
Tiga hari setelah itu baru Sasa memberanikan diri untuk bertanya. Itupun hanya melalui pesan singkat, ia tak berani berbicara langsung dengan orangnya.
"Gilang, tolong jawab jujur. Apa kau serius mencintaiku?" Tanya Sasa pada pesannya. Sebelumnya mereka tengah berkirim pesan.
"Memangnya kenapa?" Gilang yang mendapat pesan itu langsung membalas. Bukannya menjawab ia malah balik bertanya.
"Kau hanya punya 2 pilihan. Ya atau tidak." Kembali pesan muncul dari Sasa.
"Iya." Balas Gilang sesuai dengan pilihannya.
Setelah itu pesan muncul kembali, namun yang ini sedikit menggertak hati.
"Aku ingin putus denganmu, tapi kau jangan marah kepadaku." Pesan dari Sasa.
"Haha kau pasti bercanda." Balas Gilang. Ia berharap Sasa menarik kata-katanya.
"Aku serius, aku ingin kita putus hari ini juga." Tegas Sasa melalui pesannya.
Gilang masih tidak percaya, memangnya apa salah dirinya? Padahal di pesan sebelumnya mereka asik-asik saja. Apakah ia salah dalam berbicara? Atau karena waktu itu ia berkepala botak?
Gilang mengabaikan pesan itu dan langsung memulai panggilan telepon. Ia menginginkan ucapan yang keluar langsung dari mulut Sasa. Kali saja ponsel Sasa tadi sedang dibajak, begitu pikir Gilang.
"Tadi itu hanya bercanda kan?" Tanya Gilang pada telponnya.
"Tidak, aku serius, jadi kita tidak akan berhubungan lagi." Jawaban pada telpon memang benar suara Sasa.
Detak-detik telepon hening, Gilang saat ini tengah membelot. Padahal baru saja kemarin dirinya ini sangat bahagia. Ia sudah punya ponsel dan bisa berkirim pesan dengan Sasa. Tapi kenapa tiba-tiba saja Sasa menghancurkan kebahagiaannya?
"Maafkan aku.. Gilang, kau sedang apa?" Suara pada telpon terdengar panik.
Gilang ingin segera menemui Sasa, tapi waktu menunjukkan pukul 9 malam. Tak semestinya ia bertamu, ia pun menutup telponnya masih dengan perasaan ragu.
Pesan apapun tidak terkirim dari Gilang. Hanya Sasa saja yang terus mengiriminya spam dengan kata bermakna sama, "Maaf."
Ditanya alasan Sasa malah terus meminta maaf. Percuma diteruskan melalui pesan, Gilang malas untuk berbicara. Ia menginginkan kepastian yang keluar langsung di hadapannya.
Satu bungkus rokok menemaninya malam ini, ia tak mau pergi keluar seorang diri. Perasaannya sedang tak karuan, jika bisa ia ingin menenangkan diri dengan beberapa butir pil ekstasi.
Gilang tak mau karena Sasa ia melakukan hal yang tidak-tidak. Sasa itu baginya suci, ia tak akan pernah menjadi penyebab kemaksiatan yang sering kali dilakukannya.
__ADS_1
Gelap berganti hari, tak terasa sekarang sudah pukul setengah 7 pagi. Gilang terperanjat kesal di atas ranjang. Ternyata pukul 5 tadi ia malah ketiduran.
Tadinya ia ingin menemui Sasa sebelum Sasa pergi ke sekolahnya. Tapi sekarang mungkin Sasa sudah berangkat, Gilang sendiri juga harus segera ke sekolah, ia mencuci muka saja mengingat waktu yang tidak sempat.
Sayup mata begitu seperti tak punya arah, Gilang berkendara sekitar 10 menit dan dirinya ditahan di luar gerbang oleh Pak Satpam.
Setelah diberikan beberapa pertanyaan, barulah Gilang dipersilahkan masuk. Ia berjalan dengan pandangan kosong, otaknya masih terus memikirkan hal yang semalam.
"Hey, kamu salah jalur!" Seorang anggota OSIS yang ada di depan berteriak kepada Gilang.
Gilang tengah berjalan di sebelah kiri (jalur khusus wanita), ia pun memutar balik tubuhnya sebelum berjalan ke arah seberang. Di sini ribet, ada zebra cross segala dan untuk menyebrang ke jalur kanan ia harus melewati penyeberangan itu tentunya.
"Sudah finger print belum?" Tanya OSIS saat Gilang sampai di depannya.
"Belum," jawab Gilang. Ia tadi lupa, lagi-lagi ia harus kembali ke belakang.
Masuk gerbang seharusnya ia langsung mengecek sidik jari menggunakan mesin sesuai jurusan. Saat pulang ia juga harus melakukannya, itu bertujuan untuk melaporkan data kehadiran kepada orang tua.
Begitulah, kalau ada yang bolos pasti langsung diketahui oleh orang tuanya. Sekarang Gilang tak bisa bolos lagi di tengah jam pelajaran, ia harus menyetorkan sidik jari pulang sesuai dengan jadwal pulangnya.
Selesai terverifikasi, Gilang masih ditahan sebelum masuk ke lapangan. Hanya ia seorang yang kesiangan, entah mungkin ada yang lain namun belum datang.
"Nama dan kelas." Ucap OSIS hendak mencatat nama Gilang.
OSIS itu tidak akan tahu, begitu pikir Gilang. Jika namanya dicatat dan dilaporkan, maka poin miliknya akan berkurang. Sekali, dua kali, dan berkali-kali melakukan pelanggaran, akan dikurangi poin seberat apa yang dilakukan.
Jika poin tersebut habis, maka ia tidak berhak lagi untuk belajar di sekolah ini. Dan benar saja, OSIS itu mencatatnya persis dengan apa yang Gilang katakan.
Gilang tidak tahu siapa itu Yatno, ia hanya asal sebut saja nama dan kelasnya. Bagaimana nanti jika data yang disetorkan OSIS tidak ada benarnya? Gilang tak peduli, yang penting poin miliknya selamat saja.
Setelah mendapat hukuman Gilang masuk ke kelasnya. Di ke kelas sudah ada Guru, Gilang hanya ditanyai lalu dipersilahkan duduk. Wajahnya masih terasa suntuk, ia memaksakan matanya untuk tetap menyimak pembicara yang ada di depan kelas.
"Saatnya jam ke 3 dimulai.."
Bell pergantian pelajaran sudah berbunyi, guru keluar dan Gilang segera mengecek isi ponselnya. Ia berharap Sasa sudah menarik kata-katanya.
Namun ternyata tidak, semua isinya hanyalah permintaan maaf. Ini bukan hari ulang tahun Gilang dan Sasa bukan tipe orang yang suka bergurau, ia memang sungguh ingin berpisah.
Kalau sudah begini Gilang bisa apa? Istirahat pertama tiba dan Gilang segera mengambil posisi tidur di atas meja. Namun teman-temannya malah mengganggu, mereka tak tahu suasana hati Gilang yang sebenarnya.
__ADS_1
"Lang, ntar malem kita nginep di rumah gue. Biar tuntas tuh tugas, mana harus satu minggu lagi jualannya." Ucap Agit, ia masih sekelas dengan Gilang.
"Ntar kita ketemu jam 4 di pertigaan, si Diah biar gue yang bawa." Sambung Rifal, ia yang sebangku dengan Gilang.
Selumbari mereka mendapat tugas pertama, pelajaran PKDK (Produk Kreatif Dan Kewirausahaan) yaitu berjualan hasil olahan sendiri. Bukti untung rugi harus dikumpulkan selama satu minggu dan harus disetorkan untuk mendapat nilai.
"Enak aja, gue mau bawa motor sendiri!" Itu adalah suaranya Diah, ia satu-satunya siswi di kelas 10 TKR.
"Gak usah nginep lah lagian kan cuma bikin cimol doang, biar si Diah aja yang bikin." Jawab Gilang malas.
Sebelumnya mereka memang tak sudi, apalagi berjualan tidak nyambung dengan otomotif yang biasanya membahas mesin. Tapi jika tidak dikerjakan akan jadi masalah nantinya.
"Gue?! Mentang-mentang gue cewek ya, emangnya gue babu lu? Yang lain juga udah pada setuju kalo kita bikinnya bareng-bareng tau!" Diah yang bangkunya berdekatan itu langsung membela dirinya.
"Gue males, ntar aja lah gue ngikutnya." Gilang masih terus menolaknya.
"Lah? Orang-orang juga pada ikut, masa elu kagak sih? Ntar gak kita masukin nilai tau rasa lu." Ancam Rifal.
"Kan ada gue Lang, ntar kita tidur bareng-bareng. Haha.." Diah berkata pelan.
"Hooh noh, mayan kan ada ceweknya. Pengen digankbank bareng-bareng tuh katanya. Haha.."
"Mantep!"
"Goblok! Gue gak mau sama kalian! Maksud gue si Gilang doang!" Diah ngegas.
Di kelas Diah begitu akrab dengan mereka. Ia memiliki sifat yang tomboy, selain itu ia juga percaya diri. Apalagi kepada Gilang, walau baru kenal ia tak sungkan menggoda-goda Gilang. Gilang sendiri tidak begitu menghiraukannya, ia menganggap semua itu hanyalah guyonan semata.
Jika dilihat.. Diah itu bukanlah tipenya Gilang. Ia lebih cocok disandingkan dengan Wendy. Wendy suka tipe wanita yang seperti ini.
Sementara di posisi lain:
"Dibukanya dengan alat, nama alatnya adalah valve spring compressor. Dan cara menggunakannya seperti ini.."
Guru pelajaran tengah mempraktekkan bagaimana cara membuka katup pada head silinder. Kali ini Brian tengah praktek di bengkel depan milik TKR. Ia mengikuti kegiatan pembelajaran dengan lancar dan cukup baik.
Godaan setan tidak banyak masuk ke dalam pikirannya. Brian sudah memilih sejawat yang pasti akan bisa membantu jalan hidupnya.
Dulu ia bercampur dengan kawan yang tidak benar, jika masih bergabung dengan mereka maka ia juga akan susah untuk bisa memperbaiki dirinya.
__ADS_1
Yang ia gauli merupakan anak club futsal juga, namun mereka tidak bergabung dengan club futsal sekolah. Mereka belum pernah mabuk-mabukan dan ibadahnya juga sangat taat. Walaupun berbeda agama dengan Brian, tetapi mereka tetap menerima keberadaannya Brian.
Brian sudah merasa lega, ia jauh dari anak-anak yang durjana. Sekolah ini juga pasti akan mendidiknya dengan baik, apa yang diinginkannya pasti akan tercapai dengan jalan yang sederhana.