
"Aaaaaaaaaa....!" Jerit Risma, kala kuah Arsik mengotori dada dan pakaiannya. Pun dengan Moan yang tercengang saat melihat pakaiannya terkena cipratan kuah yang berwarna kuning tersebut.
Moan manatap Butet dengan tatapan tak percaya. Bagaimanapun reaksi Butet agak berlebihan. Wajar saja bila curiga atau marah, saat melihat suami dekat dengan wanita lain. Namun pasalnya, Butet tidak bertanya terlebih dahulu dan langsung mengutamakan emosinya.
"Kau kenapa?" Tanya Moan dengan nada suara yang sedikit tinggi kepada Butet.
"Ngapain kau sama dia! main gilak kelen?" Tanya Butet dengan penuh emosi.
"Ti-tidak ada apa-apa loh kami," Sahut Risma.
"Terus ngapain dia megang-megang Semangka kau itu!"
Risma pun terdiam, lalu ia menatap Moan dengan seksama. Dan kini pun tatapan Butet beralih kepada Moan. Merasa dirinya terancam, Moan mulai gugup saat memikirkan bagaimana menjelaskan nya pada Butet.
"Jawab!" Bentak Butet.
"Ya-ya-yang ka-kau liat gak gitu sebetol nya..." Jawab Moan.
"Gak gitu? jadi cemana? cok kau jelaskan dulu!" Desak Butet.
"Ta-ta-tadi i-i-itu.. a-aku gak sengaja loh.. numpahin aer. Kenak pulak ke situ," Moan menjelaskan seraya menunjuk dada Risma yang berlumuran kuah Arsik.
"Ha! kau tengok lagi! Selera kau sama Arsik Semangka dia? Udah bekuah itu! tinggal kau makan!" Ucap Butet , lalu ia mendengus kesal.
"Tet, jangan lah kau sukak kali salah paham. Ini gak kek apa yang kau pikirkan loh..." Moan memijat pelipis nya yang terasa pusing.
__ADS_1
"Jadi cemana? Jelas-jelas kau pegang Semangka nya!"
"Aku udah jelaskan.. Heeeeee... capek kali aku!" Keluh Moan.
"Kalok capek, jadi mau kek mana kau? Mau cere kau? Hah! Baru aja baekan sama aku, udah kek gini lagi tingkahmu!" Ucap Butet yang sudah terlanjur di penuhi emosi.
Moan terdiam, lalu ia melihat tangannya yang masih menggenggam tisu yang ia gunakan untuk mengusap air yang membasahi pakaian Risma. Lalu ia menoleh ke arah meja, dan terlihat gelas dan air yang tertumpah di atas meja.
"Kau liat ini, aku pegang tisu. Kau liat itu," Moan menunjuk ke arah meja.
"itu.. gelas sama aer tumpah. Aku reflek aja, gak ada niat ku untuk sengaja kek gitu. Aku gugop, pas nengok kau datang. Tau kau apa yang ada di pikiranku? Aku takot samamu. Kau selalu salah paham. Pas kau salah paham, kiamat buatku! Kau langsung emosi gak terkendali dan gak bisa terima penjelasan ku."
Butet terdiam saat mendengar isi hati Moan.
"Kalok gak percaya kali kau sama ku, kau tengok lah CCTV. Di sini adanya CCTV. Gak percaya jugak kau sama aku, kau tanyak sama semua anak buahku atau orang yang ada di sini semua. Tet, aku lama-lama capek kali. Apa lagi sekarang, kau maen lempar aja. Kau tengok ini, kotor semuanya. Kenapa kau gak mau nanyak atau dengar penjelasan dulu."
"Apa kau!" Bentak Butet, saat ia bertatapan dengan Risma.
Risma terkejut, lalu tanpa basa basi, Risma pun berlalu begitu saja dari cafe tersebut.
Kini tinggal Butet dan banyak pasang mata yang terus menatap dirinya. Perlahan, Butet pun merasa malu dan pergi ke ruangan CCTV cafe tersebut.
Dua orang petugas kebersihan di cafe pun datang. Mereka membersihkan tumpahan air dan kuah yang mengotori lantai dan meja cafe itu. Dan semua orang kembali pada aktifitas nya masing-masing. Sebagian dari mereka menertawakan kejadian itu. Bahkan, tingkah Butet, menjadi bahan omongan mereka.
.
__ADS_1
Moan membuka pakaiannya yang terkena noda kuah Arsik dan melemparkannya ke dalam tempat sampah. Lalu ia memasuki mobilnya dan pergi dengan perasaan yang begitu kesal. Moan mengendarai mobil nya entah kemana. Ia tidak tahu mau ke mana. Yang ia tahu, saat ini pikirannya begitu kesal dan kecewa terhadap Butet. Sikap Butet membuat Moan merasa lelah, hingga akhirnya Moan memutuskan untuk kembali ke rumah kos nyak Komariah.
Sesampainya Moan di rumah kos nyak Komariah, Moan di sambut oleh nyak Komariah yang sedang merapikan koleksi tanamannya. Nyak Komariah menatap mobil Moan yang baru saja terparkir di halaman rumahnya, lalu nyak Komariah menunggu Moan yang sedang bersiap turun dari Mobil nya.
"Astaghfirullah Moan!" Seru nyak Komariah, saat melihat Moan turun dari mobil tanpa menggunakan bajunya.
"Lu kenape? Kek habis jadi kang angkut gitu!" Tanya nyak Komariah, seraya menatap Moan dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
"Gak apa nyak. Tadi baju kotor, ini mau ambil baju yang ada di kamar." Jawab Moan.
Nyak Komariah merasa ada yang aneh dengan sikap Moan yang biasanya begitu ceria, namun kini terlihat hanya basa basi saja saat berbicara dengan dirinya.
"Eh! Kenape lu tong? Sepet amat ntu muke lu!" Lagi-lagi nyak Komariah berusaha untuk menghentikan langkah Moan yang hendak langsung menuju ke kamarnya.
"Gak apa nyak," Sahut Moan.
"Boong lu! Tau gue, muke lu asem bener kek ketek! kagak usah lu ngeboongin orang tua!."
Moan terdiam, lalu ia tersenyum seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya udeh, sono ambil baju elu ke atas. Tapi siap itu, turun lu ye! Gue jadi kepo, nape dah anak gue muke nye sepet bet kek buah mengkudu!"
"I-iya nyak," Sahut Moan. Lalu Moan pun beranjak menuju kamarnya.
"Jangan-jangan berantem lagi ntu bocah." Gumam nyak Komariah, seraya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Moan memasuki kamarnya. Lalu ia melepaskan celananya dan beranjak menuju ke kamar mandi. Moan pun membasuh tubuhnya dengan air dan terdiam di bawah guyuran air yang keluar dari shower. Kini moan mulai menangis, ia menyesali dengan apa yang terjadi. Termasuk sikapnya yang telah berbicara lantang dengan Butet. Moan juga menyesali sikap nya yang memutuskan untuk menanggapi Risma. Padahal ia bisa saja langsung menghindar karena sedang banyak pekerjaan atau pergi meninggalkan cafe itu. Namun walaupun menyesal, Moan merasa dirinya berhak juga sesekali untuk egois. Karena Moan merasa ia tidak berbuat apa-apa selama ini, namun Butet selalu cemburu buta dan bersikap sangat berlebihan.
"Gak bisa kek gini, dia harus belajar mengendalikan emosinya dan jangan asal nuduh aja. Kalau semalam dia yang pigi dari rumah, sekarang aku yang malas pulang!" Batin Moan.