Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Aku harus apa Tet?


__ADS_3

Ting! Tong!


Tepat pukul tujuh malam, bell rumah Sri berbunyi. Sri yang sedari siang sudah janjian dengan Butet pun langsung mengetahui bila sahabatnya itu sudah tiba di kediamannya. Sri pun bergegas keluar dari kamarnya dan berjalan di belakang asisten rumah tangganya yang hendak membukakan pintu untuk Butet.


Cklekkk..!


Pintu rumah itu pun terbuka. Terlihat Butet yang berdiri di depan pintu, seraya melihat ke arah Sri yang berjalan ke arahnya.


"Terima kasih ya bik," Ucap Sri, kepada asisten rumah tangganya. Lalu ia menyambut kedatangan Butet dengan suka cita.


"Sriiiii..." Sapa Butet, seraya memeluk erat tubuh Sri.


"Hilihh.. lebay kamu Tet." Celetuk Sri.


"Hehehehe.. rindu aku," Ucap Butet, seraya mengecup pipi kiri dan pipi kanan Sri.


"Siapa bun? Ayah ya?"


Terdengar suara Ardi yang berlari dari ruang keluarga ke arah ruang tamu.


Saat itu juga Sri terdiam dan menatap Butet dengan raut wajah yang canggung. Saat Ardi muncul pun Sri hanya dapat menggelengkan kepalanya dan tersenyum hambar kepada putra semata wayangnya itu. Ardi tampak kecewa. Lalu dengan gontai ia menghampiri Butet dan menyapa dan menyalami sahabat ibundanya itu.


"Ardi, Ardi kembali ke dalam ya. Bunda mau bicara sama tante Butet." Pinta Sri.


Ardi hanya mampu mengangguk dan kembali ke ruang keluarga. Sementara Butet di persilahkan duduk oleh Sri di sofa ruang tamunya.


"Memangnya bang Dewa kemana Sri?" Tanya Butet.


"Oh, dia ke luar Kota, Tet." Jawab Sri.


"Omakjanggg... keluar Kota? Jadi betol nya dia kawen lagi? Ha... tau aku sekarang tingkahmu ya Dewa!" Batin Butet dengan geram.


"Si Moana jadi ikut bang Moan?" Tanya Sri berbasa basi.


"Jadi Sri."


"Oh," Sri tersenyum dan menatap Butet dengan seksama.


"Terus masalah kamu dengan bang moan piye, Tet?" Tanya Sri lagi.


"Tah lah, pening aku. Rencana final kami, Sri. Tapi, aku masih bingung, kek mana cakap sama mamak dan amang ku," Keluh Butet.


"Coba di pikir-pikir dulu, Tet. Moana piye? Kasihan Tet."

__ADS_1


Butet menghela nafas dan membalas tatapan Sri dengan seksama.


"Sebenarnya kau tau gak Sri, kalau bang Dewa kawen lagi dia?" Batin Butet.


"Tet, kowe sudah makan?" Tanya Sri.


"Udah aku, dua bakol pun aku makannya." Sahut Butet.


"Kenapa gak makan nang omahku we?"


"Udahlah, aju kesini gak mau numpang makan Sri. Kau baek kali pon."


Sri tertawa mendengar ucapan Butet.


selang beberapa saat kemudian, asisten rumah tangga Sri pun membawakan dua gelas minuman dan makanan ringan dan lalu di hidangkan di meja ruang tamu, untuk Butet dan majikannya tersebut.


"Di minum, Tet."


"Iya.. tenang aja." Sahut Butet.


"Perasaanku, bang Dewa rajen kali ke luar Kota sekarang ya Sri."


Sri terdiam mendengar pertanyaan Butet. Lalu ia berusaha tersenyum dan mengalihkan pandangannya.


"Sri, kau pun kurus kali ku tengok. Sakit kau Sri?" Tanya Butet lagi.


"Aku bilang aja sama dia apa cemana ya? Kok naek darah kali aku nengok si Dewa ini lah. Biar jelas semuanya. Kasian kali aku nengok sahabat aku di gini kan." Batin Butet.


"Eh, Sri. Ada yang mau aku bilang sama kau. Tapi kek mana enaknya ya.." Ucap Butet, seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bilang opo?" Tanya Sri.


"Ng..." Butet menoleh ke arah ruang keluarga. Memastikan bila Ardi tidak akan mendengar percakapan mereka berdua.


"Opo toh, Tet!" Sri mulai merasa ada yang tidak beres, saat melihat gelagat sahabatnya itu.


Setelah memastikan semuanya aman, Butet pun mendekatkan wajahnya ke telinga Sri.


"Kau aman nya sama bang Dewa?" Bisik Butet.


Deggg...!


Wajah Sri berubah menjadi pucat, saat Butet bertanya tentang hubungan dirinya dengan sang suami.

__ADS_1


"Ma-maksud mu piye, Tet?" Tanya Sri, berpura-pura tidak mengerti.


"Kau pasti tau maksudku apa Sri. Jan kau purak- purak!" Bisik Butet lagi.


Sri terdiam, ia menundukkan pandangannya dan menghela nafas panjang.


"Kalok kau enggan bicara sama si Cempaka dan Siti, karena mereka ipar beripar sama kau. Setidaknya aku sahabat kau yang gak ada hubungan ipar beripar sama kau. Kau bisa cerita sama aku Sri. Jangan kau pendam sendiri. Gilak kau nantik!" Butet berusaha untuk meyakinkan Sri.


Sri menatap Butet dengan mata yang mulai memerah. Lalu ia kembali menundukkan pandangannya.


"Gak ada apa-apa kok, Tet. Tenan loh aku." Sri berusaha meyakinkan Butet kembali.


"Yakin kau? Aku kok gak yakin ya? Kek gini aja lah ya..., aku yakin kau lagi gak baek-baek aja. Dan aku yakin bang Dewa itu gak lah rajin kali tugas ke luar Kota. Yang jelas, aku tau kau tau kemana sebenarnya Bang Dewa, Sri."


Sri mengerutkan keningnya dan membalas tatapan Butet dengan seksama.


"Maksud mu opo, Tet... Tet.." Sri masih berusaha mengelak dari fakta yang di bicarakan oleh Butet.


"Sri, aku bukan mau ikot campor urusan rumah tangga kau ya. Tapi aku ini sahabat kau. Gak lah aku ceritakan aib kau sama siapapun kalok kau cerita sama aku. Aku sayang kali sama kau Sri. Kita penghuni kost nyak Tatik udah kek sodara semua. Bahkan lebih-lebih dari sodara kandung pun. Cerita lah Sri, TBC kau nantik, kalok kau pendam pendam sendiri aja. Sekarang aja badan kau udah kek orang TBC..!"


Sri menghela nafas panjang dan mulai terlihat gelisah.


"Sri, kau udah tau kan kalok Bang Dewa udah nikah lagi?"


Degggg...!


Hati Sri terguncang, saat tahu bila Butet mengetahui rahasia keluarganya.


"Kowe ngomong apa sih, Tet.. Tet.." Namun Sri masih berusaha mengalihkan topik.


Butet mengeluarkan ponselnya dari dalam tas tangannya. Lalu ia memperlihatkan foto Dewa dan keluarga barunya di tempat wisata anak-anak, yang ia ambil tadi siang.


Sri tampak terkejut. Dengan wajah tak percaya, ia pun meraih ponsel Butet dan menatap foto di ponsel Butet tersebut. Baru kali ini ia melihat wajah Grazia dengan begitu jelas. Pasalnya saat ia memergoki Dewa dan keluarga barunya waktu itu, ia hanya melihat Grazia tidak begitu detil. Karena ia terus menerus meyakinkan dirinya bila apa yang sedang ia lihat itu, benar suaminya atau tidak. Lalu mereka menghilang begitu saja di keramaian.


"Oh, ini wajah wanita itu. Memang cantik sekali. Pantas saja mas Dewa tidak dapat menghindari pesonanya." Batin Sri.


"Sri, maaf ya. Aku terpaksa ngasih tau ini, kalok memang kau belom tau. Tapi aku yakin kau udah tau. Sri, kau gak bisa nokoh aku," Ucap Butet.


Sri kembali menyerahkan ponsel itu kepada Butet. Lalu ia tersenyum dan menundukkan wajahnya.


"Jadi kau udah tau?" Tanya Butet.


Sri mengangkat wajahnya dan menatap Butet dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Aku harus bilang apa Tet?" Tanya Sri.


Butet menghela nafas panjang dan langsung memeluk Sri dengan erat. Seiring tangisan Sri yang mulai meledak di pelukan Butet.


__ADS_2