
"Tadi teh kamu bilang, kamu teh tidak tahu mau kemana. Memangnya teh ada apa Tet?" Tanya Cempaka, seraya menaruh dua gelas es teh di hadapan Butet dan Moana.
Butet terdiam beberapa saat, lalu ia mengusap air matanya yang membasahi pipinya, karena menangisi kepergian nyak Tatik.
"Jadi kek gini Cem. Eh, tapi minum lah aku ya dulu. haus kali." Butet meraih gelas teh nya dan meminum teh tersebut hingga tinggal menyisakan setengah saja.
Sedangkan Cempaka mulai menidurkan Roma, anak bungsunya di buayan nya.
"Jadi gini Cem.., aku pisah sama si Moan," Ucap Butet.
"Hah!" Cempaka terkejut saat mendengar ucapan Butet.
"Kamu teh serius Tet?" Tanya Cempaka.
"Iya Cem."
"Memangnya teh, si Moan kenapa atuh Tet?" Tanya Cempaka penasaran.
"Dia selingkuh."
"Hah!" Cempaka dan Moana pun terkejut mendengar pengakuan Butet.
"Eh, kok tekejot pulak kelen? Kau juga nak e, sanan kau maen. Jangan kau ngupeng pembicaraan orang tua."
"Aku kan mau tau jugak mak. Kenapa lah semalam mamak sama bapak betekak," Ucap Moana.
"Gadak mau tau mau tau kau, sanan lah kau!" Ucap Butet lagi.
"Jadi bapak selingkuh nya mak? Sama siapa dia selingkuh? Cantek ceweknya?" Tanya Moana.
"Kau ya Moana! Sanan kau! Bandal kali pon!" Butet melotot menatap Moana.
"Iya iya....!" Moana pun beranjak dari duduknya dan bergegas ke teras rumah tersebut.
"Kamu teh serius?" Tanya Cempaka lagi, saat Moana sudah meninggalkan ruang tamu rumahnya.
"Iya. Dan yang bikin makin palak aku kan, dia nyewa cewek kek gitu lah Cem, dari aplikasi-aplikasi nakal itu!" Terang Butet.
"Astaghfirullahalazim... kamu teh serius?" Tanya Cempaka dengan raut wajah yang tampak tak percaya. Pasalnya selama ini ia tidak melihat ada yang aneh dari Moan. Justru selama ini Cempaka merasa Moan benar-benar sangat menyayangi anak dan istrinya.
"Iya! manada aku nokoh. Jelas-jelas aku nengok aplikasi itu, dia lagi tawar menawar sama cewek itu. Yang buat aku makin betandok yakan, cewek itu nelpon pulak."Terang Butet lagi.
__ADS_1
"Astaghfirullahalazim..." Saking tidak menyangkanya, Cempaka sampai mengurut dadanya.
"Jadi gimana Tet?" Tanya Cempaka dengan wajah yang tampak prihatin dengan problematika rumah tangga Butet dan Moan.
"Aku pigi dari rumah Cem."
"Hah! Kamu teh serius?"
"Iya, gak percaya kali kau!"
"Bukan begitu atuh Tet. Sampai seserius itu, saya teh tidak menyangka," Ucap Cempaka.
"Jadi mau mu, aku terima aja gitu sama kelakuan si Moan bajingan itu?" Tanya Butet.
"Bukan begitu atuh Tet.." Cempaka mulai bingung mau menerangkan apa yang kini ada di pikirannya.
"Jadi, kamu teh sama Moana sekarang tinggal di mana Tet?"
"Itulah yang jadi masalah sama ku. Makanya aku kesini. Mau pulang kampong aku pun gak mungken. Nantik banyak tanyak inang sama amang ku. Jadi aku putuskan lah untuk balek ngekost di sini lagi. Masih banyak yang aku kerjakan di Jakarta ini dulu. Aku mau urus cerai dulu kan, sama harta gono gini." Terang Butet.
"Ngekost?" Tanya Cempaka dengan raut wajah yang tak percaya dengan apa yang Butet katakan kepada dirinya.
"Iya. Kenapa rupanya? Keberatan kau!" Tanya Butet.
"Teros? kok kek keberatan gitu kau ku tengok!" Tuduh Butet.
"Ish! Kamu teh suudzon terus sama saya. Maksud saya teh begini tet. Sejak lima bulan ini kan tidak menerima anak kost lagi. Saya juga sedang sibuk mengurus si Roma. Jadi teh, rumah kost nya tidak pernah di bersihkan atuh Tet." Terang Cempaka.
"Memangnya teh, kamu mau gitu membersihkan rumah itu dulu?" Sambung Cempaka lagi.
"Memang jorok kali?" Tanya Butet.
"Ya tidak begitu atuh Tet. Hanya saja, sudah lima bulan Tet. Pasti berdebu dan banyak sarang Laba-laba nya."
"Gak masalah samaku. Tapi kau bantu lah ya bersih-bersih!"
"Ish, Butetttttt.. saya teh punya anak kecil. Kamu mau tidak? Kalau mau, kamu teh tidak usah bayar. Yang penting teh, kamu bersihkan dan rawat sampai urusanmu selesai," Ucap Cempaka.
Mendengar Cempaka tidak memungut bayaran kepadanya, Butet pun tampak bersemangat.
"Betolnya cakapmu itu Cem?" Tanya Butet, mencoba memastikan sekali lagi, bila Cempaka tidak akan memungut biaya sewa kepada dirinya.
__ADS_1
"Iya Tet. Lagipula kamu teh bukan orang lain bagi saya. Kalau kamu mau tinggal sementara waktu, ya tidak apa-apa atuh."
"Aseeeekkkkk...! Kek gitu kan enak, jadi semangat aku bersihkan rumah kost nya!"
"Heleh helehhh... giliran gratis saja kamu teh semangat ya Tet!" Sindir Cempaka.
"Iya lah! Mana sapu mu? Pel? Seprai? Pembersih kaca? Sekarang jugak aku bersihkan!" Ucap Butet dengan bersemangat.
"Tuh di belakang. Ya sudah, kamu teh bersihkan saja dulu ya. Saya teh mau menidurkan anak saya dulu. Nanti malam kita ngobrol lagi Tet. Kalau malam teh enak, ada a'a Rozy yang menjaga anak-anak. Jadi saya teh bebas bisa ngobrol sama kamu," Ucap Cempaka, seraya senyum semringah.
"Cocok! Mantap itu!" Sahut Butet, seraya beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke dapur, untuk mengambil alat-alat untuk membersihkan rumah kost yang akan ia tempati. Sedangkan Cempaka beranjak menuju ke kamar anak, untuk menidurkan Roma, anak bungsunya.
*
"Eh nak e, jan kau maen tanah! Jorok kali pon!" Ucap Butet kepada Moana, saat ia hendak berjalan menuju ke rumah kost yang terletak di samping rumah utama peninggalan nyak Tatik tersebut.
"Manada. Aku lagi kumpolin kerikel ini mak."
"Sama aja jorok itu! Kau pun gak mau ku kasi tau. Buat apa kerikel itu pon! Bisa rupanya bangun rumah samamu?" Tanya Butet, seraya menaruh alat-alat kebersihan di depan teras rumah kost.
"Mamak ni... Ck!" Sahut Moana, seraya beranjak mendekati Butet yang tengah memperhatikan teras rumah kost tersebut.
"Mak, di sini kita tinggal nantik?" Tanya Moana yang kini berdiri tepat di samping Butet.
"Iya. Kenapa?" Tanya Butet seraya menatap buah hatinya tersebut.
"Kok jorok kali mak?"
"Makanya ini mau aku bersihkan! Udah grates, protes pulak kau! Bantu mamakmu ini bersih-bersih, jangan men jorok kau!" Protes Butet.
"Iya lah iya.. Mamak pun ku tengok gampang kali naek tensi sekarang."
"Banyak kali cakapmu itu pon Moana," Ucap Butet, seraya membuka pintu depan rumah kost tersebut.
Tercium aroma lembab dari dalam rumah kost tersebut. Terlihat juga sarang Laba-laba yang mulai memenuhi pelafon rumah itu. Tiba-tiba saja, angan butet kembali ke masa di mana dirinya pernah menempati salah satu kamar yang ada di rumah kost tersebut. Suasana rumah kost yang nyaman, bersih dan hangat. Serta teman-teman satu kost yang begitu lucu dan saling peduli kepada sesama penghuni. Masa indah yang tak akan pernah terulang kembali. Meskipun tidak akan terulang kembali, namun kenangannya akan tetap selalu ada di rumah tersebut, ataupun di memori masing-masing mantan penghuni kost tersebut.
"Sudah lama, akhirnya aku balek lagi ke mari." Butet tersenyum sendiri, mengingat kenangan-kenangan manis yang pernah ia lewati di rumah tersebut.
"Mak, kek nya di sini ada hantunya lah mak. Kok gelap sama ngeri kali ku tengok!" Ucap Moana.
"Aku hantunya!" Ucap Butet seraya menyeringai menatap Moana.
__ADS_1
"Aaaaaaaaa....!" Moana ketakutan dan lari terbirit-birit keluar dari rumah tersebut. Sedangkan Butet tertawa geli dan mulai beranjak membersihkan rumah tersebut.
"Welcome to Kost Putri, Butet! Rasa-rasa kek masih remaja aku bah!" Gumamnya seraya mulai menyapu ruangan demi ruangan yangbada di dalam rumah tersebut.