
Sudah sebulan perpisahan Butet dan Moan. Hari ini Moan menemui nyak Komariah untuk memperpanjang masa kontrak kost nya. Nyak Komariah yang sedang duduk di depan televisi, menoleh saat melihat Moan masuk ke dalam rumahnya dan duduk di sampingnya.
"Nyak.."
"Hmm..?" Sahut nyak Komariah, seraya menatap wajah murung Moan.
"Asem banget tuh muka. Kek ketek gue.." Celetuk nyak Komariah.
Moan mengusap wajahnya dan lalu menyenderkan punggungnya di senderan sofa.
"Lu nape? Belom kelar juga prahara rumah tangga elu?" Tanya nyak Komariah.
"Belom nyak." Sahut Moan.
Nyak Komariah menghela nafas panjang dan menatap Moan dengan tatapan lembut, layaknya seorang ibu kepada anaknya.
"Menurut nyak ye, masalah menghianati itu memang parah bagi perempuan. Nyak pernah merasakannya sih. Tapi ya namanya orang berbeda-beda. Tapi menurut nyak , bini lu emang keras banget orangnya. Rada egois! Bukan rada lagi, tapi egois banget..! Kaga mikir apa anaknya gimana?"
Nyak Komariah terlihat kesal karena sikap Butet yang begitu keras pada Moan. Bagaimanapun bagi nyak Komariah, Moan sudah seperti anak kandungnya sendiri. Pasalnya ia tidak memiliki anak laki-laki dari pernikahannya dengan babe Rojali.
"Memang dari dulu dia keras nyak. Justru itu lebihnya dia. Itulah yang buat aku jatuh cinta pulak sama dia." Terang Moan.
"Ya resiko elu kalau begitu mah!" Nyak Komariah terlihat malas dan kembali menatap layar televisinya.
"Nyak," Panggil Moan.
"Apaan lagi ah. Lu kek bocah aje!"
"Bayar kost nyak."
Seketika nyak Komariah langsung menatap Moan dengan senyum di wajahnya.
"Oh iye....! Ini nih yang bikin gue sayaaaaanggg banget ama elu Moan. Dari jaman baheula, lu kaga pernah telat emang bayar kost!"
Moan ikut tersenyum melihat nyak Komariah yang begitu antusias.
"Iya lah..." Ucap Moan, seraya mengeluarkan uang tunai dari dompetnya.
"Moan, lu mah anak baek. Anak kost yang paling nyak sayang." Nyak Komariah tampak mulai merayu Moan.
"Tau nya aku nyak." Ucap Moan seraya memberikan uang kost dengan jumlah yang lebih, seperti bulan kemarin.
"Aseeekkk..." Dengan cepat nyak Komariah menyambar uang tersebut dari tangan Moan dan mulai menghitungnya.
"Makasih ye!" Ucap nyak Komariah, seraya tersenyum puas dan menatap Moan dengan seksama.
"Iya nyak. Aku pigi dulu ya."
"Mau kemana lu?"
"Hari ini hari perpisahan Moana dari sekolah TK nya. Jadi jalan-jalan orang tu. Aku mau nyusul ke lokasi perpisahannya."
__ADS_1
"Oh iya deh. Hati-hati ye..."
"Iya nyak. Aku pigi dulu ya.." Ucap Moan, seraya mengecup punggung tangan nyak Komariah.
Nyak Komariah tersenyum lebar melepas kepergian Moan. Lalu setelah itu, ia kembali duduk di sofanya dan menatap uang pemberian Moan.
"Ya Allah. Sebenarnya aye hidup di kelilingi orang-orang baek selama ini. Mulai dari almarhumah si Tatik. Anak-anak nye si Tatik. Mantu-mantu aye, si Mamat ama si Bambang. Anak-anak kost aye." Gumam nyak Komariah seraya tersenyum.
"Tatik, apa kabar lu di sana? Udeh ketemu bang Rojali dong lu yak? Gue jadi iri..." Gumam nyak Komariah lagi.
Penyesalan terdalam dari nyak Komariah adalah, menanam kebencian kepada nyak Tatik dan anak-anaknya selama mereka bertikai dulu. Namun di saat ia merasa lelah dan tersadar bila pertikaian dan kebencian hanya merusak hatinya. Namun umur sudah terlanjur senja.
Sebenarnya wajar saja nyak Komariah membenci nyak Tatik yang telah masuk kedalam kehidupan rumah tangganya. Namun yang ia sesali, ia baru menyadari bila nyak Tatik ternyata jauh lebih baik hatinya daripada dirinya sendiri.
Nyak Tatik sangat tulus dan terus berusaha untuk meminta maaf kepadanya selama ini. Namun karena hati nyak Komariah sudah terlanjur membenci, seakan jalan itu menjadi buntu. Kehamilan Rissa lah yang membuat nyak Komariah merasa tidak ada yang peduli padanya selain anak-anak nyak Tatik dan nyak Tatik sendiri, setelah babe Rojali meninggal dunia.
Terkadang seseorang akan menyadari bila kebencian tidak akan selalu baik. Bila ternyata orang yang ia benci begitu baik kepada dirinya.
"Terkadang aye pun berpikir, nanti di surga kita bertiga di pertemukan. Aye berjanji Tik, bang Rojali, kita akan hidup rukun di sana. Aamiin." Batin nyak Komariah.
..
"Ayo ayah dan bunda, sekarang kita uji ke kompakan keluarga ya... Jadi, Bunda memberitahu benda atau binatang apa yang tertulis di kertas, terus ananda memberitahukan lewat gerakan kepada ayah. Nanti ayah menebak benda atau hewan apa yang tertulis di kertas tersebut ya..."
Mendengar intruksi dari guru Moana, Butet pun mulai menyapukan pandangannya, mencari sosok Moan yang belum juga datang.
"Aduuuhhh, belom datang pulak dia!" Batin Butet dengan raut wajah yang terlihat kesal.
"Siapa yang duluan? Oh ayah dan bundanya Rafi ya..." Ucap guru Moana.
Ayah dan bunda Rafi, teman sekelas Moana pun maju ke depan. Game pun di mulai. Keluarga itu terlihat begitu kompak dan bahagia. Ayah Rafi pun terlihat begitu gampang menebak, saat anaknya memperagakan bagaimana seekor Kuda.
"Ish! Mana lah si Moan ini?" Gumam Butet lagi.
Acara yang diadakan di tempat wisata itu terlihat begitu ramai. Bukan hanya anggota dari TK Moana saja, bahkan pengunjung lainnya pun berdiri dan ikut berbahagia saat menonton acara perpisahan dengan tema jalan-jalan keluarga tersebut..
Butet menyapukan pandangannya ke arah keramaian para pengunjung, untuk mencari sosok Moan yang mungkin saja bingung dan sedang mencarinya juga. Namun saat itu juga tatapan Butet tertuju pada sosok yang tak asing baginya.
"Bang Dewa?" Gumam Butet.
Seketika wajah Butet pun terlihat begitu bersemangat, ia berpikir bila ada Dewa, pastilah ada Sri di lokasi tersebut. Dengan begitu antusias, ia pun menerobos keramaian dan berniat mengejutkan Dewa dan Sri. Saat ia baru saja hendak menghampiri Dewa, terlihat Dewa sedang di hampiri seorang wanita cantik yang sedang menggendong seorang bayi perempuan kecil yang juga sangat cantik. Wanita itu menyerahkan putri kecilnya tersebut kepada Dewa dan Dewa pun meraih anak tersebut dan menggendongnya. Terlihat Dewa tersenyum dan mengecup pipi bayi perempuan tersebut.
Deggg...!
"Apa-apaan ini!" Gumam Butet.
Seakan tidak percaya apa yang tengah ia lihat, Butet terus mendekat dan mencoba meyakinkan bila itu benar Dewa atau bukan.
"Sayang, ayo kita ke sana. Aku lapar," Ucap wanita cantik tersebut.
Bugggg...!
__ADS_1
Seakan terkena hantaman, hati Butet terasa begitu sakit, saat mendengar wanita cantik itu memanggil Dewa dengan sebutan 'Sayang'.
"Sayang? Dia siapa? Kok manggil sayang pulak sama bang Dewa? Anak itu siapa? Apa jangan-jangan...." Butet merasa sakit hati bila sahabatnya di khianati oleh Dewa.
"Mak, ish mamak aku panggel-panggel jugak, gak nengok-nengok." Keluh Moana, seraya menarik tangan Butet.
"Eh, tunggu sebentar.." Ucap Butet, seraya menatap Moana yang sedang cemberut. Lalu Butet kembali menatap kearah di mana Dewa yang berada tadi. Namun seakan hilang di telan bumi, sosok Dewa dan wanita cantik itupun menghilang begitu saja.
"Mamak ngapain? Sebentar lagi giliran kita loh..." Keluh Moana.
"Sabar kenapa kau! Aku lagi carik bapakmu!" Ucap Butet, lalu ia kembali menyapu pandangannya, hingga ia melihat sosok Moan yang terlihat berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke arahnya.
"Ha, itu bapakmu baru datang!" Ucap Butet.
"Bapakkkkk...!" Seru Moana, lalu gadis kecil itu pun berlari ke arah Moan. Dengan senyuman yang lebar, Moan pun menyambut Moana dan langsung menggendong buah hatinya itu.
"Maafkan bapakmu ya nang..., macet tadi," Ucap Moan.
"Gak apa nya pak. Belom nya giliranku." Moana mencoba menenangkan Moan.
"Oh, syukurlah kalok kek gitu," Ucap Moan dengan ekspresi yang tampak begitu lega. Lalu ia menatap Butet dengan seksama.
"Kau kenapa dek?" Tanya Moan yang terlihat bingung saat melihat Butet yang tampak sedang mencari seorang di keramaian para pengunjung tersebut.
"Eh bang, kau liat bang Dewa gak tadi?" Tanya Butet, seraya berbisik di telinga Moan.
"Enggak? Kenapa rupanya? Adanya dia tadi di sini?" Tanya Moan lagi.
"Sumpah, nengok nya tadi aku ada dia di sini." Butet terlihat begitu yakin.
"Sama si Sri juga?"
Butet menatap Moan dengan seksama. Lalu ia menggelengkan kepalanya dengan perlahan.
"Bah! Salah nengok kali kau dek. Masak iya si Dewa ke tempat wisata anak-anak kek gini sendirian."
"Gak sendirian dia bang!"
"Teros?" Tanya Moan penasaran.
Butet menatap Moana yang terlihat bersiap menguping. Lalu ia menggelengkan kepalanya.
"Nantik lah aku kasih tau kau," Ucap Butet.
"Sekarang ayah dan bundanya Moana.... Ayah dan bunda Moana mana?" Terdengar suara ibu guru Moana memanggil mereka berdua.
"Eh, kita di panggil mak!" Seru Moana.
"Yodahlah, siap acara ini, nantik ku kasih tau kau bang," Ucap Butet, seraya menarik tangan Moan menuju ke atas panggung.
Moan yang terlihat bingung, hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki Butet yang mengajaknya ke arah panggung.
__ADS_1