
"Hah? Dibantuin? Oh, enggak Pak, enggak."
Stop memberi dukungan untuk jalur ilegal! Brian akan membuat SIM dengan usahanya sendiri. Tanpa menghiraukan bapak itu, Brian langsung saja mendaftar menuju loket.
Untuk mendapatkan SIM, ia harus melewati serangkaian tes kemudian mengerjakan beberapa soal dengan nilai yang bagus.
Tidak begitu sulit, sekarang Brian sudah memasuki tes yang terakhir, yaitu tes mengemudi. Dirinya dikumpulkan di tempat tes bersama peserta yang lainnya.
"Ya pemirsa, inilah saudara kita yang tempo lalu sudah gagal sebanyak 3 kali." Ucap seorang bapak polisi gendut saat seorang wanita hendak memulai tes kemudinya.
Ketika mendengar ucapan itu, wanita yang baru saja melajukan motornya tiba-tiba oleng dan menapakkan kakinya di atas aspal. Hal itu membuat Brian yang tengah menonton menepuk jidat, sudah 3 kali gagal dan pasti kali ini dinyatakan gagal kembali.
"Aduhh, kamu gak bosen apa bolak-balik ke sini lagi?" Pak Polisi Gendut merasa gemas.
Peserta itu mengaku gagal, ia berjalan dengan kepala yang menunduk seakan tengah menahan malu. Tentu saja, ia ditonton oleh banyak orang dan mungkin penyebab kegagalan pada tarikan gas pertamanya tadi disebabkan oleh suara Pak Polisi.
Satu per satu peserta selanjutnya terus Brian perhatikan. Berkendara di jalur lurus, kemudian belok tajam leter U menuju jalur bergelombang. Selanjutnya jalur zig-zag, dan terakhir jalur berbentuk angka 8.
Semuanya dibatasi oleh pipa-pipa yang tidak boleh tersenggol, banyak sekali peserta yang tidak berhasil melewati halang rintang ini, apalagi di jalur angka 8.
Satu hal lagi, peserta tidak boleh berhenti di tengah jalan, mereka harus tetap menjaga keseimbangan dan jangan sampai menapakkan kaki di atas aspal. Salah sedikit saja, langsung dinyatakan gagal.
"Dikira ini tes jadi Valentino Rossi? Di real life aja gak ada jalur yang kayak gitu, bahkan buat belok puter balik aja kaki harus turun, liat kanan kiri dulu baru gas." Ucap seseorang yang berada di samping Brian.
Brian sependapat dengannya, walau sudah berhasil nanti, belum tentu mereka akan berhasil kembali melewati jalur yang sama untuk ke 2 kalinya. Pembuatan SIM secara mandiri ini seperti tengah dipersulit. Berbeda jika menggunakan calo, hanya perlu sat set lalu jepret yang penting ada itu nya.
***
Libur tahun baru, Brian membawa 2 buah helm sambil berlari kecil menuju ke arah Sinta.
"Kau sudah tumbuh tinggi ya sekarang." Sinta yang tengah menunggu di samping motor itu tersenyum mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
Dulu, dirinya lah yang lebih tinggi daripada Brian, tapi dalam waktu sesingkat ini Brian sudah tumbuh melebihi Sinta.
Brian yang mendengar perkataan itu hanya bisa terkekeh, ia menyerahkan helmnya kepada Sinta dan langsung berpamitan kepada Ibu.
4 hari yang lalu Brian sudah berhasil mendapatkan SIM C nya sendiri. Dalam percobaan pertama ia langsung lolos dan mendapat tepukan tangan dari para penonton. Brian tak mau gagal, ia begitu optimis mendapatkan SIM C nya untuk sebuah pengalaman yang dinantikannya.
"Brian.. Aku pegel.." Sinta merengek di balik helmnya.
Sudah setengah jam menuju kota, dan Sinta yang baru kali ini menaiki motor sport hanya bisa memeluk erat Brian dari belakang. Brian sendiri merasa pegal, apalagi Sinta yang berat itu terus saja menumpu di punggungnya.
Mampirlah mereka di sebuah kafe, beristirahat, memesan minuman dan sedikit mengganjal perut. Sinta yang memakai earphone wireless itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil melihat ponsel. Mulutnya komat-kamit tanpa suara, membuat Brian jadi merasa penasaran.
'Mungkin lagi ngapalin skripsi.' Sinta memang orang yang rajin, Brian tak mau mengganggu, ia mengalihkan pandangan melihat kehangatan pengunjung.
Sinta terus menatap ponsel sambil menghabiskan apa yang ada di atas meja. Ia sangat fokus dengan ponselnya sampai-sampai tak sadar bahwa saat mengambil gelas dirinya malah meminum di bagian garnis.
"Pait! Pait! Pait!" Pekik Sinta meletakkan kembali minumannya di atas meja.
"Kulit jeruknya pait Brian." Begitu pengakuan Sinta yang tak sengaja menjilat kulit jeruknya.
Orang-orang langsung melirik ke arah mereka, namun Brian berusaha acuh kemudian menyuruh Sinta untuk berhenti sejenak dari ponselnya. Dunia memang milik berdua, jadi anggap saja tidak ada orang lain yang melihat tingkah mereka tadi.
Tak lama mereka pun langsung keluar setelah usai. Brian melihat 2 orang anak kecil tengah berjongkok di dekat motor miliknya. Ketika Brian mendekat, 2 bocah itu langsung kabur berlarian.
Daaan... Tara, seperti dugaannya. Kedua tutup pent*l milik Brian sudah lenyap dari tempatnya. Tutup pent*l kuning karakter bebek, sungguh sangat cucok dipasang pada motor ninja itu.
Tak hanya itu, ban motor Brian juga dibuat kempes. Ternyata 2 orang anak kecil itu bukan sembarang anak kecil, melainkan 2 orang bocah sialan.
Karena tempat sudah lumayan dekat, Sinta mengajak Brian untuk melanjutkan perjalanan. Ia langsung memberhentikan angkot yang baru saja lewat.
Saat masuk ke dalam angkot, Sinta langsung mengatakan tempat tujuan. (Berasa sama sopir pribadi kali ya wkwk..). Dan dari situ penumpang lain mulai berbisik-bisik.
__ADS_1
Di dalam angkot, penampilan keduanya terlihat sangat mencolok. Seorang pria tampan dan seorang bule dengan setelan yang terlihat masih baru.
"Ppftt! Style aja keren, tapi pacaran naik angkot." Seorang perempuan yang berada di angkot itu berbisik kepada orang yang di sampingnya.
"Sinta, emang bener yang ini angkotnya?" Tanya Brian melihat kode C1 pada angkot itu.
"Aku gak tau, aku gak pernah naik angkot." Jawab Sinta.
Brian tak tahu angkot ini akan berjalan ke arah mana, tapi setelah 10 menit, angkot berhenti dan Pak Sopir langsung memberikan notifikasi.
"Sudah sampe Neng." Ucap Pak Sopir.
Sinta yang merasa terpanggil itu langsung turun diikuti Brian. Sebelum turun, Brian memastikan di mana tempat ia berada, tapi ia yang memiliki tubuh tinggi itu malah kepental palang pintu angkot.
"Aw!" Ucap Brian seraya menyentuh keningnya. Ia yang sudah turun menunduk malu, dan ketika ia mendongak, dirinya dikejutkan oleh antrian 1 km beserta wajah oppa korea yang dipajang sangat besar.
Ternyata ini adalah konser K-Pop, entah sejak kapan Sinta menyukai K-Pop, yang jelas Brian sangat jijik dengan hal ini.
"Sinta, apa-apaan ini?" Brian tak mau melanjutkan, ia ingin pulang, jika seorang lelaki sepertinya datang ke tempat ini, nanti bisa-bisa ia dikira gay.
"Aku sudah pesan 2 tiket, kau tak boleh menolak!" Karena yakin Brian tak akan suka, sengaja Sinta tidak memberitahukan Brian sebelumnya.
Asal Brian tahu, 1 tiket yang Sinta pesan dibandrol dengan harga jutaan. Melihat Sinta yang memang sudah bersemangat, tentu Brian tidak bisa menolak. Ini adalah perjalanan pertama mereka menggunakan motor Brian sendiri, mana mungkin Brian harus mengacaukannya.
Pada akhirnya Sinta dan Brian duduk di baris depan belakang stage. Sengaja Sinta memesan kursi paling depan, katanya ia ingin bisa mencium bau keringat biasnya.
Bidadari muncul di atas panggung. Ah, tidak, mereka cowok tapi di mata Brian mereka terlihat cantik. Anehnya, wajah mereka juga terlihat sama seperti diproduksi secara massal.
"Tehyung! Jihop!"
Sinta mengeluarkan sebuah benda berbentuk tongkat menyala. Ia terlihat sangat bersemangat meneriakkan nama-nama anggota sesuai dengan irama. Penonton lain pun juga begitu, hal ini membuat Brian geleng-geleng kepala.
__ADS_1