Kosong

Kosong
Ahh Basah


__ADS_3

Pemandangan seputar jalan yang amat begitu menyegarkan. Kawasan itu merupakan sebuah desa yang banyak ditumbuhi tanaman hijau. Untuk mencapai tujuan, mereka harus melewati sawah yang cukup luas dengan pijakan pematang yang cukup sempit.


Berbekal pengalaman, mereka sudah diwanti-wanti oleh Brian untuk menggunakan sandal dan juga pakaian yang nyaman digunakan. Sesekali Sinta berhenti dan ingin mengambil gambar.


Dengan kamera digital yang ia bawa, Sinta berpose di atas sebuah batu besar yang berada di tepi lingkup sawah. Ia duduk menjulurkan kakinya dan melepas sandal gunung yang modelnya serupa seperti milik Brian.


"Bunganya mana?!" Pekik Sinta masih duduk di atas batu.


"Ini," tak lama Brian menyelipkan sesuatu pada daun telinganya Sinta.


"Aww.. ini apa?" Sedikit Sinta mendapat gesekan kasar di telinganya.


"Umbun padi." Brian lalu menjauh dari Sinta. Ia melihat pemandu jalan yang merupakan warga sana memelototinya.


"Ehehe.. minta satu Pak." Ucap Brian lalu mengambil posisi dengan kamera.


"Ckrek!"


Jadilah potret jelmaan Nyimas Pohaci yang kecantikannya itu menggoncangkan seluruh khayangan. Namun ini versi modern dan versi rambut pirangnya.


Setelah berjalan sekian lama, akhirnya mereka sampai juga di titik awal. Sebuah sungai yang di sebrangnya terdapat perkebunan. Mereka datang di waktu yang pas, aliran sungai lumayan deras karena saat ini sedang musimnya hujan.


Satu perahu berkapasitas sekitar 8 orang termasuk 2 orang pemandu depan belakang. Mereka yang berjumlah 9 orang memutuskan untuk membaginya ke dalam 2 kelompok. Kelompok pertama, Brian, Anang beserta pasangannya dan kelompok ke 2 adalah sisanya.


Para rafter (penumpang) diharuskan menggunakan pelampung terlebih dahulu. Tak lupa, mereka juga memasukkan barang-barang berharga pada tempat yang kedap air.


"Gue gak mau pake jaket ginian, ngejreng banget, keliatan gendut. Ini apaan lagi, pake helm segala. Emangnya bakalan ada yang nilang?"


Wendy merasa tidak cocok dengan style nya. Padahal itu adalah APD (Alat Pelindung Diri) yang pastinya diwajibkan untuk dipakai karena pihak penyedia wahana juga tidak mau terjadi suatu hal yang berakibat membahayakan.

__ADS_1


"Bentar aja, jalan ke sana doang pake gengsi segala." Ucap Brian menunjuk ke ujung sungai.


"Gue gak ikut aja lah, ini juga lagi gak enak badan kayaknya." Wendy beralasan.


"Lah? Kan udah dibayar? Jangan-jangan elu takut ya?" Anang merasa curiga.


"Kagak lah. Masalah itu mah gampang, ntar gue ambil lagi duitnya ke Si Abang."


"Gak bisa gitu lah Bro, kita kan ke sini mau naik sama-sama. Lu gak solid gitu ah."


Mendengar perkataan Anang, Wendy pun merasa tidak enak. Terpaksa ia ikut dan naik bersama dengan rombongannya.


"Ssss..."


Desiran air sungai yang begitu deras serasa menenangkan otak dan pikiran. Bukan di titik itu, tapi di ujung sana. Titik ini airnya masih tenang, perlahan perahu karet pun mulai berjalan didayung oleh para pemandu.


Para penumpang tidak mau mengambil dayung, mereka hanya ikut numpang dan menikmati aliran sungainya.


Belum apa-apa, para wanita sudah ada yang berteriak saat melewati waterfall itu. Yuna tidak banyak bicara, meskipun takut ia tetap menahan suaranya.


Banyak palang saluran air yang melintas di tengah sungai. Maka dari itu, sesekali mereka harus menunduk untuk menghindari kepalanya agar tidak tersangkut maupun tertabrak ke palang itu.


Arus sungai mulai deras, dan perahu berjalan semakin cepat. Banyak juga bebatuan kecil dan besar yang membuat mereka takut saat melewatinya. Diantara mereka ada yang takut jatuh menabrak batu, atau perahu karet meletus tertusuk batu.


Rasa tegang itu bercampur teriakan yang diikuti oleh tertawaan. Pegangan semakin erat dan pakaian mereka pun sudah ikut menjadi basah. Semakin ke sini, arus sungai semakin deras. Susana semakin gelap dan kini mereka disajikan oleh pemandangan hutan rimbun di kedua sisinya.


Yuna tidak bisa menyembunyikan ketakutannya. Ia yang duduk di posisi depan juga ikut menjerit tak karuan. Di kali pertamanya ini, ia tetap memakai dress pendek padahal sudah diperingatkan.


Tapi, untungnya ia memakai shorts (celana pendek) agar ia masih merasa aman. Sebenarnya Yuna tidak suka memakai berangkap-rangkap, ia selalu merasa gerah dan hanya memakainya untuk kali ini saja.

__ADS_1


Sampailah dress miliknya itu tersingkap dan menampakkan sebuah shorts berwarna hitam segaris pangkal paha. Shorts itu panjangnya memang setengah paha, tapi ia menyingsing sehingga menampakkan pahanya yang putih dan mulus tidak berbulu.


Beberapa menit fokus ke depan karena harus mewaspadai palang air, Yuna baru tersadar akan paha yang nampak terbuka lebar. Sedari tadi ia hanya menjerit, jantungnya merasa berdegup kencang.


Apalagi saat menuruni waterfall yang katanya tingginya itu 3 meter, jantungnya terasa melayang dan hampir copot. Sekarang, saat situasi begini pahanya tak bisa diajak kondusif. Dan lagi, Wendy duduk tepat di belakang sampingnya. Dengan segera, tangan kanannya berusaha untuk menutup kembali pahanya itu.


'Tu cewek pahanya kecil amat. Pake baju yang ribet lagi.' Gumam Wendy sedikit melihat Yuna yang tengah berusaha menutupi pahanya.


"Hey! Liat ke depan!" Teriak Wendy saat perahu itu tengah berjalan cepat. Di depan sudah terlihat palang air melintang, dan kelihatannya itu sangat rendah, jika hanya menunduk pasti akan kena juga.


"Tiarap woy tiarap!" Teriak Gilang yang juga masih dalam satu perahu.


Tak sempat, Yuna yang diperingatkan untuk melihat ke depan itu malah menoleh ke belakang sambil terus menutup-nutupi paha bagian kanannya. Akhirnya Wendy pun menjulurkan tangan dan menumbangkan tubuh Yuna ke belakang.


'Bikin repot aja, mana di depan Wita lagi.' Gumam Wendy saat melakukan hal itu.


Yuna menjerit, terkejut dengan apa yang Wendy lakukan. Tapi, perasaan aneh apa ini? Dada kirinya tercengkram kuat oleh tangan kasarnya Wendy. Baru kali ini ia merasakan dadanya disentuh oleh pria, dan ahh.. rasanya.. rasanya Yuna terkejut dan ia langsung melepas tangan kirinya yang tengah menggenggam tali.


Namun, saat ia melepas tangan kirinya dan ingin berusaha menyingkirkan tangan Wendy, tiba-tiba saja Wendy juga melepaskan cengkramannya. Rupanya palang air itu sudah selesai mereka lewati.


"Woy! Elu disuruh tiarap malah baring ke belakang! Gue kehimpit goblok!" Gilang marah-marah kepada Wendy yang duduk tepat di depannya.


"Ya maaf, kalo nolongnya ke depan kan su-" ucapan Wendy tiba-tiba terpotong oleh sebuah teriakan.


"Aaaa!!!"


Yuna yang lengah dan malah melepas kedua tangannya itu terjatuh ke dalam sungai. Pemandu yang profesional itu segera berusaha memberhentikan laju perahu di tengah derasnya sungai.


Yuna berkecibak mengambang di atas sungai. Padahal ia memakai pelampung, tapi dirinya seperti orang yang tengah tenggelam. Ia terbawa arus, untungnya perahu Brian yang berada di depan sigap membantu dan membawa Yuna ke dalam perahunya. Betapa malunya Yuna, lebih baik ia mati saja rasanya.

__ADS_1


'Tu cewek bisanya nyusahin mulu. Udah ditolongin masih aja nyemplung ke aer.' Gumam Wendy di atas perahunya.


__ADS_2