
Brian yang sudah berada di depan pintu itu mengetuk pintu kamar Ibu terlebih dahulu sambil memanggil-manggil ibunya. Beberapa kali mengetuk dan memanggil, Ibu tak kunjung juga membukakan pintu.
"Bu, ada pakaian kotor tidak di dalam?" Brian akhirnya masuk dan membukakan pintu.
Nampak Ibu yang sedang telungkup di atas kasur dengan tubuh yang tertutupi oleh selimut. Menyadari pintu kamarnya terbuka, Ibu langsung terkejut, earphone yang menyantel di telinganya tersambung pada layar ponsel yang langsung ia balikkan.
"Siang-siang gini Ibu kok pake selimut? Ibu lagi sakit ya?" Brian merasa khawatir, sebelumnya ia seperti mendengar suara racauan di balik pintu.
"A-ah! Tidak! Ibu sehat-sehat saja kok, cuma ac nya saja yang terlalu dingin. Ada apa Brian?"
"Ohh, Brian mau mengambil cucian kotor disini, ada tidak Bu?"
"Tidak ada, disini tidak ada pakaian kotor."
"Hmm.. ya sudah, Brian tutup kembali pintunya."
Berjalan dan mematikan air yang mengalir ke mesin cuci, Brian berpikir, mengapa ibunya itu bersikap aneh? Padahal Ibu bisa mematikan ac nya jika merasa suhu ruangan terlalu dingin. Brian pun menuangkan deterjen ke dalam mesin cuci dan mengatur waktu pencucian selama 5 menit. Ia kembali dengan gawainya dan melanjutkan tontonannya yang tadi.
Malam tiba, Brian baru memasang aplikasi chat di ponselnya karena yakin bahwa Sinta tidak akan menemuinya malam-malam begini. Notifikasi pun muncul dari beberapa kontak yang terlihat sudah mengiriminya pesan.
Esok hari, Brian segera mengabari teman-temannya mengenai Wendy yang sudah memiliki ponsel baru.
"Eh, Wendy udah punya ponsel loh, semalem dia kirim pesan ke aku, kalo mau ketemu kabarin dulu katanya." Ucap Brian kepada kedua temannya.
"Beneran Bro?!" Anang merasa tidak percaya.
"Iya, nih," Brian menunjukkan isi chatnya dengan Wendy yang semalam.
"Ohh.. lu mau pamer ponsel baru ya?" Ucap Anang yang belum melihat isi ponsel Brian.
"Nggak kok, ini beneran, Wendy kemarin kirim pesan sama aku." Brian meningkatkan kecerahan layarnya. Mereka yang melihat percakapan itu pun langsung percaya, tentu saja Yuna yang juga ikut mendengar tak hanya tinggal diam.
Tepat saat Brian kembali duduk di bangkunya, sebuah pesan yang sudah Brian duga muncul seketika.
__ADS_1
Pesan dari Yuna:
"Apa benar Wendy sudah mempunyai ponsel? Kalau begitu aku ingin minta kontaknya."
Brian menimbang-nimbang permintaan Yuna, jika Yuna mengirim pesan kepada Wendy, mungkin saja Wendy akan berpikir bahwa Brian yang memberikan nomornya.
Semua metode pendekatan ini harus dilakukan secara halus, seolah tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Jika berhasil, Wendy akan mengira hubungannya dengan Yuna ada bukan karena campur tangan seseorang.
"Ya, tapi aku tidak bisa memberikan kontaknya, nanti Wendy akan curiga."
Brian membalas dan pesannya itu langsung dibaca. Anang dan Gilang sudah tahu apa yang sedang terjadi diantara mereka, jadi mereka membiarkannya saja.
"Aku tidak akan menelpon maupun mengiriminya pesan! Jadi tolong, berikan kontaknya kepadaku,"
Balasan dari Yuna muncul dan membuat Brian heran. Untuk apa ia meminta kontak Wendy jika dirinya tidak akan pernah menghubunginya? Dengan alasan itu, Brian sama sekali tidak luluh.
"Yuna, kamu diam saja jika ingin semuanya berjalan dengan lancar."
Brian takut Yuna tidak akan bisa memegang omongannya, tahu-tahu suatu saat Yuna menghubungi Wendy dan membuat Wendy risih kepadanya.
"Eh, apa-apaan lu?" Tanya Anang sewot, sambil mencengkram kerah baju gadis itu.
"Hey, udah-udah, aku kenal sama dia kok, kalian duluan aja." Brian melepaskan tangan Anang dari kerah si gadis kurcaci dan membiarkan mereka pergi duluan.
"Ada apa?" dengan nada rendah, Brian langsung bertanya.
Gadis itu tiba-tiba menyerahkan kedua alat bantu dengar (ABD) miliknya kepada Brian sambil berbicara sesuatu yang sama sekali tidak bisa Brian pahami.
"Kenapa? Apa kau tidak menyukainya?" Tanya Brian.
Gadis itu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, ia berusaha berbicara dengan mulutnya yang tidak fasih mengucapkan suatu kosa kata. Hal itu membuat Brian kebingungan, di tengah keramaian ini Brian juga tidak bisa mendengar suara gadis itu dengan jelas. Apa yang sebenarnya gadis itu katakan?
Tiba-tiba seorang wanita seumurannya datang dan menghampiri si gadis kurcaci. Ia langsung memegang tangannya erat dan menatap tajam ke arah Brian.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau lakukan kepadanya?!" Tanya gadis itu membuat Brian terkejut dengan suaranya. Seketika semua orang juga ikut memandang ke arah mereka.
Gadis kurcaci lalu melepaskan tangannya yang dipegang. Ia menggerakkan tangannya dan berbicara dengan bahasa isyarat kepada wanita itu.
"Dia lagi ngapain? Nari ya? Hahaha.."
"Lagi ngelawak kali, hahaha.."
"Oh itu kan Brian yang ganteng itu! Pasti dia lagi nge bully tu cewek,"
Suara siswa-siswi yang menonton mereka membuat Brian merasa geram.
"Apa yang sedang kalian tonton?! Ini bukan tontonan! Cepat bubar!" Ucap Brian dengan suara yang lantang, sebenarnya ia merasa malu berkata seperti itu di depan umum. Tapi dirinya ingat, di masa lalu ia memang tidak tahu malu dan suka berbicara kasar kepada siapapun.
Siswa-siswi yang berada di sana pun tidak berani lagi menonton dan ikut bubar sesuai perintah. Wanita yang tadi menghampiri gadis kurcaci itu tiba-tiba meminta maaf kepada Brian.
"Maafkan aku, aku tidak mengira bahwa kau sebaik itu. Dia ingin menyerahkan alat ini kepadamu."
"Oh, apa kau bisa mengerti apa yang sedang dibicarakan olehnya?" Brian takjub melihat wanita itu dapat mengartikan bahasa yang rumit itu.
"Ya, aku belajar, karena aku juga ingin memudahkan dia untuk berkomunikasi."
"Dia ingin menyerahkan alat ini kepadamu, ayahnya bilang, alat ini harganya mahal, mereka tidak mampu membayar maupun menyicilnya." Wanita itu menyerahkan ABD milik si gadis kurcaci, tapi Brian tetap tidak mau menerimanya.
"Aku memberikan ini kepadanya, lagi pula aku memilih harga yang murah. Jadi, jangan dikembalikan. Alat ini milikmu,"
"Aku akan pergi, teman-temanku sudah menunggu." Brian berjalan pergi meninggalkan mereka.
Kepergian Brian membuat wanita itu melongo, dimana pun ia mencari sebuah ABD, harga paling murah yang ia temukan adalah ratusan ribu, yang menurutnya itu sama sekali tidak murah. Apalagi ini, dia membelikannya sepasang untuk si gadis kurcaci.
Brian pun sampai di warung tempat nongkrong biasa. Anang dan Gilang terlihat santai saja saat melihat kedatangan Brian. Mereka sama sekali tidak ingin tahu apa yang sudah Brian obrolkan dengan gadis itu.
"Tadi Yuna minta kontaknya Wendy, tapi aku gak kasih." Ucap Brian sambil mengambil sebuah minuman dari lemari pendingin.
__ADS_1
"Kita kudu temuin mereka lagi," ucap Gilang.