Kosong

Kosong
Kenapa Sih?


__ADS_3

Ponsel yang disita oleh Ibu Walas kini sudah kembali lagi ke tangan Brian. Ibu Brian yang membawanya kembali tidak mengira bahwa sekolah itu memang tidak memperbolehkan anak muridnya untuk membawa ponsel. Brian belum pernah berkata sebelumnya. Dan hari ini, Ibu melarang Brian untuk membawa ponselnya.


Hujan turun deras dari pukul 12 siang. Mereka yang hendak pulang terpaksa harus menunggu di area lingkungan sekolah. Brian dan kawan-kawan menunggu di dalam kelas, sedangkan siswa pria yang lainnya menunggu di luar sambil mengamati hujan.


"Ngapain sih Yan di sini? Malu lah sama cewek-cewek." Anang yang duduk di atas meja Gilang merasa tidak nyaman karena semua yang tinggal di kelas hanyalah kaum wanita.


"Santai aja lah, mending di sini, enak ada tempat buat duduk." Brian tidak mau enyah.


"Abis ini ngabakso nih enaknya." Ajak Gilang.


"Gass! Tapi nyari kang baksonya yang jualan jus mangga juga." Brian setuju.


"Paan sih, enaknya ngopi lah ujan-ujan gini."


"Gue gak punya duit. Gue kan harus hemat gara-gara lu ngajakin liburan." Sela Anang.


"Lu kayak sama siapa aja sih, tenang, gue yang bayarin." Gilang melirik angkuh ke arah Anang yang berada di sampingnya.


"Yaudahlah, untungnya sih bulan ini gue dapet bantuan dari sekolah. Gue mau pake duit itu buat liburan aja haha."


Anang baru saja mendapat BSM (Bantuan Seorang Miliarder) alias bantuan dari seseorang yang memiliki harta kekayaan bermiliar-miliar. Bukan Bantuan Siswa Miskin ya, kasian Anang, itumah roasting!


"Bagus kalo gitu, pasti banyak kan?" Tanya Brian.


"Mayan lah. Eh Yuna, mau ikut ngebakso gak?" Anang melihat ke arah Yuna yang sedang duduk termangu di depan bangkunya Brian. Biasanya ia memegang ponsel, tapi karena sudah pernah disita, mungkin ia tidak membawanya.


"E-eh? N-nggak." Yuna yang mendapat pertanyaan itu langsung mendongak. Ia menjawab ajakan Anang tanpa menoleh sedikitpun.


"Oh ya, baju kamu yang ketumpahan itu udah bersih?" Anang bertanya dan Yuna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dah, mending kita keluar aja." Brian langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar.


"Eh, kenapa Yan?" Anang merasa heran, padahal baru saja Brian tidak mau diajak keluar.


"Udah lah, cabut." Gilang juga bangkit mengikuti Brian yang sudah berjalan duluan.


Anang pun ikut, ia berjalan terheran-heran melewati Yuna. Mereka bertiga belum tahu bahwa kemarin sabtu Yuna sudah dibawa ke ruang BK.


"Si Yuna kenapa Yan? Kok beda?" Tanya Anang saat sampai di depan pintu.


"Ya.. lu tau kan waktu hari jum'at itu dia cerita sama kita. Mungkin si Yuna lagi jaga jarak sama kita di depan umum. Udah gak usah dipikirin, dia gak lagi musuhin kita kok."

__ADS_1


Sebelumnya Brian sudah bertanya soal sikap dingin Yuna melalui ponselnya. Dan ternyata benar, Yuna masih merasa takut terhadap Mitha.


"Ohh.. tu anak lucu juga ya tingkahnya."


"Lucu gimana?"


"Ya gitu, kadang kayak orang berani, kadang juga ciut. Hahaha."


"Haha, iya, itu juga yang gue heranin."


Di depan pintu, mereka hanya berdiri sambil mengobrol. Brian melirik ke arah samping dan melihat siswa pria yang lain sedang duduk di dekat dinding. Karena jarang berbaur, ia merasa tidak enak untuk ikut bergabung.


"Kita ke depan aja, siapa tau di sana udah gak ujan." Ajak Brian ingin berpindah tempat.


"Ya kali Yan, emang beda negara?"


"Sekalian jalan-jalan." Brian pun memimpin. Ia berjalan menuju gerbang depan dengan menyusuri teras setiap kelas.


"Kyaaa! Kak Brian!"


"Itu! Itu! Liat, tangannya berotot gitu!"


Setelah mengabaikan sorakan heboh itu, akhirnya mereka sampai di belakang gerbang pos satpam. Sekolah itu memiliki 2 gerbang. Yaitu gerbang paling luar yang berada di tepi jalan raya, dan gerbang dalam yang akan menjadi pintu masuk ke area lingkungan sekolah.


Gerbang dalam itu selalu dijaga oleh Pak Satpam. Alasan dibuatnya bukan untuk variasi saja. Ketika jam pelajaran sudah akan dimulai, Pak Satpam akan segera menutup gerbang dalam dan membiarkan murid yang kesiangan untuk ditampung di area luar.


Dahulu, gerbang itu tidak ada, tapi karena anak muridnya bandel, mereka yang kesiangan mencoba menghindar dan berlari ke kelasnya. Maka dibuatlah gerbang masuk yang satu lagi itu agar mereka tidak bisa kemana-mana.


"Eh Yan, ujannya udah agak reda nih. Yuk cabut." Baru saja mereka sampai, tapi Gilang sudah mengajak pergi.


"Lah? Tanggung, gue baru aja mau duduk. Bentaran lagi napa?"


"Hahh..."


Di sana sudah tersedia tempat duduk. Mereka pun duduk beratapkan gedung kelas di atasnya. Gedung di atas diisi oleh kelas 7 urutan F ke H, di atas juga ada ruang lab komputer dan IPA, tapi ruangan itu sangat jarang digunakan.


"Drrrtttt!"


"Drrrrttt!"


Brian merasakan sesuatu tengah bergetar di dalam tasnya. Itu adalah ponsel, meski Ibu sudah melarangnya, tapi ia tetap membawa ponselnya. Tanpa berdosa ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan melihat sebuah panggilan yang masuk.

__ADS_1


"Eh Yan! Lu ngapain?! Ntar kalo ada yang ngelaporin gimana?!" Anang terkejut melihat Brian yang dengan santainya memegang ponsel secara terang-terangan.


"Eh iya, gue lupa." Brian pun kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas dan melihat panggilan yang sudah tidak sempat ia jawab. Terlihat ada juga beberapa pesan yang masuk.


"Lu ngapain sih bawa-bawa ponsel ke sini? Emang lu gak takut disita?"


Sebelumnya, Ibu Walas sudah mengancam tidak akan mengembalikan ponsel anak muridnya jika suatu saat mereka kembali terpergok membawa ponsel ke sekolah.


"Gue juga gak tau, pengen aja." Ucap Brian sambil melihat pesan yang masuk. Pesan itu ternyata datang dari Yuna.


"Eh, si Yuna katanya juga mau ikut. Tapi dia nyuruh kita duluan." Ucap Brian setelah membaca isi pesannya.


"Lah? Dia juga bawa ponsel? Tu anak cewek.." Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hadeh.. padahal tadi dia gak mau." Lanjut Anang.


"Alah, lu pura-pura aja. Paling sekarang lu lagi seneng karena si Yuna juga mau ikut kan?" Rayu Gilang.


"E-enggak kok." Anang mengelak.


"Kita pergi sekarang aja, orang-orang juga udah pada bubar." Usai membaca pesan itu, Brian kembali menutup tasnya. Ia melihat segerombolan siswa siswi berjalan pulang melewatinya.


"Stres!" Anang merasa kesal, dari tadi Brian diajak tidak mau, tapi setelah sejenak ia bangkit dengan menuruti kata-katanya sendiri.


Mereka pun berjalan kaki mencari tukang bakso yang juga menjual jus di lapaknya. Setelah berjalan jauh, mereka tidak menemukannya.


"Yan, ngapain sih elu? Manja banget pengen tukang bakso yang jualan jus juga. Kalo mau jus ya nyari nya ke tukang jus lah, bukan ke tukang bakso!" Anang merasa emosi, ia sudah tak tahan ingin makan di cuaca yang dingin ini.


"Hmm.. lu kok pinter sih Nang?"


"Lu aja yang tolol kali."


Mereka pun berbalik arah, memesan jus sebentar dan pergi ke sebuah lapak bakso.


"Mau pesen sekarang?" Tanya Anang basa-basi, padahal ia sudah sangat lapar.


"Kenapa nggak?" Jawab Brian.


"Si Yuna? Gimana? Apa sekalian kita pesenin aja."


"Ya udah, lu yang pesen. Gue samain aja."

__ADS_1


__ADS_2