
Pulang ke rumah, Brian mendapatkan beberapa pesan masuk. Nomor-nomor baru terus saja bermunculan, sepertinya adik kelas sebangku waktu UAS itu sudah berani menyebar luaskan nomor ponselnya kepada teman-temannya.
Pesan spam itu terus ia abaikan, tapi diantaranya ada salah satu yang terlihat penting. Dari grup AFC, sore ini ia memang ada jadwal untuk latihan, ia pun segera mandi dan mempersiapkan dirinya.
Dari pukul 3 hingga pukul 5, Brian menghabiskan waktu bersama teman futsalnya. Sekarang, Brian sudah pulang dan sudah mandi pula, ia tengah mengistirahatkan badannya. Rasanya sedikit pegal, ia ingin Sinta datang dan memijit tubuhnya dengan pijatan plus plus.
"Tok.. tok.. tok.."
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Brian langsung terkejut, apakah itu Sinta? Keturunan darah Eropa yang datang dari Australia?
"Brian, kamu lagi apa?"
Mm.. tidak, itu suara Ibu, lagipula mana mungkin Sinta datang malam-malam begini. Brian pun mempersilahkan ibunya masuk sementara ia masih rebahan.
"Ya ampun Brian, baru aja Ibu mau tanya." Ucap Ibu saat memasuki kamarnya.
"Hah?" Brian menengok ibunya, ia heran dengan apa yang Ibu maksud.
"Ini gelas kenapa kamu tumpuk-tumpukin di kamar kamu? Pantesan di bawah tinggal sedikit. Haahh.. Ibu kira pada kemana." Ucap Ibu melihat tumpukan gelas di atas meja.
"Oh iya, lupa Bu." Ucap Brian tanpa berdosa.
Niat hatinya ingin menggunakan satu gelas untuk pulang pergi mengambil air ke bawah. Tetapi, saat ia sedang berada di bawah dan merasa haus, ia mengambil gelas baru dan membawanya ke dalam kamar. Siklus itu terus saja terjadi hingga membuat para gelas perlahan mengantri di kamarnya.
"Itu lagi, kenapa sofa-sofa kamu pindahin ke sini? Dan lagi, itu sampah kamu udah numpuk kenapa belum kamu buang?" Omel Ibu yang hendak mengambil gelas.
"Gak usah dibawa Bu, nanti aku bawa sendiri ke bawah, sekalian aku cuciin." Brian merasa tidak enak.
"Sekarang aja ah, Ibu gak suka kalo liat kamar kamu berantakan kayak gini." Ibu tetap mengambil gelasnya.
"Ya udah Bu sini biar aku aja."
Terpaksa Brian harus bangkit dari tempat tidurnya. Ia langsung membereskan kamar dan mencuci gelas-gelasnya juga. Selepas itu ia menghabiskan waktu sebentar bersama ibunya. Kemudian ia beranjak ke kamar saat sudah mendekati waktu tidurnya.
Badan Brian masih terasa lelah, sore tadi lumayan menguras energi juga. Ia harus segera mengisi daya dengan berbaring dan menutup mata. Tak lupa ia mengirimkan pesan kepada Yuna, menyampaikan apa yang ia dengar sewaktu di basecamp tadi.
Malam itu terasa hangat, tidak ada hujan maupun angin, Brian tidur dengan perasaan nyenyak. Tapi, sekitar tengah malam, tiba-tiba ponselnya mengeluarkan suara.
"Aiyaiya am yor litel baterplay... grin blek en blu, mek de kalers in de skay... aiyaiya am yor litel baterplay..."
__ADS_1
Berisik sekali, suara itu diikuti dengan getaran yang juga Brian rasakan di pipinya. Rupanya saat ia tertidur, ia lupa untuk menjauhkan ponselnya. Brian segera mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang menelponnya malam-malam.
"Wendy."
Nama kontak panggilan itu berasal. Lalu Brian pun mengangkatnya dengan perasaan yang sangat suntuk.
"Yan, lu masih bangun?" Sahut Wendy pada telpon.
"Ini, baru aja bangun." Ucap Brian dengan suara berat.
"Tadi gue di basecamp ngomong apa aja sama lu?" Tanya Wendy.
"Hah? Gak ngomong apapa." Brian masih sangat suntuk, ia ingin segera mengakhiri panggilannya.
"Serius Yan, sorry kalo gue nelpon lu malem-malem. Gue cuma pengen ngomongin hal ini sama lu doang, kalo langsung kan pasti ada si Gilang sama si Anang." Ucap Wendy panjang lebar.
Brian yang masih suntuk itu tidak bisa mencerna perkataan Wendy dengan benar. Karena takut penting, ia pun beranjak dari tempat tidurnya untuk membasuh muka.
"Tar Wen, gue ke toilet dulu."
Brian langsung pergi tanpa menghiraukan telponnya. Tak lama ia kembali dan duduk di atas lantai agar rasa kantuknya tidak kembali menyerang.
"Yan, jujur, gue curiga sama lu. Elu mungkin udah tau maksud omongan gue. Gue gak marah sih sama lu. Tapi tolong, kalo emang elu lagi bikin rencana buat ngedeketin gue sama si Yuna, udah stop sampe di situ." Ucap Wendy membuat Brian terkejut. Seketika Brian langsung menyimak dengan cermat perkataannya.
"Gue lagi pusing Yan, jangan ditambah pusing lagi. Hubungan gue sama si Wita lagi gak bagus. Tolong lah, lu ngerti, jangan bikin masalah gue jadi tambah ribet. Lu tau kan gue itu gak suka kalo ada yang ganggu soal hubungan gue?" Lanjut Wendy.
Brian bingung harus menjawab apa. Plihan cepat, ia memutuskan untuk tidak mengakuinya.
"Ah, iya iya, nggak kok, gue kebetulan aja lagi penasaran sama tu cewek, soalnya dia suka sendirian gitu di kelas. Gue juga jadi agak kasian sama dia, ya udah deh gue temenin. Emang lu ada masalah apa sama si Wita?" Ucap Brian spontan.
"Gak ada."
"Lah? Barusan?"
"Gue males cerita Yan. Tapi gue masih kepikiran lagi, minum aja gitu ya? Lu temenin gue, ntar gue yang bawa minumannya."
"Ahaha.. lebay lu, masa gara-gara cewek aja elu sampe segitunya."
"Lu sih mana ngerti Yan, bukan elu yang ngerasain, tapi gue."
__ADS_1
Brian merenung sejenak, 'Hmm.. iya juga sih.'
"Yaudah ceritain aja, biar pikiran lu agak mendingan. Kali aja gue bisa kasih solusi juga buat lu." Brian mencoba menenangkan.
"Paling lu malah nyuruh gue putus sama si Wita."
"Kagak, kagak, santai aja. Gue gak akan ngasih saran yang aneh-aneh kok, gue bakal coba ngebantuin hubungan lu sama si Wita."
"Hmm.. gue gak percaya. Tapi, okelah, gue juga lagi gabut, gak punya temen juga buat cerita."
"Jadi kemaren tuh..."
"Bla.. bla.. bla.."
"Wa.. wa.. wa.. "
"Nye.. nye.. nye.."
Saat Wendy tengah bercerita sendu, tiba-tiba Brian memotong dan malah tertawa.
"Pfftt! Hahaha.. lu emang udah ngapain aja sama si Wita?" Ucap Brian merasa kocak.
"Ya.. biasa lah, cuma cium-cium, gr*pe-gr*pe, sesekali gesekin gitu." Tak ragu Wendy berterus terang.
"Haha.. Si Wita nya kali pengen dimasukkin." Ucap Brian tak sopan.
"Parah lu Yan, emangnya elu?"
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 02.11. Dari suaranya, sepertinya Wendy sudah merasa agak baikan. Telpon pun ditutup karena Brian takut dikira gay.
Lalu Brian mengecek aplikasi chatnya untuk melihat balasan dari Yuna. Tapi ternyata, pesan yang ia ketik semalam sama sekali belum selesai dan belum terkirim pula. Ternyata ia langsung ketiduran, ia pun segera mengetik kembali pesannya.
"Gue harus ngomong apa ya?"
Tak ada waktu untuk berbicara langsung, Brian pun mengirimkan dahulu pesannya.
"Yuna, si Wendy udah curiga kalo kita lagi ngedeketin kamu sama dia." Pesan terkirim kepada Yuna.
Masih ada waktu beberapa jam lagi sebelum sekolah. Lantas Brian merebahkan tubuhnya kembali, melamun sejenak dan tertidur dengan perasaan nyenyak.
__ADS_1