
"Dek.." Panggil Moan, saat Butet sedang menyeduh kopi di dapur.
"Hmmm.." Sahut Butet, tanpa menoleh sedikitpun kepada Moan.
Moan beranjak duduk di meja makan dan menatap Butet yang masih terus mengaduk kopinya.
"Buatkanlah aku satu," Pinta Moan.
Butet menoleh dan menatap Moan dengan tatapan yang kesal.
"Gak bisa kau buat sendiri, rupanya?" Tanya Butet, seraya menaruh sendok bekas mengaduk kopinya ke dalam wastafel.
"Ish, udah lama aku gak minum kopi buatanmu loh. Jadi, buatkan lah.. Sekalian aku mau cakap-cakap samamu dulu," Ucap Moan, seraya memasang ekspresi wajah yang manja.
"Ish, bentok kau lagi banggg... banggg.." Butet membawa kopi yang baru saja ia buat, lalu menyerahkannya kepada Moan.
"Ni, kau minum aja yang ini. Aku mau buat lagi!" Ucap Butet.
Moan tersenyum lebar dan menerima gelas tersebut dari tangan Butet.
"Aaa... kek gitulah.." Ucap Moan.
Butet tampak menggerutu, lalu ia meraih gelas kosong dari dalam lemari, dan mulai membuat kopi untuk dirinya.
"Eh dek, ingat aku si Nella itu sering dugem ya, katamu."
"Iya. Kenapa rupanya? Mau ikot kau joget sama dia?" Tanya Butet, seraya memasang wajah kesal, serta melirik Moan yang tampak sedang berpikir di kursinya.
"Kalok dugem, di mana rupanya dia?" Tanya Moan lagi.
"Mana lah aku tau baaaangg, bangggg.. Memangnya aku supir dia? Kenapa rupanya?" Tanya Butet, seraya membawa gelas kopi yang baru saja ia seduh dan beranjak duduk di depan Moan.
"Gak papa. Cuma pen tau aja aku," Ucap Moan, seraya menyeruput kopinya.
"Jangan bilang kau mau balas dendam pulak.." Celetuk Butet, seraya menatap Moan dengan tatapan curiga.
"Uhukkk!" Nyaris saja Moan menyemburkan kopinya. Lalu ia menatap Butet dengan seksama.
"Aku udah bilang bang.. gosah kita balas-balas dendam sama orang. biar ajalah orang itu. Biar saling makan dia," Ucap Butet.
Moan kembali terdiam. Lalu ia menundukkan wajahnya.
"Aku takot aja,"
"Takot apa?" Tanya Butet, penasaran.
__ADS_1
"Aku takot kau masih gak percaya sama aku. Makanya, niatku kek gitu. Kita pegang kartu AS orang tu berdua. Teros, kita jumpa berempat. Jadi bukak bukakan kita di sanan semua. Berani kali aku ah... gadak aku takot-takotnya. Soalnya aku. udah jujur kali. Itu jugak kalok kau mau, dek."
Butet mengerutkan keningnya. Lalu ia menatap Moan dengan seksama.
"Gadak kerjaan kau ya?" Ucap Butet, seraya meraih gelas kopinya.
"Teros, pakek cara apa pulak aku? Kau kan udah bilang samaku, kalau kau butuh waktu lah, apa lah, lama kali ku rasa! Aku pen kita cepat akur dek. Ini walaupun kita udah serumah sekarang, kau pun masih asing aja sama aku." Keluh Moan.
Butet menghela napas panjang, lalu ia menyeruput kopinya. Setelah itu Butet menatap Moan, seraya menaruh gelas kopinya kembali ke atas meja.
"Gak boleh loh kita kek gitu, bang," Butet kembali mencoba mengingatkan Moan.
"Tapi benci kali aku nengok lalik binik itu lah!" Protes Moan.
Butet kembali menghela napas panjang. Tiba-tiba saja ia teringat dengan kesombongan Nella dan juga kelakuan Choky.
"Nengok-nengok kelakuan orang tu, cepat atau lambat, cere juga nya orang tu nantik. Apa aku percepat aja ya?" Batin Butet.
"Dek, oooo.. dek..." Panggil Moan, seraya melambaikan tangannya di depan wajah Butet yang sedang melamun.
"Ah?" Butet mengerjapkan matanya dan menatap Moan dengan seksama.
"Miker apa kau? Kok bengong kau?" Tanya Moan.
"Gini dek... Tujuan kita, bukan buat orang tu cere. Tapi, biar maseng-maseng tau aja. Biar bisa intropeksi diri maseng-maseng. Jangan cuma bisa ngurusin rumah tangga orang laen." Terang Moan.
"Tapi apa gak sama aja bang? Cere orang tu, cemana nantik?" Tanya Butet.
"Takder namanya!" Seru Moan, yang seolah memang begitu berniat untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Butet kembali terdiam. Lalu ia kembali mengingat kesombongan Nella yang terlalu dominan, saat mereka sedang berbincang dalam perkumpulan mereka.
"Ku tengok-tengok, memang apa kali si Nella ini." Batin Butet lagi.
"Dek, cemana?" Desak Moan.
"Gak mau lah aku bang," Jawab Butet, seraya kembali menyeruput kopinya.
"Ya udahlah.. Cemana lagi, kau gak mau pon," Ucap Moan, seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu Moan kembali menikmati kopinya dan tak lagi membahas masalah Choky dan Nella.
Melihat ekspresi Moan, Butet pun mengerutkan keningnya dan menatap Moan dengan seksama.
"Jadi kek gitu aja?" Tanya Butet.
"Kek gitu aja, kek mana?" Moan yang baru saja menyeruput kopinya pun menatap Butet dengan ekspresi wajah yang bingung.
__ADS_1
"Gak ada niat kau buat maksa aku bang?"
"Maksa apa?" Tanya Moan lagi, dengan ekspresi wajah yang tampak semakin bingung.
"Maksa aku untok ikot sama kau, buat bikin orang tu jera!" Ucap Butet, seraya mendekatkan wajahnya ke hadapan wajah Moan.
Moan mengerutkan keningnya dan terperangah menatap wajah Butet yang terlihat geram kepada dirinya.
"Jadi, intinya kau itu mau apa enggak? Tadi kau larang aku. Sekarang kau mintak di paksa buat ikot," Ucap Moan dengan terbata-bata.
"Paksa lah aku! Bujoookkk.. Biar mau aku ikot samamu. Biar kita kasikan paham dulu si Nella sama lakiknya itu! Cemana nya kau bang! Kek gitu aja gak paham!" Ucap Butet, dengan berapi-api.
"Bah! Punya kepribadian ganda nya kau!" Moan terperangah saat mengetahui istrinya baru saja merubah prinsipnya.
"Jadi mau kau paksa aku atau enggak!" Desak Butet, seraya menaikan lengan dasternya.
"Mak... sukak kau di paksa rupanya ya.." Goda Moan, seraya tersenyum penuh arti.
"Ish! Apanya kau ini! Serius aku loh..." Butet mulai terlihat canggung, saat melihat senyuman Moan yang terlihat sedikit nakal.
"Oo... sekarang baru aku tau. Sebenarnya kau itu bukan gak mau selama ini. Cuma kau itu sukak kali di paksa rupanya... Mantap lah, tau aku sekarang," Ucap Moan dengan bersemangat.
"Gadak cerita ya Moan. Aku lagi gak mood. Gosah maksa kau!" Ucap Butet, seraya mengacungkan tinjunya.
"Iya.. iya..." Moan menghela napas dan memasang wajah malas.
"Jadi apa enggak!"
"Apanya? Bercocok tanam?" Tanya Moan dengan ekspresi wajah yang terlihat polos.
"Di Nella sama si Choky! Bercocok tanam aja pikiranmu bah!"
"Ooo... ya ya... jadi mau kan kau dek?"
"Iya ayok! Kita libas orang itu!" Ucap Butet, seraya berdiri dari duduknya dan mengangkat kedua tangannya.
"Bah! Kek ultramen ku tengok kau!" Ucap Moan, seraya tertawa geli.
"Gak tau kau kan! Perempuan kalau udah apa kali, jangankan kek ultramen. Kek satria baja itam, kura-kura ninja, batman, atau apa lah namanya! Bisa kami! Mau cobak kau bang?"
"Hehehe.. gak dek.. Jera kali aku," Ucap Moan, lalu ia menelan salivanya dan menatap Butet dengan tatapan yang terlihat takut kepada istrinya itu.
"Bagosss..! Jangan kau cobak! cobak lagi ya!" Ucap Butet, seraya kembali duduk dan mengangkat salah satu kakinya ke atas kursi. Lalu ia menenggak kopi nya hingga habis.
"Mak, iyalah binik ku ini punyak kepribadian ganda." Batin Moan.
__ADS_1