
Tanpa rasa malu, keduanya bercumbu di tempat itu. Semua orang melongo, terkecuali Wendy, ia terlihat tenang-tenang saja.
'Apa yang dipikirin sama si Wendy?' Gilang dan Anang keheranan.
Padahal sebelum itu Wendy melihat sendiri bagaimana pacarnya mendekati Brian. Tapi ia hanya diam dan membiarkan.
Tiba-tiba saja Wendy bangkit, membuat Anang dan Gilang terkejut. Mereka takut akan terjadi suatu perkelahian. Wendy bergerak maju menghampiri pasangan itu. Dengan nada lesu dan mata yang sayu ia terlihat sedikit membungkuk.
"Puas?" Wendy berbisik ke telinga pacarnya.
Tapi pacarnya itu tidak terhentikan, entah ia tidak mendengar atau tidak peduli lagi dengan kata-kata Wendy, ia menghiraukannya dan terus bercumbu dengan Brian.
Lalu Wendy beranjak ke luar dan pergi dari tempat itu menggunakan motornya.
"Oi! Oi!"
Anang dan Gilang merasa sudah kehilangan Wendy, salah satu temannya. Di sisi lain mereka khawatir akan terjadi sesuatu kepadanya, karena saat ini ia sedang berkendara dalam keadaan mabuk.
'Ini semua gara-gara si Brian!'
Mereka segera menyadarkan Brian. Dalam hati, mereka merasa kesal, tapi mereka juga tidak ingin kehilangan Brian.
Akhirnya Brian melepaskan cumbuannya dan mendorong wanita itu untuk menjauh dari tubuhnya. Ia sadar ketika mendengar bahwa temannya, Wendy, sudah pergi.
Sepertinya Wendy marah besar dan memilih untuk memutuskan hubungan daripada berdebat. Saat itu semuanya hanya terdiam dan menunggu kesadaran mereka pulih kembali.
Setelah merasa agak baikan, mereka pulang berjalan kaki. Anang, Gilang, dan pacarnya Wendy itu tidak tahu akan pulang naik apa.
Sebelumnya Anang dan Gilang berangkat bersama Wendy. Tapi untungnya Brian memberikan tumpangan dan mengajak mereka untuk menaiki taksi yang sudah ia pesan lewat ponselnya. Keduanya terlihat kecut, tapi mereka menerima tawaran Brian.
Brian duduk di depan untuk menjaga jarak dengan pacarnya Wendy. Saat itu Brian merasa tidak nyaman. Ia baru sadar bahwa dirinya sudah bermain bahkan berpagut mulut dengan perempuan yang menurutnya biasa saja.
Rasanya Brian ingin muntah, ia ingin melenyapkan wanita itu. Dirinya tak mau lagi melihat wajah wanita itu karena merasa harga dirinya telah ternoda seorang wanita jelek.
Tapi saat itu ia harus menjaga sikap di depan semua orang. Dan jika hal buruk terjadi, Brian akan menerimanya. Ia merasa tenang-tenang saja jika kawanannya itu memutuskan hubungan pertemanan dengannya.
__ADS_1
'Masih banyak yang pengen temenan sama gue, bahkan yang lebih oke dibanding lu semua,' pikir Brian.
"Dek, habis dari mana?"
Tiba-tiba, sopir taksi itu bertanya. Membuat Brian memanahkan tatapan tajam. Tentu saja sopir itu curiga, mereka terlihat seperti sudah mabuk, datang dari tempat yang sepi, dan terlebih lagi membawa seorang wanita.
'Apa yang sudah mereka lakukan ya?' Pikir sopir itu.
"Memangnya harus ku beri tahu?!" Brian yang saat itu moodnya sedang buruk, tak sengaja mengeraskan suaranya.
Orang-orang yang duduk di bangku belakang hanya diam saja. Pak Sopir yang mendengar jawaban sinis dari Brian merasa cemas, ia takut jika mereka akan berbuat jahat kepadanya.
'Lebih baik aku diam saja dan tidak ikut campur.'
Sopir itu hanya harus melakukan tugasnya, tentunya sebagai seorang sopir, yang mengantar pelanggannya kemanapun ia mau.
Biasanya tidak ada sopir taksi yang curiga kepada Brian, karena ia sering berangkat sendirian. Terkadang ia pulang sendiri naik taksi atau ikut naik motor bersama ketiga temannya.
Sampai di tempat tujuan, tidak ada obrolan lagi antara mereka dengan sopir itu. Brian turun di depan rumah, sementara tiga yang lainnya sudah ia turunkan di terminal.
Seketika taksi itu langsung pergi dan meninggalkan rumahnya. Brian merasa cemas, ia takut jika suatu saat kelakuan nakalnya ini diketahui oleh seseorang, apalagi ibunya.
Kali ini ia harus berhati-hati dan tidak boleh ceroboh. Apakah Brian harus meninggalkan base camp nya itu?
'Sial, gara-gara ini seseorang jadi curiga!'
Brian ingin dengan leluasanya pergi ke sana kemari. Tapi saat ini ia hanya bisa diantar jemput oleh sopir taksi.
Dulu, ia pernah meminta dibelikan sepeda motor kepada ibunya. Seperti temannya, Wendy, yang sudah mempunyai motor sendiri. Tapi Ibu khawatir dan tidak mengizinkannya, karena saat itu ia masih di bawah umur.
Esoknya, Brian berangkat sekolah seperti biasanya. Ia tak pernah sekalipun tidak pergi ke sekolah. Itulah yang membuat Brian nampak seperti anak yang rajin di mata ibunya.
Di sekolah, terlihat ketiga temannya sudah menunggu di ruangan kelas. Mereka mengajak Brian ke WC sekolah untuk membicarakan hal yang sebelumnya. Brian ikut-ikut saja, mereka duduk santai di depan WC seperti biasanya.
Saat itu Brian enggan membuka percakapan untuk meminta maaf, karena ia pikir dirinya tidaklah salah. Ia tidak mau menjatuhkan harga dirinya hanya demi pertemanan yang tidak selevel itu.
__ADS_1
"Soal yang kemaren, gue gak marah sama lu," ucap Wendy memulai percakapan.
Mendengar hal itu, sontak mereka terkejut. Mereka pikir Wendy akan berakhir dengan memutuskan hubungannya dengan Brian. Tapi yang keluar dari mulutnya memang benar adanya. Wendy juga tahu bahwa yang salah itu adalah pacarnya. Semua juga melihat sendiri bahwa pacarnya Wendy lah yang berusaha mendekati Brian.
Anang dan Gilang yang tadinya geram kini menjadi lunak, mereka mengerti kalau Brian saat itu juga tak sadar. Menurut pernyataan Wendy, saat ini ia masih berpacaran dengan wanita itu. Meskipun ia merasa telah dikhianati, tapi ia dengan ikhlas memaafkannya.
Hubungan persahabatan antara 4 orang pria itu pun tetap membaik. Apapun masalahnya, mereka berjanji akan tetap menjaga hubungan pertemanan.
Hari-hari berlalu, suatu hari, terlihat sebuah taksi terparkir tepat di depan rumah Brian. Taksi itu sengaja datang di saat jam sekolah. Pak Sopir terlihat sedang mengamati rumah Brian, ia tidak berani memanggil tuan rumah sama sekali.
Tiba-tiba seorang wanita berjalan melewati taksi itu dan membukakan gerbang.
"Bu! Bu!" Sopir yang tanggap itu langsung membuka pintu mobilnya dan memanggil wanita itu.
"Iya Pak?" Ternyata wanita itu adalah ibunya Brian. Ia baru pulang dari rumah tetangganya.
"Permisi Bu, saya sopir yang dulu pernah mengantarkan anak tampan ke mari. Apakah itu anak Ibu?" Tanya sopir itu. Ibu yang mendengar sebutan anak tampan merasa malu dan ragu untuk menjawab.
"I-iya Pak, memangnya ada apa ya?"
"Gini loh Bu, saya juga tidak tahu kebenarannya bagaimana. Tapi waktu itu saya disuruh menjemput anak Ibu. Dari tingkah mereka, saya pikir.. nak tampan sama teman-temannya itu kayaknya habis mabuk Bu, mereka berempat, dan salah satunya juga seorang wanita." Sopir itu bertele-tele sambil memperagakan tangannya.
"Tempat itu sepiii... Bu, jadi saya sedikit curiga. Maaf jika saya salah sangka, tapi saya tidak bisa tinggal diam saja melihat anak muda yang seperti itu." Lanjut Pak Sopir.
Hati Ibu langsung tersentak mendengar hal anaknya dikata-katai seperti itu. Ia tidak mau percaya begitu saja kepada orang yang bahkan sama sekali tidak ia kenal.
'Bisa saja sopir itu berbohong?' pikir Ibu.
Tapi di sisi lain, Ibu khawatir jika yang dikatakan oleh sopir taksi itu memang benar adanya.
"A-ah? Begitu ya Pak? Terimakasih sudah memberitahu saya. Saya akan coba menanyakan hal itu langsung kepada anak saya." Jawab Ibu sambil tersenyum menutupi kekhawatirannya.
"Baik kalau begitu Bu, saya menjadi lebih lega. Kalau begitu saya permisi ya Bu," sopir itu memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan halaman rumah Brian.
Bersambung...
__ADS_1