Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Uda!


__ADS_3

"Mau kemano diak?" Tanya bapak Dahlan, saat ia melihat Halimah, istrinya, sedang memakai kerudung dan pakaian yang bagus.


Halimah melirik bapak Dahlan, seraya menyematkan peniti di kerudungnya tepat di bagian dagu.


"Mau ke arisan jorong da." Sahut bundo Halimah.


"Oh."


Bapak Dahlan pun beranjak duduk di tepi ranjang dan menatap bundo Halimah yang sedang membubuhi lipstik di bibirnya.


"Baa kaba si Siti kini? Ado dia menghubungi kau diak?" Tanya bapak Dahlan lagi.


Bundo Halimah menatap bapak Dahlan dari pantulan cermin, lalu ia menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.


"Semenjak inyo di butoan cinto samo si Batra itu, sadonyo berubah da! Inyo jadi indak manuruik jo gaek nyo!"


Bapak Dahlan hanya terdiam di tepi ranjang tempat tidur, seraya menundukkan wajahnya.


"Lah ambo bilang dari awal. Ambo indak suko jo si Batra itu, da! Indak rela ambo inyo manikah jo si Batra tu. Tapi baa lah, tapaso manikahan juo jo si Batra tu. Apo lai waktu tu si Farid alun menikah. Ondehhh... antah lah. Kini mancaliak si Batra tu, baa yo! Alah indak ado pitih, bukan PNS, indak lo ganteng bana. Antah apo nan Siti caliak dari inyo!" Keluh bundo Halimah.


"Tapi, uda mancaliak si Batra ko memang saba bana jo Siti. Uda mencaliak nyo tu memang elok urang nyo. Picayo se lah diak, insyaallah, pilihan anak kita indak salah." Bapak Dahlan mencoba untuk menasihati bundo Halimah.


"Lah tu da! Naiak emosi ambo, kok mangecek tentang si Batra jo si Siti ko. Ambo barangkek lah dulu," Ucap bundo Halimah, seraya meraih tas tangannya dari atas meja rias.


"Yo lah. Hati-hati." Sahut bapak Dahlan, seraya meraih kaca matanya dari atas meja nakas.


"Oh iyo da, ambo lupo maangek an gulai. Tolong di angek an yo da." Pinta bundo Halimah, sebelum ia beranjak meninggalkan kamar.


"Iyo." Sahut bapak Dahlan, dengan nada suara yang terdengar malas.


"Assalamu'alaikum,"


"Waalaikumsalam," Sahut bapak Dahlan. Lalu ia pun beranjak dari ranjangnya dan berjalan ke luar kamar. Sebelum ia ke dapur, ia sempat menatap punggung Halimah yang sedang berjalan bersama teman-temannya menuju ke kantor Jorong, untuk menghadiri arisan Jorong.


"Ambo yakin, Halimah. Batra itu anak yang baik. Walaupun ambo dulu sempat indak setuju. Tapi sejak dia di siko, ambo mencaliak Batra ko laki-laki nan elok dan bertanggung jawab. Semoga suatu saat, kau dapat menerima Batra." Batin bapak Dahlan. Lalu lelaki paruh baya itu pun beranjak ke dapur dan mulai menghangatkan gulai, seperti yang di pinta sang istri.


"Ambo gadangan se lah api ko. Biar capek angek gulai ko. Ambo takantuak," Batin bapak Dahlan, seraya membesarkan api kompor nya.

__ADS_1


Saat sedang asik mengaduk gulai yang tinggal dua porsi itu, tiba-tiba saja bapak Dahlan merasakan sakit di dadanya. Hingga ia memegangi dadanya seraya meringis kesakitan.


"Astaghfirullah, sakik bana. Ado apo ko?" Batin bapak Dahlan.


Rasa sakit itu pun semakin bertambah, hingga bapak Dahlan mulai merasa kesulitan bernafas dan mulai mengeluarkan keringat dingin.


"Ya Allah, sakik bana dado ambo," Batin bapak dahlan, seraya berjongkok di lantai dapur.


.


Suara gelak tawa terdengar riuh di aula Jorong. Terlihat beberapa ibu-ibu sudah berkumpul seraya bercengkrama. Bundo Halimah dan juga beberapa orang temannya yang baru datang, pun langsung memasuki aula tersebut dan berbaur dengan ibu-ibu yang lainnya. Terlihat beberapa orang menyambut kedatangan bundo Halimah dan juga kawan-kawannya dengan senyuman. Sedangkan yang lainnya masih sibuk bercengkrama, hingga tidak mempedulikan sekitarnya.


"Alun datang lai ketua?" Tanya bundo Halimah kepada salah satu ibu-ibu yang sudah hadir sejak tadi.


"Alun lai ni Mah," Sahut seorang ibu.


"Oh," Bundo Halimah, mengangguk dan beranjak duduk bersama di tikar yang di bentang di aula tersebut.


"Ni Mah, takana jo ambo, si Siti dima kini tingga nyo?"


Mendengar pertanyaan tentang Siti, wajah bundo Halimah pun berubah menjadi dingin.


"Oh, lah baliak ka Jakarta kini yo. Karajo apo laki nyo? Takana jo ambo, di siko lamo lakinyo mangangua yo uni?"


Wajah bundo Halimah terlihat merah padam, saat mendengar pertanyaan yang membuat harga dirinya terlukai.


"Di siko iyo. Di Jakarta nyo karajo. Di siko pun sampek nyo karajo," Ucap Halimah dengan raut wajah yang terlihat kesal.


"Oh, mantun.., Ambo kiro nyo masih manganggua," Ucap ibu tersebut seraya tersenyum sinis.


Bundo Halimah merasa malu, hingga perasaan tidak sukanya kepada Batra kembali meluap. Rasanya ia ingin sekali memutar waktu dan tidak jadi memberikan restu kepada Batra untuk menikahi Siti.


Ketidak sukaan bundo Halimah pada Batra, bukanlah tanpa sebab. Pasalnya, Siti termasuk gadis cantik di kampungnya. Banyak sekali lelaki yang berniat untuk mempersunting Siti. Mulai dari Dokter, Guru, hingga pengusaha rumah makan. Bundo Halimah sudah membayangkan masa depan yang cerah pada Siti. Namun takdir berkata lain, siti lebih memilih Batra untuk menjadi pendampingnya. Walaupun sempat menentang, namun kekuatan cinta Batra dan Siti tidak mampu bundo Halimah cegah. Semakin di larang, Siti semakin sering bertentangan dengan bundo Halimah. Apalagi Batra sudah datang bersama dengan keluarganya ke kampung halaman Siti, untuk menemui kedua orang tua Siti. Jadi mau tidak mau, bundo Halimah melepaskan Siti untuk di persunting oleh Batra.-(Baca novel kost Putri yang pertama)


"Assalamu'alaikum,"


"Waalaikumsalam," Sahut semua yang berada di dalam aula.

__ADS_1


Cukup lama menunggu, akhirnya bundo Niar, sang ketua arisan pun tiba dan beranjak masuk setelah mengucapkan salam.


"Ha, baru datang ketua," Ucap salah seorang ibu yang sudah sedari tadi berada di aula.


"Maaf ibu-ibu sekalian. Ambo terlambat. Tadi singgah dulu ke rumah Nimas. Soalnya Nimas sakik." Terang bundo Niar.


"Oh.. Sakik apo Nimas?" Tanya beberapa ibu-ibu yang terlihat penasaran.


"Biaso lah, sakik lah gaek." Bundo Niar tersenyum dan mengeluarkan buku catatan arisan dan juga gelas kaca berisi gulungan-gulungan kertas yang bertuliskan nama peserta arisan.


"Sebelum kita mulai, kita berdoa dulu dan memanjatkan rasa syukur kita pada Allah, atas kesehatan dan rezeki yang kita dapat. Dan juga kita mendoakan semoga Nimas diberikan kesembuhan," Ucap bundo Niar, mengawali acara arisan tersebut.


Acara arisan berjalan dengan lancar. Namun bundo Halimah merasa sedikit kecewa, karena hari ini ia belum mendapatkan arisan. Sedangkan ia sangat berharap mendapatkan arisan, karena ia sedang membutuhkan uang untuk membeli pupuk dan pembasmi hama untuk padi di sawahnya. Bundo Halimah sudah meminta tolong kepada Farid anak pertamanya. Namun Farid menolak membantu, karena seluruh uangnya di pegang oleh istrinya. Sedangkan meminta bantuan kepada Siti, tentu saja ia merasa gengsi dan tidak yakin bila Siti memiliki uang untuk membantu kesulitannya. Pasalnya bundo Halimah sudah terlanjur mengecap Batra pasti tidak memiliki banyak uang untuk memenuhi kebutuhan Siti dan juga anak-anaknya.


Bundo Halimah hanya terdiam di pojok aula, seraya menikmati makanan yang merupakan suguhan di acara arisan tersebut. Beberapa orang menatapnya seraya berbincang dengan ibu yang lainnya. Seperti terasing, begitulah yang bundo Halimah rasakan saat ini.


"Kebakaran! Kebakaran!" Terdengar teriakan beberapa orang anak yang berlarian menuju ke arah aula.


Sontak saja, ibu-ibu yang sedang berada di aula tersebut pun terkejut dan saling bertatapan.


"Kebakaran! Amak! Ado kebakaran!" Seru seorang anak peserta arisan yang baru saja datang dan memberitahukan kepada ibunya bila kebakaran sedang terjadi di lingkungan mereka.


"Hah! Kebakaran dima?" Tanya ibu sang anak.


"Di rumah Angku Dahlan!" Seru anak tersebut.


"Innalillahi!" Seru mereka semua.


"Uda!" Tiba-tiba saja bundo Halimah menjerit mengingat suaminya yang sedang berada di dalam rumah.


Semua pun berhamburan keluar. Mereka berjalan dengan tergesa-gesa, bahkan sebagian dari mereka berlari menuju rumah bundo Halimah, termasuk bundo Halimah sendiri.


Panik, khawatir dan lain sebagainya bercampur menjadi satu dan tergambar jelas di wajah bundo Halimah. Hingga langkah kakinya terhenti beberapa meter dari rumahnya. Air mata pun mulai terjatuh, saat ia sendiri menyaksikan kobaran api yang sudah terlanjur membesar. Bahkan setengaj dari rumahnya sudah di lahap oleh api tersebut.


"Udaaaaaaaaaaa...!" Pekik bundo Halimah, lalu ia hendak berlari menuju ke dalam rumahnya.


"Ni Mah! Jangan Ni Mah!" Beberapa orang menahan bundo Halimah, agar tidak menerobos kobaran api.

__ADS_1


"Udaaaa..! Uda dima? Uda masih di dalam!" Bundo Halimah menjerit-jerit memanggil sang suami tercinta di tengah kepanikan para tetangga yang berusaha untuk mematikan kobaran api dengan air seadanya.


__ADS_2