Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Nasihat Sri untuk Butet


__ADS_3

"Cemana perasaan kau sekarang, Sri?" Tanya Butet, saat ia hendak berpamitan pulang kepada Sri.


Sri yang berjalan di samping Butet, hanya tersenyum dan menatap sahabatnya tersebut.


"Alhamdulillah, Tet." Jawab Sri.


"Alhamdulillah nya kek mana? Jabarkan lah.." Pinta Butet.


"Ya, Alhamdulillah aja. Mau bagaimana lagi, Tet.. Tet.. " Sri menggelengkan kepalanya seraya menatap Butet dengan seksama.


"Siap nya kau sama semuanya?" Tanya Butet lagi.


"Insya Allah, aku siap." Jawab Sri.


Butet menghentikan langkah kakinya tepat di depan mobilnya, lalu ia menatap Sri dengan seksama.


"Kalau aku boleh jujur ya Sri... Aku yakin, bang Dewa cuman jadi korban aja dia. Mungkin di liat betina itu, bang Dewa itu ada paok paok nya. Jadi di manfaatkan sama dia," Ucap Butet, dengan setengah berbisik. Ia takut ucapannya di dengar oleh Dewa yang baru saja muncul bersama dengan Moan, di teras rumah Sri.


Sri menatap Dewa yang sedang berbincang dengan Moan. Lalu ia kembali menatap Butet dengan seksama.


"Mudah-mudahan, Tet," Ucap Sri.


"Kalok ya.. ini tarok lah, umpamanya... kalok bang Dewa cuman jadi korban, kau apakan si Grazia?" Tanya Butet, penasaran.


Sri terdiam sejenak. Lalu ia tampak berpikir dengan keras.


"Misalnya toh?" Tanya Sri.


"Iyaaaaa.." Butet terlihat tidak sabar menanti jawaban dari Sri.


"Hmmmm," Sri tampak masih berpikir.


"Lama kali pon kau berpikir! Kau apakan dia? Kau tuntut. Atau kau jambak jambak?" Desak Butet.


"Kan sudah di bilang, aku akan merebut mas Dewa lagi." Jawab Sri.


"Ish! Anak ini ya! Maksudku, konsekuensi apa yang mau kau kasikan sama betina itu!" Butet terlihat gemas dengan Sri yang memang dari dulu terkesan sangat lambat dalam berpikir.


"Aku paham, Tet. Tapi aku mau menyerahkannya sama mas Dewa. Toh dia yang jadi korbannya. Terserah mas Dewa saja." Jawab Sri.


"Tapi kau sama anak kau kan korban jugak! Lama-lama agak paok kau, Sri. Sama kek bang Dewa!" Butet terlihat semakin gemas.

__ADS_1


Sri menatap Butet dengan seksama. Lalu ia tersenyum tipis.


"Tet, aku ini istri sah nya mas Dewa. Istri pertama dan yang paling berhak atas mas Dewa. Tentunya aku akan mengambil mas Dewa lagi dari dia."


"Trus?" Butet semakin tak sabar.


"Untuk menjambak nya? Untuk apa? Aku tidak perlu mengotori hati dan tanganku untuk wanita rendahan seperti dia. Harga diriku terlalu tinggi untuk itu."


Butet terdiam mendengar ucapan Sri.


"Tet, yang bisa aku lakukan adalah memaafkan masa lalu. Membersihkan pikiran dan hati, lalu menjalankan rumah tangga dari awal lagi. Masalah Grazia, biarlah mas Dewa yang menentukan. Mau dia tuntut secara hukum atau dia apakan, terserah dia bagaimana. menyelesaikan masalahnya." Terang Sri.


Butet terus menatap wajah Sri yang terlihat begitu legowo. Lalu Butet menggelengkan kepalanya dengan tak percaya.


"Kau dari dulu terlalu baik, Sri," Ucap Butet.


Sri tertawa kecil dan memegang kedua pundak Butet.


"Tet, tidak ada kerugian dari kesabaran. Tidak ada kerugian dari memaafkan dan ikhlas. Bagiku yang penting adalah mentalku. Menyimpan dendam dan sakit hati itu hanya merusal hati dan pikiran yang mempengaruhi mentalku. Jadi, untuk apa? Berlarut-larut pun menyimpan masalah, hanya akan menimbulkan masalah baru. Aku capek kalau selalu begitu. Lebih baik aku menjalani hari-hariku hingga ajal menjemputku dengan perasaan ikhlas dan bahagia. Dengan begitu, yang beruntung adalah Ardi, Tet."


Butet terdiam membisu. Ia tahu betul sifat Sri yang selalu ikhlas dalam menghadapi apapun yang terjadi di dalam hidupnya. Justru Butet terpukul dengan ucapan Sri yang begitu tulus. Ia merasa telah gagal menjadi seorang manusia yang selalu mempercayai apapun rencana Tuhan. Ia pun merasa gagal menjadi manusia yang memiliki hati yang ikhlas dan berusaha bersih dari hal-hal negatif yang mengotori pikiran dan hati, sehingga buah hatinya sendiri menjadi korban atas masalahnya dengan Moan.


"Sekarang, aju yang bertanya padamu, Tet. Kamu bisa mencari fakta atas masalah sahabat-sahabatmu dengan cara yang cerdas. Lalu, kenapa kamu tidak mau mencoba mencari fakta dari masalahmu? Menurutku yo, Tet... Aku minta maaf sebelumnya ini.."


"Kita manusia dewasa, Tet. Kita bisa melihat kejujuran dan ketidak jujuran dari sorot mata lawan bicara kita, ya kan?" Tanya Sri.


"Iya," Sahut Butet.


"Nah, menurutku, bang Moan itu jujur, Tet."


Butet mengerutkan keningnya dan menatap Sri dengan seksama.


"Aku bukan mau membela bang Moan, Tet. Gak ada untungnya bagiku. Karena kamu lah sahabatku, Tet. Tapi, kalau aku boleh jujur, dari pertemuan pertama kita di rumah bang Rozi, waktu bang Moan di sidang dan membawa temannya itu, aku bisa lihat di mata bang Moan, kalau dia itusudah jujur dan juga putus asa. Makanya berakhir keributan, karena dia merasa tidak ada kesempatan. Coba tenangkan hatimu dulu, Tet. Pikirkan psikologi Moana. Dia yang akan jadi korban kalau ibu dan bapaknya terus ribut di depan dia."


Apa yang di katakan oleh Sri, begitu nyata dengan apa yang terjadi dengan Moana saat ini. Sekarang Butet dan Moan berpisah tempat tinggal, bila bertemu selalu bertengkar dengan nada yang begitu tinggi, hingga membuat Moana merasa terganggu dan bersedih. Cara Sri yang tetap terlihat baik-baik saja dengan Dewa di depan Ardi, dapat mencontohkan Butet, bagaimana menjaga perasaan anak di masa tumbuh kembangnya. Ardi tetap terlihat bahagia saat sedang bersama dengan ayah dan bundanya. Namun berbanding terbalik dengan Moana yang kini terlihat murung.


Butet menjatuhkan pandangannya, ia benar-benar merasa malu dengan sikapnya selama ini dengan Moana. Rasa penyesalan itu terus mengusik pikirannya yang mulai mampu berpikir, bila apa yang ia lakukan selama ini adalah kesalahan besar.


"Jadi bagaimana, Tet? Apa kamu mau mencari tahu kebenaran juga?" Tanya Sri.


Butet menatap Sri dengan seksama, lalu ia tersenyum tipis dan lalu menatap Moan yang sedang berpamitan dengan Dewa.

__ADS_1


"Tet, aku mohon, kasih Moan kesempatan. Lelaki memang penipu ulung, Tet. Tetapi, bila di sudah jujur, itulah yang sejujur-jujurnya."


Butet kembali menatap Sri dengan seksama.


"Tet, mari kita buat suasana yang akrab dan kekeluargaan seperti dulu. Impianku saat ini cuma satu, Tet."


"Apa?" Tanya Butet.


"Aku ingin semua menemukan titik terangnya. Semua baik-baik saja, aku dan kamu kembali akur dengan pasangan kita masing-masing. Teman-teman yang lain juga di hindari dari masalah yang menyebabkan perceraian. Aku hanya ingin kita dapat berkumpul kembali seperti dulu. Di cafe Moan, tertawa bersama, cerita-cerita lucu, melihat anak-anak berlari ke sana kemari dengan bahagia. Atau... kita berwisata bersama, menikmati pemandangan alam."


"Tet, sejujurnya, aku rindu masa-masa itu. Kita semua memang tidak memiliki hubungan darah, walaupun setetes. Tapi, rasanya lebih dari itu. Kalian semua adalah keluarga bagiku. Keluarga pertama yang aku kenal saat aku menginjakkan kaki di Jakarta. Aku mencintai kalian semua. Aku gak kepengen ada ke gagalan masing-masing di antara kita. Kalau bisa kita bersatu, kalau bisa kita tua bersama, kenapa tidak, Tet?" Sambung Sri.


Butet terdiam seribu bahasa.


"Tet, aku tahu kamu pintar. Aku pun percaya, kamu dan Moan dapat menyelesaikan masalah ini, tanpa adanya perceraian. Aku dukung kamu, Tet, bila memang Moan bersalah. Tetapi, dia juga berhak dapat kesempatan ke dua. Hidup itu hanya sebentar, Tet. Dari kita lahir, sampai saat ini, bukannya terasa begitu cepat Toh?"


"Tet, dua puluh tahun ke depan, kita sudah tua semua. Tidak ada yang dapat kita banggakan dari diri kita. Kita sudah keriput, kita sudah tidak bertenaga lagi. Yang bisa kita banggakan adalah, hidup sukses dan akur. Barulah kita bisa menjadi contoh bagi anak-anak kita dan juga orang sekitar kita, Tet." Sambung Sri.


Butet masih terdiam di hadapan Sri. Kedua matanya terlihat menahan air mata yang hampir saja membobol pertahanan nya.


"Maaf yo, Tet. Aku bukan sedang menggurui kamu. Aku hanya menyampaikan apa yang ada di benakku. Aku lakukan ini sama dengan alasanmu juga, Tet. Karena kamu sayang sama aku, makanya kamu bantu aku menyelesaikan masalah dengan mencari fakta. Aku tidak bisa membantu banyak. Hanya ini yang dapat aku lakukan untuk kamu, Tet. Kalau misalnya kamu juga membutuhkan bantuan ku, aku bersedia, Tet. Mari kita mencari fakta juga." Sri mencoba meyakinkan Butet.


"Udah siap? Yok lah kita pulang, kasian Moana udah nunggu kita," Ucap Moan, yang sedang berjalan ke arah Butet dan Sri.


"Ng.. Sri.. Makasi ya, nantik kita bicara lagi," Ucap Butet, seraya tersenyum dan memeluk Sri dengan erat.


"Iyo, Tet. Bang Moan.. Hati-hati di jalan," Ucap Sri.


"Siap Sri.." Sahut Moan, seraya tersenyum kepada sahabat istrinya tersebut.


"Makasih ya Sri, bang Dewa," Ucap Butet, sebelum ia beranjak masuk ke dalam mobilnya.


"Sama-sama, Tet, Moan. Hati-hati di jalan," Ucap Dewa, seraya melambaikan tangannya.


Kini Sri dan Dewa berdiri di teras rumah mereka. Menatap kepergian Butet dan Moan dan melepaskan kepergian mereka berdua dengan senyuman. Setelah Butet dan Moan meninggalkan halaman rumah mereka, Dewa pun beranjak menuju gerbang rumahnya dan menutup gerbang tersebut. Setelah itu ia kembali menghampiri Sri yang basih berdiri di teras rumah tersebut.


Dewa menatap Sri dengan seksama, lalu ia tersenyum kepada istrinya tersebut. Dengan ragu, Sri juga membalas senyuman Dewa dan juga tatapan tulus dari Dewa.


"Ayo kita mulai. Malam ini, aku akan ke sana untuk mengambil rambut Kimberly," Ucap Dewa.


Sri mengangguk setuju. Lalu ia menghela napas panjang dan mengusap lengan Dewa dengan lembut.

__ADS_1


"Terima kasih, mas. Semoga ada titik terang dari masalah kita," Ucap Sri.


"Aamiin." Sahut Dewa dengan harapan yang begitu besar.


__ADS_2