Kosong

Kosong
Menghotel


__ADS_3

"Kek, apapaan sih? Menjauhlah dariku!"


Brian merasa geram. Saat awal perjalanan, Koth duduk melekat di samping Brian. Dan sekarang saat baru turun dari mobil, ia berjalan menempelkan bahunya di bahu Brian.


"Ppftt! Dia itu khawatir kepada kau Brian." Bisik Sinta, ia sudah tahu siapa Koth yang sebenarnya dari Brian sendiri.


"Padahal tidak akan ada yang menculikku."


"Ppftt! Mungkin dia yang takut diculik, Brian. Sudahlah, biarkan saja."


Mereka pun segera masuk ke resort dan menuju ke kamar masing-masing. Brian dengan Sinta, Anang dengan Desi, Yuna dengan Wendy, Molla bersama Hermione, sedangkan Gilang, Rendra, dan Koth berada dalam satu kamar.


"Jangan mengkhawatirkanku, dan aku titip Kakek kepada kalian." Brian dan Sinta memisahkan diri.


Tentu Rendra yang melihat keduanya pergi tidak terima jika selama liburan ini Brian akan tidur berdua dengan Sinta. Tapi Rendra berusaha meyakinkan diri, sebelumnya ia sudah diberi kepercayaan oleh Brian juga.


"Brian, apa maksudmu?! Kau tidak ingin tidur denganku?!" Sinta baru saja masuk ke kamarnya, ia melihat 2 buah ranjang yang terpisahkan.


Tidak ada yang tahu kalau Brian memesan ekstra bed di kamarnya kecuali Rendra. Semua tettek bengek mengenai resort, Brian dan para pria lah yang menentukan. Bintang 5 tentu dipilihnya, karena tak ingin para wanita protes.


"Untuk jaga-jaga, Sinta. Kau itu adalah yang paling sempurna, mana mungkin aku tidak tergoda olehmu." Brian mengacak-ngacak rambut Sinta. Sekarang ia sudah jauh lebih tinggi dari Sinta, hal itu membuat Brian merasa lebih tua.


"Hmph!" Sinta mendengus kesal, ia langsung berjalan dan duduk di atas ranjang.


Brian sedang tak mau meladeni Sinta, ia lebih sibuk membereskan barang bawaannya. Setelah selesai, ia ikut duduk di samping Sinta yang masih tengah merajuk.


"Memangnya kau tak akan rindu setelah nanti aku berangkat?" Tanya Brian, namun Sinta bersedekap tak mau menatap ke arahnya.


"Apa maksudmu?" Jawab Sinta masih dengan posisi sama.


"Kalau sekarang aku tidur denganmu, aku yakin saat aku sudah di Korea aku akan sulit tidur karena tanpamu. Apa kau akan tega melihatku tersiksa setiap malam?"


"Lebih baik sekarang kau mandi, setelah itu kita nikmati afternoon tea nya, hanya kita berdua." Brian membujuk mengusap kepala Sinta, namun Sinta malah terlihat semakin cemberut.


"Apa aku terlihat kusut?" Sinta langsung mendelik, padahal ia masih cantik tapi sudah disuruh mandi.


"Ah, tidak. Kau cantik Sinta, kalau begitu aku saja yang mandi, kau tak usah mandi."

__ADS_1


Brian takut berbuat salah, ia pun bergegas memilih pergi membersihkan diri. Setelah mandi, keduanya menikmati sore itu dengan segelas teh dan juga camilan ringan khas hotel.


Rencana sebenarnya adalah menikmati nuansa pantai. Tapi mereka baru sampai siang tadi, sekarang hari sudah sore, dan para orang katrok yang perdana menginap di resort juga pasti masih penasaran dengan apa yang ada di sini. Malam ini cukup dengan istirahat saja. Tapi sebelum itu ...


"Ukhh! Ini kenapa susah banget ya?"


Wendy tengah sibuk menarik tirai. Ia menarik bagian sebelah kanan, tetapi tirai itu sangat sulit untuk digeserkan. Kemudian ia beralih ke yang kiri, dan itu juga tidak bergerak sama sekali.


"Kau sedang apa Wendy?" Yuna keluar dari kamar mandi, ia baru selesai membersihkan diri.


"Ini, kok gordennya gak bisa ditutup ya? Apa emang kayak gini?" Wendy masih memegang tirai.


"Bukan seperti itu." Yuna berjalan ke arah nakas.


"Tirainya ditutup secara otomatis." Yuna menekan sebuah tombol dan, srtt.. Tiba-tiba tirai tertutup dengan sendirinya.


'Ohh.. Bisa gitu ya?'


Wendy yang memperhatikan pergerakan pacarnya itu baru tahu kalau tirai bisa ditutup secara otomatis. Ia melupakan tirai, kemudian berjalan dan duduk di atas ranjang.


Yuna beralih duduk di depan cermin, ia menepuk-nepukkan serum dan pelembab untuk meremajakan wajahnya. Tak lupa, body lotion juga dioleskan ke tangan dan kaki. Wendy hanya bisa menyimak, dengan hal ini ia sudah tak heran lagi.


"Sudah?" Tiba-tiba, suara Wendy mengejutkan lamunan Yuna.


"M, iya sudah." Yuna segera bangkit berjalan menuju ranjang.


Wendy berdiri, mempersilahkan Yuna untuk berbaring. Yuna pun merebahkan badannya dan Wendy berputar menaiki sisi sebelah kanan. Keduanya kini saling berbaring berhadapan, dengan jarak sekitar satu bantal.


"Begini boleh kan?" Wendy menatap wajah Yuna, ia mengulurkan tangan kirinya untuk mengelus pucuk kepala Yuna.


Yuna tersenyum dan mengangguk, ia memejamkan mata dan perlahan tidur dengan kening yang masih dielus Wendy.


Sementara itu ...


Tidak ada aktivitas lagi, Koth sudah duluan terlelap di ranjang seberang. Kamar ini juga mendapat twin bed, Rendra dan Gilang sudah berada di atas satu ranjang.


"Hoamm.. Mau tidur sekarang kan?" Tanya Rendra yang sudah mulai mengantuk.

__ADS_1


"Iya." Jawab Gilang.


Setelah itu, lampu tiba-tiba mati dan sebuah suara muncul dalam ruangan.


"Selamat malam." Ucap suara itu, nampak seperti suara wanita.


"Wewe gombel! Apaan tuh?!" Gilang lantas terkejut, ia langsung memeluk Rendra yang berada tepat di sampingnya.


"Bang, Bang, ini Abang kan?" Ucap Gilang sambil meraba-raba tubuh Rendra.


Kejadian apa yang tengah terjadi? Padahal Gilang masih parno dengan bathub di kamar mandi. Suasana berubah jadi mencekam, Rendra yang mendapati sikap Gilang juga terkejut tak bisa bergerak.


"Hooh, ada apaan Lang? Jangan bikin merinding deh." Ucap Rendra masih terduduk kaku.


"Itu Bang, Abang denger suara yang tadi gak?"


"Suara apaan?"


"Tadi ada yang ngomong selain kita, suara cewek, mana mungkin kakeknya Si Brian kan?"


Gilang yakin pasti, suara tadi jelas beda dengan suara Koth. Dan lagi, sekarang Koth tengah terlelap, mana mungkin ia tanpa sadar mengucapkan ucapan selamat malam.


"Ngomong apaaan emang Lang?" Tanya Rendra.


"Selamat malam." Jawab Gilang.


Entah harus membalas ucapan selamat malam dari Gilang atau harus segera memukul Gilang. Tiba-tiba Rendra merasa kesal, ia yang tadinya ngantuk sekarang menjadi melek.


Dan tiba-tiba, lampu menjadi nyala kembali.


"Bujung gabus! Kok nyala lagi? Tadi tiba-tiba mati, sekarang tiba-tiba nyala."


Gilang tersentak dan masih memeluk Rendra. Sementara Rendra, ia masih terduduk tanpa mau melepas pelukan Gilang.


"Yang tadi itu suara robot, itu salah satu pelayanan kamar. Dan lampunya bukan mati sendiri, tapi aku yang matiin." Rendra berkata santai.


Hanya perlu menekan remot untuk mematikan lampu. Dan tadi Rendra melakukan itu di atas ranjang. Ia mengerti kalau Gilang memang asing dengan semua ini. Sebelum tidur, dengan sabar Rendra menggurui Gilang terlebih dahulu. Ia menunjukkan kembali bagaimana saat ia mematikan lampu lalu muncul ucapan selamat malam.

__ADS_1


Gilang pun akhirnya mengerti, ia kira lampu tadi mati dan menyala dengan sendirinya karena Rendra juga sama sekali tidak singgah dari ranjangnya.


'Dasar jomblo, emang udah cocok si diucapin selamat malam.' gumam Gilang yang kali ini sudah bisa terlelap tenang.


__ADS_2