Kosong

Kosong
Menjenguk Wendy


__ADS_3

"Pacar?" Yuna terkejut saat mendengarnya.


"Ya!" Ucap Sinta.


"Ka-kami tidak berpacaran, kami hanya teman sekelas." Yuna merasa tidak enak dengan Wendy, tapi saat itu Wendy hanya terlihat diam saja.


"Hah? Ku pikir kalian berpacaran. Kalau gitu kenapa kalian nggak pacaran aja?"


"Aku sudah punya pacar, sudah, ayo pergi." Wendy langsung membuka suaranya. Ia tidak bisa tinggal diam.


'Hahh.. Sinta ini ada ada saja, cara itu tidak akan berhasil mempengaruhi Wendy.'


Brian menghela nafas, tiba-tiba ia teringat bahwa di tempat itu dulu ia bertemu dengan si gadis kurcaci.


"Kita mau naik taksi?" Tanya Sinta.


"Aku sudah menyuruh ibuku untuk menjemputku," ucap Yuna.


"Ohh.. sayang sekali. Padahal aku ingin lebih akrab denganmu."


"Hihi.. lain waktu kita bisa bertemu."


Saat itu, mereka semua ikut menunggu kedatangan ibunya Yuna. Mereka tidak mau meninggalkan Yuna sendirian begitu saja.


Sesekali Brian melirik ke arah tempat sampah, tempat dimana dulu si gadis kurcaci mengoreh-ngoreh makanan.


Tak terlalu lama menunggu, akhirnya sebuah mobil berwarna putih datang. Terlihat ada ibunya Yuna di dalam, mereka berpamitan dan menghilang dari pandangan.


Lalu, Brian dan yang lainnya pulang menaiki taksi. Karena Brian dan Sinta merupakan sepasang kekasih, jadi mereka duduk di belakang dan membiarkan Wendy untuk duduk di depan bersama pak supir.


"Brian! Aku sangat senang hari ini, lain waktu ajak aku pergi lagi!" Sinta tersenyum sambil meregangkan tangannya yang memegang barang belanjaan. Saat itu mereka berdua sudah berada di depan pintu rumah Sinta.


"Ya, lain kali aku akan mengajakmu. Ingat ya, jangan makan camilan atau apapun itu terlalu banyak." Brian yang sedang berada di hadapan Sinta mengingatkan.


"Mmm... iya..."


Tiba-tiba Sinta memeluk erat tubuh Brian, dan membuat hati Brian merasa tenang.


"Cepatlah masuk, aku akan pulang," setelah Sinta melepaskan pelukannya, Brian menyuruh Sinta untuk segera masuk.


"Tunggu, aku membeli ini tadi. Mana ya?"


Sinta merogoh satu per satu paper bag miliknya.

__ADS_1


"Ah! Ketemu!"


"Ini, aku membelikannya untukmu, ini pasti sangat cocok," Sinta menyerahkan sebuah kado kecil sambil berbisik ke telinga Brian. Lalu ia mencium pipi Brian dengan cepat.


'Degh!'


Brian yang mendapat kecupan itu langsung tersetrum.


"Dah! Selamat malam!" Sinta membukakan pintunya dan langsung masuk ke dalam.


Setelah Sinta masuk, Brian berjalan menuju pagar samping rumah sambil memandangi kado yang diberikan oleh Sinta itu. Ia merasa senang mendapat kado dari Sinta. (Padahal Brian sendiri yang membayarnya).


'Haaahh.. mantep dah dipeluk sama cewek montok!' Hati Brian tak bisa bohong.


Akhirnya Brian sampai di kamarnya dan dengan segera ia langsung membuka bungkusan kado itu.


Betapa terkejutnya Brian saat mendapati kado yang isinya adalah balon!


Brian langsung meniupnya, mengecek apakah kon**m, eh balon, itu bocor atau tidak.


'Sinta, Sinta.. ada ada saja kamu ini.'


Brian tak sadar jika Sinta juga ikut membeli balon, bahkan ia sudah membungkusnya dengan bungkus kado.


Dengan perasaan senang Brian terbaring di atas kasur dan tertidur pulas.


***


Paginya, seperti biasa Brian pergi ke sekolah. Hari itu Brian sudah duduk di bangkunya yang paling belakang. Dan tentu saja di depannya sudah ada Yuna yang langsung menyapa dirinya.


"B-brian, apa semalam Wendy berbicara tentangku?" Yuna berubah sikap seketika, ia kembali melihat ke bawah lantai dan tidak berani berbicara dengan tatapan langsung.


'Ada apa dengan cewek ini?' Brian merasa heran dengan perubahan sikap Yuna saat di sekolah.


"Nggak, kamu ke geeran." Brian mencoba mengetes Yuna, apakah dia akan memunculkan sikapnya saat di mall atau tidak.


"O-oh, baiklah kalau begitu." Yuna langsung berbalik membelakangi Brian.


'Hmm.. Aneh.. Oh iya juga ya, Wendy sudah mengambil keputusannya atau belum ya?'


Brian yang khawatir dengan keadaan Wendy langsung bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan kelas. Ia mencoba mencari teman-temannya dan berjalan menuju wc murid.


Tapi saat itu terlihat hanya ada 2 orang siswa yang sedang duduk di sana, yaitu Anang dan Gilang.

__ADS_1


"Bro? Tumben lu ke sini, biasanya lu ikut belajar kan di kelas? Atau.. lu dateng ke sini cuma mau berak ya?" Ucap Anang yang melihat kedatangan Brian.


"Nggak, tadinya sih mau liat Wendy." Ucap Brian.


"Emang si Wendy kenapa? Semalem lu jadi kan jalan sama dia?"


"Gak kenapa napa kok. Iya, jadi, cuma aku khawatir aja Wendy udah bikin keputusannya atau belum."


"Iya nih, si Wendy kayaknya gak bakalan sekolah deh hari ini."


Brian yang sudah terbiasa bolos pelajaran, meluangkan waktu tidak sejenak untuk berbincang bincang dengan teman temannya itu.


Karena merasa khawatir, mereka sepakat untuk mencari keberadaan Wendy di rumahnya. Tak menunggu jam pulang datang, mereka memanjat dinding pembatas dan pergi menuju rumahnya Wendy.


"Yuna, tas ku tolong masukkan ke dalam meja."


Brian mengirim pesan kepada Yuna.


Sesampainya di rumah Wendy, memang benar saat itu Wendy sedang berada di rumah dan ia terlihat baik-baik saja.


"Ngapain kalian ke sini?" Tanya Wendy.


"Lu yang ngapain di sini? Lu gak sakit kan? Kenapa lu gak dateng ke sekolah?" Gilang sewot.


"Hah... Gue udah mutusin buat keluar dari sekolah." Wendy menghela nafas.


"Lah? Kok?"


"Daripada gue sekolah lagi 1 tahun, terus ngeluarin lagi biaya buat gue sekolah, ya mendingan gue diem aja di rumah nyari kerja."


Benar juga apa yang dikatakan oleh Wendy, semua temannya juga langsung paham dan mengerti bahwa Wendy tidak akan bisa menjadi presiden jika ia mendapatkan ijasah kelulusannya di SMP itu. Selain itu, Wendy juga pasti akan kesepian karena tertinggal 1 tahun di kelasnya.


"Gak papa kalian sekolah tanpa gue. Kalo kalian mau ketemu, gue masih ada di sini kok gak pergi jauh-jauh."


"Kalo emang itu keputusan lu, ya kita gak bisa apa-apa." Anang menghela nafas.


"Hooh, gue juga gak mau ngebebanin abang gue mulu,"


Di rumah, Wendy hanya tinggal berdua bersama abangnya. Selama ini ia hidup bergantung kepada abangnya itu.


Karena sudah berkumpul, rencananya mereka akan pergi ke base camp dan seperti biasa mabuk-mabukan untuk menghilangkan stress (Hmm.. author rasa sih itu bukan ngilangin stress, tapi nambah stress!).


Tapi Brian si orang yang sudah alim itu menolaknya. Daripada mereka mabuk-mabukan mending mereka makan bakso di lapak baksonya Mang Uha.

__ADS_1


Lantas, Wendy dan ketiga pelajar berseragam itu langsung pergi ke baksonya Mang Uha. Tentu saja si tajir Brian yang akan membayar semua pesanannya.


__ADS_2