
'Aduhh, ini kenapa lampunya muter-muter, aku pusing.'
Di kegelapan itu lampu disko berputar dengan kerlip warna-warni, membuat Sinta merasa ingin berputar juga. Ini memang pengalaman pertama Sinta datang ke bilik karaoke, Sinta pun duduk sambil melihat ke arah seseorang yang sedari tadi membuat dirinya penasaran.
Wanita yang bersama Wendy itu perlahan membuka kaitan masker di telinganya. Jemarinya begitu lentik, indah, dihiasi dengan kuku panjang yang dicat warna nude.
"Hai, namaku Manda." Ucap pacarnya Wendy usai melepaskan masker. Ia yang duduk tak berjauhan dengan Sinta lantas mengulurkan tangan untuk saling berjabat. Sedangkan kepada Brian, ia hanya tersenyum dengan sedikit anggukan.
"Hallo Kak, aku Sinta dan ini Brian." Sinta teramat senang bisa menjabat tangan wanita cantik seperti Manda. Padahal Manda sendiri baru kali ini menjabat tangan seorang bule.
'Gila sih ini, lebih cantikan aslinya daripada di foto.' Batin Brian, tanpa ada niat untuk mendekatinya.
"Ah iya, Wendy juga sudah bercerita tentang kalian. Em, aku akan pergi ke luar sebentar, kalian mau pesan minum?"
"Tidak usah Kak, aku bawa." Sinta menepuk-nepuk tas selempang yang berada di atas pahanya.
"Oh, haha.. Baiklah."
Kemudian Manda berdiri membelakangi Sinta. Suatu isyarat ia berikan kepada Wendy dan Wendy membalasnya dengan sebuah anggukan. Manda pun mendekati pintu yang tengah dihalangi oleh Gilang dan Diah, ia hendak menepuk pundak Gilang tapi kala itu Gilang menoleh dan membuat pipinya hampir tergores oleh kuku tajam Manda.
"E eeh.. Bujung buset! Eh, bujung buset?" Gilang terdiam sejenak setelah spontan menghindar.
"Pppftt!" Diah yang melihat perilaku Gilang sontak menahan tawa.
"Emm.. Kamu Gilang ka-" Ucap Manda namun terpotong.
"Iya, dan aku Diah." Diah menjawab dan membuat Manda langsung menatap ke arahnya.
"Oh ya, salam kenal, aku Manda. Kalian mau pesan minum? Aku akan pergi ke luar sebentar." Manda tersenyum ramah.
"Nggak usah." Diah menarik tangan Gilang untuk menghindar dari pintu. Nadanya yang judes dan sikapnya yang memaksa membuat Gilang terheran-heran.
"Pacar temen lu mirip janda ya," bisik Diah kepada Gilang saat mereka sudah duduk di bagian pendek sofa leter L.
Gilang hanya menyenggolkan tangan takut Wendy akan mendengar. Tak lama Manda pun kembali ditemani seorang karyawan yang membawakan minuman botol.
"Loh? Kok belum nyanyi? Mesinnya kan udah nyala?" Manda mendapati mereka yang masih duduk-duduk saja.
Bukannya tak mau bernyanyi, tapi mereka tak tahu bagaimana cara mengoperasikan mesin karaoke. Brian yang sebenarnya tahu juga hanya diam-diam saja, lagipula ia tak akan ikut bernyanyi.
__ADS_1
"Kalau gitu aku duluan yang nyanyi gapapa kan?" Karena tahu mereka masih baru, lantas Manda mengambil microphone dan meminta izin terlebih dahulu.
"Iya gak papa Kak, aku nyimak aja hehe.." Sinta menjawab.
Manda pun mulai mengklik-klik sebuah layar, membuat semua orang penasaran kecuali Brian. Dan tak lama satu tembang pun mulai diputar dengan judul Kerinduan.
"Betapa hati rindu.. Pada dirimu.. Duhai kekasihku.."
Suara Manda terdengar merdu serak-serak halus, persis seperti artis dangdut di atas panggung. Walaupun masih hangat berkenalan dengan yang lainnya, tapi ia tidak terlihat gugup sama sekali. Dirinya juga bernyanyi menghadap Wendy, seakan tengah mengutarakan perasaannya
Sinta refleks menggerakkan badannya santai sesuai dengan irama. Ia dan Brian menikmati nyanyian merdu itu sambil menatap monitor dan membaca lirik di dalam hati. Sedangkan Gilang dan Diah terlihat tengah mengobrol.
'Emang kayak udah dewasa sih, tapi tu cewek cantik bener.'
Gilang yang tengah merokok sesekali melirik ke arah Manda yang duduk di seberangnya. Di sisi lain Wendy merasa tak karuan, dirinya menjadi salting dibuat Manda.
Kala itu Wendy memijat pelipis untuk menghilangkan rasa gugupnya. Irama jantungnya bahkan berdetak kencang di tengah lagu yang santai itu. Wendy tak tahu harus duduk dengan posisi apa dan memasang wajah seperti apa. Daripada dirundung terus dengan perasaan seperti ini, ia pun bangkit untuk beralasan ke toilet.
"Yang.. Nyanyi.." Manda yang tengah bernyanyi menjauhkan microphone dan mencekal tangan Wendy.
Ini adalah lagu duet antara pria dan wanita, Wendy cukup tahu lagu ini karena ini adalah lagu lawas. Tega sekali jika ia harus mengabaikan Manda sedangkan Manda terlihat begitu tulus saat membawakan lirik pertama tadi.
"A-aku juga rinduuu.. Lincah man ja, sii..kap muu.."
Tapi tiba-tiba tangan yang memegang mic itu seketika tremor, suara sumbang yang ia keluarkan juga terdengar gemetaran. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin, namun dirinya yang tidak pandai bernyanyi dan baru kali ini memegang mic menjadi sangat menciut.
Semua orang yang tadinya menikmati kini malah ingin tertawa. Duet antara Manda dan Wendy begitu bertubrukan, belum lagi melihat ekspresi Wendy yang tak karuan, Gilang tak kuasa menahannya, ia ingin pergi sebentar sampai Wendy habis dengan lagunya.
"Lang lu mau ke mana?" Diah melihat Gilang bangkit.
"Ke toilet bentar, lu diem aja di sini."
Dan toilet pun menjadi tempat pelarian, namun tak lama Gilang kembali lagi.
"Beneran bentar, abis ngapain sih?" Diah kepo.
"Gak ngapa-ngapain."
Tadinya Gilang ingin menunggu di dalam toilet, namun tindakannya ia urungkan ketika melihat banyak tisu habis pakai di dalam sana. Gilang tentunya jijik, bau pesing juga tercium semerbak, sontak ia langsung putar balik menuju ke tempat semula.
__ADS_1
'Jorok banget sih ni tempat. Untung gue gak liat klosetnya, pasti ada najis tuh di situ.' Gilang membayangkan limbah manusia.
Setelah sekian menit akhirnya lagu pun selesai dan Manda mendapat tepukan tangan dari Sinta. Lanjut ke lagu berikutnya, Manda mengetikkan lagu untuk dinyanyikan oleh Sinta.
Perlahan Diah pun ikut bergabung juga, mereka dengan mudahnya sudah terlihat akrab. Dan Diah yang tadinya menolak tawaran untuk membeli minum malah meminum air mineral botol yang sudah tersedia di atas meja.
Karena semua menolak untuk membeli minum, jadi Manda hanya memesan 6 botol air mineral. Air mineral saja sudah 3x lipat dari harga biasa. Memang tak asyik jika tak ditemani alkohol, Manda bukanlah orang alim, tapi ia tahu bahwa minuman keras tidak baik untuk teman-temannya Wendy.
Ruangan ber AC itu kini dipenuhi dengan bau rokok. Brian sama sekali tidak merokok, ia berselonjor di sofa panjang yang didudukinya sambil bersandar ke badan sofa.
Sampai akhirnya waktu habis dan para penyanyi pun sudah kehabisan suara. 3 jam terasa sangat singkat, teori relativitas Enstein ternyata berlaku di tempat ini. Semuanya pun segera keluar dari bilik dan hendak bubar sebelum larut malam.
"Aku ke toilet dulu ya." Sinta yang sedari tadi hanya minum dan bernyanyi tak tahan ingin buang air kecil.
"Aku juga." Diah juga begitu.Tapi tiba-tiba langkah mereka terhenti karena ucapan Gilang.
"Jangan!" Gilang mengulurkan kedua tangannya seakan hendak mencapai mereka. Lantas sikapnya membuat semua orang mengajukan pertanyaan yang sama.
"Kenapa?"
"Emm itu.. Pokoknya jangan, ntar kalian nyesel." Gilang bingung mau menjelaskannya bagaimana.
"Di sana banyak tisu!" Lanjut Gilang ragu-ragu.
"Aahh aku sudah tak tahan!" Sinta tak peduli dengan ucapan Gilang dan langsung pergi begitu saja. Diah pun mengikuti Sinta sambil memandang aneh Gilang sekejap.
'Udahlah, ntar mereka juga tau sendiri.' Gilang akhirnya berputus asa.
Sekian menit mereka hanya diri-diri di situ menghalangi jalan. Hingga seorang pemandu lagu datang dan menghampiri mereka.
"Permisi, ada yang bisa dibantu?" Ucap Wanita itu melihat kepada semuanya.
Brian hafal betul dengan wanita itu, dulu ia sering membuat janji dengannya. Lantas Brian langsung memalingkan wajah, berharap wanita itu tidak melihatnya.
'Kenapa dia ada di sini?!' Brian tengah berkeringat dingin.
Seumur hidup, Brian baru pertama kali ke tempat karaoke ini. Alasan ia setuju datang ke sini ya karena ia rasa tidak ada PL yang ia kenal di sini. Tapi Brian salah, ternyata wanita itu juga bekerja di tempat ini.
"Kamu kenapa hey?" Setelah sekejap mengobrol, wanita itu berjalan mendongakkan wajahnya menatap Brian.
__ADS_1