Kosong

Kosong
Tak Ku Biarkan


__ADS_3

'Sinta, apa dia gak lagi sibuk belajar?'


Sekitar pukul setengah 3 siang, Brian pergi ditemani oleh Sinta untuk membeli sepatu futsal. Keduanya tentu sudah mandi dan memancarkan aura segar di pusat perbelanjaan yang tidak terlalu ramai itu.


Di dalam mall serba ada, mereka pergi menuju ke area sport station. Ketika menuju ke rak sepatu, Brian langsung enggan memilih sepatu itu. Bentuk dan modelnya begitu unik, khas dan tidak seperti sepatu biasanya.


Sepatu futsal lebih cenderung mengerucut di bagian depan, bahkan ada beberapa yang ramping dan lancip pada bagian ujungnya. Melihat beberapa jenis sepatu itu memiliki bahan-bahan yang berbeda, Brian pikir ia juga memiliki fungsi yang berbeda.


"Brian, kau mau pilih yang mana?" Tanya Sinta juga ikut melihat-lihat sepatu.


"Aku tidak tahu, tidak ada yang ku suka di sini."


"Hmm... biar aku saja yang memilihnya. Pasti akan cocok denganmu." Ucap Sinta lalu ia berjongkok.


"Satu, satu seteng- wahh.. ini kaki gajah atau apa ya? Besar sekali ukurannya." Sinta menjengkal ujung kaki Brian dengan tangannya.


"Hmm.. kau meledekku?" Brian masih terus melihat-lihat sepatu tanpa menghiraukan Sinta yang ada di bawahnya.


"Ah, tidak, tidak, aku akan mencarikan sepatu yang cocok untukmu!" Sinta berdiri menunjukkan kedua jempol tangannya. Ia pun berlalu memilih-milih sepatu dan mecocokkan ukurannya dengan teliti.


"Sinta, aku ingin beli dua pasang. Kau lihat bahan sol nya yang berbeda kan? Aku yakin sepatu itu juga memiliki fungsi yang berbeda."


"Mmm ya, benar. Ternyata Brian yang satu ini sangat teliti." Sinta melihat dengan detail sepatu-sepatunya.


"Oh, tapi bahan kulit sepatunya juga berbeda, apa kau mau beli semuanya saja?"


"Hahh.. tidak Sinta, yang 2 tadi saja. Lagipula aku masih kacang di tim futsal itu."


"Mmm... iya kah? Apa aku boleh ikut?"


"Ah, yahh... mungkin nanti Sinta, aku belum akrab betul dengan mereka."


Sinta mengabaikan Brian, ia terlihat sibuk memilih sepatu. Ia bahkan memakaikan sepatu itu di kakinya.

__ADS_1


"Haha.. aku adalah pemain futsal, jadi aku akan ikut denganmu!" Sinta berdiri meletakkan kedua tangannya di pinggang. Ia terlihat sangat tidak cocok memakai sepatu itu.


"Sintaa.. jangan bermain-main, kapan-kapan aku akan mengajakmu."


"Hmm.. benar ya? Sini aku pakaikan." Sinta melepas sepatu yang ia pakai dan berjongkok mendekati Brian.


Sepasang sepatu futsal berwarna merah oranye. Warnanya terlihat menyala, tapi model dan coraknya tidak terlalu buruk.


"Mmm... sepertinya ini sedikit kebesaran, tapi tak apa, aku ambil yang ini."


Sengaja Brian mengambil sepatu yang sedikit besar ukurannya agar bisa lama dipakai. Sepasang sepatu sudah terpilih, Sinta pun lanjut memilih satu pasang lagi. Meskipun Sinta yang memilihnya, tapi Brian langsung saja mengambilnya karena tidak tahu harus memilih yang mana.


Selepas dari sana, Sinta mau-mau saja diajak pulang. Ia bahkan menolak untuk mampir berbelanja atau sekedar makan terlebih dahulu.


"Mmm, Brian, sebentar. Aku ingin pergi ke toilet dulu." Belum mendapat jawaban, Sinta langsung pergi begitu saja. Sepertinya ia sudah tidak tahan, ingin BAB atau BAK? Entahlah.


Beberapa saat Brian pun hanya berdiam di tempat itu. Ia menunggu kedatangan Sinta kembali sambil berdiri. Tapi ia merasa tak enak jika harus berdiri di tengah gedung seperti patung. Ia pun beranjak untuk pergi menyusul Sinta.


Di toilet:


Dari samping, tiba-tiba seseorang datang dan menyentuh lembut pergelangan Sinta. Sontak hal itu membuatnya terkejut, sentuhan itu terasa sangat berbeda dari siapapun. Tangan yang besar dan agak kasar. Sinta lalu berbalik melihat tangan siapa yang saat ini sedang menyentuhnya.


"Bagaimana jika kau menikmati satu malam bersamaku, gadis?" Ucap seorang pria berjas yang terlihat dari kalangan sultan.


"L-lepaskan!" Jantung Sinta berdegup kencang, ia merasa takut dan segera menghempaskan tangan pria itu. Lalu ia melihat ke arah Brian yang saat ini sudah berjalan mendekat dan tengah menatapnya.


"Aku akan memasang tarif tinggi, apa kau tidak mau?" Pria itu membelai lembut pipi Sinta.


"Ada apa ya? Kau siapa?" Brian telah sampai di hadapan mereka berdua.


"Oh? Kau siapa?" Tanya pria itu kepada Brian.


"Aku kekasihnya." Ucap Brian tegas.

__ADS_1


"Oh, hahaha... gadis cantik, apa benar anak berandalan ini adalah kekasihmu?" Pria itu merasa tidak percaya. Dilihat dari rambut, pakaian, dan tingkah laku, penampilan Brian memang terlihat seperti seorang berandal.


"Hahh.. ayo," Brian memandang malas lalu menarik tangan Sinta menjauh dari pria itu.


"Hey kau, setidaknya biarkan dulu gadis cantik itu memberikan nomor ponselnya." Ucap pria itu membuat langkah Brian terhenti.


"Dia tidak akan tertarik kepada pria tua sepertimu." Ucap Brian lalu ia melanjutkan langkahnya.


"Keparat!" Pria itu merasa kesal, ia tidak tahu berapa pasti umur mereka tapi ia tidak berani berbuat lebih karena takut akan merusak citra reputasinya.


"Sinta, apa yang sudah dia lakukan?" Setelah keluar dari mall, Brian menyentuh pipi Sinta tadi dengan wajah yang khawatir.


"Apa dia sudah berbuat macam-macam kepadamu?" Lanjut Brian.


"Mmm.. tidak, untung saja kau datang, aku takut sekali." Raut wajah Sinta memang terlihat seperti orang yang sedang ketakutan.


Brian merasa geram, ingin sekali ia menjotos habis wajah pria itu hingga babak belur. Ia tahu bahwa pria itu bermaksud untuk menyewa Sinta sebagai teman mainnya. Hal itu juga pernah Brian lakukan sewaktu ia berada di masa depannya saat keluar dari SMA.


Tapi Brian sadar bahwa pria itu bukanlah seorang yang biasa. Jika Brian nekat menyerang pria itu, bisa-bisa malah ia yang terkena musibah. Walau ia bersifat membela, tetap saja pria itu mungkin akan menjatuhkan dirinya dengan tahtanya.


Mereka pun pulang dan Brian pun mengantar Sinta hingga sampai ke depan rumahnya.


"Ahh! Gue kudu ngelakuin apa sama si Sinta?!"


Di kamarnya, Brian duduk di atas kasur, menunduk dan merasa geram. Sebagai seorang lelaki, ia merasa tidak becus dalam menjaga wanitanya. Ingin sekali Brian menghantam keras cermin di depan yang sedang menunjukkan bayang-bayang dirinya.


Yah, Brian tahu wanita cantik seperti Sinta pasti akan mengalami hal itu. Brian merasa khawatir, ia takut seseorang dapat mencelakai Sinta. Baginya, Sinta itu ibarat cinta pertamanya. Meski sebelum Sinta, ia sudah memiliki mantan maupun pasangan yang lain.


"Sinta, jangan hiraukan pria tua tadi. Aku akan selalu melindungimu."


Brian mengetik sebuah pesan untuk Sinta.


"Hahh.. apaan ini? Lebay banget. Yaudahlah kirim aja."

__ADS_1


"Klik." Pesan pun terkirim.


__ADS_2