Kosong

Kosong
Remedial Tibaa


__ADS_3

Para siswa nakal itu akhirnya memasuki ruangan kelas. Saat itu kelas terlihat sedang sibuk, pasalnya ulangan Matematika seisi kelas mendapatkan nilai anjlok. Seluruh murid di kelas harus mengulang kembali jawaban UAS Matematikanya.


Hahh.. tidak terbenahi, melihat soalnya saja sudah membuat mereka ingin menyerah. Tentu saja mereka hanya diam, menunggu contekan selesai dari para wanita.


'Masa gue harus nyontek sih? Kalo gitu gak bakalan ngerti-ngerti.'


Brian masih ingin mengerjakannya sendiri. Ia pun meminta lembar soal itu untuk dibawa pulang. Tidak apa agak telat, yang penting ia menyetorkan agar nilai rapotnya tidak merah.


"Mit, aku yang di remed pelajaran apa aja ya?" Tanya Brian menghampiri Mitha.


"Mm.. kamu pelajaran PKn sama Matematika. Kalau Gilang dan Anang, IPS, Agama, Matematika, PKn, Indonesia." Ucap Mitha detail. Ia sudah mencatatnya karena sudah ada feeling bahwa mereka akan menanyakannya.


"Oh.. makasih." Brian berlalu dan duduk kembali di bangkunya.


'Haha.. ketauan juga kalo gue itu emang pinter. Mendingan kayak gini ya daripada ribet nyontek tapi banyak diremed.' Gumam Brian sambil berjalan.


"Bro, banyak tuh remed kalian. Gak tau apa aja gue lupa, tanyain coba ke si Mitha." Ucap Brian kepada Anang dan Gilang.


"Masa sih? Mit, emang apa aja?"


Semua sibuk dengan tugas remedialnya. Wendy yang juga ikut ke kelas hanya dijadikan sebuah batu. Mereka yang ada di kelas juga tidak menghiraukan keberadaan murid yang sudah dikeluarkan dari sekolah itu.


Revisi Matematika sudah mereka setorkan, sedangkan Brian hanya menyetorkan pelajaran PKn saja. Brian tidak menghabiskan waktu bersama temannya dulu, ia harus segera pulang dan mengerjakan soal Matematikanya.


Sampai di rumah, Brian sudah disambut oleh suara nada dering telponnya. Yuna, baru saja Brian pulang tetapi ia sudah menelpon saja. Padahal di sekolah tadi Yuna sama sekali tidak menunjukkan sikap apa-apa. Kemudian Brian pun segera mengangkatnya.


"Brian, bagaimana soal tadi pagi, cepat jelaskan kepadaku." Yuna seperti orang tak tenang, Brian pun berkata bahwa posisinya saat ini masih baik-baik saja.


"Syukurlah, aku sempat panik." Ucap Yuna merasa lega.


"Mendingan kita udahin aja perjodohannya. Wendy gak mau diusik, kamu juga nanti malah bikin hubungan pertemanan kita jadi kacau." Ucap Brian tegas. Ia sudah memikirkannya matang-matang dan mencoba untuk membicarakannya secara baik-baik.


"T-tapi Brian, aku tetap ingin melanjutkannya."


"Semalem Wendy udah telpon aku..."


"Nye.. nye.. nye.."

__ADS_1


"Nyong.. nyong.. nyong.."


Brian menceritakannya panjang lebar. Termasuk satu hal yang mungkin akan membuat Yuna membenci Wendy. Semalam, Wendy bercerita bahwa Wita itu sudah merasa bosan saat dirinya dimintai jatah oleh Wendy. Brian menceritakan apa saja yang sudah Wendy lakukan kepada Wita agar Yuna berubah pikiran dan mau menyerah.


"A-aku tidak masalah. Aku yakin kalau aku bisa menanganinya. Jika hubungan mereka sedang tidak baik, justru ini kesempatanku untuk mendekatinya. Benar bukan?" Ucap Yuna tak mau menyerah.


Tidak tahu diri, Yuna tetap saja ngeyel. Lagipula Brian pikir tidak ada untung baginya jika tetap terus membantu Yuna. Justru, malah dia yang akan merasa terbebani dan bisa jadi hal itu akan merusak hubungan pertemanannya juga dengan Wendy.


"Satu hal lagi, Wendy juga bilang kalo kamu itu bukan tipenya dia." Brian yakin ini akan berhasil.


"Aku akan berusaha agar bisa menjadi tipenya!" Yuna terus saja tidak menyerah.


Brian tidak tahu harus berbicara apa lagi. Ia tak tega kalau harus menyebutkan minusnya Yuna. Tepos, mana mungkin Brian berkata seperti itu secara langsung.


"Wendy gak suka sama kamu. Udah dulu, aku lagi sibuk." Brian mematikan telponnya secara sepihak. Lalu ia melihat beberapa panggilan tak terjawab yang sebelumnya datang dari Yuna. Langsung saja ia memutus sinyal wi-fi nya dan menyalakan mode pesawat.


Segera Brian mengambil alat tulisnya untuk mengerjakan soal ulangannya. Namun, ia kesusahan, tidak ada buku ataupun panduan lain. Ia berinisiatif untuk meminta bantuannya Sinta.


Tapi, ia tidak bisa menggunakan ponselnya untuk menghubungi Sinta. Ia pun membawa alat tulisnya dan pergi ke bawah meminjam ponselnya Ibu untuk sekedar menelpon Sinta.


"Emang pelajaran apa yang diremedial? Anak Ibu kok dapet nilai merah? Kamu gak belajar ya?" Tanya Ibu selesai Brian mematikan telpon.


"Ini, Brian belajar Bu, cuma yang itu susah, Matematika." Brian menyerahkan kertas soalnya.


"Hmm.. ini sih Ibu juga gak bisa."


Karena masih lama, Brian pun kembali ke kamarnya dan membawa kembali alat tulis beserta lembar soalnya. Apa yang harus ia lakukan? Ponsel tidak tersambung pada wi-fi, mau mengerjakan soal pun ia tak sanggup.


Mumpung masih belum mandi, Brian pun kembali ke bawah dan memasuki ruangan olahraganya. Ada berbagai jenis peralatan olahraga, mulai dari yang ringan hingga yang berat.


Tersedia juga alat-alat yang sering digunakan oleh Ibu, Ibu lebih sering menggunakan treadmill untuk latihan cardio. Makannya, tubuh Ibu itu selalu terlihat sehat dan sangat proporsional.


Brian melakukan pemanasan dan mengambil dumbel untuk memperkuat otot tangannya. Di sana ia berpikir soal wanita yang sebelumnya ia temukan di sekolah. Ia memang sudah memiliki Sinta yang tubuhnya ideal, tapi entah kenapa ia begitu tertarik saat melihat wanita yang begitu cantik.


Membayangkan wanita cantik itu membuat Brian semakin bersemangat saat berolahraga. Ia ingin menampilkan tubuh terbaiknya. Oh ya, dan uang di kantin juga belum ia bawa, ia harap ia bisa bertemu kembali dengannya di sana.


Kurang dari satu jam Brian berolahraga. Ia duduk di dapur sembari meminum air putih. Setelah keringatnya kering, Brian pun membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


Kebetulan gabut, ia memasak mie instan dan memakannya di dalam kamar. Mie instan goreng sudah habis, baru lah tercium aroma mie yang sangat menyengat di dalam ruangan.


"Klek," seseorang membukakan pintu tanpa mengetuknya dulu.


"Brian, aku datang!" Ucap Sinta dengan wajah ceria.


"Hmmph! Bau apa ini?" Dengus Sinta mencium aroma ruangan yang tak sedap.


"Tadi aku abis makan mie. Kita ngerjainnya di luar aja."


"Ah, tidak, tidak, aku ingin kita di sini. Sudah lama aku tidak bercinta denganmu lagi. Biar ku singkirkan aroma tak sedap ini."


"Haaisshh! Hiyahh!" Sinta mengambil selimut dan mengibas-ngibaskannya ke arah jendela yang terbuka.


"Psstt!" Lalu ia menyemprotkan pengharum ruangannya.


Brian hanya melongo memperhatikan tingkah laku Sinta. Ia duduk di tepi ranjang dan tak lama Sinta berbaring di atas bantalan pahanya.


"Sinta kenapa kamu malah tiduran? Kamu kan mau bantuin aku buat ngerjain soal." Ucap Brian serius.


"Hahh.. sebentar, aku ingin memelukmu dulu." Sinta mendekap perut Brian dan wajahnya seperti menghadap ke arah anu. Tapi Brian tidak merasakan apa-apa, ia tidak sedang respect kepada Sinta.


'Kenapa gue malah mau ngembat cewek lagi? Bukannya gue udah janji buat jadiin Sinta satu-satunya? Kasian Sinta kalo sampe tau gue deket sama cewek lagi.'


Brian bergumam melihat Sinta yang tengah tersenyum sambil memejamkan matanya.


"Hm? Kenapa kau diam saja?" Tanya Sinta setelah sekian lama mendekap.


"Membiarkanmu puas." Ucap Brian masih tanpa perasaan.


"Hihi.. " Sinta tertawa kecil lalu bangkit. Ia duduk menimpa paha Brian sambil mendekap tubuhnya dengan erat.


"Aku sayang kepadamu Brian." Ucap Sinta membuat Brian mendapat serangan.


Langsung dari situ hati Brian berdebar-debar. Ia merasakan kembali rasa cintanya kepada Sinta. Hatinya terasa tak karuan, melayang saat Sinta mendekap erat tubuhnya seperti ini.


Sinta yang tengah duduk rapat berhadapan dengan Brian itu langsung mengubah posisinya. Ia masih tetap duduk di atas paha Brian namun sekarang dengan posisi menyamping. Pipinya ia tempelkan tepat di dada Brian sambil terus mendekapnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2