Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Kagum


__ADS_3

"Pagi non.."


Grazia yang baru saja muncul di dapur, menatap dan tersenyum kepada asisten rumah tangganya yang baru saja menyapa dirinya. Lalu ia beranjak menuju rak gelas dan meraih gelas bersih dari sana dan menuangkannya dengan air putih dari dalam teko.


"Non, ada ini buat non Grazia," Ucap asisten rumah tangganya, seraya menyerahkan secarik kertas putih yang di lipat menjadi dua, kepada Grazia.


Grazia yang baru saja meneguk habis air putihnya pun menaruh gelas itu di atas meja, lalu ia menatap kertas itu seraya mengerutkan dahinya.


"Apa ini?" Tanya Grazia.


"Ini pesan dari cowok yang semalam mengantarkan non Grazia pulang ke rumah." Terang asisten rumah tangganya.


Grazia yang belum sepenuhnya sadar karena mabuk dan baru saja bangun tidur, pun sontak saja langsung mengingat kejadian semalam.


"Cowok?" Gumamnya.


"Iya non, cowoknya ganteng dan sopan loh." Asisten rumah tangganya pun tersenyum, seolah menggoda Grazia.


Dengan ragu, Grazia pun meraih kertas tersebut dan lalu menarik kursi meja makan. Ia pun duduk di sana dan mulai membuka lipatan kertas tersebut.


Halo Grazia, namaku Dewa.


Kamu mabuk dan menyerempet mobilku, hingga mobilku lecet di bagian bamper belakang. Saya harap kamu mau bertanggungjawab atas kejadian ini.


Mohon maaf, karena kamu tidak dapat berkomunikasi dengan baik, saya pun berinisiatif untuk membuka tas mu dan melihat kartu identitasmu. Makanya itu saya tahu alamat rumahmu dan mengantarkan kamu pulang. Sekalian saya mau mencuci pakaian saya yang terkena muntahmu.


Jadi, saya meminta itikad baik kamu. Bila kamu bersedia untuk bertanggung jawab, silahkan hubungi nomor saya.


oh iya, mobil kamu ada di jalan Senopati. Sengaja saya tinggal di sana. Saya harap kamu segera menjemputnya.


Grazia membulatkan matanya, seraya menatap deretan nomor telepon milik Dewa yang tertera di bagian bawah kertas tersebut.


"Bi, dia bawa saya ke kamar?" Tanya Grazia, yang mulai penasaran.


"Iya non. Tapi dia tidak sendiri kok. Dia meminta tolong pak Sukri." Jelas asisten rumah tangganya.


"Ini yang menggantikan pakaian saya siapa?" Tanya Grazia lagi.


"Saya dong non. Masa cowok itu. Dia orangnya sopan banget loh. Memapah non Grazia juga dengan hati-hati. Tidak mencari kesempatan juga." Terang asisten rumah tangga itu lagi.


Grazia terdiam. Baru kali ini ia di antarkan pulang oleh lelaki, tanpa ada maksud tertentu dari lelaki itu.


"Ya sudah. Terima kasih ya bi," Ucap Grazia, seraya beranjak menuju ke kamarnya.


Grazia pun langsung menghampiri monitor CCTV yang terletak di kamarnya. Lalu ia memutar rekaman untuk melihat kejadian semalam.

__ADS_1


Dalam rekaman tersebut, terlihat sebuah mobil berwarna hitam dengan tipe sedan, memasuki halaman rumahnya. Lalu sejurus kemudian ia melihat Sukri, Satpamnya, berlari mendekati mobil tersebut. Lalu terlihat seorang lelaki tampan keluar dari sisi kemudi dan beranjak menuju ke sisi bangku penumpang. Di bantu oleh Sukri, lelaki itu mengeluarkan Grazia dari dalam mobil tersebut dan memapah Grazia menuju ke dalam rumah.


Grazia pun mengalihkan rekaman yang berada di dalam rumah.


Lelaki dengan perawakan tubuh yang atletis dan juga memiliki tinggi badan yang ideal itu pun melangkah bersama dengan Sukri, seraya memapah dirinya ke arah kamar. Lalu di susul asisten rumah tangga yang juga masuk ke dalam kamar tersebut. Kira-kira sekitar dua menit kemudian, lelaki tampan itu pun keluar dari kamar Grazia, bersama dengan Sukri. Sedangkan asisten rumah tangga tersebut tinggal di dalam kamar dan menutup pintu kamar tersebut rapat-rapat. Terlihat juga pakaian lelaki tersebut seperti basah dan terlihat kotor.


Grazia terperangah, ia tidak menyangka bila dirinya sudah berbuat konyol tadi malam. Grazia pun kembali melihat monitor dan mencoba mengecek kendaraan lelaki itu. Benar saja, bagian belakang mobil lelaki itu terlihat lecet dan penyok.


"Duh! Bodohnya aku!" Gumam Grazia.


Grazia mabuk bukan tanpa sebab. Pasalnya ia baru saja putus dari pacarnya yang berselingkuh di depan matanya. Untuk menghilangkan patah hatinya dan lari dari kenyataan untuk sementara waktu, Grazia pun memutuskan untuk bersenang-senang dengan teman-temannya di club malam. Karena Grazia belum makan seharian, kadar alkohol yang ia minum pun begitu cepat bereaksi pada tubuhnya. Khawatir tidak bisa pulang, ia pun memutuskan untuk meninggalkan club malam tersebut lebih awal.


Grazia sedikit mengingat bila dirinya sudah tidak mampu menyetir, hingga ia hilang kendali. Tiba-tiba saja terasa ada benturan keras dan mobil di depannya pun tampak menepi. Samar, Grazia juga mengingat seorang lelaki menghampiri mobilnya dan mengetuk kaca mobilnya. Lelaki itu menyuruh dirinya keluar dari mobil tersebut dan sempat berbincang masalah mobil mereka yang mengalami kecelakaan ringan.


Grazia juga mengingat, bila lelaki itu menuntunnya masuk ke mobil milik lelaki itu. Sebelum meninggalkan lokasi, lelaki itu sempat mengamankan mobil Grazia dan juga tas miliknya. Lalu menaruh kunci mobil Grazia ke dalam tas tangannya. Grazia juga mengingat bila ia sempat di bawa ke kantor polisi, lalu ia memuntahkan isi perutnya dan tersandar lemas dan tertidur. Setelah itu Grazia tidak mengingat apa-apa lagi.


Grazia tersender lemas di punggung kursi. Lalu ia kembali menatap kertas dari lelaki itu. Dengan tangan yang gemetar, ia pun mencoba menghubungi nomor yang di berikan lelaki tersebut.


Dreettt..! Dreeett..! Dreeett..!


Dewa yang tengah asik menatap layar monitor laptopnya pun melirik ponselnya yang terus berbunyi. Setelah meraih ponselnya, Dewa memandangi nomor asing yang tengah memanggilnya itu. Lalu dengan ragu, ia pun mulai menerima panggilan tersebut.


"Halo." Sapa Dewa.


"Ya halo? Ini siapa?" Tanya Dewa.


"Ini saya grazia."


Mereka sempat terdiam beberapa detik. Lalu Dewa pun mencoba memecahkan keheningan diantara mereka berdua.


"Oh, yang tadi malam?"


"I-iya, ini saya. Bisa bertemu?" Tanya Grazia.


"Hmmm, saya sedang di kantor. Bagaimana bila nanti sore saja pukul enam sore," Ujar Dewa.


"Oh begitu, baik."


"Ok.."


"Eh tapi mas..."


Dewa yang terkesan tak acuh dan hendak mengakhiri percakapan itu pun di cegah oleh Grazia.


"Ya?" Tanya Dewa.

__ADS_1


"Saya minta maaf ya mas. Soalnya saya..."


"Tidak apa-apa. Mobil saya juga sudah di bengkel. Nanti kita bertemu di mana? Bengkel saja ya... Hmmmm, mungkin mbak nya mau menjemput mobil mbak di Senopati. Lalu bawa saja ke bengkel dimana saya memperbaiki mobil saya. Di sana bagus kok, dan mbaknya juga bisa tahu tagihannya berapa, tanpa saya tambahkan."


"Nggg.... ya.. baiklah." Sahut Grazia.


Tepat pukul enam sore, Dewa tiba di bengkel tempat ia memperbaiki mobilnya. Dewa yang baru saja turun dari mobil yang ia pesan melalui aplikasi online itu, melirik mobil Grazia yang terparkir di halaman depan bengkel tersebut. Ya, Dewa sudah memberikan alamat bengkel tersebut kepada Grazia melalui aplikasi chat. Maka Grazia sudah lebih dulu berada di sana sejak pukul setengah enam sore.


"Eh mas, mobilnya belum jadi," Ucap salah satu Mekanik yang bertugas di bengkel itu, kala melihat kehadiran Dewa di sana.


"Ah, saya datang tidak untuk mobil itu. Saya janjian dengan yang menabrak mobil saya. Orangnya yang punya mobil itu." Dewa menunjuk mobil Grazia yang berwarna merah.


"Owalaaahh.. silahkan mas. Orangnya ada di ruangan itu," Ucap Mekanik itu, seraya menunjuk ruangan kaca khusus pelanggan yang sedang menunggu mobilnya yang sedang di service ringan.


"Oh ok. Terima kasih," Ucap Dewa, seraya tersenyum ramah kepada Mekanik tersebut.


"Sama-sama mas." Sahut Mekanik itu.


Dewa pun melangkah menuju ke ruangan kaca tersebut. Dari luar, tampak Grazia sudah menunggu dirinya. Sore itu Grazia terlihat jauh lebih cantik, daripada saat ia mabuk seperti semalam. Sedangkan dari dalam, Grazia menatap Dewa dengan tatapan yang sedang mengagumi lelaki itu.


Dewa pun mendorong pintu kaca itu dan langsung menyapa Grazia.


"Halo mbak." Sapa Dewa.


"Ha-halo." Sahut Grazia.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Dewa.


"Ba-baik.." Grazia dengan gugup menjawab pertanyaan Dewa yang tidak langsung membahas ke inti pertemuan mereka pada sore hari ini.


"Hmmm... mas... saya..."


"Hmmm, saya mau sholat dulu ya. Sepuluh menit," Ucap Dewa, seraya tersenyum kepada Grazia.


"Ng.. ya.. silahkan."


"Terima kasih. Nanti kita bahas," Ucap Dewa, seraya beranjak dari duduknya dan berjalan ke Mushola yang berada di bengkel tersebut.


Sedangkan Grazia tampak begitu mengagumi Dewa dan diam-diam ia terus menatap punggung Dewa, hingga lelaki itu menghilang dari pandangannya.


"Ya ampun.. ganteng, baik, sholeh! Suami idaman sekali!" Batin Grazia.


Grazia tersenyum sendiri, ia tampak seperti baru saja menemukan harta karun yang sangat berharga. Tidak hanya sampai di situ, ia pun bergegas meraih kotak bedak nya dan menatap wajahnya di kaca kecil yang terdapat di bagian dalam kotak bedak miliknya.


"Sudah sempurna belum ya... hmmm apa dia tertarik padaku? Apa lipstikku memudar?" Batinnya seraya terus mencoba mencari kekurangan di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2