Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Trauma masa lalu


__ADS_3

Terdengar isak tangis dari dalam kamar, tangisan yang terdengar begitu pilu di telinga Butet. Butet kecil berjalan mendekati pintu kamar ke dua orang tuanya, lalu dengan perlahan ia membuka pintu kamar tersebut. Terlihat inang duduk di atas lantai dengan menenggelamkan wajahnya di atas kasur yang berada di atas dipan. Terlihat jelas di kedua mata Butet, tubuh inang bergetar menahan rasa pilunya.


Butet bergegas masuk dan menghampiri inang. Wanita yang telah melahirkan dirinya 10 tahun silam itu pun terkejut, saat Butet menyentuh pundaknya. Lalu inang menoleh dan menatap Butet dengan seksama. Tak hanya inang, Butet pun terkejut saat melihat wajah sang ibu. Terlihat jelas banyak bekas membiru di sekitar pipi dan bawah kelopak mata ibunya. Terlihat juga ada jejak darah di sekitar bibir sang ibu.


"Inang kenapa?" Tanya Butet dengan polosnya.


"Gak apa." Sahut inang, seraya mencoba menyembunyikan memar di wajahnya.


Butet terus menatap inang yang tampak salah tingkah. Lalu inang pun mencoba tersenyum dan beranjak dari duduknya.


"Sekarang kau balek tidur ya," Ucap inang, seraya mencoba menuntun Butet kembali ke kamar. Namun Butet menolak untuk kembali. Ia mencoba menyentuh wajah sang ibu dengan sangat berhati-hati.


"Apa itu sakit?" Tanya Butet.


Inang terdiam beberapa saat, sebelum tangisan nya pecah dan memeluk Butet dengan erat.


Tidak hanya sampai di situ, malam berikutnya Terdengar ribut-ribut di kamar kedua orang tuanya. Butet pun berlari menghampiri kamar orang tuanya dan mencoba mengintip dari celah pintu yang renggang.


"Cukup aku kau khianati bang! Tapi jangan lukai wajahku! Anak kita nengok bang!"


"Babami!"


Plakkkkk!


Brukkk..!


Pranggg...!


Butet memejamkan kedua matanya, saat ia melihat pemandangan yang begitu memilukan. Ibunya menjadi bulan bulanan sang ayah yang sedang mabuk. Tangan kekar sang ayah yang ia panggil dengan sebutan 'Amang' tersebut, terus mendarat di tubuh kurus ibunya.


"Bang! Kalau kau mau pigi sama si Dosma itu, pigi lah bang. Tapi jangan kau kek gini bang! Mati aku nantik, gak ada yang jaga anak kita!" Inang terus menangis saat mengucapkan kata-kata itu. Hal itu cukup membuat Butet meneteskan air mata dan merasakan emosi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya terhadap ayahnya.


Brakkkk...!


Tubuh inang terpelanting di sudut ruangan. Hal itu membuat Butet memberanikan diri untuk ikut campur atas masalah kedua orang tuanya.


"Apanya amang ini!" Bentak Butet, seraya berlari mendekati ibunya.


"Pigi kau Butet! Jangan kau disini. Nantik kau yang kenak sasaran amang mu!" Jerit inang, seraya mendorong tubuh kecil Butet.

__ADS_1


"Ikut campur kau ya!" Dengan cepat, sebuah pukulan mendarat di tubuh Butet. Dada Butet terasa sesak ketika menahan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


"A-amang," Butet menatap ayahnya yang seperti kerasukan iblis. Seolah tidak tahu mana yang anak dan mana yang istri, semua seolah musuh di mata ayahnya.


"Jangan ikut campur kau! Mati kau ku buat!" Ucap amang, seraya kembali mendaratkan pukulan keras di kepala Butet.


Butet pun terjatuh dan tak sadarkan diri.


.


Butet membuka kedua matanya, saat mendengar tangisan pilu, serta namanya yang terus di panggil oleh inang. Saat itu, ekonomi keluarga Butet masih carut marut. Itulah mengapa, inang lebih memilih untuk menunggu Butet sadarkan diri di rumah, dari pada membawanya ke rumah sakit.


Butet menatap ke sekelilingnya, seketika ia tampak ketakutan saat melihat sang ayah yang duduk mematung di sudut ruangan. Dengan cepat, inang memeluk Butet dan mencoba menenangkan putri sulungnya itu. Sedangkan sang ayah menatap dirinya tanpa ekspresi apapun.


"Tet.. tenang, di sini ada inang," Ucap sang ibu, seraya terus mengusap punggung Butet.


Tangisan Butet meledak, ia tampak begitu ketakutan hingga tubuhnya gemetar hebat.


"Kau liat ini! Sama anak mu pun kau bisa kek gini! Kenapa gak kau bunuh aja kami!" Tantang sang ibu. Sementara melihat kejadian itu, sang adik yang masih kecil kecil, hanya dapat menangis tampa mengerti keadaan yang sebenarnya.


"Hanya demi Dosma, kau tega melukai anak kandung mu sendiri! Apa kau piker si Dosma itu mau merawat kau di masa tua? Potong kupeng ku, kalau dia bakal mencampakkan kau nantik! Kau akan merangkak ke mari, memohon maaf anak dan binikmu!" Ucap inang dengan penuh emosi.


Amang beranjak dari duduknya, lalu ia berjalan menuju ke arah pintu depan rumah tersebut.


"Aku lebih memilih Dosma. Kau urus aja anak-anakmu!" Ucap amang, seraya meninggalkan rumah yang tidak layak itu, yang di dalamnya terdapat tiga orang anak kandungnya yang masih sangat membutuhkan dirinya.


Sejak saat itu, Butet menjadi pemarah. Ia seperti dendam dengan perselingkuhan dan juga sikap ayahnya kepada dirinya dan juga ibunya. Pun di sekolah, Butet merasa dirinya harus bisa menjaga dirinya sendiri. Ia tidak mau di tindas, walaupun dalam hal-hal sepele. Tidak jarang Butet selalu main tangan dan juga berkata kasar pada teman-temannya yang berani mengganggu dirinya.


Melindungi diri sendiri, itulah yang kerap Butet lakukan. Ia merasa, tidak ada satupun orang yang mampu melindungi dirinya, saat ia sedang tidak berada di dekat ibunya. Hal itu menjadi pembentukan watak di diri Butet. Butet tumbuh menjadi wanita yang kasar, emosional dan juga merasa harus melindungi dirinya sendiri dari perasaan yang membuat dirinya kecewa.


Namun hal yang membuat Butet semakin kecewa adalah, ketika suatu hari sang ayah datang ke rumah mereka. Kala itu Butet yang sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama, baru saja pulang dan mendapati sang ayah yang sedang duduk di ruang tamu rumahnya. Butet sempat tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Sang ibu tampak begitu akrab dengan ayahnya, setelah tiga tahun sang ayah meninggalkan dirinya, ibu dan kedua adiknya. Butet juga harus menerima pil pahit, kala sang ibu mengatakan bila ayahnya akan kembali tinggal bersama dengan mereka.


Mungkin bagi sang ibu, kembali bersama adalah jalan keluar dari segala masalah. Anak-anak kembali memiliki keluarga yang utuh, dirinya juga tidak di sepelekan oleh lingkungan hanya karena hidup tanpa suami. Tanpa sang ibu berpikir, jejak-jejak kekerasan itu terpatri di ingatan sang anak.


Awalnya Butet tidak dapat menerima sang ayah. Butuh waktu lama bagi Butet untuk kembali berkomunikasi dengan sang ayah. Hingga suatu malam, ibunya mendatanginya dan berbicara empat mata dengannya.


"Tet,"


Butet yang tengah belajar, pun menoleh dan menatap sang ibu dengan seksama.

__ADS_1


"Ya nang,"


"Ada yang mau inang bicarakan samamu dulu."


"Apa nang?"


"Masalah amang mu,"


Butet terdiam, lalu ia meletakkan pulpennya dan beranjak duduk di samping ibunya yang sudah duduk di atas dipan milik Butet.


"Kenapa rupanya?" Tanya Butet yang kini tampak kurang nyaman.


"Tet, kenapa kau gak bisa menerima amang mu? Dia sudah berubah Tet," Ucap sang ibu, seraya terus menatap Butet dengan seksama.


Butet membalas tatapan sang ibu, lalu ia hanya mampu menghela napas panjang, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Tengoklah sekarang amang mu, dia sudah mau mencari nafkah, walaupun hanya jadi nelayan. Dia juga jarang keluar malam dan bermabuk mabukan. Dia lebih sering bermain dengan adik-adikmu."


"Itukan menurut inang. Kalau bagi aku, amang sama aja kek yang dulu."


"Tet, bagaimanapun juga, dia amang mu. Gadak yang bisa kita lakukan, selain memberikan maaf pada amang mu. Berikan dia kesempatan, kalau memang dia kembali gila, kau bebas untuk mengusirnya dari rumah ini," Ucapan sang ibu, membuat Butet terhenyak dan menatap ibunya dengan seksama.


"Kenapa inang ikhlas terima amang, setelah dia memukuli inang dan menyelingkuhi inang?" Tanya Butet.


Inang menghela napas panjang. Lalu ia mengusap kedua pipi Butet dengan lembut.


"Nak ku, kita tidak boleh bercerai, kecuali mati. Tuhan memberikan kesempatan untuk kita. Kalau memang dia mau berubah, kenapa kita tidak bisa meneladani sifat kasih dari Tuhan? Inang mohon, berikan amang mu kesempatan. Teladani kasih Tuhan dalam hidup kita. Kalau memang dia tidak dapat berubah, biarlah Tuhan yang memberikan hukuman padanya. Tangan Tuhan lebih pantas untuk memberikan pelajaran."


Napas Butet terasa sesak, saat melihat sifat kasih pada diri sang ibu. Perlahan Butet pun mengangguk, walaupun di iringi tangisan pilunya.


"Hargai dia sebagai amang mu. Lihat sikap baiknya saat ini. Dia akan berusaha untuk kita semua. Itulah mengapa inang mau kembali pada amang mu. Dia sudah menunjukan kalau dirinya memang benar-benar mau berubah. Kau liat saat ini, kita sudah ada televisi, kita juga punya sepeda motor. Amang mu juga mulai membangun kamar untuk adik-adikmu yang sekarang mulai tumbuh remaja. Amang mu juga sekarang selalu memberikan inang uang belanja."


"Nak ku... perubahan amang mu bukan hanya karena dia menyesali perbuatannya. Tetapi Tuhan lah yang menggerakkan hatinya dan menuntunnya kembali pulang pada kita." Sambung inang.


Butet menatap kedua mata ibunya dengan berlinang air mata. Tanpa kata, ia pun memeluk ibunya dengan erat seraya menangis tersedu-sedu.


sejak saat itu, Butet mulai berkomunikasi kembali dengan ayahnya. Walaupun keluarga mereka kembali ceria dan tampak bahagia, namun trauma itu melekat di diri Butet.


Ya, kekerasan dalam rumah tangga. Perselingkuhan, ayah yang meninggalkan sang ibu hanya demi wanita lain. Kekerasan fisik terhadap anak dan ekonomi sulit yang membuat sang ibu terpaksa harus bekerja keras demi anak-anaknya. Mungkin bagi sebagian laki-laki itu adalah hal yang tidak perlu di pikirkan, setelah dirinya mendapatkan maaf dari sang istri. Tetapi apa kabar dengan anak yang telah menjalani itu semua?

__ADS_1


Trauma.., sudah pasti.


__ADS_2