
Tok!
Tok!
Mendengar ketukan dari pintu apartement nya, Ronald yang sedang asik mengonsumsi barang haram pun terlihat was-was. Lalu ia beranjak dari duduknya dan bergegas untuk mencari tahu siapa yang mengetuk pintu apartement nya. Ronald mengintip dari lubang intip yang terdapat di pintu tersebut dan mendapati Grazia yang sedang berdiri dan menunggu Roland untuk membukakan pintu apartement nya.
Ronald kembali ke ruang tamu untuk membereskan jejak barang haram yang telah ia konsumsi dan menyembunyikan nya di suatu tempat yang sangat sulit untuk di temukan. Walaupun ia mendengar ketukan lagi di pintu apartement nya, ia mencoba mengabaikan, hingga semua tersembunyi dan tidak ada jejak sedikitpun di sana. Setelah ia pikir aman, Ronald pun beranjak untuk membukakan pintu apartement nya.
Cklek..!
Terlihat Grazia dengan kedua mata yang sembab menatap Ronald dengan tatapan penuh kebencian. Lalu tanpa Ronald persilahkan masuk, Grazia sudah lebih dahulu beranjak masuk dan duduk di sofa ruang tamu apartement tersebut. Ronald pun segera menutup pintu dan beranjak mendekati Grazia.
"Kenapa lama sekali!" Bentak Ronald.
Grazia mengacuhkan pertanyaan Ronald dan menaruh makanan yang di pesan oleh Ronald sebelumnya.
"Makanlah," Ucap Grazia.
"Kenapa lama sekali!"
Ronald kembali mengulangi pertanyaannya seraya menggebrak meja yang ada di hadapannya.
Grazia terkejut hingga tubuhnya gemetar.
"Ma-maaf. Jalanan sedikit macet dan aku harus menunggu antrian makanan yang kamu pesan." Jawab Grazia.
"Alasaaannn! Sini kamu!"
Ronald beranjak dari dusuknya dan mulai menyeret Grazia dengan kasar ke arah kamar tidurnya.
"Aku tidak bohong! Lepasin aku!" Jerit Grazia.
"Kamu alasan! Pasti kamu sedang bersenang-senang dengan suami mu kan!"
__ADS_1
"Tidak! Sumpah! Dia tidak sedang bersama denganku! Aku sudah bilang sebelumnya, aku di rumah sakit, Kimberly sakit Nal!" Grazia berusaha untuk meyakinkan Ronald.
"Alahhhhh..! Persetan! Lu itu ular! Siapa yang bisa mempercayai elu!" Ucap Ronald, seraya menghempaskan tubuh Grazia di atas ranjang.
"Nal, aku tidak berbohong!" Seru Grazia, seraya berusaha beranjak dari ranjang tersebut. Namun ia tidak berdaya, kala Ronald menekan tubuh Grazia dengan tubuh besarnya.
Grazia hanya dapat pasrah tanpa mampu bergerak sedikitpun. Grazia menatap Ronald dengan air mata yang mengalir dari sudut kedua matanya.
"Aku tidak bohong.." Ucap Grazia dengan nada suara yang terdengar begitu lemah.
"Kamu harus di hukum! Layani aku sekarang!" Pinta Ronald.
"Tidak Nal! Aku sedang tidak bisa!" Grazia berusaha menolak dan memberontak.
"Tidak bisa karena apa? Kamu mau rahasia kita aku bongkar pada suami kamu?" Tanya Ronald yang mulai melucuti pakaian Grazia.
"Bukan itu, aku sedang haid!" Ucap Grazia dengan tatapannya yang tak berdaya.
Grazia tak berdaya, ia menangis tanpa mampu membela dirinya sendiri.
.
Satu jam kemudian, tampak Grazia sedang mengucek noda darah yang melekat di seprai. Sedangkan Ronald terus mengawasi Grazia seraya menikmati sebatang rokok di tangannya. Setelah noda darah tersebut hilang, Grazia pun menaruh seprai tersebut di dalam mesin cuci dan lalu mencucinya bersama pakaian kotor milik Ronald. Tidak hanya sampai di situ, Grazia belum boleh pulang oleh Ronald, sebelum Grazia menjemur semua pakaian yang telah selesai di cuci. Maka Grazia pun beranjak menuju ke ruang tamu apartement tersebut, di ikuti oleh Ronald yang terus mengawasi dirinya.
"Jadi, dia sakit apa?" Tanya Ronald, seraya beranjak duduk di samping Grazia.
"Terkena virus." Jawab Grazia, singkat.
"Virus apa? Kalian orang kaya itu lebay! Baru virus saja langsung di rawat!"
Grazia menatap Ronald dengan tatapan tak percaya.
"Gampang sekali kamu bilang begitu! Ini virus yang tidak main-main! Itu bahaya untuk bayi!" Terang Grazia.
__ADS_1
Ronald terkekeh mendengar ucapan Grazia dan menolak kepala Grazia dengan kasar. Namun Grazia tidak dapat membalasnya dan hanya diam menerima perlakuan tersebut. Setelah puas merendahkan Grazia, Ronald pun segera membuka bungkusan makanan yang Grazia bawakan untuk dirinya. Tanpa rasa bersalah sedikitpun, dengan lahap Ronald menyantap makanan tersebut tanpa menawarinya pada Grazia. Grazia hanya mampu diam mematung, sembari menghitung waktu untuk dapat pergi dari apartement tersebut.
. .
"Ibu mana?" Tanya Dewa pada pengasuh Kimberly, saat ia baru saja tiba di rumah sakit.
"Ng... bukannya ibu pulang ya pak?"
Dewa mengerutkan keningnya. Lalu ia tidak menjawab pertanyaan dari pengasuh tersebut. Pasalnya Dewa tidak tahu Grazia pulang ke rumah atau tidak, sedangkan Dewa sendiri pun tidak pulang ke rumah yang sama dengan Grazia.
"Bagaimana kondisinya?" Tanya Dewa lagi.
"Kata dokter sih, sudah lebih baik pak. Cuma.. masih di lihat tiga hari kedepannya seperti apa." Terang pengasuh Kimberly.
"Oh," Dewa mengangguk paham. Lalu ia menatap Kimberly yang tengah tertidur lelap.
"Panas badannya?" Tanya Dewa lagi.
"Sudah berkurang pak."
Dewa menghela napas lega. Lalu ia menarik kursi yang ada di samping ranjang dan duduk di sana. Kini Dewa menatap Kimberly dengan seksama. Gadis mungil nan cantik itu memiliki warna kulit yang cerah, sama seperti Grazia. Rambut Kimberly juga lurus, sama seperti Grazia dan juga dirinya. Hidung Kimberly juga terlihat mancung, sama seperti Grazia dan juga dirinya. Hanya satu yang di miliki Grazia dan Dewa, yaitu sepasang mata Kimberly yang sedikit bulat dan berwarna agak sedikit cokelat.
Grazia memiliki sepasang mata berwarna hitam yang cenderung kecil dan sudut mata yang sedikit runcing. Sedangkan Dewa, dewa memiliki sepasang mata hitam yang kecil, walaupun sudut matanya tidaklah seruncing Grazia. Sebenarnya hal itu cukup meragukan bagi Dewa, namun semua itu belumlah cukup untuk menyatakan bila dirinya bukan ayah biologis Kimberly. Namun rasa sayang Dewa pada Kimberly tidaklah main-main. Karena sejak bayi, Kimberly mau tidak mau sudah berstatus darah dagingnya dan mau tidak mau, Dewa harus memperlakukan Kimberly seperti anak kandungnya.
Dewa meraih tangan mungil Kimberly dan mengecupnya dengan lembut. Lalu tanpa Dewa sadari, air mata menetes di pipinya.
"Bagaimana bila kamu bukan anak kandungku?" Gumam Dewa, seraya terus mengusap lembut punggung tangan mungil milik Kimberly.
"Apakah kita masih bisa bertemu? Apakah aku masih bisa memelukmu? Apakah kita masih bisa bercanda dan tertawa bersama?" Batin Dewa.
Entah mengapa, di sisi lain pun Dewa sangat takut kehilangan Kimberly. Bagaimana tidak, seberapa besarpun kesalahan Grazia bila terbukti menjebak dirinya, namun Dewa tidak mampu menghilangkan rasa cinta yang sudah di pupuk dari Kimberly baru saja lahir di dunia ini.
"Nak, sembuhlah. Walaupun nanti aku bukanlah ayah kandungmu, aku akan tetap menjadi ayahmu. Karena aku sangat mencintaimu." Batin Dewa, seraya mengecup lembut punggung tangan Kimberly.
__ADS_1