Kosong

Kosong
Ternyata Punya Tuyul


__ADS_3

"Ah, Yuna, maaf, sebaiknya kau jangan pergi memakai pakaian itu lagi. Aku benar-benar ingin menghabiskan waktu bersamamu."


Hari selanjutnya adalah jadwal ke pantai. Sebelum berangkat, Wendy memperingatkan agar Yuna tidak memakai bikini lagi. Kemarin, saat dirinya dipermainkan oleh teman-temannya, aibnya ikut dibeberkan kepada Yuna.


Alhasil, Yuna yang baru saja datang itu langsung pergi kembali dan membuat Wendy ingin memenggal kepala teman sialannya. Karenanya suasana menjadi canggung. Namun, semua kembali normal saat sudah dibicarakan di dalam kamar. Yuna mengerti, itu wajar karena Wendy memanglah orang yang normal.


"M, iya. Lagipula Desi juga tidak akan memakainya, jadi aku ada teman." Ucap Yuna yang lantas membuat Wendy merasa lega.


Kemarin, Desi sebenarnya tidak membawa bikini, ia malah hendak memakai bra dan juga kan*cut yang sehari-hari dipakainya. Untung saja Sinta yang penasaran akan model bikini yang dibawa Desi itu bertanya dan ingin melihatnya.


Yang dibawa Desi adalah dalaman, dan sangat memalukan jika dipakai di depan umum. Desi kira dalaman itu sama saja dengan bikini. Ia tak tahu, alhasil, Desi tidak memakai pakaian renang.


Walau Yuna dan Desi sekarang memakai pakaian biasanya, pemandangan bikini masih bisa dilihat dari ketiga wanita kampus yang montok melehot.


Dari resort, mereka menggunakan lift untuk pergi menuju pantai. Sungguh sangat praktis, tahu-tahu pintu dibuka, pantai berada di depan mata. Hermy bilang rasanya seperti menaiki sebuah mesin waktu.


3 hari mereka menginap di sana, lalu Brian yang belum sempat ke rumah sudah mendapat panggilan dari ayahnya. Brian sudah menduga, ia disuruh untuk segera pulang. Padahal ini masih libur, dan libur juga sebulan lewat.


Sinta kira libur kali ini ia akan menikmatinya penuh bersama Brian. Tapi ternyata semua hanya angan-angan, Brian lebih memilih pergi dan menuruti perkataan ayahnya. Sinta ingin ikut ke Korea, tapi Brian bilang dirinya dipanggil karena ada urusan.


Berakhirlah Sinta merelakan Brian walau dengan derasnya hujan tangisan. Sebelum pergi, Sinta mewanti-wanti, Brian harus datang menghadiri acara wisudanya nanti. Satu semester lagi, Sinta akan segera lulus mendapat gelar S1. Brian tak bisa janji, namun tentu ia akan mengusahakannya.


Pulanglah Brian dan Koth menuju Negara Korea.


"Kakakk! Kenapa kau tega pergi tanpa mengajakku! Hiks.. Hiks.. Kakak jahat!"


"Buk! Buk! Buk!"


Sampai di rumah, Brian langsung disambut dengan pukulan-pukulan ringan yang mendarat di bagian perutnya. Seorang gadis cilik bermata almond dan memakai topi baret. Kini, gadis itu tengah menangis di hadapannya. Brian langsung membungkuk, meraih gadis itu dan membuatnya mengapung di udara.

__ADS_1


"Hiks.. Hiks.. Turunkan aku! Aku benci Kakak! Aku juga ingin pergi sendirian!"


Gadis itu memberontak kesal sambil menyeka air matanya. Brian pun menurunkan gadis itu sesuai dengan permintaannya.


"Ya sudah, lagipula Kakak tidak mau melihatmu." Brian melangkahkan kaki.


"Brian! Jangan seperti itu, Elena masih anak kecil!" Ibu memperingati.


"Hehe.. Bercanda Bu, bercanda." Brian kembali mundur lalu berlutut mengusap sedikit rambut anak itu, "Cup, cup, jangan menangis ya, kau tidur dengan Kakak malam ini."


"Hiks.. Hiks.. Kakak jangan pergi lagi... Kakak menginginkan ini kan? Walaupun kecil, tapi aku akan memberikannya, supaya Kakak tidak pergi lagi." Elena menyingkapkan dress se lututnya dan menampakkan kan*cut berwarna pink yang tengah dipakainya.


Brian langsung melotot, ia kemudian melihat ke arah Ibu yang kini sudah barkacak pinggang menatap tajam ke arah dirinya.


Sebelum pergi ke Indonesia, Brian sempat berkata bahwa dirinya ingin membeli celana dal*m. Dan saat itu di kamarnya sedang ada Elena, mungkin Elena pikir Brian pergi lama karena tengah membeli celana dal*m.


"Ehehe.." Brian cengar-cengir, sementara Ibu langsung mendekat ke arahnya.


"Hmm.. Awas ya, jangan sampai kamu mengajarkan yang tidak-tidak sama Elena, didik dia dengan baik, dia itu adik kamu." Peringat Ibu kepada Brian.


"Iya Buu.. Brian tahu, Brian sayang sama Elen kok Bu."


Adik, Elena adalah adiknya Brian. Bukan dari Ibu, tapi dari wanita lain yang diproduksi Ayah tanpa sepengetahuan Ibu. Tuduhan Brian dahulu ternyata memang tak salah, tapi Brian yang sudah terlahir kembali ini tidak bisa mencegahnya karena ayahnya Brian sudah berselingkuh semenjak Brian kelas 2 SMP.


Hingga tiba janji itu datang, Ayah baru mengakui kesalahannya. Walau tentunya Ibu merasa syok, tapi melihat gadis kecil yang waktu itu masih berusia 4 tahun hatinya perlahan luluh.


Elen lahir dari wanita berdarah Polandia. Ia memiliki penyakit yang sampai saat ini masih terus menggerogoti bagian tubuhnya. Kulit putihnya terlihat pucat, dan bobotnya juga kurang di usianya yang sudah 6 tahun ini.


Ibu dari anak itu kini tak meminta apa-apa, ia hanya ingin anaknya sembuh dirawat oleh sang bapak.

__ADS_1


Elen adalah sebab Brian disuruh pulang. Elen selalu menangis karena Brian tak kelihatan sama sekali. Walau sudah dibujuk oleh pengasuh-pengasuhnya, bahkan dibujuk untuk menemui ibunya ia tak mau, ia hanya menginginkan Brian.


Brian langsung memangku Elen dengan satu tangan, ia membawa anak kecil itu ikut ke kamarnya. Kemudian Brian berganti baju karena bau, lalu ia menghempaskan badannya ke atas ranjang.


"Hoamm.. " Brian amat sangat mengantuk, ia memeluk Elena yang tengah duduk di sampingnya.


"Ii, Kakak tidak mandi dulu? Kakak jorok! Bau! Nanti aku adukan kepada Angel Vione!" Elen berusaha melepaskan dirinya. Tapi sebenarnya, ia memang ingin dipeluk Brian.


Angel Vione adalah perawat pribadi Elena. Ia sudah bersama Elena sejak kecil. Sebenarnya nama aslinya adalah Vione, namun Elen menambahkan kata Angel karena sosok Vione ibarat seorang malaikat.


Brian sedikit terpesona kepada sosok yang satu ini. Ia montok dan sangat perhatian kepada Elena. Apalagi saat Vione mamakai setelan serba putih, argh begitu haus menggoda jiwa.


"Huft, lagipula Angel tidak akan mempermasalahkannya."


Brian terlelap dan bermimpi ke pulau payau. Sementara Elena turun dari ranjang karena tak sudi berdampingan dengan bau apek Brian. Ia keluar mengunci pintu dari luar, supaya Brian tidak pergi kemana-mana.


***


Beberapa bulan kemudian.


Masih di belahan bumi Korea bagian sebelah utara, di sebuah bangunan transparan berlapis kaca. Pilar besar berderet di ruang yang luas ini. Orang-orang sibuk di meja panjang. Ini adalah studio, studio perusahaan milik ayahnya Brian.


Brian kini tengah duduk di mejanya, bersampingan dengan pekerja lain. Saling bertukar pena, kanvas, dan pemikiran untuk mendesain bersama. Walau Brian masih kuliah, tapi ini sekalian gabut.


Brian merasa sangat nyaman di studio perusahaan. Sangat berbeda jauh tentunya dengan studio yang ada di kampus. Orang-orangnya begitu ramah, sedikit-sedikit ia belajar dan perlahan ia mulai membantu pekerjaan di perusahaan.


Ia sudah bisa menggambar, memvisualisasikan, dan membuat emosional story board untuk projek. Brian sering merancang sesuatu dengan material favoritnya, yaitu beton dan kaca.


Saking sibuknya, Brian melupakan janjinya kepada Sinta. Ia harus pergi ke London bersama Koth, menjemput seorang arsitek yang merupakan tamu penting bagi ayahnya.

__ADS_1


"Aku akan datang pada waktu itu, berbahagialah dengan dia, Sinta." gumam Brian melihat pemandangan di balik jendela pesawatnya.


__ADS_2