
"Aneh?" Yuna tak sadar, matanya membelalak, ia takut jika selama ini ia telah menunjukkan sikap yang salah.
"Ya, sewaktu di mall kau terlihat sangat dekat dengan Wendy. Tapi saat di sekolah bahkan menatap wajahku saja kau tidak berani." Ucap Brian
Yuna yang mendengar perkataan itu merasa lega.
"Y-ya, karena aku malu," jawab Yuna sambil mengalihkan pandangannya.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu. Kau bilang kau malu, tapi kau berani mendekati Wendy. Padahal kau tau kan? Wendy itu orang yang kasar."
"Y-ya, aku rasa Wendy tidak akan berbuat jahat kepada wanita."
'Hmm.. memang benar sih,' gumam Brian.
"M-mungkin kau menganggapku aneh, tapi aku hanya nyaman berbicara dengan orang orang yang sudah aku percaya," jelas Yuna.
Brian sedikit mengerti, tetapi ia heran bagaimana selama ini Yuna bisa hidup dengan kedua sikap itu.
"Baiklah, angkat kepalamu dan jangan bicara seragu itu padaku, jika kau ingin aku mendekatkanmu kepada Wendy." Ucap Brian.
"Y-ya," perlahan Yuna mencoba untuk melirikkan matanya kepada Brian.
"Aku juga sudah membicarakan hal ini kepada Anang dan Gilang. Akrablah dengan mereka. Mereka sudah bersedia untuk membantu."
"H-hah?! Kau sudah memberitahu mereka?! Bukankah aku sudah bilang jangan beri tahu hal ini kepada siapapun?!" Yuna tercengang.
"Apa boleh buat, aku tidak bisa melakukannya sendirian."
"B-baiklah,"
Yuna merasa malu karena ada orang lain yang sudah mengetahuinya. Tapi jika hal itu akan lebih baik, ia bersedia untuk menerimanya.
***
Hari hari berlalu, tiba-tiba saja Brian mendapatkan sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.
"Hey bro! Ini gue Wendy. Gimana kabar kalian?"
Ternyata pesan itu datang dari Wendy.
"Oh? Apa Wendy sudah punya ponsel?" Brian tidak mengira.
"Wendy? Temen kamu yang waktu itu ya?" Tanya Sinta yang saat itu sedang bersama Brian.
Hari itu mereka pergi ke sebuah tempat wisata. Karena Brian merasa bosan di hari libur, jadi Brian mencoba mengajak Sinta untuk pergi bersamanya.
"Iya, kayaknya dia udah beli ponsel."
Saat itu Brian membalasnya.
"Kita baik-baik aja kok, kamu sendiri gimana? Udah beli ponsel baru ya?"
Brian mematikan ponselnya, ia tak mau hanya fokus kepada ponsel dan mengabaikan Sinta yang saat ini tengah duduk di sampingnya.
"Kita jalan-jalan yuk!" Ajak Sinta mengelilingi tempat wisata itu.
"Oke,"
Sepanjang perjalanan, sesekali Brian melihat ke arah Sinta yang mengukirkan senyum di wajahnya.
"Sinta, apa kamu senang?" Tanya Brian sambil tersenyum.
__ADS_1
"Um! Aku saaangat senang," ucap Sinta dengan wajah yang ceria.
Brian ikut merasa senang, akhirnya ia bisa mengajak Sinta untuk pergi jalan-jalan seperti ini.
"Oh! Itu! Itu! Ayo kita naik itu!"
Brian yang sedang memandangi Sinta terkejut, tiba-tiba Sinta beteriak dan menunjuk-nunjuk ke arah sesuatu. Ternyata yang ia maksud adalah bebek kayuh.
"Eee... Sinta, itu terlihat seperti wahana anak-anak." Brian merasa malu jika harus menaiki bebek itu.
Tiba-tiba Sinta mengerutkan bibir dan alisnya sambil menatap ke arah Brian.
'Ahaha... Sinta lucu sekali jika sedang seperti ini,' Brian sengaja diam karena ingin lebih lama memandang wajah imut Sinta itu.
'Ya ampun, anak ini begitu manja,' Brian heran melihat Sinta yang masih memasang ekspresinya itu.
"Emm.. ya sudah," akhirnya Brian mengalah.
Seketika wajah ceria Sinta keluar begitu saja. Brian merasa heran, ia rasa wanita itu aneh dan susah dimengerti.
*cerita bebek
Di sebuah danau, hiduplah seekor bebek berwarna kuning nan besar. (Hmmm... aku belum pernah liat sih bebek guede yang warnanya kuning).
Bebek itu adalah bebek yang paling besar diantara bebek-bebek yang ada di desa bebek. Wkwk...
Karena ukurannya yang sangat besar, setiap hari, bebek sakti nan mantraguna itu selalu menjadi rebutan banyak orang.
"Aku ingin menaikimu!"
"Jadilah bebek di rumahku!"
Teriak orang-orang yang tak habis-habis memperdebatkan siapa yang pantas memiliki bebek itu.
Para warga yang merasa kasihan dengan bebek itu mencoba memanggil dan mendekatinya. Tapi saat itu mereka tidak mempunyai alat untuk melintasi danau yang kedalamannya belum pernah mereka ketahui.
"Tunggu!"
Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memecah keramaian.
"Bebek itu tidak menginginkan kalian berdebat seperti ini! Apakah kalian tidak mengerti?! Dia sudah merasa bersalah karena telah membuat keributan di kampung ini!" Teriak orang itu.
Seketika semuanya terdiam. Apa yang dikatakan oleh orang itu memang ada benarnya juga. Tapi mereka tidak bisa membiarkan bebek itu berenang sendirian tanpa seorang teman.
"Bebek suci, apakah kau ingin mereka semua berdamai?" Tanya orang itu kepada sang bebek.
"Wek wek," seketika bebek itu menjawab.
"Ohh!" Para warga yang mendengarnya langsung takjub.
"Nah, kalian lihat kan? Tujuan bebek itu berada disini sebenarnya ingin membantu kalian. Tapi kalian malah berdebat seperti ini," ucap orang itu.
"Hah? Membantu?" Para warga keheranan.
"Ya, bukankah kalian tidak mempunyai alat transportasi untuk menyebrangi danau ini?"
"Mulai hari ini bebek suci akan membantu kalian untuk menyebrangi danau!"
"Whoaaa!!" Para warga berteriak dan merasa senang.
Sejak saat itu, mereka berhenti memperebutkan sang bebek suci. Orang yang bisa berkomunikasi dengan bebek suci itu kini telah menjadi penjaga sang bebek dan selalu menemani bebek suci itu di tepian danau. Ia mengatur para penduduk yang ingin menaiki bebek suci itu. Setiap satu perjalanan, bebek suci hanya diperbolehkan mengangkut beban untuk 2 orang.
__ADS_1
Entah sekedar mencoba menaiki ataupun untuk menyebrangi danau. Setiap harinya danau selalu ramai dengan orang-orang yang menunggu giliran.
"Ahhh! Ponselku!" Brian berteriak.
"Hah?! Kenapa?!" Sinta yang berada di sampingnya ikut panik.
"Ponselku jatuh ke danau,"
Rupanya saat itu brian tak sengaja menjatuhkan ponselnya ke danau. Ia yang sedang mengayuh bebek ingin mengambil foto dengan kamera buriknya.
Tapi Brian merasa tidak fokus karena saat ini kakinya sedang mengayuh. Lantas pegangan tangannya longgar dan membuat ponselnya jatuh ke danau.
"Duhh.. bagaimana ini? Pasti ada sesuatu yang penting di dalamnya." Sinta panik dan berhenti mengayuh bebeknya.
"Ahh... sudahlah, lagipula itu hanya ponsel murah," ucap Brian.
"Hmm, baiklah," mereka melanjutkan perjalanan.
*masa sebelum reinkarnasi
"Ponsel gue!" Hawa dingin keluar dari tubuh Brian, saat ini ia sedang mencari-cari ponsel android miliknya, ia mengobrak abrik seluruh isi kamarnya.
'Sial! Kalo ketauan Ibu bisa gawat!'
'Apa ketinggalan di sekolah ya?'
'Sinta! Gue harus minta bantuan Sinta!'
Brian berniat menelpon ponselnya. Ibu juga sebenarnya memiliki ponsel, tapi ia tak mau ketahuan oleh ibunya bahwa ponsel android miliknya itu hilang. Jadi ia akan meminta bantuan kepada Sinta, tetangganya.
Brian berdiri di dekat jendela kamarnya sambil menunggu kedatangan Sinta. Ia tak berani datang langsung ke rumah Sinta.
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Sinta muncul. Tapi ia terlihat datang dengan seseorang.
'Hah?! Jangan-jangan itu pacarnya si Sinta! Belum juga 1 bulan, udah ada yang deketin aja!'
'Gak bisa dibiarin! Gue kudu nyamperin mereka!'
Brian yang merasa mangsanya sudah direbut, tidak bisa tinggal diam. Ia langsung berlari ke bawah dan melupakan ponselnya yang hilang.
"Sinta!" Brian memanggil Sinta dari kejauhan. Ia melambai-lambaikan tangannya agar Sinta datang menemuinya.
Sinta merasa ragu, tumben sekali Brian memanggilnya. Memangnya ada keperluan apa?
"Aku ke sana dulu ya," ucap Sinta kepada pria yang ada di sampingnya. Dengan ragu, Sinta berjalan mendekati Brian.
"Siapa dia?" tanya Brian tanpa rasa ragu.
'Hah?! Apa yang dimaksud orang ini?' Sinta merasa heran.
"D-dia itu temanku," jawab Sinta ragu-ragu.
"Ohh..."
"Aku tak ingin melihatmu dekat dengan laki laki-lain."
'Hah?!' Sinta tercengang.
"Aku ingin kau menjadi pacarku mulai hari ini juga! Jadi menjauhlah dari orang itu."
Meskipun Brian adalah pengoleksi wanita, tapi Brian tidak pernah mau wanitanya dekat dengan orang lain kecuali dirinya.
__ADS_1
Dilanjut next chapter!