
"Nah.. ketopraknya datang," Ucap Dewa, seraya tersenyum dan meraih piring berisi satu porsi ketoprak dari tangan penjualnya. Lalu ia memberikan ketoprak tersebut kepada Sri.
Sri tersenyum dan menerima ketoprak tersebut dari tangan Dewa dan menaruhnya tepat di hadapannya.
"Dua ya mas, sudah semua," Ucap penjual ketoprak tersebut dengan ramah, seraya memberikan satu porsi lagi kepada Dewa.
"Iya mas, sudah. Terima kasih ya," Ucap Dewa.
"Sama-sama mas," Sahut penjual ketoprak itu, seraya beranjak dari hadapan Dewa dan Sri.
"Ayo di makan. Sudah lama sekali kita tidak mampir ke sini."
"I-iya mas," Sahut Sri, seraya tersenyum kepada Dewa.
"Jujur ya, ini ketoprak terenak yang pernah aku makan. Dulu ada di depan kampusku, tapi tidak seenak ini. Makanya dari dulu, aku selalu langganan di sini dan berakhir menjadi langganan kita." Dewa terlihat begitu bersemangat saat bercerita pada Sri. Sedangkan Sri, lagi-lagi ia hanya tersenyum menanggapi cerita Dewa.
"Tetapi, tahu tidak apa yang membuat bagiku ketoprak ini semakin enak?" Tanya Dewa, seraya mulai menyendok kan suapan pertamanya.
"Apa mas?" Tanya Sri, seraya menikmati suapan pertamanya.
"Karena di sinilah kita pertama kali bertemu."
Sejenak Sri berhenti mengunyah dan menatap Dewa dengan seksama.
"Kamu tahu tidak, saat pertemuan pertama kita itu malamnya aku tidak bisa tidur."
"Kenapa mas?" Tanya Sri dengan ekspresi wajahnya yang polos.
"Karena terus terbayang-bayang wajah kamu."
Lagi-lagi Sri terdiam mendengar cerita Dewa.
"Aku sempat merasa menyesal, saat itu. Pasalnya, aku tidak meminta nomor ponsel kamu. Tetapi namanya jodoh ya, akhirnya kita bertemu di kost putri."
Sri kembali tersenyum. Angannya pun melayang ke waktu dimana pertama kali ia berjumpa dengan Dewa. Kala itu, Sri sempat merasa bila Dewa adalah orang jahat. Maklum saja, Sri tahu betul bagaimana kondisi Ibukota, khususnya bila di malam hari. Namun siapa sangka, lelaki yang ia jumpai di depan stasiun itu, adalah kakak laki-laki dari teman satu kostnya. Dan kini, lelaki itu sudah memberikan dirinya satu orang putra yang tampan.
Sri kembali tersenyum dan melanjutkan makan nya.
"Saat pertemuan kita di kost putri, di situ aku percaya bila Tuhan sudah menjodohkan kita. Jadi, saat aku melamarmu, tidak ada keraguan sedikitpun. Aku mencintaimu dan sampai kini tidak pernah berubah, justru makin bertambah."
Sri kembali terdiam mendengarkan ungkapan isi hati Dewa. Lalu ia menatap dewa sekali lagi dan mencoba memastikan bila apa yang telah Dewa katakan itu, memang benar dan sejujur-jujurnya.
Dewa membalas tatapan Sri, lalu ia mengangkat kedua alisnya.
"Kenapa? kok melihat ku seperti itu?" Tanya Dewa.
"Ti-tidak apa mas." Sahut Sri. Lalu ia kembali melanjutkan makannya.
"Kamu tidak percaya ya, bila apa yang aku katakan ini benar atau tidak. Dari hati, atau tidak?" Tanya Dewa.
Sri tersenyum tipis dan mencoba mengalihkan pandangannya ke arah orang-orang yang lalu lalang di area stasiun itu.
"Tapi, itulah yang aku rasakan yang sesungguhnya dan sejujur-jujurnya. Aku sedang tidak menggombal, hanya saja aku teringat pada ucapanmu saat kita hendak menikah dulu,"
__ADS_1
Sri kembali menatap Dewa dengan seksama.
"Kamu pasti ingat. Dulu, dua hari menjelang pernikahan kita, kamu mengatakan ini padaku. 'Mas, nanti apapun yang terjadi, aku harap kita saling terbuka. Aku minta, mas selalu ungkapkan apa yang ada di hati mas sama aku. Bila aku salah, tolong katakan dan didik aku. Bila mas bosan padaku, tolong katakan saja, biar aku tahu diri. Jangan selingkuh atau nikah lagi ya mas. Lebih baik aku tahu di awal dan juga aku tahu dari bibirmu sendiri.'.. Begitu bukan?" Ucap Dewa, seraya menirukan ucapan Sri pada waktu itu.
"Iya. Dan ternyata..." Sri menghentikan ucapannya dan tersenyum kecut.
"Ya, aku salah. Memang apapun itu, kita harus jujur pada pasangan. Awalnya aku ingin jujur padamu bila ada yang mendekatiku. Namun aku merasa, saat itu aku tidak perlu mengatakannya, karena aku tidak tertarik dan tidak memiliki hubungan dengannya," Ucap Dewa.
"Namun siapa sangka, ternyata dia menjebak ku. Saat itu pun aku menangis dan benar-benar bingung. Satu sisi, aku takut kamu marah dan meninggalkan aku. Satu sisi lagi, aku sangat tersiksa karena sudah berbohong." Sambung Dewa.
Sri bergeming, ia kembali melemparkan pandangannya ke orang-orang yang sedang lalu lalang.
"Ternyata memang benar apa katamu. Lebih baik jujur di awal dan kamu tahu dari bibirku sendiri." Sambung Dewa lagi.
Dewa menaruh sendok yang berada di genggamannya, lalu ia meraih tangan Sri yang masih diam tanpa kata.
"Aku benar-benar minta maaf. Ternyata, saking cintanya aku padamu, hal itu justru membuat aku takut untuk jujur dan kehilanganmu. Harusnya aku sadari, kamu katakan itu semua padaku, tandanya kamu memang wanita yang sangat dewasa dan sudah memikirkan hal-hal yang kemungkinan akan terjadi. Harusnya memang dari awal aku sudah bercerita, hingga aku tidak perlu sejauh ini," Ucap Dewa, dengan wajah yang penuh penyesalan.
"Hmmm, mas.."
"Ya?"
"Nek cerita terus, aku kapan maem nya?" Sri mencoba mengalihkan pembicaraan dengan pertanyaan dan ekspresi polosnya.
"Eh, maaf.." Dewa melepaskan genggaman tangannya dan mulai terlihat salah tingkah.
"Aku loh baru maem dua sendok. Keburu dingin ini loh."
"I-iya," Sahut Dewa, seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu mereka pun melanjutkan makan malam mereka tanpa sepatah katapun.
"Hati-hati, nanti tertukar lagi," Seloroh Dewa.
Sri tersenyum dan kembali memastikan botol air mineral kemasan di depannya. Lalu ia mengambil botol miliknya dan meneguknya hingga menyisakan setengah. Setelah itu, Sri menaruh botolnya kembali ke atas meja dan menatap Dewa dengan seksama.
"Mas,"
"Ya?" Sahut Dewa, seraya menaruh botol air mineral miliknya ke atas meja.
"Aku boleh bertanya sesuatu?"
"Boleh," Jawab Dewa.
"Mungkin ini pertanyaan sudah pertanyaan yang sangat akrab dan sudah berkali-kali aku pertanyakan pada mas Dewa."
Dewa terdiam dan terus menatap wajah Sri yang tampak serius.
"Apa itu?" Tanya Dewa.
"Tadi mas sendiri yang bilang, bila kejujuran itu sangat penting."
"Iya," Jawab Dewa.
"Aku hanya ingin memastikan sekali lagi saja mas, agar aku benar-benar percaya padamu."
__ADS_1
"Apa itu?" Tanya Dewa, yang kini mulai memasang wajah yang tak kalah serius.
"Ng... sebelumnya, aku minta maaf. Bukan aku tidak percaya mas Dewa, ataupun sumpah atas nama Tuhan yang mas Dewa ucapkan."
"I-iya.. A-apa itu?" Tanya Dewa yang tampak mulai gugup.
"Mas, kamu pernah bilang, bila kamu tidak sekalipun menyentuh dia dengan sadar."
"I-iya," Sahut Dewa.
"Ok. Sekarang aku bertanya, apakah memang benar, kamu tidak pernah menyentuh dia sekalipun? Dan.... Apa yang membuat kamu tidak mau menyentuh dia, bila memang itu semua benar?"
Dewa terdiam. Lalu ia kembali meraih botol air mineral miliknya dan mulai meneguknya sampai habis.
Sedangkan Sri, terus menatap Dewa dan berharap Dewa segera menjawab pertanyaan darinya.
"Kita bicara di mobil saja," Ucap Dewa, seraya beranjak dari duduknya dan menghampiri penjual ketoprak, untuk membayar ketoprak tersebut.
Sri menghela napas panjang dan ikut beranjak dari duduknya, lalu ia pun berjalan menghampiri Dewa yang baru saja membayar tagihannya.
"Ayo," Ucap Dewa, seraya mengulurkan tangannya kepada Sri.
Sejenak Sri menatap tangan Dewa, lalu ia kembali menatap Dewa dan juga orang sekitar yang sedang memperhatikan mereka berdua.
Merasa tangannya tidak di sambut, Dewa pun berinisiatif untuk meraih tangan Sri dan lalu menggandengnya hingga sampai di depan mobil. Setelah itu ia melepaskan genggaman tangannya dan membukakan pintu mobilnya untuk Sri.
Sri pun memasuiki mobil tersebut dan duduk dengan nyaman di dalamnya. Sedangkan Dewa beranjak masuk dan duduk balik kemudi.
"Jalan-jalan yuk," Ucap Dewa, seraya menyalakan mesin mobilnya.
"Mas.." Panggil Sri.
"Ya?"
"Mas belum menjawab pertanyaanku."
Dewa menatap Sri dan menghela napas panjang.
"Sri.., aku sangat tersiksa dengan hadirnya dia dalam pernikahan kita. Jujur, aku sangat tidak menyukai dia. Entah kamu mau percaya atau tidak, inilah yang sejujur-jujurnya. Kalau kamu bertanya, apa yang membuat aku tidak menyentuh dia, haruskah aku ulangi sekali lagi?"
Sri terdiam, seraya terus menantikan kelanjutan kata-kata dari Dewa.
"Aku sangat mencintaimu. Dan sudah aku katakan, semakin hari, aku semakin mencintaimu. Aku juga sudah bilang, aku harus jujur padamu dan menjaga kepercayaanmu. Sekali aku bilang tidak, aku tidak akan pernah melakukannya. Walaupun selama ini aku sebagai laki-laki harus berpuasa, tidak menjadikan alasan bagiku untuk menyentuh dia. Aku mencintaimu, lalu untuk apa aku menyentuh dia? Sudah cukup aku tidak jujur masalah dia. Tapi aku tidak mau ikut membohongi diriku sendiri hanya karena syahwat ku saja."
Kedua mata Sri mulai berembun mendengar penjelasan Dewa.
"Berbohong dengan cara menyembunyikan adanya dia saja, aku sudah merasa sangat berdosa padamu. Lalu, untuk apa aku membohongi diriku sendiri? Bukankah aku akan terus mengutuk diriku sendiri seumur hidup?"
"Dari awal memang aku meragukan Kimberly itu anak ku. Namun aku terjerat oleh orang tua dia dan juga hasil test DNA itu. Dengan menyentuhnya, bukankah aku akan menambah masalahku, bila dia melahirkan yang sebenar-benarnya anak kandungku? Lalu, bagaimana caranya aku mengakhiri semua ini?" Sambung Dewa.
Air mata pun menetes di pipi Sri.
"Sri, aku minta maaf atas semua yang terjadi. Dan aku sangat bersyukur kamu dan Butet mau membantuku mencari kebenarannya. Mari kita tunggu kebenaran yang sesungguhnya satu bulan lagi. Apapun yang terjadi, aku siap atas segala konsekuensinya." Tegas Dewa, seraya memeluk Sri yang kini mulai terisak.
__ADS_1
"Maafkan aku.. Maafkan aku bila meminta kamu mengerti aku sampai satu bulan kedepan. Tetapi aku mohon untuk saat ini, tetaplah di sampingku. Aku sangat membutuhkan kamu," Ucap Dewa lagi.
Sri pun membalas pelukan Dewa dan mereka terlarut dalam perasaan yang sama.