
Bunyi kicauan burung di pagi hari ini membuat Butet terjaga dari tidurnya yang lelap. Dengan malas, Butet pun membuka kedua matanya dan mengusapnya dengan lembut. Sesekali Butet menguap menandakan dirinya masih mengantuk. Namun ia tidak dapat tidur kembali, pasalnya ia harus ke sekolah Moana untuk mengambil pakaian seragam Sekolah dasar milik putri semata wayangnya itu. Tidak hanya itu, setelah Butet mengambil baju seragam Moana, Butet juga sudah memiliki janji dengan Sri, untuk mengunjungi Psikiater.
Butet mengernyitkan dahi dan memijat pelipisnya yang terasa pusing. Entah mengapa, pagi ini Butet seperti tidak memiliki tenaga. Dengan berhati-hati, Butet pun menuruni ranjangnya dan berjalan menuju ke kamar mandi.
"Lemas kali bah! Masok angin ku rasa. Semalam lupa aku makan gara-gara teringat aja sama si jelek itu!" Batin Butet.
Setelah mandi, Butet pun segera berpakaian dan berdandan. Lalu ia keluar kamarnya untuk menemui Moana yang ternyata sudah mandi dan sedang duduk di meja makan menunggu Butet untuk sarapan bersama.
"Ku kira belom bagun mamak," Ucap Moana, seraya menaruh gadget yang sedang ia pegang.
"Udah loh nang. Cuma kek nya mamak lagi gak enak badan." Keluh Butet.
"Saket mamak? Mau ku telepon bapak? Bir di bawaknya mamak ke dokter," Ucap Moana dengan raut wajah yang tampak khawatir.
"Ish! kenapa pulak kau bawak-bawak bapak mu. Bisa nya aku sendiri!" Ucap Butet.
"Bah! macam jijik aja mamak sama bapak! Tah kek mana nya ini!" Moana tampak kesal kepada Butet yang tidak ingin melibatkan Moan sedikitpun.
"Bukan kek gitu nang. Bapak mu lagi healing dia, jan kau ganggu."
"Bah! Healing, macam orang saket aja pakek healing. Saket rupanya bapak?" Tanya Moana dengan polosnya.
Butet menatap Moana dengan seksama. Lalu ia hanya mampu menghela napas panjang dan membuangnya dengan perlahan.
"Dah lah, jangan banyak kali cing cong mu itu. Makan kau lagi!" Perintah Butet.
Moana hanya mampu mencebik kan bibirnya dan meraih butter untuk ia oleskan di atas rotinya. Pun dengan Butet, ia menuangkan dua gelas susu untuk dirinya dan Moana. Lalu ia ikut mengoleskan butter di atas rotinya. Saat asik mengoleskan butter di atas rotinya, tiba-tiba saja hidung Butet mencium bau sesuatu yang membuat lambungnya terkocok. Aroma amis yang membuat ia ingin muntah.
"Hoaek!"
Butet menutup mulutnya untuk mencegah ia muntah.
"Mak! kenapa?" Tanya Moana yang langsung menghampiri Butet dan menepuk-nepuk punggung Butet dengan lembut.
"Amis kali! Hoekkk..!" Lagi-lagi Butet bereaksi ingin muntah.
"Mbooookk!" Jerit Moana.
Tak lama kemudian, asisten rumah tangga pun datang dari aarah dapur dan langsung menghampiri Butet dan Moana.
"Kenapa ini non?" Tanya asisten rumah tangga itu.
"Gak tau mobok. Mamak dari tadi kek kodok dia. Hoek hoek tapi gak muntah-muntah!" Terang Moana.
__ADS_1
"Hust! Masa mamak nya di samain sama kodok. Poye toh!"
Moana menutup bibirnya dengan kedua tanganya.
"Bu, ibu kenapa?" Tanya asisten rumah tangga itu.
Butet mencoba mrngangkat wajahnya, namun ia kembali mencium bau amis dari asisten rumah tangga tersebut.
"Hoek! Hoek! Hoek!"
Akhirnya Butet pun memuntahkan isi perutnya di atas lantai.
"Ya Allah ibu. Ibu sakit?"
Napas Butet terlihat naik turun, wajahnya pun terlihat merah padam. Sesekali ia mengusap peluh yang mengalir di dahi dan lehernya.
"Masak apa kau bik!" Tanya Butet.
"I-i-itu.. kan ibu minta masak kan ikan." Jawab asisten rumah tangga itu dengan nada suara yanh bergetar.
"Udah berapa lama memangnya ikan itu di lemari es? Udah gak fresh ya?" Tanya Butet, dengan sesekali tampak ingin memuntahkan isi perutnya kembali.
"Baru tiga hari yang lalu kan bu. Kan ibu yang belanja. Fresh kok bu, orang langsung masuk kulkas. Bau nya pun gak ada yang aneh, saat saya ambil dari kulkas tadi." Terang asisten rumah tangga itu.
"Tapi bu, sayang loh..."
"Buang! Baunya kemana-mana ini. Dari sabang sampe merauke udah pasti tecium sama baunya!"
Asisten rumah tangga itu pun hanya mengangguk. Meskipun ia merasa sangat mubazir untuk membuang ikan-ikan tersebut, tetapi apa daya, nyonya rumah tidak ingin mencium bau ikan tersebut.
"Iya bu." Asisten rumah tangga itu pun kembali beranjak ke dapur, untuk membuang ikan-ikan tersebut atas perintah sang majikan.
Sementara Butet mencoba membersihkan bekas muntahnya, dan setelah bersih, ia pun menyemprotkan pewangi ruangan hingga bau ikan tersebut menghilang dari penciumannya.
"Aneh kali mamak lah!" Protes Moana.
"Diam kau! Nanti ku ke tokonya, mau aku protes dulu! kenapa dia jualan ikan yang bauk nya gak enak kali!" Ucap Butet.
"Mau protes kek mana? Kalau mau protes bawak lah ikan nya ke sanan!" Ucap Moana.
Mendengar ucapan Maona, Butet pun tercenung.
"Iya juga ya." Gumam Butet.
__ADS_1
"Eh nang, kau di rumah aja ya."
"Mau kemana mamak rupanya?" Tanya Moana, seraya mengunyah roti yang baru saja ia lahap.
"Pertama, aku mau ambek baju seragam mu. Kedua, aku mau ada perlu sama tante Sri." Jelas Butet.
"Oh, kelok kek gitu kenapa gak di ajak aja aku? Kan bisa aku jumpa sama bang Ardi."
"Ini urusan orang dewasa. Kau di rumah aja ya..."
"Ck! Banyak kali urusan orang dewasa memang!"
"Gosah protes kau Moana ya!" Butet mendelik kan matanya.
Moana mencebik kan bibirnya dan kembali fokus dengan makanannya.
Kini Butet hanya dapat memandangi makanannya dengan tatapan enggan. Lalu ia berniat untuk meminum susu, namun baru saja ia memegang gelasnya, Butet pun kembali merasa enggan untuk meminum susu itu.
"Dah lah! Cabot aja aku ke sekolah dulu. Malas kali pun aku sarapan." Batin Butet.
Butet pun beranjak dari duduknya dan bersiap untuk berangkat ke sekolahan Moana.
"Mak, gak jadi makan?" Tanya Moana.
"Malas aku. Nantik aja siang aku makan. Habes dari sekolahmu dan jumpa tante Sri, pigi pijit aku dulu ya nang. Biar ilang masok angin ku dulu. Gak enak kali badan ku lah."
"Jadi mamak pulang sore lah ya?" Tanya Moana, dengan mimik wajah yang terlihat menyindir.
"Eh.. jan kau sedih. kalok kau kesepian, kau telpon lah bapak mu."
"Betol ya!"
"Iya. Maen lah kau sama bapak mu. Mintak jempot sama dia dulu," Ucap Butet, seraya tersenyum.
"Asekkk..! Kek gini kan adel. Mamak pigi melalak, aku pigi juga melalak sama bapak!" Ucap Moana dengan ekpresi gembiranya.
Butet ikut tersenyum dan mulai mengecup puncak kepala putrinya itu.
"Selamat bersenang-senang ya nak ku. Mamak pigi dulu."
"Iya mak... hati-hati ya mak."
"Iya sayang." Sahut Butet.
__ADS_1
Dan Butet pun pergi meninggalkan rumahnya untuk menjalani rencana yang telah ia susun pada hari ini.