Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Drama


__ADS_3

"Selamat ya Moana. Nanti, kamu bisa masuk sekolah dasar," Ucap guru taman kanak-kanak, di sekolah Moana.


"Terima kasih ibu guru," Jawab Moana, dengan raut wajah yang tampak murung.


"Loh, kok murung?" Tanya guru Moana, seraya mengusap lembut pipi Moana.


Moana melirik Butet dan Moan, lalu ia kembali menundukkan pandangannya.


"Moana nya sakit ya bunda?" Tanya Guru Moana.


Butet tersenyum getir dan menggelengkan kepalanya.


"Enggak kok buk," Sahut Butet.


"Mungkin Moana sedih mau pisah dengan ibu gurunya," Celetuk Moan.


"Oh.. ya ampunnn..., sini peluk bu guru," Ucap guru Moana, seraya meraih tubuh mungil Moana, untuk merapat di pelukannya.


Tiba-tiba saja Moana menangis tersedu-seduh, saat berada di pelukan ibu gurunya.


"Sudah. Kapan-kapan kan Moana bisa main ke sini lagi," Ucap guru Moana.


"Iya buk," Sahut Moana, di sela isak tangisnya.


Sedangkan Butet dan Moan, hanya dapat terdiam membisu, saat melihat Moana menangis di pelukan gurunya.


Tak lama kemudian, mereka berpamitan pulang kepada guru Moana. Mereka bertiga beranjak masuk ke dalam mobil milik Butet. Pun dengan Moan, yang ikut serta mengambil ijazah Moana.


Saat mereka bertiga berada di dalam mobil, Butet pun menghela napas panjang dan menoleh ke belakang. Butet melihat wajah murung Moana yang sedang menatap ke luar jendela mobil tersebut.


"Kau kenapa nak ku?" Tanya Butet.


Moana masih diam membisu. Sadar pertanyaannya di abaikan oleh Moana, Butet pun melirik Moan yang juga sedang menatap Moana yang duduk di bangku belakang.


"Bang, cemana?" Tanya Butet kepada Moan.


Moan menghela napas panjang dan membalas tatapan Butet.


"Yok kita jen jalan aja yok!" Seru Moan.


Namun Moana masih bergeming, ia terus menatap ke luar jendela.


"Gak mempan loh.." Ucap Butet kepada Moan.


Moan mulai terlihat gelisah dan bingung. Namun ia tidak habis akal, ia pun memberikan ide yang baru saja terlintas di pikirannya.


"Kita nginap yuk di puncak! Liburan keluarga kek dulu!" Ujar Moan.


Butet mendelik saat mendengar ide Moan.


"Apa nya kau bang!" Ucap Butet.


Dengan cepat, Moan langsung menempelkan telunjuknya di bibir Butet.


"Udahlah, singkirkan ego kita dulu." Bisik Moan.


Butet terdiam, lalu ia mendengus kesal.


"Moana mau ke mana? Ke puncak kita? Atau kemana?" Tanya Moan.

__ADS_1


Rupanya Moana mulai bereaksi dengan ajakan Moan.


"Liburan keluarga, nanti berantam lagi gak mamak sama bapak?" Tanya Moana, seraya melirik kedua orang tuanya dengan raut wajah yang masih terlihat kesal.


"Oh enggak kok, kami udah damai, ya kan Tet?" Dengan cepat, Moan menarik Butet ke pelukannya.


"Eh, ng... iya nya? Eh, iya nak.." Sahut Butet.


Moan tersenyum girang saat melihat Butet tak berdaya saat di depan Moana.


"Betol nya?" Tanya Moana.


"Iya.. gak percaya kau boru ku? Nih tengok lah, ku ciom mamak mu," Ucap Moan, seraya mengecup lembut dahi dan kedua pipi Butet. Sedangkan Butet terlihat geli dan tidak rela, bila Moan mencium dahi dan kedua pipinya.


"Alah, sandiwara aja nya mamak sama bapak. Aku memang anak kecil, tapi jan nokoh lah..." Ucap Moana, dengan raut wajah yang terlihat malas.


"Eh, gak percaya dia, Tet," Ucap Moan, seraya menatap Butet dan mengedipkan sebelah matanya, untuk memberikan kode kepada Butet, agar Butet ikut dalam sandiwaranya.


"Ish, ambel kesempatan aja kau!" Bisik Butet.


"Gak apa, demi anak. Ayok lah.. kalok aku gak sandiwara. Kalok kau mau sandiwara, ya terserah kau lah dek," Balas Moan.


Butet menatap Moan, seraya mendelikkan kedua matanya. Namun meskipun begitu, dengan terpaksa ia tetap tersenyum kepada Moan.


"Gak percaya ya udah. Manada kami sandiwara sandiwara, ya kan bang?" Ucap Butet, seraya membalas pelukan Moan dengan mesra. Namun Butet menyempatkan diri untuk mencubit perut Moan dengan sekuat tenaganya.


"Hedeehhh hedeeehhh.. eh... eh.. i-i-iyaaa aduhhh..." Moan berusaha mengiyakan ucapan Butet, seraya meringis kesakitan.


Moana kembali melirik Moan dan Butet dan mencoba memastikan kesungguhan kedua orang tuanya itu.


"Cepat ciom aku, Tet.." Bisik Moan.


"Demi anak loh..." Moan terlihat begitu memohon.


Butet kembali mendengus kesal, lalu ia mencoba mencium pipi Moan dengan ragu.


cup!


"Aaaa... kek gitulah.." Bisik Moan, seraya tersenyum lebar kepada Butet.


Butet terlihat semakin kesal dengan Moan, namun ia terpaksa menekan emosinya demi kesehatan mental Moana.


"Iya nya? Udah baek an kelen mak, pak?" Tanya Moana.


"Iya lah... Jadi, ayok kita liburan!" Seru Moan, tanpa mempedulikan raut wajah Butet yang terlihat begitu tertekan.


"Horeeeee..! Ayok lah!" Ucap Moana dengan bersemangat.


"Besok ya," Ucap Butet.


"Kok besok?" Tanya Moan.


"Ya besok lah. Nanti malam aku ada urusan. Belom kita carik hotel. Belom ini itunya." Terang Butet.


Moan langsung memasang wajah malas dan menghela napas panjang.


"Memang ada urusan apa mamak?" Moana langsung memasang wajah yang menyelidik.


Butet terlihat bingung dengan apa yang akan ia katakan kepada Moana.

__ADS_1


"Itu loh, bapak sama mamak ada urusan. Ya kan, Butet?" Moan kembali memasang wajah penuh kemenangan.


Butet benar-benar tak berkutik. Ia pun tersenyum getir dan menatap Moan dengan tatapan yang menyimpan kekesalan.


"Iya nya mak?" Tanya Moana.


"Ng..." Butet terlihat ragu untuk menjawab.


"Becewek lagi kelen ya? Kek gitu lah mak, pak, kan senang aku," Ucap Moana, seraya tersenyum lebar.


"I-i-iyaaa.." Sahut Butet.


"Mantap!" Seru Moan, seraya menyalakan mesin mobil tersebut.


"Ayok kita pulang ke rumah!" Seru Moan, seraya melajukan mobil tersebut.


Butet memasang sabuk pengamannya dengan raut wajah yang terlihat begitu kesal. Namun apa daya, ia terjebak drama yang di buat oleh Moan dan ia terpaksa harus menyetujuinya hanya demi senyum Moana.


......................


Ting!


Sri meraih ponselnya dan langsung membaca pesan yang baru saja ia terima.


"Jam 7 malam, jumpa kita. Ada informasi valid yang harus kau dengar." Begitulah bunyi pesan dari Butet, untuk Sri.


"Kowe jemput aku yo." Balas Sri.


Sambil menunggu balasan dari Butet, Sri menatap Dewa yang sedang tertidur di sofa.


Ting!


Dengan cepat, Sri langsung membaca pesan yang baru ia terima tersebut.


"Iya, aku sama si Moan ya. Terpaksa aku ajak dia." Balas Butet.


Hampir saja ponsel Sri, terjatuh dari genggamannya. Lalu ia kembali membaca pesan dari Butet tersebut.


"Sama Moan?" Batin Sri.


"Eh, kowe wes balen karo Moan?" Balas Sri.


Sri mulai terlihat tak sabar menunggu balasan dari Butet.


Ting!


Akhirnya Butet pun membalas pesan dari Sri.


"Balen apa aku? Aku gak mintak apa-apa sama si Moan. Ish... ini dia buat jijik aja. Buat drama dia depan anak ku. Jadi gak bisa aku nolak dia. Kesal aku!" Balas Butet.


"Lhoooo... piye toh si Butet, ra nyambung!" Gumam Sri.


"Rak nyambung kowe! Wes, sampai ketemu nanti malam." Balas Sri.


Ting!


"Kau yang gak nyambong, ya Sri! Jan sampek aku merepet sama mu!"


Sri mengerutkan keningnya dan tersenyum kecil saat mendapatkan balasan pesan dari Butet.

__ADS_1


"Memangnya kita pernah nyambung toh Tetttt.. Tettt. Dari jaman kuliah sampai saiki, yo rak nyambung nyambung," Gumam Sri.


__ADS_2