
Selepas Yuna menampar Brian, ia berjalan tanpa kata dan duduk berjauhan di depan WC sekolah.
'Hhh.. tamparan cewek kok sakit juga?' Gumam Brian yang terkena tamparan Yuna.
"Kenapa kau tidak masuk ke kelas?" Brian menoleh sambil memegang pipinya.
"Aku malu, ini sudah siang. Guru sejarah pasti sudah berada di kelas." Ucap Yuna jutek.
"Emm.. ya sudah." Brian kembali menolehkan pandangannya.
"Yuna, aku mau tanya. Kenapa kau memakai CD berwarna pink? Bukankah lebih bagus memakai CD berwarna kuning juga?" Anang masih merasa penasaran. Tadinya ia hanya iseng bertanya. Tapi ternyata, dengan jelas Yuna memaparkan jawabannya.
"K-karena aku dengar, jika kau memakai CD berwarna pink saat bertemu dengan pria yang kau suka, CD itu akan membawa keberuntungan yang mempengaruhi hubunganmu degannya." Ucap Yuna malu-malu.
"Hah? Konspirasi macam apa itu?" Brian merasa heran. Baginya penjelasan itu sangatlah tidak logis.
"Maksudmu apa Yuna? Aku bukan termasuk kaum LGBT."
Anang sangat memperhatikan tiap-tiap kata yang diucapkan Yuna. Karena ia yang melontarkan pertanyaan, ia pikir maksud dari kata kau yang diucapkan oleh Yuna itu merujuk pada dirinya.
"Bukan elu, maksudnya si Yuna sama si Wendy." Jelas Gilang membuat Yuna malu dan membelakangi mereka.
"Ohhh..." Anang membuat huruf o dengan bibirnya.
"Yuna, apa kau akan terus berada di sini? Memang kau tak takut kalau ada orang yang datang dan menuduhmu yang tidak-tidak?" Lanjut Anang.
"Tapi aku harus kemana? Apa aku sembunyi di dalam toilet saja?" Yuna tak ingin pergi ke dalam kelas.
"Hah? Mending kamu ikut kita aja, ya kan? Kita mau ketemu sama si Wendy di warung belakang." Ucapan Anang sontak membuat Yuna terkejut. Ia langsung menghadapkan badannya ke arah mereka.
"Gimana? Mau?" Tanya Anang.
"A-aku mau, tapi..." Yuna ingin ikut, tapi ia bingung bagaimana cara dirinya untuk bisa keluar dari sekolah. Sebelum ia menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Brian memotong.
"Lebih baik jangan, kau masuk saja ke kelas dan berpura-pura kesiangan."
"Y-ya."
__ADS_1
Apa boleh buat, Yuna tidak bisa memaksa untuk ikut. Yuna pikir, Brian tidak suka kalau dirinya ikut, atau mungkin karena hal itu akan menggagalkan proses pencomblangannya. Ia berbalik meninggalkan mereka dan berjalan menuju kelas dengan jantungnya yang berdegup kencang.
'Hahh! Aku malu!'
Sebagai seorang yang penyendiri, Yuna sangat benci jika dirinya menjadi sorot perhatian. Dan saat ini hal itu akan terjadi ketika ia sudah berdiri di depan kelas. Tapi ia mau pergi kemana lagi?
Terpaksa ia masuk dan mengucapkan salam sambil menghampiri guru mata pelajaran sejarah. Ia mencium tangan Pak Guru dan langsung mendapat pertanyaan dengan nada yang tidak sedap didengar.
"Habis dari mana saja kamu?!" Ucap Pak Guru dengan nada tinggi. Ia adalah guru baru yang mengajar di kelas 2 dan 3.
Yuna terkejut, bagaimana bisa guru itu melontarkan pertanyaan dengan nada yang kasar? Sedangkan ia belum mendengar sama sekali penjelasan dari Yuna.
"Maaf Pak, tadi angkotnya lama." Yuna mencoba menyelamatkan dirinya.
"Kamu mau coba berbohong sama Bapak? Tadi temen kamu ada yang liat kalo kamu udah dateng pagi-pagi sama 3 cowok yang ada di kelas. Jawab jujur, kamu habis dari mana?!" Kembali Pak Guru berbicara dengan nada keras.
Seketika Yuna mengeluarkan keringat dingin. Tubuhnya gemetar, dirinya yang sedang berdiri di depan kelas tengah menahan malu yang amat sangat dan tidak bisa mengelak lagi.
Tapi, tiba-tiba saja Mitha berdiri dan mengangkat satu tangannya.
"Permisi Pak."
'Mitha, tolong aku!'
Yuna berharap kepada Mitha yang sama sekali belum akrab dengannya. Malam kemarin Mitha menyuruh Yuna untuk datang ke rumahnya. Jadi Yuna pikir Mitha sudah menjadi sebagian dari temannya.
"Saya mohon izin ke toilet." Ucap Mitha datar.
"Silahkan." Pak Guru mengiyakan.
Setelah mendapat izin, Mitha berlalu pergi begitu saja. Harapan Yuna kepada wanita berkacamata itu ternyata musnah saat itu juga. Yuna pikir, Mitha akan menyelamatkannya, tapi ternyata tidak.
"Maaf Pak, saya akan menerima hukumannya."
Dirinya hanya pasrah, tidak ada alasan lain yang bisa ia ucapkan, ia memang tidak berbuat macam-macam dengan ketiga pria itu. Tapi ia memang salah karena telah meninggalkan 1 jam pelajaran.
"Ahh.. sudahlah, soal hukum menghukum itu bukan urusan Bapak. Sekarang kamu duduk di bangku kamu dan tunggu panggilan dari ruang BK."
__ADS_1
"Degh!"
'Bagaimana kalau Ibu tahu?'
Bersangkutan dengan ruang BK, Yuna ingat bahwa sekolah ini memasang banyak cctv di setiap sudutnya. Tapi ia tidak tahu cctv itu selalu aktif atau tidak, ia takut kejadian saat dirinya menarik Anang masuk ke dalam toilet juga ikut terekam oleh cctv.
Yuna menunduk malu dan berjalan ke arah bangkunya. Ia merasa ingin mengubur dirinya dalam-dalam dan lenyap dari bumi ini. Di samping itu, ia merasa sangat cemas. Padahal baru kali ini ia bolos mata pelajaran, tapi dirinya sudah akan dibekuk oleh pihak sekolah.
"Sekarang, ketiga temanmu itu ke mana?" Pak Guru bertanya kepada Yuna, tetapi Yuna tidak menjawab.
"Kau dengar tidak?!" Sekali lagi Pak Guru berkata keras, tapi Yuna hanya menunduk di belakang meja.
"Hahh.. apa saja sih kerjaan pengurus sekolah ini?"
"Bapak peringatkan kepada kalian. Mulai sekarang, jangan ada yang berani melanggar satu pun peraturan di sekolah ini! Peraturan dan hukum akan segera ditegaskan! Sudah, kita lanjutkan pelajarannya."
Pelajaran sejarah dilanjutkan tanpa ketiga pria yang bolos pelajaran itu. Yuna hanya diam sepanjang pelajaran dan tidak berani menatap selain ke arah guru yang sedang menjelaskan.
Hari ini adalah bagian piket kelasnya. Yuna menjalankan tugas bersama dengan teman piket yang lainnya. Biasanya teman-temannya itu selalu mengajaknya berbicara meski hanya beberapa kata. Tapi sekarang, dirinya terasa diasingkan dan dipandang cela oleh orang di sekitar.
"Hey Yuna," di depan gerbang sekolah, Mitha memanggil dan menghentikan langkah Yuna. Ia menarik Yuna berjalan menjauhi gerbang dan mengajaknya berbicara di balik sebuah pohon besar.
"Yuna, kau tau kalau Brian dan wanita itu sudah lama berpacaran?" Mitha bertanya dengan nada yang sinis.
"Ya," ucap Yuna singkat.
"Lalu kenapa kau malah ikut mengajakku untuk pergi ke rumah Brian? Kau tahu kan kalau aku itu suka kepada Brian?"
'Hah? Bukankah Mitha sendiri yang mengajakku untuk datang bersama?'
"Ternyata benar yang dikatakan orang-orang, Brian itu pembohong dan dia hanya memanfaatkan para wanita saja." Ucap Mitha.
'Ya aku sudah tahu itu, tapi aku yakin Brian sudah berubah. Dia hanya mencintai Kak Sinta saja.' Gumam Yuna.
Meskipun Yuna masih melihat kelakuan nakal Brian, tapi sepertinya Brian sudah agak berbeda. Ia juga yakin bahwa Sinta itu adalah orang yang baik. Mana mungkin Brian tega menyakiti hatinya Sinta.
Tetapi, Mitha merasa emosi. Sebelumnya Brian pernah berkata bahwa ia tidak memiliki hubungan lebih dengan Sinta kecuali sekedar tetangga. Saat Brian menyuruhnya untuk datang ke acara yang diadakannya, Mitha merasa sangat senang.
__ADS_1
Tanpa tahu acara apa itu, ia berusaha agar bisa datang. Tapi ternyata, seketika ia dibuat patah yang kedua kalinya oleh Brian. Ia pikir, Brian mengundangnya ke sana, tak lain hanya untuk mempermainkannya dan membuat hatinya sakit.