Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Dilema


__ADS_3

Siti tampak gelisah. Ia terus menatap layar ponselnya, yang sedari tadi ia genggam di tangannya. Pun dengan Batra yang sedang di atas ranjang bersama dengan kedua mereka, ia terus melirik Siti yang duduk di tepi ranjang. Siti menoleh dan menatap Batra. Seolah sudah mengerti apa arti dari tatapan Siti, Batra hanya mampu menghela napas panjang dan mencoba tersenyum untuk menenangkan istrinya itu.


Besok mereka harus kembali ke Jakarta. Bagaimanapun, Batra tidak bisa libur dari kerjanya terlalu lama. Anak dan istrinya butuh tanggung jawabnya. Beruntung bagi Batra, ia masih memiliki cuti tahunan. Oleh karena itu, ia bisa cuti selama seminggu. Bila tidak, tentu saja Batra sudah mendapatkan surat peringatan dari kantornya dan terancam di pecat dari kantor tersebut.


Sebenarnya Batra bisa saja meninggalkan Siti dan kedua anak mereka di Padang. Hanya saja, Batra tidak sampai hati untuk meninggalkan keluarganya. Batra adalah lelaki yang sangat tanggung jawab. Ia tidak ingin menyesal, bila sesuatu terjadi pada keluarganya. Oleh karena itu, Batra lebih memilih untuk bertahan dan memiliki kesepakatan dengan Siti, untuk menunggu kabar dari Fadli.


"Bagaimana ini uda, sekarang sudah malam, tetapi kabar belum ada," Ucap Siti, dengan nada suara yang terdengar lirih.


"Apa kamu butuh aku keluar dari kerja saja? Agar bisa di sini mendampingi kamu?" Tanya Batra.


"Tidak usah uda. Pekerjaan tetap nomor satu," Ucap Siti, dengan raut wajah yang terlihat begitu gundah.


"Tetapi... aku juga tidak bisa meninggalkan kamu di sini," Ucap Batra.


Siti pun terdiam membisu.


Sudah dua hari, mereka menyewa sebuah losmen murah untuk bermalam. Semua itu mereka lakukan, hanya untuk menunggu kabar dari Fadli. Namun semurah-murahnya biaya di losmen, lama-lama akan menggunung juga. Sementara uang yang di miliki Batra, hanya bisa menutupi untuk dua hari ke depan lagi.


Ting!


Ting!


Ting!


Tiba-tiba saja ponsel Siti berbunyi. Dengan cepat, ia menatap layar ponselnya dan mendapati nama bundo Niar, di layar ponselnya itu.


"Bundo Niar, da," Ucap Siti.


"Angkat lah,"


Siti mengangguk dan lalu menerima panggilan telepon dari bundo Niar.


"Assalamu'alaikum," Sapa Siti.


"Waalaikumsalam," Sahut bundo Niar dari ujung sana.


"Bagaimana bun? Apakah ada kabar dari uda Fadli?" Siti yang sedari tadi menunggu kabar, pun tidak ingin berbasa-basi. Ia langsung mempertanyakan kabar yang ia tunggu tersebut.


Terdengar dari ujung sana, bundo Niar menghela napas panjang. Dan hening...


"Bun..." Panggil Siti.


"Ya." Sahut bundo Niar.


"Bagaimana bun?" Desak Siti yang tampak tidak sabar.


"Uda kau sudah datang, Siti. Tetapi..."


"Tetapi apa bun?" Siti terus mendesak, untuk membunuh rasa penasarannya.


"Tetapi uda kau sudah pergi lagi bersama dengan keluarganya."

__ADS_1


"Bundo ambo di bawa, bun?" Tanya Siti.


Bundo Niar terdiam. Yang terdengar hanya helaan napas yang panjang.


"Bun... bagaimana bundo ambo?" Desak Siti.


"Saat ini, Halimah sedang di rumah sakit. Dia pingsan."


"Apa!" Siti yang sedang duduk di tepi ranjang, sampai berdiri saat mendengar berita tersebut.


Sedangkan Batra, ikut terkejut saat melihat ekpresi Siti.


"Ada apa?" Tanya Batra.


Namun Siti tidak menghiraukan suaminya itu. Ia hanya berfokus dengan bundo Niar yang berada di ujung sana.


"Rumah sakit mana bun?"


"Rumah sakit dekat rumah." Jawab bundo Niar.


"Ya sudah, ambo akan segera ke sana," Ucap Siti.


"Ada apa?" Tanya Batra lagi.


"Da! Bundo da!"


"Bundo kenapa?" Batra terlihat begitu cemas.


"Uda Fadli gimana?" Tanya Batra lagi.


Situ terdiam beberapa saat dan menatap Batra dengan seksama.


Walaupun tanpa jawaban dari Siti pun, Batra sudah mengerti apa yang sedang terjadi. Maka ia memutuskan untuk tidak lagi bertanya tentang Fadli.


"Ya sudah, kita ke rumah sakit saja," Ucap Batra.


Mereka sekeluarga pun bergegas ke rumah sakit.


.


Siti, Batra, dan bundo Niar, menatap bundo Halimah yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Bundo Halimah belum juga sadarkan diri, sementara hari sudah menjelang pagi. Siti yang sedang duduk di bangku yang berada tepat di samping ranjang pasien, tampak sudah terkantuk-kantuk. Sedangkan anak bungsunya sudah terlelap di gendongan Siti. Pun dengan anak pertamanya, yang kini sudah terlelap di gendongan Batra. Bundo Niar hanya dapat menatap sepasang suami istri serta kedua anak mereka itu dengan tatapan iba.


"Kalian menginaplah lagi di rumah bundo," Ucap bundo Niar.


Batra hanya terdiam, seolah ia mempertimbangkan banyak hal yang sedang berada di pikirannya.


"Kalau tidak, biarkan Siti dan anak-anak kembali ke penginapan. Kasihan anak kalian," Ucap bundo Niar lagi.


"Tapi Siti tidak mau bun. Dia masih mau menunggu bundo sadar nanti," Jawab Batra.


Bundo Niar menghela napas panjang. Lalu ia menarik tangan Batra, untuk mengajaknya keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


"Ada yang mau bundo bilang sama kamu, Batra," Ucap Bundo Niar.


Batra pun menatap Siti yang sudah memejamkan kedua matanya. Lalu ia kembali menatap bundo Niar dengan seksama. Akhirnya Batra memutuskan untuk mengikuti bundo Niar, untuk meninggalkan ruangan tersebut.


Di luar ruangan, tepatnya di ruang lorong ruang UGD tersebut, Batra dan bundo Niar berdiri berhadapan. Bundo Niar menatap Batra yang tampak ke lelahan, karena terus menerus menggendong anak pertamanya yang sedang tertidur di gendongan Batra.


"Kau duduk lah. Biar tidak terlalu capek," Ucap bundo Niar, seraya menuntun Batra untuk duduk bersama dengannya di bangku tunggu.


Batra menuruti permintaan bundo Niar. Lalu ia duduk bersama dengan bundo Niar yang kini sedang menatap dirinya dengan seksama.


"Bundo tidak tahu, mengapa Halimah sangat tidak menyukai kamu. Tetapi yang bundo lihat, kamu adalah orang yang sangat baik. Ibumu sukses mendidikmu menjadi lelaki yang sangat tanggung jawab. Tidak banyak anak yang seperti kamu, pada mertuanya," Ucap bundo Niar, mengawali percakapannya pada Batra.


Batra hanya tersenyum kecut. Lalu ia menatap wajah anaknya yang sedang terlelap dalam dekapannya.


"Fadli menolak Halimah. Sekarang, harapan Halimah hanya pada kalian. Tetapi, tentu saja kita harus menunggu Halimah sadar terlebih dahulu. Agar kita tahu, apa yang dia inginkan," Ucap bundo Niar lagi.


Batra menatap bundo Niar, lalu ia mengangguk paham.


"Bundo tidak mengerti, mengapa Fadli bisa seperti itu. Kalau melihat betapa dominannya istrinya, bundo menjadi berburuk sangka." Bundo Niar menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak habis pikir dengan Rima, istri dari Fadli.


"Memangnya, uni Rima ngomong apa, bun?" Tanya Batra, yang kini mulai penasaran.


Bundo Niar menghela napas panjang. Lalu ia membalas tatapan Batra dengan tatapan prihatin.


"Ucapannya sungguh tidak pantas, sebagai seorang menantu. Tidak perlu bundo ceritakan. Yang jelas, intinya, Fadli dan Rima, menolak bundo kalian. Mereka juga tidak mau menyewakan rumah, atau membangun kembali rumah tersebut. Jadi, Fadli dan Rima, lepas tangan dengan bundo kalian." Terang bundo Niar.


Batra menggerakkan giginya. Ada perasaan geram yang kini menghampiri perasaannya.


"Padahal, Fadli itu anak yang baik dan santun, sebelumnya. Entah apa yang membuat dia sangat berubah kini. Batra, tidak ada yang buruk dari sebuah keikhlasan. Sekarang, kamulah harapan Halimah. Kesampingkan rasa sakit hatimu. Pandang dia sebegai orang tuamu sendiri. Terima lah dia. Kalaupun kamu tidak menerima Halimah, bundo Niar ikhlas menerima Halimah di rumah bundo."


Batra masih terdiam membisu. Ia terus berpikir bagaimana caranya ia dapat meyakinkan bundo Halimah untuk ikut dengannya.


Batra kembali menatap bundo Niar. Lalu ia menghela napas panjang dan kembali menundukkan wajahnya.


"Mau Batra, bundo Halimah juga ikut sama Batra ke Jakarta, bun. Tetapi, bundo Halimah tidak mau. Batra bisa saja pulang ke Jakarta dua hari yang lalu. Namun, Batra memilih untuk bertahan dan menunggu kabar. Tetapi, kejadian ini, sangat di luar perkiraan Batra." Terang Batra.


Bundo Niar paham dengan apa yang Batra maksud. Ia hanya mampu terdiam dan ikut berpikir, bagaimana caranya untuk meyakinkan Halimah.


"Da! Bundo sadar!"


Tiba-tiba saja, Siti keluar dari ruang UGD dan mengabarkan bila bundo Halimah kini telah sadarkan diri. Dengan cepat, Batra dan bundo Niar pun bergegas untuk melihat bundo Halimah.


Sesampainya mereka di dalam, bundo Halimah sudah di dampingi oleh seorang dokter yang sedang memeriksanya. Tampak air mata terus mengalir dari sudut mata bundo Halimah. Namun saat ia melihat kehadiran Batra di sana, ia langsung memalingkan wajahnya.


"Bagaimana Dok?" Tanya Batra dengan nada suara yang terdengar begitu khawatir.


"Ibu anda mengalami stroke. Jadi, butuh perawatan intensif beberapa hari kedepan," Ucap dokter tersebut.


Mendadak Batra, Siti dan bundo Niar terlihat lemas, saat mendengar kabar yang di sampaikan oleh sang Dokter.


"Ya Allah, bundo.." Siti mulai menangis.

__ADS_1


Sedangkan Batra, mulai bingung dengan apa yang akan ia hadapi ke depannya. Antara keluarga dan pekerjaan, mana yang akan Batra pertaruhkan.


__ADS_2