
Sudah ada penginapan yang sebenarnya mereka sewa di ponselnya Sinta. Kos-kosan harian yang memperbolehkan para pria dan wanita bercampur di dalamnya.
Eitss! Tapi tentu bukan dalam 1 kamar mereka bercampur. Mana mungkin pemilik indekos membebaskan mereka dengan santainya. Karena itu kos, bukan rumah bordil.
"Mana Wen, gak ada. Nempel di alas sendal kali."
Usai sarapan, mereka meminta waktu sebentar kepada Pak Sopir untuk mencari kartu ponselnya Wendy. Tapi, dicari di setiap sudut bahkan di langit-langit mobil pun mereka tidak bisa menemukan di mana gerangan kartu itu bersembunyi.
Lalu mereka melupakannya dan segera menuju ke tempat penginapan secara mandiri. Mengandalkan ponsel pintar dengan rute yang lumayan sulit untuk dimengerti. Sinta si pemandu malah membuat mereka kesasar masuk pada beberapa gang. Bolak-balik mereka seperti orang lingnglung yang baru keluar dari dalam goa.
"Hahh Sinta, sebenernya kamu itu bisa baca rutenya gak sih?" Brian menghela nafas lelah. Ia terlihat rempong membawa barang bawaannya Sinta.
"Bisa, ini sebentar lagi kita sampai." Ucap Sinta sambil berjalan memandangi layar ponselnya.
"Punya gue kok semalem gak ada sinyalnya ya? Tapi punya si Sinta kok ada?" Wendy merasa aneh.
"Mungkin kartu punyamu beda provider, di sini jaringannya masih minim." Jawab Sinta masih fokus ke ponselnya.
Penjelasan Sinta itu begitu sulit dimengerti oleh Wendy. Macam rumus Matematika, Fisika dan sejenisnya. Ia masih awam dengan perlengkapan lain yang berhubungan dengan ponselnya. Milik Sinta memang masih lancar jaringannya, jika ditanya kartu apa ya pasti jawabannya adalah kartunya sultan.
Setelah sekian menit berjalan dan putar balik, akhirnya mereka sampai juga di tempat Ibu Kos. Sinta sedikit bertanya kepada penduduk karena ia sebenarnya tidak mengerti cara membaca rute dengan benar.
Usai mendapatkan kunci kamar, mereka pun akhirnya bisa masuk ke dalam. Sebuah rumah kos bebas yang memiliki beberapa kamar di lantai bawah dan juga di lantai atas. Lantai bawah adalah tempat wanita, dan lantai atas adalah tempat persemayamannya pria.
Di lantai bawah dan atas terdapat ruang tamu begitupun ruang TV. Tempat menjemur bisa di bagian atap yang dicor, di balkon, ataupun di depan tempat kos itu sendiri. Kamar mandi berada di luar, bangunannya terpisah dari kos dan hanya memiliki 5 kamar saja.
Yang tidak lengkap adalah dapur, pemilik kos tidak menyediakan dapur di sana. Jadi, mereka harus membeli masing-masing kebutuhan pangan yang sudah siap untuk disantap.
Hanya 2 kamar yang mereka sewa. Padahal, harga kos lumayan murah, hanya 50 ribu per hari saja. Namun, jika dilipat gandakan beberapa hari memang terlalu tinggi untuk budget anak-anak sekolahan.
Di dalam kamar sudah tersedia kasur beranak (kasur yang ada anaknya yang digeser itu loh) dan satu buah lemari baju beserta satu buah kipas angin. Luas kamar kira-kira 3,5×4 meter.
__ADS_1
"Sudah ada gantungannya, kalian mau menggantung pakaian di sini?" Ucap Sinta saat membuka lemari pakaian.
Pakaian pun mereka gantung agar tidak terlihat kusut. Sinta sudah membawa tikar lipat, jadi mereka bisa duduk-duduk juga di atas lantai. Karena agak pengap, mereka memutuskan untuk keluar dan duduk di ruangan yang lebih luas.
Sampailah di ruang tamu yang sebelumnya Ibu Kos perkenalkan. Di sana mereka juga bertemu dengan penghuni kos lain. Sebut saja Dewi, ia terlihat duduk sendirian bersama dengan ponselnya.
Katanya, ia tengah menunggu kedatangan pacarnya. Pemilik kos memang mengizinkan mereka membawa tamu pria ataupun wanita, asalkan tidak sampai melebihi batas waktu yang telah ditentukan.
"Pacarmu tinggal jauh dari sini?" Tanya Sinta yang supel itu.
"Lumayan jauh, dia sudah bekerja dan ini adalah hari liburnya." Ucap Dewi dengan senyuman.
"Kalian akan tinggal berapa hari di sini?" Lanjut Dewi balik bertanya.
"Mm.. mungkin 2 atau 3 hari."
"Ohh.. singkat sekali, aku di sini sudah lama. Sejak.. satu tahun ke belakang mungkin."
"Pacarku sudah di depan, aku pergi dulu ya." Dewi bangkit dari duduknya.
"Kau bilang dia akan datang ke sini?" Tanya Sinta. Sebelumnya Dewi bilang ia akan mengajaknya masuk ke dalam.
"M-mm.. pacarku mengubah rencana, kita akan pergi jalan-jalan."
Dewi pun pergi dan kini hanyalah tinggal mereka saja. Baru saja pukul 4 pagi mereka sarapan dan jajan, pukul setengah 8 sekarang mereka sudah merasa lapar lagi.
"Aku lapar.. kita cari makan sekarang yuk, sekalian kita berangkat. Tapi sebelum itu aku ingin cuci muka dulu." Ucap Sinta mengajak bawahannya.
"Iya Kak, aku juga sudah lapar." Desi ternyata sehati juga.
Hanya mencuci muka dan berhias serta mengganti pakaian, mereka sudah merasa siap. Hari ini mereka akan basah-basahan, jadi tak perlu mandi dahulu, yang penting terlihat sudah mandi dan cantik saja.
__ADS_1
Sinta memimpin mereka menuju ke lantai atas. Sekalian ia penasaran dengan isi kamarnya para pria. Sinta tahu betul di mana letak kamarnya. Ia langsung membukakan pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Dan apa yang mereka para pria tengah lakukan? Mereka sepertinya sedang mengonsumsi obat-obatan.
Desi segera masuk melihat Anang meminum apa. Ia kira Anang sedang sakit, tetapi tiba-tiba Anang malah mencium bibirnya. Betapa malunya Desi, ia langsung menjauh saat itu juga. Tidak seperti Sinta yang secara terbuka melakukannya, Desi masih memiliki banyak urat malunya.
Hanya saja, saat ia tahu Sinta begitu, Anang menyuruhnya untuk diam saja dan tidak melihatnya. Maka jadilah mereka melakukan aktifitas seperti biasanya, meskipun mungkin ada pendapat tak jelas yang terselip di dalam hatinya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Sinta padahal ia sudah tahu.
"Tutup dulu pintunya Sinta." Titah Brian.
Sinta melihat beberapa obat-obatan yang ada di tangan Anang dan Wendy. Ia pikir Brian dan Gilang sedang tidak mengonsumsi obat-obatan itu. Karena dirasa aman, ia pun masuk menutup pintu setelah yang lainnya ikut ke dalam.
"I-itu apa Anang? Kau sakit?" Tanya Desi tidak tahu.
"Nggak, ini cuma vitamin. Kamu mau? Rasanya manis kok." Anang menyodorkan beberapa pil kuning di tangannya.
Saat ini mereka tengah mengonsumsi obat-obatan jenis psikotropika. 2 klip Hexymer dan 2 strip Trihex, obat-obatan yang dikhususkan untuk menenangkan pasien pengidap gangguan jiwa.
Namun, karena penjualan obat yang tidak terlalu ketat dan mudah didapatkan di apotik terdekat, para bocah goblok itu malah menyalahgunakannya. Mereka yang tidak sakit itu mengonsumsi pil dalam jumlah yang tidak dianjurkan.
"Nang, gak boleh gitu lu. Masa lu mau ngasih doi obat-obatan." Gilang memperingatkan.
"Yaelah, lagian efeknya juga gak kerasa." Anang malah memakan pil yang dipegangnya.
"Kita jadi berangkat sekarang?" Tanya Brian kepada Sinta.
"Ayo, aku sudah lapar. Kita jajan dulu ya."
Para pria juga tidak mandi dulu, mereka juga tidak berganti baju. Langsung saja mereka keluar dan mengunci pintu kamarnya, mengikuti para perempuan yang katanya ingin makan-makan.
__ADS_1
Sampai di sebuah kedai hanya kaum wanita lah yang asyik bersantap banyak makanan. Kaum pria hanya memesan segelas kopi dan menikmati hisapan rokok.