanti-nanti untuk berfoto bersama pacarnya di tempat itu, sama seperti teman-temannya.
Aalhasil, Brian yang tak mau mengantri itu bersedia untuk ikut mengantri. Mereka duduk di kursi yang sudah di sediakan dan menunggu.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya giliran mereka tiba juga. Mereka masuk dan menghadap ke arah monitor.
Ini kali pertamanya Brian memasuki ruangan itu. Ia melihat lihat ke sekeliling dan bingung memikirkan bagaimana cara kerja mesin yang ada di depannya itu.
"Sip! Ayo kita mulai." Ucap Sinta yang langsung berpose.
Saat itu Brian hanya diam dan tidak tahu sejak kapan pengambilan foto nya dimulai.
Tapi Sinta sama sekali tidak mengeluh dan mempermasalahkannya. Ia terlihat sangat senang melihat foto yang sudah tercetak itu. Meskipun Brian tidak berpose, tapi ketampanannya tetap terpancarkan.
Karena sudah mendapatkan foto, mereka ke luar dari ruangan itu dan melanjutkan perjalanan.
'Hmm.. aku gak berani ngeliat makanan lagi.' Gumam Sinta yang sedang memikirkan arah selanjutnya.
Tidak untuk makanan! Sinta takut dirinya tak terkendali dan mengambil makanan terlalu banyak. Ia tak mau sakit perut lagi. Lantas Sinta mengajak Brian untuk pergi ke pusat kecantikan.
"Woahh! Ini bagus nggak ya?"
Sinta melihat-lihat beberapa produk kecantikan sambil membaca detailnya satu per satu, dan Brian hanya berdiri sambil memperhatikannya.
"Brian, kamu suka pake skincare apa?" Tanya Sinta.
"Skincare? Aku nggak pake yang kayak gituan." Brian mengangkat pundaknya.
"Hmmm.." Perlahan Sinta mendekatkan wajahnya sambil menatap serius wajah Brian.
"Ya, ya, pacarku ini gak pakai skincare pun emang udah ganteng." Sinta langsung memalingkan wajahnya dan memasang wajah angkuh.
"Tapi kamu juga udah cantik," ucap Brian secara tak sadar.
__ADS_1
Saat itu Sinta langsung menoleh karena terkejut.
"Apa?!" Tanya Sinta.
"Apa?" Jawab Brian yang baru sadar dengan ucapannya tadi.
"Apa yang tadi kamu katakan?" Tanya Sinta.
"Bukan apa-apa."
"Katakan sekali lagii.. aku tidak dengar.." Desak Sinta.
"Bukan apa-apa."
"Huh!" Sinta kembali memalingkan wajahnya, ia merasa sangat kesal.
"Aku mau makanan!" Ia berjalan dengan langkah yang cepat.
"Loh? Gak jadi beli? Padahal kita udah lama di sini." Tanya Brian yang masih berdiri di tempat.
"Gak, aku gak mau skincare!"
Saat ini mood Sinta sedang buruk. Karena itu ia pergi ke pusat makanan.
Sesampainya di tempat tujuan, Sinta hendak membawa keripik pedas. Tapi tiba-tiba Brian memegang tangan Sinta dan mencegat tindakannya.
"Nanti kamu sakit perut lagi loh," Brian mengingatkan.
"Iniii saja!" ucap Sinta dengan wajah memelas.
Brian menghela nafas dan melepaskan tangannya. Sesuai perkataannya, Sinta hanya mengambil satu camilan.
Lalu, mereka melanjutkan perjalanan tanpa arah, dan berharap ada sesuatu yang menarik.
'Oh! Bagaimana kabar mereka berdua ya?'
Brian teringat kepada Wendy dan Yuna. Ia tidak yakin mereka bisa akur dengan mudah. Lantas, Brian mengirim pesan kepada Yuna.
"Brian, kau pelit sekali!" Sinta yang berjalan di depan itu berbalik.
"Hey! Kau sedang apa?!" Sinta yang melihat Brian tengah asyik dengan ponselnya langsung menghampiri.
"Aku sedang menanyakan kabar Wendy dan Yuna." Ucap Brian.
"Oh iya, waktu itu kamu bilang Yuna minta bantuan kamu kan? Bantuan apa emang?" Tanya Sinta penasaran, ia melupakan amarahnya yang tadi.
Tanpa pikir panjang Brian langsung menjelaskan.
"Yuna minta sama aku buat ngedeketin dia sama Wendy. Tapi aku gak yakin hal ini bakalan berhasil." Ucap Brian.
__ADS_1
"Ohh! Tenang saja! Pacarmu ini akan ikut membantu!" Ucap Sinta dengan wajah sombong.