
Berjalan dengan angkuh, langkah ketiga pria itu mampu menarik perhatian para warga sekolah. Brian hampir lupa dengan tekadnya yang ingin menjadi seorang pelajar teladan. Belajar itu membosankan, dan nongkrong bersama teman lebih terasa mengasyikkan.
"Maaf, aku ingin bicara sebentar dengan Anang. Kalian jangan ikuti aku."
Hampir beberapa langkah lagi menuju kelas, Yuna menarik tangan Anang dan menjauh dari yang lainnya. Hal itu sontak membuat orang-orang membicarakannya.
"Haaa.. Kak Anang kok deket-deket sama dia? Jangan-jangan dia pacarnya."
Berkat ketampanan dan kepopuleran Brian, ketiga temannya itu juga ikut kena cipratnya. Wajah mereka yang bisa dibilang lumayan, ikut juga memancarkan aura tersembunyi nya.
"Itu si Anang mau diapain?" Gilang terkejut, ia pikir Yuna si wanita pendiam itu sedang mabuk lagi.
"Yaudah ayok, ayok ikutin."
Brian dan Gilang yang tadinya memang akan berbelok ke WC sekolah, langsung mengikuti keduanya. Sedangkan Sasa sedari tadi sudah duluan masuk ke kelasnya.
Dan ternyata, mereka sampai di depan toilet umum yang biasa dipakai nongkrong. Mereka melihat Yuna menarik Anang masuk ke dalam dan menutup rapat pintunya.
Di dalam toilet, Yuna berdiri berhadapan dengan Anang sembari menunduk sedih. Matanya berkaca-kaca tapi Anang tidak tahu ia kenapa.
"Anang, aku tidak percaya dengan apa yang sudah dikatakan Kak Sinta. Sekarang kau jujur, apa yang sudah kau perbuat kepadaku?!" Ucap Yuna pelan. Perlahan, air mata mulai mengalir dari kedua sudut matanya.
"A-apa? Aku tidak melakukan apa-apa." Anang merasa kebingungan.
"Lalu ini?" Yuna mengambil sesuatu dari kantong plastiknya. Pakaian kuning yang semalam, terlihat basah dan masih menunjukkan noda merah di bagian tengah roknya.
"Aku tau ini semua juga salahku, aku yang memintamu untuk membawaku ke kamar. Aku juga tidak sadar apa yang telah aku lakukan." Ucap Yuna sambil menyeka air matanya yang terus saja mengalir.
"Aku hanya ingin bertanya satu hal, apa kau tidak mengeluarkannya di dalam? Jika tidak, lebih baik kita melupakan kejadian itu seakan tidak pernah ada yang terjadi." Perlahan, Yuna menyurutkan air matanya.
Ucapan Yuna sontak membuat Anang semakin bingung. Yuna terlihat serius, tapi Anang tidak mengerti apa yang sedang dibicarakannya.
Rupanya pagi tadi, saat Yuna sedang di kamar mandi, Yuna merasa aneh. Ia pikir dirinya sedang menstruasi, tapi tidak ada darah lain yang keluar dari organ intimnya.
'Ah, mungkin semalam pakaianku terkena tumpahan sirup alkohol itu.' Pikir Yuna masih menganggap minuman itu sirup.
Yuna mencoba membasuhnya. Tidak ada sabun cuci di kamar mandi Brian, Yuna mencoba menggunakan sabun cair dan tidak yakin sabun itu akan ampuh menghilangkan noda.
__ADS_1
Setelah mengucek dan membilasnya, noda merah itu tetap ada dan hanya sedikit luntur. Yuna panik, biasanya noda sirup mudah larut pada cucian pertama. Saking paniknya, ia segera memasukkan pakaian itu ke dalam tasnya.
Dari rumah Brian, Yuna terus saja menyembunyikan hal itu dari teman-temannya. Yuna yakin, noda merah itu adalah darah keperawanannya. Biasanya noda darah yang sudah kering memang selalu sulit untuk dibersihkan.
Tanda-tanda yang sangat meyakinkan Yuna adalah tubuhnya yang saat ini terasa pegal-pegal. Dan sekarang, Yuna mencoba membicarakan hal itu secara empat mata bersama sang tersangka.
'Hah?! Sinting ni cewek?! Orang gue gak ngapa-ngapain.'
"Maksud kamu apa sih? Aku gak pernah ngelakuin itu dan aku masih perjaka." Ucap Anang mengelak.
"Lalu... Kalau aku sedang menstruasi, kenapa CD ku tidak ikut terkena darah ini?" Ucap Yuna sambil melihat ke samping bawah.
'Ni cewek mau ngejebak gue apa? Tapi masa iya sih.'
"Ada barang bukti?" Jika iya Yuna sedang menjebak Anang, maka Anang akan coba untuk balik membalasnya.
"I-ini.." Yuna merogoh ke dalam tasnya dan memperlihatkan sendiri CD nya kepada Anang. Ia ingin Anang segera memberikan jawabannya.
Sebuah CD segi tiga berwarna pink cerah, dihiasi dengan renda pink pula di setiap sisinya. Anang heran, kenapa Yuna tidak memakai CD kuning yang serasi dengan bajunya kemarin.
"Ohh.. iya, tidak ada ya?" Anang menggunakan kesempatan ini untuk melihat langsung CD milik perawan.
"Tok.. tok.. tok.."
"Yuna, apa kau tidak ingat semalam kau menumpahkan minuman itu ke pakaianmu? Untung saja sofaku tidak ikut kena."
Terdengar suara Brian dari luar pintu dan membuat Yuna hampir merasa jantungan. Ternyata Brian memang sudah menguping dengan Gilang dari awal pembicaraan.
"Kau ingat? Minuman yang semalam?" Tanya Anang.
"A-emm.. ya.. tapi jika iya.. kenapa noda sirup ini sulit untuk dibersihkan?" Yuna lupa-lupa ingat.
"Yuna, apa kau tidak percaya dengan yang Sinta katakan? Kalau kau tidak percaya aku akan mencoba menelponnya lagi." Ucap Brian dari luar pintu.
Anang pun membukakan pintu dan keluar meninggalkan Yuna.
"Ini," Brian menyerahkan ponselnya, tapi Yuna tidak menerimanya.
__ADS_1
"Hahh.. Sinta, coba kau ceritakan apa yang terjadi antara Yuna dan Anang semalam." Brian berbicara kepada Sinta dan mengaktifkan loud speakernya.
"Oh? Bla bla bla bla bla..."
"Ya ya ya ya..."
"Wi wi wi wi..."
"Hu hu hu hu..."
"Jika kau tak percaya, coba kau tanyakan kepada Sasa." Sinta pun selesai dengan ceritaannya.
"Yuna, percayalah padaku, aku tidak mungkin berbohong kepadamu. Bukankah kita ini teman?"
Ucapan Sinta seketika membuat hati Yuna merasa tersentuh. Selama ini ia takut untuk bergaul dengan orang lain. Tapi Yuna baru sadar, ia tak boleh egois dalam memilih teman.
Yuna pun percaya dan duduk-duduk bersama ketiga pria itu di depan toilet umum. Ia mencari-cari fakta mengenai anggur yang tumpah ke pakaian melalui aplikasi search engine. Dan benar, ternyata noda dari anggur merah itu memang sulit dibersihkan, apalagi setelah menyerap kering ke dalam serat-serat kain.
Karena telah menuduh Anang yang tidak-tidak, Yuna segera meminta maaf dengan perasaan malu. Ia baru ingat bahwa wajahnya yang sudah ia rias pagi hari sudah berantakan oleh air matanya yang tadi sempat mengalir.
"A-aku masuk dulu, jangan ada yang mengintip." Yuna segera masuk ke toilet dan merias kembali wajahnya di depan cermin.
"Hahaha! Bro! Lu sih tampang cabul! Jadi orang-orang pada ngira yang nggak-nggak." Brian tertawa keras dan mengagetkan Yuna yang ada di dalam.
"Apaan sih Yan, elu kali, makannya gue jadi kena." Anang memang bukan tipe orang yang selalu menggoda wanita. Sebagai orang yang tidak begitu berada, mempunyai satu wanita saja sudah patut ia syukuri.
Sedangkan Yuna yang sedang di dalam buru-buru menyelesaikan riasannya. Ia takut Brian dan yang lainnya sedang menertawakan dirinya. Yuna pun keluar dan terpaku saat mendengar ucapan mereka.
"Eh, tadi CD si Yuna warna apa? Terus modelnya yang kayak gimana?" Tanya Brian penasaran.
"Warna pink sih, gak tau kayak gimana tapi sampingnya kayak pake kain kebaya." Ucap Anang tidak terlalu tahu.
"Hahahaha!"
Semuanya tertawa dan baru menyadari keberadaan Yuna saat Yuna menampar pipi Brian.
"Plakk!!"
__ADS_1
"Awww.. apa yang kau lakukan Yuna? Kita hanya bercanda." Pekik Brian merasa kesakitan.