Kosong

Kosong
Mendapatkanmu


__ADS_3

Sudah 3 hari Wendy menelantarkan nomor yang Yuna berikan. Padahal ia ingin meminta maaf. Ah, bukan meminta maaf tepatnya, Wendy ingin akrab dengan Yuna, tapi seolah hal itu sudah tak lagi berarti untuk sekarang.


Wendy patah semangat, siang ini ia hanya melamun, diam di rumah karena kerja pun mungkin hanya 2 atau 3 hari dalam seminggu. Wendy mengintip dari balik jendela, harus ke mana ia pergi? Dan lagi di depan rumahnya kini sedang berjongkok orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).


Mumpung sepi, lebih baik Wendy menonton video. Hal itu akan membuat dirinya rileks untuk sejenak.


Namun, belum sempat puncak pengeboran inti bumi, suara gaduh tiba-tiba membuat Wendy hampir jantungan.


"Aaaa! Aaaa! Tolong! Wendy! Buka pintunya!!"


"Bruk! Bruk! Bruk!"


"Wendyyy!!"


"Bruk! Bruk! Bruk!"


Lengkingan dan gebrakan pintu terdengar sangat jelas. Mengganggu saja! Padahal Adik Pertiwi baru mau bangun.


Tapi siapa? Jarang-jarang ada tamu datang ke rumah ini. Langsung saja Wendy membukakan kunci pintunya.


"Haa.. Wendy.. kenapa pintunya dikunci?!!"


Tepat saat membuka pintu, seseorang langsung menyergap masuk. Ia meremas pundak Wendy dan bersembunyi di belakang punggung Wendy.


"Yuna, kenapa?" Wendy tentunya heran.


"I-itu..."


Yuna menunjuk sesuatu, ODGJ yang berada di luar tadi sekarang tengah berjongkok memakan kue bolu yang berhamburan di atas lantai. Wajahnya dilapisi butter cream, benda pusakanya masih menjuntai jelas karena memanglah panjang.


*flashback


Hari ini Yuna memutuskan untuk pergi ke rumah Wendy. Setelah kejadian tempo lalu, ada sesuatu yang sangat, sangat, sangat memantapkan hatinya.


Tapi ia tak tahu alamat Wendy, kemudian ia menghubungi Sinta. Dari Sinta ia mendapat sebuah alamat, dan Sinta juga mendapatkannya dari Brian.


Singkat cerita, Yuna berhasil menemukan alamatnya. Ia sudah sedia dengan satu buah butter cake yang ia jinjing di tangannya.


Di depan teras, Yuna melihat seorang bapak-bapak telanjang dada tengah berjongkok menghadap jendela. Sedangkan dari balik jendela, ia bisa melihat kepala Wendy dengan begitu jelas.


Sudah benar ini rumahnya Wendy, tapi siapa bapak-bapak itu? Yuna pun mendekat, mengira bahwa itu adalah keluarganya Wendy.


Merasa dipanggil, bapak itu lalu menoleh. Dan kala melihat Yuna, ia langsung tersenyum dengan lebarnya. Kemudian ia berdiri menarik kolor, mengeluarkan benda pusaka yang sangat panjang.


Penglihatan Yuna ke arah pusat tentu tak bisa dielakkan, ia yang melihat hal itu langsung berlari ke arah pintu dan melempar kue yang dibawanya agar orang gila itu tidak mendekat.


*flashback off


"Tenang Yuna, tenang, dia gak bakal ngapa-ngapain, dia paling takut sama aku."

__ADS_1


Pintu sudah ditutup dan mereka sudah duduk di kursi. Tapi Yuna terus saja menempel kepada Wendy dengan cengkeraman yang sangat kuat. Wendy ikut khawatir, Yuna menangis dan ia bisa merasakan gemetar tubuh Yuna.


"Gak papa, pintunya udah aku kunci, dia gak akan masuk. Biar aku ambilin kamu minum ya." Wendy menyentuh bahu Yuna, mencoba memisahkan dirinya dengan Yuna. Ia menghilang sejenak ke dapur lalu kembali dengan segelas air putih.


"Glek.. Glek.." Yuna meminumnya sampai tandas.


"Hiks.. Hiks.." Kemudian ia menangis kembali. Wendy bingung harus berbuat apa, sepertinya Yuna sangat merasa trauma.


"Jangan takut, dia emang gitu ke cewek-cewek. Tapi kalo dia berani apa-apain kamu nanti aku potong tuh pedangnya!" Ucap Wendy seperti tengah menenangkan bocah.


Wendy memang selalu menjahili ODGJ itu dengan ancaman memotong pedang. Kadang, ia mengajaknya ngobrol karena diajak ngobrol pun selalu nyambung.


Katanya, orang itu gila karena ditinggal kabur oleh sang istri saat malam pertamanya. Karena itu, setiap ada wanita ia selalu mengeluarkan pedang pusakanya yang mungkin memang belum sempat terasah.


Sekarang Yuna sudah sedikit tenang, namun kali ini ia menangis karena masalah lain.


"Kuenya.. Hiks.. Hiks.."


Yuna menunduk sedih, kue yang ia bawa tadi adalah kue buatannya. Sudah sangat teliti Yuna menghias, memotong buah, namun kini berakhir menjadi sampah.


"Kue? Emm.. Nanti kita beli lagi ya."


Sebenarnya dari tadi Wendy penasaran tentang apa tujuan Yuna datang ke mari. Namun ini bukan saat yang tepat, daripada itu ia harus lebih fokus menenangkan keadaan Yuna.


"Tapi itu aku yang membuatnya hiks.. hiks.."


Yuna terlihat kecewa, Wendy bisa merasakannya. Ia pun bangkit hendak membuka pintu, namun tiba-tiba Yuna menghentikannya.


"Aku mau mengusirnya, supaya kau tak takut lagi."


"Mm.. Tidak usah, aku baik-baik saja."


Yuna menggelengkan kepala dan kemudian Wendy kembali duduk.


"Maaf aku ke sini tidak membawa apa-apa, tadinya aku ingin memberikan kue itu untukmu, aku ingin berterimakasih kepadamu, tapi aku sendiri yang ceroboh."


Tringgg!


Lampu hijau, mendengar perkataan tadi, Wendy mengira bahwa dugaan soal Yuna yang membencinya adalah salah.


"Sekarang aku tak tahu harus bagaimana, hiks.. aku ingin pulang saja."


Tetot, Yuna akan pergi dan mungkin Wendy tidak akan melihatnya lagi. Entah kapan Wendy memiliki cukup keberanian untuk mendatangi Yuna sendiri.


"J-jangan pergi Yuna, aku ingin-" Wendy terlihat ragu.


"Maaf, aku ingin kau menjadi pacarku!" Ucap Wendy langsung to the point, ia bingung karena belum sempat merangkainya.


"Aku tidak akan mengecewakanmu, aku sadar kalau aku memang tak pantas mengatakan ini, tapi aku akan lebih menyesal kalau tidak melakukannya."

__ADS_1


Mata Yuna langsung terbuka lebar, melihat Wendy menyentuh kedua selangkanya sambil berbicara panjang lebar.


"Kenapa harus sekarang? Kau tidak bercanda kan?" Tanya Yuna tak percaya.


"Tentu aku tidak bercanda, aku ingin mencintai seseorang yang benar-benar tepat untuk kali ini. Apa kau mau?"


Yuna terlihat bersemu, dengan memalingkan wajah, ia mengangguk pelan tanda setuju. Melihat hal itu Wendy merasa sangat bahagia, saking bahagianya ia langsung mendekap Yuna ke dalam pelukannya.


Yuna sendiri sangat terkejut, tak pernah terpikirkan bahwa ia bisa mendapat dekapan dari Wendy sendiri. Yuna tersenyum, dan hari itu keduanya resmi berpacaran.


Hari ke hari Yuna sering datang ke rumah Wendy. Di rumah Wendy tak ada siapa-siapa lagi karena abangnya sedang pergi merantau. Walau takut dengan ODGJ, tapi Wendy selalu menjemputnya di tengah jalan. Sifat aktif dan supelnya Yuna langsung muncul begitu saja.


Katanya ia lebih senang diam di rumah, ia juga di sana sibuk mengerjakan berbagai tugas kuliah. Dan sebenarnya ia menyembunyikan hubungannya ini dari orang tuanya.


Tak perlu khawatir, Yuna memang ngotot untuk hidup mandiri. Dan akibatnya selalu terjadi perdebatan walau sekarang sudah tak sering. Yuna lebih memilih memisahkan diri di kosan, dan sering juga ia mengerjakan urusan kuliah di rumah teman. Ke mana pun ia pergi sekarang sudah tak dicari lagi.


Hari itu Yuna selesai dengan kuliah online nya. Ia menutup layar laptopnya lalu bersandar ke badan sofa. Melihat Yuna yang tengah terpejam, Wendy tersenyum lalu mendekat ke arahnya.


"Yuna, kamu beda ya sama yang dulu."


Tiba-tiba saja Wendy sudah berada di atas Yuna. Ia melihat ke arah gunung kembar yang tengah membusung. Dulu, Yuna tidak memiliki benda seperti ini, tidak besar tapi mungkin pas dalam cakupan.


"W-Wendy!"


Yuna terkejut, merasakan pipinya yang tengah disentuh. Hembusan nafas yang kasar begitu sangat terasa, Wendy sudah berada di hadapannya dan langsung membekap bibir miliknya.


Begitu nikmat dari siapapun, bibir Yuna begitu lembut seperti bayi. Bahkan perona bibir yang Yuna gunakan sama sekali tidak menciptakan kekacauan, ia memakainya secara tipis-tipis.


Baru kali ini Yuna merasakan bibirnya basah beradu dengan seorang pria. Rasa manis karena Wendy seorang perokok kini tengah dirasakannya. Dan tanpa aba-aba lagi, ia dikejutkan oleh setruman pada satu buah yang tidak pernah dipegang oleh siapa-siapa.


"Mm! Mm!"


Yuna memberontak, hal itu membuat Wendy membuka kedua bola matanya. Dua buah netra yang berkaca-kaca, Yuna hampir mengeluarkan air matanya. Melihat hal itu, segera Wendy melepaskan kecupannya.


"Kau kenapa? Apa aku terlalu keras meremasnya?"


"Tet!"


Tangan Wendy yang masih menempel itu memencet kembali gunung kidul milik Yuna.


"Ahh!" Yuna meringis tersetrum lagi.


"Atau, bibirmu sariawan?" Wendy hendak kembali mendekatkan wajahnya.


"Lepaskan aku! Aku bukan wanita murahan! Jangan berbuat seperti itu kepadaku!"


Yuna mendorong tubuh Wendy dan berteriak, ia tak memungkiri bahwa hal itu mantap-mantap sedap. Tapi ia masih tahu harga diri, ia tak ingin menjalin hubungan yang tidak baik.


Wendy hanya bisa ternganga dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Ternyata Yuna tidak menyukainya, ia pikir para wanita selalu menginginkan kepuasan. Tapi Yuna memang berbeda, mungkin seperti ini sosok wanita kontras yang akan merubah kisah cintanya.

__ADS_1


Wendy meminta maaf tak akan mengulanginya lagi. Kali ini ia akan berhati-hati dalam bertindak, ia tak mau satu tindakannya membuat Yuna kembali tersakiti.


__ADS_2