
Brian tidak menonton terlalu dekat, ia merasa tegang dan risih. Semua temannya terlihat sudah siap memeluk bantal guling maupun bonekanya.
'Inilah yang paling menjijikan dalam hidupku,' keluh Brian.
"Sa ra ngee! Nyanyenyo nyenyo!"
Terdengar lagu opening, saat itu mereka bernyanyi bersama.
Akhirnya film dimulai. 3 sejoli itu terlihat sangat serius. Dari belakang, Brian memperhatikan perilaku mereka sambil sesekali melihat adegan filmnya.
"Cium! Cium!" Ujar mereka merasa greget.
Brian merasa jijik dan ingin muntah melihat kelakuan teman-temannya yang lebay.
"Yee!" Mereka memeluk erat benda yang ada di tangan mereka. Akhirnya sampai juga pada adegan yang mereka inginkan.
Sebenarnya mereka ingin menonton film yang lebih erotis, tapi apalah daya, anak dibawah umur dilarang membeli CD yang seperti itu.
Untungnya mama Gilang adalah pengoleksi CD drama Korea. Sesekali Gilang mengajak sahabatnya untuk menonton tanpa sepengetahuan mamanya.
Dari sana juga mereka bisa belajar.
Belajar melancarkan aksi romantis ketika sedang bersama pasangannya.
Tak terasa waktu telah berlalu, Brian yang tadinya enggan menonton jadi ikutan serius. Tapi saat ini sudah pukul empat, mereka tahu waktu dan bergegas pulang ke rumahnya masing-masing.
***
"Bu, nanti malam Brian mau ke luar lagi ya. Ibu jangan khawatir, Brian tidak akan melakukan hal buruk kok." Izin Brian yang baru saja pulang, ia meyakinkan ibunya.
"Iya," Ibu mencoba untuk percaya pada anaknya yang sudah tumbuh dewasa ini.
"Yaudah makan dulu," titah Ibu.
"Aku mau mandi dulu Bu, bau hehe.." Brian menaiki anak tangga dan meninggalkan ibunya.
Brian membuka pintu kamarnya, tiba-tiba ia terkejut, saat ini Sinta tengah berada di atas kasurnya, melipat tangan dan menunggu seseorang datang dari pintu.
"Bu?! Kok ada Sinta?" Tanya Brian heran. Ia takut Sinta menerobos masuk begitu saja.
"Ah! Iya Sayang! Ibu lupa, Sinta sudah lama menunggumu loh," teriak Ibu dari bawah.
"Maaf, aku habis dari rumah teman," Brian meminta maaf kepada Sinta dengan hati yang biasa saja.
Tanpa ingin tahu jawaban Sinta, Brian membuka baju seragamnya yang sudah bau apek, lalu pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya yang kusut.
Tiba-tiba saja ia melihat Sinta sedang memakan cokelat yang ia taruh di atas meja belajarnya.
"Um? Cokelat ini untuk aku?" Tanya Sinta dengan mulut yang penuh cokelat.
"I-iya,"
Cokelat itu memang sengaja Brian simpan di kamar untuk diberikan kepada Sinta, tapi bagaimana ia harus mengatakan bahwa cokelat itu sebagai permintaan maaf untuk mengajaknya putus?
Brian mencoba membulatkan tekad untuk memutuskan pacarnya itu. Tapi sebelum ia bertindak, tiba-tiba Sinta menodongkan sepotong cokelat yang berada di tangannya.
__ADS_1
"Aaaa..."
Dengan ragu, Brian menerima suapan itu. Rasanya begitu manis, apalagi melihat senyum manis Sinta yang saat ini tengah berada di hadapannya.
"Hihi.." Sinta tersenyum kecil dan memeluk Brian yang saat ini tidak memakai bajunya.
"A-ah!? Sinta?" Brian mencoba melepaskan Sinta dari tubuhnya. Ketika sudah terlepas, Sinta memasang wajah sedih yang sangat imut.
"A-haha.. a-aku belum mandi," Brian merasa gugup, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia takut Sinta mencium aroma tak sedap dari tubuhnya.
"Hmm... baiklah, aku akan menunggumu," ucap Sinta dengan nada sedih, ia kembali duduk di atas kasur.
Saat itu Brian bergegas memasuki kamar mandi. Ia tak henti-henti membayangkan wajah Sinta yang manis. Meskipun Sinta dua tahun lebih tua darinya, tapi ia memiliki wajah yang cantik dan imut, membuatnya terlihat seperti awet muda.
'Bagaimana caraku untuk memutuskannya ya?' Pikir Brian yang tengah berada di kamar mandi.
Ketika ia keluar, nampak sosok Sinta yang terlihat sedang menangis. Brian merasa panik dan segera menghampiri Sinta.
"A-ada apa?" Tanya Brian.
"K-kau selingkuh?" Sinta menatap mata Brian sambil meneteskan air matanya. Terlihat Sinta sedang memegang ponsel Brian, mungkin dia sudah melihat isi chat nya.
"T-tidak! Aku sadar, dan baru saja memutuskan mereka," jelas Brian tidak mengerti kenapa ia harus menjelaskannya seperti ini.
Sinta hanya diam dan percaya begitu saja dengan kata-kata Brian, ia mengabaikan kontak lain yang sudah tidak mengiriminya pesan.
"Lalu.. wanita ini? Ini?" Tapi ia menunjukkan kontak Mitha dan Yuna.
"A-ah itu, Mitha hanya salah paham dan menganggapku menerima perasaannya. Kalau Yuna... katanya dia ingin meminta bantuanku."
Sinta sedikit mengerti, wajar saja banyak yang menyukai pacarnya ini. Karena Brian memanglah tampan.
Tertulis:
"Mitha, maaf, sepertinya kau salah paham. Aku bertanya seperti itu hanya untuk memastikan. Dan cokelat itu, itu sebagai permintaan maafku karena telah menolakmu."
Saat itu juga pesannya langsung dibaca.
'Kenapa dia bisa menangis seperti ini?' Tanya Brian heran. Ia tidak pernah melihat mantan pacarnya yang diselingkuhi menangis seperti ini.
"Aku tidak akan selingkuh." Brian menyerahkan kembali ponselnya kepada Sinta dan berbicara layaknya seorang lelaki.
"B-benarkah?" Sinta masih meneteskan air matanya.
"Iyaa," Brian tersenyum meyakinkan gadis cantik itu.
Seketika Sinta menangis lebih keras, ia memeluk lututnya sekuat tenaga. Meskipun ia percaya kepada Brian, tapi sebelumnya Brian sudah tega berselingkuh dengan wanita lain. Tetap saja ia merasakan sakit di hatinya.
'Kenapa bisa seperti ini? Apakah kau benar-benar mencintaiku, Sinta?' Brian merasa ragu, selama ini ia berpacaran dengan Sinta hanya untuk memanfaatkannya.
"S-sinta? Tenanglah!" Brian panik dan bingung harus melakukan apa, menurut adegan drama Korea, saat ini ia harus memeluknya!
Belum sempat ia melancarkan aksinya, tiba-tiba Ibu membukakan pintu dan membuat Brian terkejut.
"Ada apa Nak Sinta? Brian! Kamu apain Sinta?!" Ibu marah-marah kepada Brian.
__ADS_1
'Hah?' Brian hanya mendongak dan bingung mau bagaimana.
"B-b.. Brian selingkuh Bu!!" Dengan nada tersedu-sedu Sinta berbicara.
Ibu yang mendengar kata-kata itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, ia baru mengetahui bahwa Sinta adalah pacarnya Brian.
"Sini coba Ibu lihat," Ibu mengambil barang bukti yang ada di tangan Sinta. Terlihat semua pesan masuk berisi antrian wanita, Ibu yang melihatnya hanya bisa bergeleng sambil menenangkan Sinta.
*kembali lagi ke masa sebelum reinkarnasi
Hari minggu.
Sekitar pukul 7, Brian membuka jendela kamarnya dan melihat ada banyak kuli bangunan sedang memperbaiki sebuah rumah yang berada dalam tatapannya itu.
Rumah itu sudah lama terbengkalai, terlantar dan belum selesai pengerjaannya.
'Ada yang mau beli rumah itu?' Pikir Brian. Ia menghiraukannya dan segera pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Brian hanya memandangi para pekerja itu dari jendela kamarnya.
"Tuk! Tuk! Tuk!"
Bunyi ketukan palu dari seorang pemalu membuat pikiran Brian merasa tenang. Ia ingin berlama-lama memandangi para pekerja itu. Tapi ia hampir lupa bahwa hari ini teman-temannya mengajaknya ke base camp, tempat rahasia mereka.
Brian yang sudah siap itu langsung berpamitan kepada Ibu dan menaiki taksi. Ia turun di sebuah jalanan sepi yang disekelilingnya terdapat hutan rimbun.
Karena tidak boleh ketahuan oleh siapapun, Brian harus turun di tepi jalan dan berjalan kembali untuk menuju ke tempat selanjutnya.
Jalanan batu ia lewati, itu adalah jalan rusak yang sering dilalui oleh kendaraan. Tapi sekarang jarang sekali ada kendaraan yang lewat di sana, mungkin karena tempatnya sepi dan terjal.
Setelah beberapa lama berjalan, ia berbelok ke arah jalan setapak kecil yang menuju ke hutan dan akhirnya ia sampai di base camp.
"Hey! Kenapa lama banget sih?!" Tanya Anang merasa kesal.
"Maklum lah Bro, jalan kaki." Jawab Brian.
"Si Wendy udah beli duluan tuh, gantiin uangnya kasian," titah Anang yang tahu bahwa Brian adalah anak orang kaya.
Tiba-tiba terdengar suara motor seseorang yang sudah tak asing lagi. Itu adalah Wendy, ia datang bersama pacarnya. Terlihat Wendy sudah membeli beberapa botol minuman keras, dan uangnya langsung diganti oleh Brian.
Brian merasa tidak keberatan walaupun temannya tidak ikut patungan. Itu adalah keinginan Brian sendiri, dan teman-temannya pun juga sudah terbiasa.
"Lu kok bawa pacar? Ntar gue embat nangis lu!" Sahut Anang, merasa iri.
Wendy hanya memasang wajah sinis. Ia mengajak pacarnya untuk duduk di sebelahnya. Terlihat pacarnya itu malu-malu, ia berada sendirian diantara sekumpulan laki-laki.
Cup plastik sudah tersedia, duduk melingkar, gelas berputar, semua dibagi sama rata.
'Kalo gue pengen ya tinggal beli, gak usah dibagi-bagi kayak gini. Apalagi di tempat kumuh kayak gini,' ujar Brian dalam hatinya.
Mereka sedang berada di sebuah rumah kosong yang menjorok ke dalam hutan dan jauh dari keramaian.
Awalnya Wendy yang menemukan tempat itu. Ia berkeliling dengan motornya dan menemukan sebuah tempat sepi yang saat ini mereka anggap sebagai base camp. Entah milik siapa rumah ini, tapi Wendy bilang disini akan aman-aman saja.
Semua yang sedang berada di sana menikmati minuman keras itu. Termasuk pacarnya Wendy, ia dipaksa untuk minum oleh Wendy.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, mereka mulai berhalusinasi. Pacar Wendy merangkak mendekati Brian yang tengah bersandar pada tembok. Ia tak sadar dengan apa yang sedang dilakukannya. Mungkin sedari tadi wanita itu memang sudah terpikat dengan ketampanan Brian.
Brian yang sedang mabuk pun menyambut kedatangan wanita itu. Memang tidak begitu cantik, tapi saat ini pandangannya kabur, pikirannya tak menentu. Yang terpenting ia adalah seorang wanita!