
Sesuai janji, malam ini Brian akan latihan futsal dengan bermain langsung bersama para seniornya. 3 motor menjemputnya dan mereka berangkat menuju Buana Futsal.
"Bayarnya berapa ya Kak?" Baru saja mereka sampai, Brian sudah menanyakan hal itu.
"Alah, jangan mikirin itu dulu. Nanti kita tantang lawan buat bayar paling berat kalo mereka kalah. Kalo kita yang kalah, ya gitu, sebaliknya. Makannya tunjukkin bakat kamu." Ucap sang senior.
Berbakat? Tidak. Pengalaman main futsal? Tidak. Tapi Brian yakin bahwa ini akan menjadi pertandingan yang mudah baginya. Dulu ia pernah bertanding dan menang dalam permainan sepak bola sewaktu SD.
Lalu, mereka pun masuk ke dalam karena sudah menyewa tempat sebelumnya. Masih kebingungan, Brian hanya ikut duduk di kursi atas yang berada di pinggir lapang. Ia mengganti bajunya di tempat dengan jersey yang serupa dengan para senior.
"Wahh.. kau punya badan yang bagus juga ya. Sering olahraga di mana?" Salah seorang senior takjub saat melihat dada telanjang Brian.
"Ahaha, biasa aja kok. Aku olahraga di rumah aja sih, tapi kadang juga suka dateng ke tempat gym, soalnya peralatan di rumah gak lengkap." Brian merasa malu mendapat pujian itu, karena tubuhnya yang masih bocah SMP memang terlihat berbeda dengan tubuh para seniornya yang sudah kelas 3 SMA.
"Oh? Punya alat olahraga juga di rumah?"
"Iya Kak."
"Lain kali adu kita? Sekalian latihan bareng." Salah seorang senior menunjukkan badannya yang terlihat sixpack. Dengan tubuhnya yang sudah dewasa, senior itu terlihat sangat gagah. Brian yang melihatnya terkejut, ia ingin tubuh kecilnya ini segera menjadi besar.
"Haha.." Brian hanya tertawa dan tak bisa berkata apa.
"Udah beli sepatu futsal juga?" Senior melihat sepatunya Brian yang terlihat mencolok.
"Baru beli kemarin Kak. Tapi aku bingung harus pake yang mana, soalnya aku beli 2 jenis sol yang beda."
"Coba liat. Udah bener kok, kalo di lantai vinyl kayak gini emang harus pake sol karet." Senior melihat sepatunya Brian itu.
Kualitasnya bagus, sama seperti yang dimiliki beberapa senior lainnya. Karena memang, sepatu itu Brian beli dengan harga sekitar setengah jutaan.
"Kamu kan flank sama dia, posisi kalian harus ada di kedua sisi lapangan."
Senior menjelaskan aturan dan tugas-tugas setiap anggotanya kepada Brian. Sepanjang penjelasan Brian hanya angguk dan iya merasa sudah mengerti apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
Tim lawan sudah datang. Mereka akrab betul dengan tim nya Brian. Sebelum mulai, mereka melakukan pemanasan terlebih dahulu dan lari beberapa putaran keliling lapangan.
'Hahh... sip! Gak usah tegang!'
Permainan akan segera dimulai. Semua sudah berada dalam posisinya masing-masing. 5 lawan 5 termasuk kiper. Sedangkan wasit berasal dari tim lawan. Menurut senior, itu tidak papa, karena wasitnya juga akan bersikap adil.
Wasit pun memberi isyarat untuk segera memulai permainan. Kick off dilakukan oleh tim Brian, dan permainan pertama akan berlangsung selama 20 menit.
Dalam lapangan yang sempit itu, Brian harus sering menggerakkan kakinya. Umpan pendek ia lontarkan melalui kerja sama tim. Entah kenapa Brian merasa tidak nyaman, permainan ini terasa susah dan terasa ada yang menghalang. Beberapa kali Brian menendang, ia sudah tidak tahan karena lapangannya yang terlalu sempit.
"Hey junior! Ini bukan lapangan sepak bola! Jangan tendang terlalu jauh." Seseorang dari tim lawan berteriak.
Junior, pastinya orang yang sedang ia ajak bicara adalah Brian. Meskipun mereka adalah tim lawan, tapi mereka sudah dikolaborasikan untuk ikut melatih Brian yang saat ini menjadi lawannya.
Skor menunjukkan 3-8, tim Brian kebobolan banyak gol. Keberadaan Brian di sana sudah menjadi beban bagi tim nya. Rasanya Brian ingin segera cepat-cepat mengakhiri permainan ini karena ia hanya akan menyusahkan tim nya.
Permainan pertama pun selesai. Mereka beristirahat dan duduk-duduk sambil meminum minuman.
"Haha.. gak papa, lagian kan ini cuma latihan. Jangan terlalu memaksakan diri."
"Aku pikir ini sama seperti permainan sepak bola, tapi rasanya lebih melelahkan yang ini."
"Ya, tentu saja, lapangan ini kan kecil dan para pemainnya hanya sedikit. Jadi kita harus sering mengoper satu sama lain."
"Ayolah, kita memilihmu karena kelihatannya kau sangat cocok. Pokoknya, di permainan ke 2 ini kau yang harus mencetak gol!"
"Akan ku coba."
Meskipun Brian belum bisa membantu untuk menggagalkan kemelut dari lawan, tapi ia terlihat perspektif disandingkan dengan 4 orang anak SMA itu.
Permainan ke 2 dimulai. Misi kali ini Brian harus mencetak sebuah gol. Ia dipersilahkan menggiring bola ke depan oleh tim nya. Sesaat ketika Brian sudah akan mendekati area lawan, seorang senior dari tim nya berteriak.
"Andalan kita nih Broo!"
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga Brian menendang bola itu dan mengarahkannya masuk ke dalam gawang. Ia tak boleh gagal karena sudah mendapat kepercayaan.
"Buk!" Bola yang Brian tendang ternyata malah mendarat ke wajah kiper.
"Oh! Kak! Maaf, aku tidak sengaja." Kepada senior lain yang belum ia kenal, ia merasa sangat bersalah.
"Adududuh, tendangan apaan itu? Sakit sekali." Ucap kiper sambil memegangi pipinya.
"Hahahaha!" Tapi seketika semua orang tertawa terbahak-bahak di atas penderitaan kiper itu. Brian kebingungan, bahkan tim kiper itu juga ikut menertawakannya.
"Goool!" Tim Brian berteriak keras.
Ternyata, bola yang jatuh setelah mencium wajah kiper tadi, secara diam-diam menggelinding dan masuk dengan sendirinya. Akhirnya Brian pun berhasil mencetak 1 tambahan skor meskipun dengan cara yang begitu konyol.
6-15 permainan sudah selesai dan Brian kalah pada latih tanding yang pertamanya.
"Ohh.. buruk sekali. Lain kali kita akan latihan lagi. Kau pasti belum terbiasa bermain di lapangan sekecil ini." Begitu ucap senior yang berada di tim nya. Ia tetap membiarkan Brian dan akan terus melatihnya.
Gelanggang futsal yang sudah disewa selama 1 jam harus dibayar sebesar 200 ribu. Sesuai tantangan, yang kalah harus membayar paling banyak. Karena merasa bersalah Brian memberikan uang 200 ribu nya tanpa meminta kembalian.
"Hey, apa ini tidak apa?" Para senior merasa tidak enak jika semua biaya sewa harus dibayar oleh Brian sendirian.
"Iya Kak, anggap saja itu biaya karena Kakak sudah melatihku. Hahaha..."
"Haha.. baiklah, tapi kita akan mentraktirmu kali ini, untuk salam pertemanan."
"Ya."
Mereka beserta tim lawan yang tadi pun pergi ke tempat makan yang masih berada di area futsal centre itu. Semuanya terlihat ramah dan sangat akrab. Brian yang tadinya hampir akan menyerah malah menjadi sebaliknya.
Ini adalah kesempatan tambahan untuk mengisi waktu luangnya yang selalu terbuang sia-sia. Lagipula Brian sudah membeli sepatu mahal-mahal, untuk apa sepatu itu ia pakai jika bukan untuk bermain futsal?
Hari ini begitu menyenangkan. Pengalaman terbaik bersama orang-orang yang baru saja ia kenal. Tawa dan kehangatan begitu sangat terasa. Mereka sangat mudah berbaur dan menyatu begitu saja dengan Brian.
__ADS_1