
4 porsi bakso sudah dipesan, dan pesanan pun dihidangkan di atas meja yang pas dengan 4 buah bangku. Karena Yuna belum juga datang, jadi ketiganya menyantap bakso itu duluan.
"H-hai," Di saat mereka sedang asyik bersantap, Yuna pun akhirnya datang.
"Hey, duduk dulu, tuh baksonya keburu dingin." Ucap Anang.
"E-emm.. tapi aku gak pesen." Yuna merasa kebingungan.
"Udah, makan aja."
Terpaksa Yuna duduk dan memakan bakso yang sudah dihidangkan itu. Ia duduk di samping Gilang. Sengaja Anang membiarkan Gilang duduk sendirian karena ia merasa tak nyaman terus-terusan dikira suka kepada Yuna.
Tiga orang yang sebelumnya makan duluan itu sudah menghabiskan isi mangkuknya. Dan kini, mereka hanya menyisakan alat makannya saja.
(Apaan sih gak guna nulis itu? Ya iyalah alat makannya gak ikut dimakan. Hmmm... Gak papa lah ya biar panjang hehe).
Yuna yang tinggal seorang, merasa tak nyaman jika ia makan sendirian, ia pun segera ikut menghabiskan isi mangkuknya.
"Loh? Kenapa kuahnya gak diabisin?" Tanya Gilang saat melihat Yuna menggeser mangkuknya ke tengah.
"Aku gak suka kuah."
"Euuu.." Tiba-tiba saja Anang bersendawa.
"Gak sopan amat sih." Gilang yang duduk berhadapan dengannya merasa jijik.
"Daripada gue kentut yakan? Mending buang gas nya lewat mulut."
"Ppfftt!" Yuna merasa ingin tertawa, tapi ia menyembunyikannya dengan memalingkan wajah ke arah gerobak bakso.
"Udah Yuna, kalo mau ketawa, ketawa aja, lagian ketawa itu gratis." Brian tahu bahwa Yuna sedang ingin tertawa.
"Iya, kenapa sih?" Anang heran.
"Hahh..." Yuna pun kembali menolehkan wajahnya ke arah mereka. Ia menarik nafas panjang, tetapi ia tidak tertawa.
"Aku minta maaf sebelumnya. Aku masih agak takut berbicara dengan kalian di depan teman-teman, jadi sekarang aku merasa canggung." Lanjut Yuna tanpa terbata-bata.
"Kenapa harus takut? Biasa aja kali, emang mereka bisa apa? Lagian kita gak ngapa-ngapain. Ya kan?" Gilang merasa heran.
"Hooh." Anang setuju.
"Tapi sebelumnya ada orang yang melaporkanku ke guru BK. Aku tidak tahu siapa orangnya, dan apa yang ia bicarakan tentangku." Wajah Yuna terlihat murung.
"Hmm.. selama gak ada yang salah kayaknya aman-aman aja." Brian mencoba menenangkan Yuna.
"Mmm.. yah, sepertinya. Tapi jika hanya aku sendirian wanitanya seperti ini, orang-orang akan berpikir yang tidak-tidak."
"Trus kita mau ngajak siapa lagi? Yuna, kau memang tidak punya teman dekat di kelas?" Tanya Brian.
__ADS_1
"Tidak, aku pikir Mitha akan menjadi temanku, tapi ternyata dugaanku salah." Yuna menggelengkan kepalanya. Ia yang tidak mudah percaya dengan seseorang dan sudah menyesal karena telah mencoba membuka ruang untuk Mitha.
"Oh ya Brian, aku ke sini ingin mengajak kalian untuk pergi ke bioskop. Apa kalian mau?" Yuna mengotak-atik ponselnya dan mengoperkannya di atas meja.
"Pilihlah film yang kalian suka. Ku pikir Ibu harus sering melihatku akrab bersama kalian. Termasuk Kak Sinta dan Sasa juga. Liburan nanti, Ibu pasti tidak akan mengizinkanku pergi jika ia belum tahu bagaimana hubunganku dengan kalian." Lanjut Yuna.
Layar ponsel Yuna menampilkan banyak film yang sudah bisa dipesan langsung tiketnya. Mulai dari film action, comedy, horror, romansa, dan lain-lain.
"Pasti kamu mau kita ngajak Wendy juga kan?" Brian pikir, jika bukan karena Wendy, Yuna tidak akan berani bertemu langsung seperti ini.
"Mm.. ya, jika bisa." Ucap Yuna.
"Gimana? Nih pilih." Brian menyerahkan ponsel itu kepada Anang.
"Lah, duit lagi." Keluh Anang sambil menerima ponsel itu.
"Tapi kalo si Wendy ngajak pacarnya emang gak papa?" Tanya Brian.
"Ya, tidak papa." Yuna mengukirkan senyuman kecil.
"Kamu udah liat sendiri kan gimana sikapnya si Wita? Semoga aja tu si Wendy cepet-cepet mutusin dia." Gilang merasa sangat kesal.
"Oh! Murah juga ya." Anang yang sedang melihat-lihat film itu tidak mengira. Banyak film di sana yang memasang harga tiket di bawah 50 ribuan.
"Mau nonton apa? Drakor?" Tanya Gilang terlihat sangat tertarik.
"Ppfft!" Lagi-lagi Yuna menahan tawanya. Ia ingat dari Wendy bahwasannya Gilang itu suka bernyanyi lagu korea.
"Hah? Gak usah malu lah, lagian kita kan temen." Brian heran, ia rasa tidak ada hal yang lucu sama sekali.
"Tapi jika aku tertawa sendirian, nanti kalian malah mengira kalau aku ini orang aneh."
"Iya juga sih." Brian menarik kata-katanya.
"Nih Bro, yang murah aja. Film gelud ini mah." Anang menunjukkan sebuah film thriller kepada Brian.
"Mana coba gue liat." Gilang merasa penasaran. Ia bangkit dari duduknya dan mencoba untuk melihat.
"Ku pikir kalian akan memilih film horror." Yuna tidak mengira.
"Kita gak suka film hantu, lagian mana ada hantu yang syuting. Buat apa coba nonton hantu yang boongan? Gak ada serem-seremnya." Anang menganggap film itu tidak penting.
"Alah, paling lu kalo udah dikasih nonton malah kocar-kacir." Ejek Gilang merasa tidak percaya.
Mereka memang pernah menonton film horror melalui CD. Tetapi setelah ditonton, CD itu mereka buang karena tidak ada yang mau menyimpannya.
Yuna hanya tersenyum. Ia sudah merasa tak canggung lagi kepada ketiganya karena sedari awal ia sudah mencoba untuk percaya kepada mereka. Hanya saja, ia masih takut dengan mata orang asing yang bisa saja melaporkannya ke pihak sekolah.
"Ya udah yang mana aja dah, ntar juga kalo udah ditonton pasti seru." Ucap Gilang lalu kembali duduk.
__ADS_1
"Ni, yang ini." Anang menyerahkan ponselnya kepada Yuna.
Film yang ditunjukkan Anang memiliki poster yang menunjukkan para pria bersenjata berpenampilan seperti seorang militer. Itu adalah film luar, Yuna belum pernah menonton yang seperti itu sebelumnya. Tapi demi bisa bertemu dengan Wendy, ia mau menonton film itu sampai habis.
"Ya, sesuai dengan selera laki-laki. Jadi kita akan memesan tiket untuk kapan?" Tanya Yuna.
"Besok malem aja, kalo gak ujan. Jangan pesen dulu tiketnya, kita belum tau mereka bakalan ikut atau nggak." Ucap Brian.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang sekarang. Aku takut ada seseorang yang melihat jika aku berlama-lama." Tadinya memang Yuna menemui mereka hanya untuk menunjukkan film-film itu.
"Foto dulu kenapa? Mumpung kalian bawa ponsel. Sekalian bukti akrab." Ucap Anang menghentikan pergerakan Yuna yang sudah bangkit.
"Mm.. boleh, tapi jangan posting ke sosial media ya."
"Biar aman di ponsel kamu aja." Saran Brian.
Yuna pun membuka kamera ponselnya. Dari ekspresinya, ia terlihat sangat berbeda dengan foto profil yang dipasang di aplikasi chatnya. Tanpa ragu ia pun memegang kendali dan bersiap untuk mengambil foto selfie.
"Oke. Aku hitung mundur ya. 3 2 1 cheese!" Ucap Yuna lalu memencet tombol kameranya.
"Cis apaan?" Di saat pengambilan foto sedang berlangsung, Anang malah menyeleweng.
"Ckrek!" Foto pun jadi, dan Anang memasang wajah yang tidak konsen. Ia melihat ke arah Yuna dengan wajah melongonya.
"Cheese itu keju." Ucap Brian yang sudah agak paham Bahasa Inggris.
"Gak jelas banget bawa-bawa keju."
"Haha. Kita mau ambil ulang fotonya?" Yuna menunjukkan hasil jepretannya.
"Ganteng sih gue, tapi kalo mau foto lagi ayok." Anang merasa tidak masalah.
"Coba kali ini bilang cheese ya," Ucap Yuna sambil memasang ancang-ancang.
"Mm.. oke."
"Cheese!"
"Ckrek!"
Sulap sulip, bukan sulap bukan selip, atas berkat rahmat keju itu jadilah foto mereka yang sedang nyengir.
"Hahaha! Kayak unjuk gigi aja."
Semuanya tertawa melihat foto yang unik itu. Yuna rasa urusannya di sini sudah selesai, jadi ia mengantongi ponselnya dan memutuskan untuk pulang.
"Kalo gitu aku pulang dulu ya. Anang, jangan lupa ajak pacarmu juga, aku penasaran dan ingin berkenalan dengannya."
"Oh oke."
__ADS_1
Yuna pun pergi tanpa membayar baksonya.