Kosong

Kosong
Sekolah Baru


__ADS_3

Bahasa Indonesia 68.0


Bahasa Inggris 82.0


Matematika 37.5


IPA 50.0


Begitu daftar nilai UN yang didapatkan oleh Brian. Surat keterangan bersama ijasahnya menyatakan bahwa dirinya itu LULUS, walaupun 2 mata pelajaran berada dalam kategori kurang.


Di kelas 9F tidak didapati seorangpun yang gagal dan akan tinggal. Namun wali kelas menyatakan memang benar bahwa ada murid kelas lain yang tidak lulus dan harus tetap tinggal di kelas 9.


Entah siapa dan bagaimana nasib murid-murid itu, orang-orang tidak banyak omong lagipula hal itu tidak patut untuk disebar luaskan.


Brian tak bingung memilih sekolah lagi, ia sudah mendaftar pada sebuah SMK yang memang sebelumnya sudah pernah ia tempati.


Tidak sendiri, ia mendaftar bersama Gilang. Namun, Anang mengakhiri pendidikannya sampai di sini. Sebenarnya Anang juga ingin lanjut sekolah, tapi biaya masuk sekolah cukup mahal, jadi ia akan bekerja saja mencoba merantau ke kota besar.


Sekolah yang mereka pilih merupakan sebuah SMK berlabel rujukan yang sudah resmi ditetapkan oleh pusat keunggulan pemerintah. Jurusan yang ditawarkan ada berbagai macam jenisnya. Ada 8 jurusan di sekolah itu, diantaranya:


• Akuntansi


• Perhotelan


• TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan)


• TKR (Teknik Kendaraan Ringan)


• Farmasi


• Kesehatan


• BDP (Bisnis Daring dan Pemasaran)


• Arsitektur


Sekolah itu juga memiliki induk, yang mana induk tersebut sudah bisa menciptakan banyak lembaga pendidikan formal umum maupun keagamaan dari mulai TK hingga perkuliahan. Mereka berada dalam satu nama yang sama persis dan terletak sangat berdekatan juga.


Bukan hanya formal umum saja, formal non-umum pun juga dimilikinya. Mereka tersebar di beberapa kota, bahkan ada satu yang sampai di negara tetangga juga.

__ADS_1


Bangga rasanya jika bisa bersekolah di salah satu lembaganya itu, seperti ikut dipandang terkenal dan juga terpuji seperti lembaganya.


Hari ini Brian dan Gilang mempunyai sebuah jadwal, mereka berangkat bersama untuk mengikuti kegiatan testing tentunya di SMK yang sudah mereka pilih.


Masuklah mereka melalui gerbang belakang. Gilang membawa motornya ke sini, ia sudah bisa memakai motor dan ia memarkirkan motornya di parkiran samping sekolah.


Biasanya parkiran itu ditempati oleh para murid, parkiran itu sama luasnya seperti lapangan sepak bola bahkan sedikit lebih karena memang parkiran itu digunakan oleh 4 sekolah.


SMA, SD, dan juga TK. Mereka masih satu induk juga. Gedung mereka saling berdempetan namun tentu terpisahkan oleh pagar dan bentengnya masing-masing. Tak jarang mereka juga kedatangan tamu, jadi tentu mereka harus memiliki sebuah tempat parkir yang cukup luas.


Gilang dan Brian berjalan menuju ruangan testing, di luar kelas banyak murid berseragam putih abu yang tengah berkeliaran. Mereka adalah murid kelas 12 yang sudah lulus. Entah apa yang tengah mereka lakukan saat ini.


Banyak sekali pemandangan body-body semok nan montok yang bisa mereka pandang. Wajah dan penampilan mereka juga terlihat cantik dan indah. Tentunya karena mereka adalah senior, bukan seorang cupu lagi.


"Anjay.. pada mantep nih Yan, cantik-cantik. Elu mau pilih yang mana?" Ucap Gilang merujuk kepada alumni itu.


Gilang dan Brian tengah duduk di teras depan ruangan testing. Tempatnya yang lebih tinggi mengarah ke arah lapangan di mana para alumni tengah berlalu lalang.


"Gak tau, gak ada yang menarik." Jawab Brian tidak mengacuhkannya.


Ia rasa para wanita dewasa itu tidak memiliki daya tarik di matanya. Padahal rata-rata dari mereka mempunyai kulit yang putih, dan pokoknya termasuk ke dalam tipe wanita Brian.


Seseorang tiba-tiba datang bersama dengan rombongannya. Dilihat dari penampilannya, mereka sepertinya termasuk kategori siswa nakal. Baju dikeluarkan, celana sengaja dikecilkan (dibikin celana pensil), sama seperti Brian dan Gilang.


"Hey Bro, kita dari sekolah anu, kalian sendiri dari mana?" Jawab Gilang sok akrab sambil menengadah.


"Ohh.. kita sih dari sekolah anu. Testing di ruang berapa?"


Rombongan itu ikut bergabung dan mengobrol bersama mereka. Tiba saatnya Brian dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan. Ia akan ditanyai dan dites untuk bisa dikatakan layak menjadi murid sekolah ini.


Guru mulai bertanya tentang alasan Brian mendaftar di sekolah ini. Ia menjawab seadanya, bahwa dirinya sekolah di sini karena kemauan orang tuanya.


Sebelumnya Ayah dan Ibu sudah merundingkan tempat di mana Brian akan disekolahkan. Brian tidak merasa dipaksa dan ia akan memilih jurusan arsitektur.


Alasan memilih jurusan itu tentunya juga dipertanyakan. Prestasi yang pernah ia capai ikut juga dipertanyakan. Brian sama sekali tidak memiliki prestasi apapun, hanya sewaktu SD dirinya pernah masuk ke dalam urutan ranking 9.


"Kamu pernah nonton film porno?"


"Kamu pernah mabuk?"

__ADS_1


Pertanyaan seperti itu juga dilontarkan. Tentunya Brian menjawab tidak, padahal itu semua adalah kegiatan sehari-harinya.


Sebelum datang ke sini, senior futsalnya yang juga bersekolah di sekolah ini sempat membekali Brian tentang apa saja yang harus ia lakukan agar bisa lolos dan diterima.


Rumornya pewawancara bukanlah orang sembarangan, mereka bisa melihat narasumber itu berbohong atau tidaknya. Brian yang sudah pernah diwawancarai itu baru tahu karena pewawancara yang ada di ruangannya tidak begitu ia kenali.


Padahal, mereka adalah guru-guru di sekolah ini. Tapi selama 3 tahun mereka tidak pernah mengajar di kelasnya Brian. Memang ada seorang guru agama yang bisa membaca karakter dan pikiran, tapi Brian tak yakin jika guru yang seperti itu akan sebanyak ini.


Sebenarnya rumor itu tidak sepenuhnya salah, ada beberapa guru yang lumayan ahli dalam bidang psikologi. Tentu mereka ditunjuk sebagai pewawancara, namun tidak semua pewawancara memiliki keahlian yang sama.


Brian tak ingat dulu ia diwawancarai oleh siapa, mungkin saja kali ini ia tidak akan lolos. Ia tak tahu yang sedang berada di hadapannya ini bisa menebak jawaban bohongnya ataukah tidak. Jadi ia melakukan yang terbaik dan bersikap tidak mencurigakan.


Brian pun selesai tanpa tahu bagaimana hasil tesnya. Gilang belum mendapat giliran, jadi mereka duduk-duduk kembali di atas teras.


"Drt! Drt!"


Getar ponsel yang menandakan sebuah pesan muncul. Brian membawa ponselnya ke sekolah, lagipula hal itu tidak dilarang oleh pihak sekolah.


"Brian, aku ingin mengajak Wendy makan hari ini. Apa dia mau?" Pesan dari Yuna.


Saat ini Yuna mendaftar di sekolah lain, sekolah ini tidak cocok baginya padahal ia ingin satu sekolahan dengan Brian dan Gilang juga.


"Lang, si Yuna pengen ketemu sama si Wendy. Gimana nih? Kasian juga." Brian merasa bimbang.


Dirinya sudah lama menerima Yuna kembali. Sejak Wendy sakit pada hari liburan itu, ia melihat sendiri bagaimana setiap saat Yuna memberikan sesuatu yang diperlukan oleh Wendy.


Brian merasa salah, dulu ia terbawa emosinya dan sengaja tidak memikirkan Yuna. Tapi setelah dilihat-lihat lagi, memang, Yuna ternyata sangat baik walaupun ia bukan tipenya Wendy.


"Berdua aja?" Tanya Gilang.


"Kayaknya sih, tapi gimana ya, ntar bisa-bisa si Wendy curiga lagi."


"Iya sih, udah lama juga. Tu cewek gak ada nyerah-nyerahnya sama si Wendy. Tapi kondisi gini mending kita temenin aja kalo dia tetep ngotot."


"Wah, ada kenalan cewek-cewek nih? Cantik gak? Bagi satu lah nomor ponselnya." Ucap orang yang bergabung tadi.


"Banyak, nih." Brian menyerahkan ponselnya begitu saja.


Untuk apa kontak wanita masa lalunya? Menjijikan, lagipula ia sudah tidak membutuhkannya lagi. Daripada dibiarkan, lebih baik ia menyerahkan semuanya lalu kemudian ia akan menghapusnya.

__ADS_1


__ADS_2