Kosong

Kosong
Mupon


__ADS_3

Di atas ranjangnya Yuna masih saja menangis, bertelungkup dengan ponsel yang sudah terlanjur basah di pipinya.


Dadanya terasa sangat sesak, bukan karena tetenya yang terhimpit, tapi karena harapan pada cinta pertamanya yang berangsur gagal.


Semua upaya yang sudah ia lakukan sama sekali tidak ada artinya. Beberapa notifikasi muncul, namun ia tak mau merespons jika itu bukanlah Wendy.


Yang ia harapkan hanyalah Wendy, tapi sepertinya Wendy sama sekali tidak memedulikan Yuna walau jelas-jelas Yuna telah menangis di hadapannya.


1 jam sudah berlalu dan harapan terakhirnya sama sekali tidak tercapai. Mana mungkin 1 jam ini Wendy tak sempat menghubunginya, jelas-jelas tadi Wendy ada di depan rumahnya dan hendak pergi bersamanya.


Dapat dimengerti, kali ini Yuna harus menekan dirinya sendiri untuk cukup menyerah sampai di sini.


Mau sampai kapan ia mengejar? Lagipula Yuna tahu bahwa ibunya tidak akan menyukai Wendy.


Masih dengan tubuh yang telungkup Yuna melirik ke atas dinding, memandang cetak foto dirinya bersama Wendy sewaktu di mall.


Beberapa detik ia hanya memandang foto itu hingga akhirnya ia bangkit menarik nafas kemudian mencopot foto itu dan meremasnya.


"Aku harus menjadi yang terbaik!" Ucap Yuna teguh di depan cermin.


"Tok.. Tok.. Tok.."


Yuna menoleh mendengar pintu kamarnya diketuk.


"Na lagi ngapain? Udah nangisnya belum?"


Suara dari luar, Yuna pun membukakan pintu. Nampak postur berbadan tinggi kira-kira 179 cm, itu adalah kakak laki-lakinya, Sandi.


"Haha, anak cengeng, gak jadi jalan nih? Kalau gitu kita jalan sekarang." Ucap Sandi meledek.


"Ke mana?"


"Udah, ikut aja dulu."


Yuna yang melihat kedatangan kakaknya itu langsung luluh tanpa paksaan. Meskipun wajahnya berantakan karena sudah menangis tapi ia tak malu sama sekali.


Yuna pun meminta waktu sebentar untuk mencuci muka dan sedikit berhias. Sedangkan Sandi duduk di atas kasur sambil bermain dengan ponselnya.


Yuna begitu dekat dengan Sandi, ia sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Sandi di dalam kamarnya. Dirinya juga tidak pernah bertengkar dengan kakaknya itu. Sandi adalah orang yang pengertian, dan Yuna selalu menurut apa yang dikatakan oleh Sandi.


Masih dengan setelan yang sama dan wajah yang lebih segar, Yuna menggandeng tangan Sandi untuk segera pergi ke luar.


"Kamu udah baikan Sayang? Kamu kenapa tadi? Pasti gara-gara anak itu kan? Coba cerita ke Ibu."


Ibu yang melihat kedua anaknya lewat itu langsung bertanya.


"Gak kenapa-napa kok Bu, aku baik-baik aja." Jawab Yuna datar, kesedihannya masih belum sepenuhnya pudar.


"Iya Bu, ini Ena mau jalan-jalan sama aku, aman kok." Sandi mengedipkan matanya.

__ADS_1


Ena adalah panggilan sayangnya Sandi kepada Yuna, dan sesekali Yuna juga sering memanggil Sandi dengan sebutan Endi.


Sudah tak aneh lagi Ibu melihat pemandangan kedua anaknya yang saling menempel dan melekat, Sandi memang menginginkan seorang adik perempuan, dan Yuna juga menginginkan seorang kakak laki-laki. Karena itu keduanya saling melengkapi.


"Ena cengeng pake dulu helmnya ya,"


Sandi memakaikan helm kepada Yuna, mereka akan pergi menaiki motor. Walaupun ada mobil, tetapi Yuna lebih senang menaiki motor, ia merasa lebih dekat dengan kakaknya saat menaiki motor.


Di atas motor Yuna memeluk erat kakaknya itu dan memasukkan tangannya ke dalam saku hoodie kakaknya. Setelah Yuna dan Sandi pergi, Ibu pun pergi ke kamar Yuna untuk memastikan bahwa Wendy itu memang benar adalah orang yang berada pada foto itu.


"Loh?"


Namun ia tidak mendapati kembali foto yang terpajang di dinding itu. Sudah lama foto itu terpajang di dinding, Ibu mengira bahwa itu adalah pacarnya Yuna, ia menyuruh Yuna untuk memperkenalkannya namun Yuna tak pernah sedikitpun memberitahu suatu apapun tentangnya.


Tapi dengan itu ia tahu bahwa memang benar Wendy adalah orang yang sama dengan orang yang berada pada foto itu.


"Bagus kalau Yuna udah ngelupain dia, aku gak nyangka kalo Yuna sampe segitunya karena anak itu."


Di sisi lain, Brian dan yang lainnya sudah sampai di depan rumahnya Wendy. Namun, pintu rumah terkunci dan agaknya tidak ada siapa-siapa di dalam sana.


Kontak Wendy masih tidak bisa dihubungi dan ditanyakan kepada orang sekitar pun mereka bilang tidak tahu.


"Mungkin sama pacarnya kali?" Tebak Gilang.


Mungkin saja, tapi bagaimana cara menghubungi pacarnya? Mereka sama sekali belum kenal dan tahu kepada pacarnya Wendy yang sekarang.


Melihat waktu, sekarang sudah hampir pukul 10, dan Sinta pun mencoba untuk menelpon Yuna daripada terus diam dan menunggu.


"H-halo, Yuna nya ada?" Sinta sedikit terkejut.


"Iya, ada. Ada apa ya?"


"Mmm.. Aku hanya ingin bertanya apakah Yuna baik-baik saja?"


"Iya tentu, dia baik karena dia sedang bersamaku."


"Ahaha! Masuk lagi!"


Terdengar suara Yuna.


"Oh baiklah kalau begitu."


Sinta merasa canggung, ia bingung mau berkata apa dan lantas mematikan sambungan telponnya.


Sinta merasa heran, kedengarannya Yuna baik-baik saja. Ia bahkan terdengar sedang tertawa dan saat ini tengah bersama seorang pria?


Sebenarnya Yuna sedang bermain boneka capit, Sandi tahu bahwa Yuna sangat menyukai boneka. Yuna bebas bermain arcade menggunakan powercard milik kakaknya itu.


Sinta tak langsung berpikiran aneh, sebelum ia mendapat kabar dari Yuna ia tak berani memberitahu yang lainnya.

__ADS_1


Tak lama sebuah motor datang dan semuanya langsung terkejut termasuk si pengendara.


"K-kalian ngapain di sini?" Tanya Wendy terlihat membonceng kakaknya.


"Elu kemana aja? Itu, abanglu?"


Gilang melihat kakaknya Wendy yang terkulai lemah. Di bajunya juga terdapat noda darah, Gilang hendak membantu, namun tindakannya dihentikan oleh Wendy.


"Gak usah, biar gue aja, kalian mending pulang dari sini."


"Tapi Wen, itu abang lu kenapa?"


'Duuh, bisa gawat kalo orang-orang pada tau!'


Wendy takut karena kericuhan ini warga kampung akan berkumpul, ia pun meminta supaya kakaknya dibawa ke dalam terlebih dahulu.


"Abang lu kenapa Wen? Kok bisa jadi gini?" Tanya Brian setelah ikut membantu membaringkannya.


"Biasa, abis mabuk-mabukan ni orang malah ikut tawuran, ada-ada aja, kayak anak kecil!"


Kakaknya Wendy terlihat tak berdaya. Ia hanya memejamkan mata sedangkan di tubuhnya terdapat beberapa luka sayatan.


"Kita harus bawa kakaknya Wendy ke dokter, ayo bawa dia ke mobil sekarang juga!" Sinta merasa khawatir, baginya ini sudah terlalu parah.


"Gak usah, dia gak bakalan mau dibawa berobat." Ucap Wendy.


"Mendingan kalian cabut, abang gue kalo lagi gini pengennya sendirian." Lanjutnya.


"Brian?" Sinta menatap ke arah Brian, ia tak tega jika harus membiarkan kakaknya Wendy seperti ini.


"Elu bisa urus kan Wen?" Ucap Brian hendak pergi.


"Bisa, santai aja."


"Setidaknya kita harus membersihkan lukanya terlebih dahulu, aku akan membeli antibiotik sekarang."


Sinta tetap ngeyel, ia tak mau pergi begitu saja. Ia dan Brian pun pergi mencari apotik yang masih buka pada jam itu.


Sepulang dari apotik, kakaknya Wendy sudah terlihat duduk dan sudah berganti pakaian. Lukanya pun lekas diobati, dan semua langsung pulang karena terlanjur malam.


"Udah mabok, masih aja pergi, untung lu bisa nelpon gue, jangan bikin orang khawatir napa? Noh, puas lu?!" Ucap Wendy setelah semuanya pergi. Ia mengeluarkan sejumlah uang di saku jaketnya.


"Aelah, aw.. Aw.."


Kakaknya Wendy yang tengah menenggak minuman keras sedikit menyiramkannya kepada luka di tangannya.


"Elu apapaan? Jangan ngelakuin yang aneh-aneh, emang pake itu bisa sembuh? Udah diobatin juga, mending lu molor sana!"


Wendy merebut botol minuman itu, ia sangat kesal dengan sikap kakaknya ini. Wendy sangat takut kehilangan kakaknya, akhir-akhir ini kakaknya sering berbuat ceroboh dan membuat Wendy khawatir.

__ADS_1


Belum lama kemarin kakaknya babak belur karena perkelahian, dan sekarang ia hampir tidak berdaya. Namun bukannya kapok tapi kakaknya Wendy malah terlihat senang.


__ADS_2