
"Mas, kamu di mana?" Tanya Sri, melalui sambungan telepon dengan Dewa, saat ia baru saja sampai di rumah sakit tempat ia dan Dewa berjanji untuk bertemu.
"Aku di lantai dua. Bisakah kamu langsung ke sini?" Jawab Dewa.
"Baik mas," Sahut Sri. Lalu ia mengakhiri percakapan itu dan melangkah keluar dari mobilnya.
Sri menatap bangunan rumah sakit yang berdiri di hadapannya beberapa saat. Lalu ia menghela napas dengan berat. Ya, seberat hatinya untuk bertemu dengan anak yang di duga sebagai anak kandung suaminya selama ini. Namun karena sudah berjanji pada Dewa untuk menemani proses test DNA ini dan demi lurusnya masalah yang tengah mereka hadapi, mau tidak mau Sri harus menemani Dewa. Sri paham betul apa yang tengah di rasakan oleh Dewa saat ini. Bagaimana tidak? Ada ataupun tidak ada pertalian darah antara Dewa dan Kimberly, nyatanya hubungan keduanya sangat dekat. Bahkan Kimberly kerap rewel, bila sehari saja tidak bertemu dengan Dewa. Itulah sebabnya Dewa lebih sering menginap di rumah Grazia, di bandingkan di rumahnya dan Sri.
"Kamu pasti bisa, Sri!" Batin Sri yang sedang menyemangati dirinya sendiri. Lalu ia beranjak memasuki gedung rumah sakit itu.
Ting!
Sri yang kini sudah berada di depan sebuah lift, menatap ke dalam lift. Seraya menghela napas panjang, ia pun memasuki lift tersebut. Di dalam lift itu hanya ada dua orang, yang terlihat sebagai saudara atau anggota keluarga para pasien yang tengah di rawat inap di sana. Dengan tangan gemetar, Sri pun menekan tombol dengan angka dua, untuk mengantarkan dirinya ke lantai dua rumah sakit tersebut. Namun lift tersebut tidak langsung mengantarkan dirinya ke lantai dua, tetapi lift itu beranjak turun menuju ke basement rumah sakit itu.
Setelah sampai di basement, dua orang yang berada di dalam lift itu pun keluar. Kini tinggallah Sri sendiri dan lift itu pun bergerak ke atas, untuk mengantarkan Sri ke lantai dua. Entah mengapa, meskipun hanya dua lantai di atas basement, gerak lift itu terasa begitu lama bagi Sri. Hingga membuat dirinya gemetar menahan rasa yang akan ia hadapi kala bertemu dengan Dewa dan Kimberly. Peluh pun mulai mengalir di dahinya. Dadanya pun terasa begitu berat, hingga Sri harus bersandar di dinding lift, untuk mempertahankan keseimbangannya.
Ting!
Pintu lift pun terbuka di lantai dua. Sri yang masih merasakan sesak di dadanya, memberanikan diri untuk melangkah keluar. Sri, wanita tegar itu berusaha baik-baik saja. Ia mengatur sikapnya dan sikap tubuhnya saat melangkah keluar dari lift tersebut.
Sri berjalan seperti seorang wanita yang begitu independent dan percaya diri. Saat ia berjalan di lorong rumah sakit itu, di ujung sana, ia melihat Dewa yang sedang berdiri di depan laboratorium, seraya menggendong seorang balita perempuan. Jantung Sri semakin berdegup kencang, sesekali ia merasa limbung dan akan terjatuh di atas lantai lorong rumah sakit itu. Namun dengan bersusah payah, akhirnya ia sampai juga di hadapan Dewa yang sedang menatap dirinya dengan tatapan yang tampak menyembunyikan rasa malu.
"Terima kasih ya, Sri," Ucap Dewa, seraya tersenyum kikuk dengan Sri.
Sekilas, Sri membalas ucapan terima kasih dari Dewa dengan senyuman tipisnya Lalu ia menjatuhkan pandangannya kepada Kimberly yang sedang menatap Sri dengan kedua mata bulatnya yang tanpa dosa.
"I-ini Kimberly," Ucap Dewa, dengan terbata.
"Ya, aku tahu." Sahut Sri, seraya terus menatap Kimberly yang kini tersenyum kepada dirinya.
Sri tersenyum tipis, saat Kimberly tersenyum kepada dirinya. Lalu dengan tangan yang gemetar, ia mencoba menyentuh pipi Kimberly yang terlihat begitu membulat.
"Halo.." Sapa Sri.
"Mama.."
Deg!
Jantung Sri berdegup kencang, saat Kimberly memanggil dirinya mama. Lalu dengan salah tingkaulh, Sri pun menatap Dewa yang sama canggungnya dengan dirinya.
__ADS_1
"Bapak Dewa." Tiba-tiba saja nama Dewa di sebutkan oleh seorang petugas laboratorium.
"Sudah giliran kami. Maukah kamu menemaniku ke dalam, Sri?" Tanya Dewa.
Sri menelan salivanya. Lalu dengan perlahan ia pun menganggukkan kepalanya.
"Baik mas," Ucap Sri.
Mereka bertiga pun melangkah masuk ke dalam ruangan laboratorium tersebut. Mereka pun di sambut oleh beberapa petugas yang tampak sedang mempersiapkan segala keperluan yang akan di butuhkan saat proses pengambilan sempel darah, sesuai dengan prosedur test DNA.
"Baiklah, siapa yang mau duluan? Adiknya atau bapak Dewa?" Tanya salah satu petugas yang sudah siap dengan sarung tangannya.
Dewa tampak begitu tegang, ia menatap Sri yang mencoba mendukung dirinya dengan sedikit menganggukkan kepala.
"Sa-saya saja." Sahut Dewa.
"Baik pak Dewa. Bapak bisa duduk di sebelah sini?" Tanya petugas itu lagi, seraya menunjuj sebuah kursi yang ada di depannya.
Dewa mengangguk. Lalu ia menatap Sri dengan seksama. Sri membalas tatapan Dewa, tanpa ia mengerti apa yang di maksud dengan tatapan suaminya tersebut.
"Hmmm, Sri.."
"Ya mas?"
Seakan tersadar dengan ketidak pekaannya, Sri pun menepuk dahinya dan mulai meraih Kimberly dari gendongan Dewa. Setelah Kimberly berada di tangan Sri, Dewa pun beranjak duduk di kursi yang di sediakan oleh petugas.
"Mama," Panggil Kimberly.
Sri yang terlihat sedikit enggan saat menggendong Kimberly, pun melirik balita cantik tersebut dengan tatapan yang serba salah.
Kimberly tersenyum kepada Sri. Lalu tangan mungilnya menyentuh pipi Sri dengan lembut.
"Mama cantik." Celetuk Kimberly.
Sri yang sedari tadi berusaha untuk tidak peduli, kini ia benar-benar menatap Kimberly dengan seksama. Lalu ia tersenyum dengan tulus dan mengusap tangan mungil milik Kimberly.
"Anak pintar," Ucap Sri, seraya terus menatap kedua mata Kimberly yang begitu cantik.
"Pak Dewa. Saya tunjukkan label ini ya pak. Ini label yang mengindikasikan bila ini adalah sempel darah dari bapak. Dan label ini tidak akan bisa di hapus tulisannya dan tidak akan bisa di copot. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir atau bahkan tidak akan ada kekeliruan dalam test nya ya, pak. Dan nanti, yang punya adiknya juga mendapatkan label yang sama." Terang petugas tersebut.
__ADS_1
Dewa kembali menghela napas panjang dan mengangguk paham.
"Baik pak, sudah bisa di mulai ya?" Petugas itu kembali memastikan kesiapan Dewa.
"Bi-bisa." Sahut Dewa.
"Baik, saya mulai ya pak," Ucap petugas tersebut. Lalu seorang petugas yang lainnya beranjak mendekati Dewa, dan membantu rekannya untuk proses pengambilan sample darah tersebut.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya proses pengambilan sempel darah Dewa pun selesai. Kini tibalah giliran Kimberly.
"Sekarang giliran adiknya ya. Adiknya bisa di pangku oleh ayah atau bundanya di kursi ini." Pinta petugas tersebut.
Sri dan Dewa pun bertatapan. Lalu sesaat kemudian, Dewa berinisiatif untuk mengambil Kimberly dari gendongan Sri.
"Biar aku saja," Ucap Dewa.
"Tidak usah mas, biar aku saja. Kamu baru saja di ambil darahnya. Jadi, biar aku yang mendampingi," Ucap Sri, seraya beranjak duduk di kursi yang telah di sediakan tersebut.
Dewa terdiam. Ia terus menatap Sri yang tampak begitu telaten saat mendampingi Kimberly.
"Adiknya di miringi agak ke kiri ya bun." Pinta petugas itu.
"Baik," Sahut Sri, seraya memiringkan tubuh Kimberly ke kiri.
"Ini sedikit sakit ya dek, tetapi ini sebentar saja kok," Ucap petugas itu, seraya tersenyum kepada Kimberly.
"Iya aunty." Sahut Sri, seolah ia adalah ibu dari Kimberly.
"Gak apa ya, lihat bunda," Ucap Sri, seraya tersenyum dan mendekap Kimberly dengan hangat.
Deg!
Ucapan Sri barusan, membuat jantung Dewa berdegup kencang.
Kimberly menatap Sri dengan seksama. Tatapan mereka pun bertautan, layaknya seorang ibu dan anak. Adegan itu terlihat begitu menyejukkan mata dan membuat tidak ada seorangpun yang menyangka bila Sri bukanlah ibu kandung dari Kimberly.
"Siap ya?" Tanya petugas itu, seraya mengusapkan alkohol di kulit Kimberly.
"Maaf ya dek," Ucap petugas itu lagi dan sejurus kemudian terdengar tangisan Kimberly yang begitu kencang.
__ADS_1
Dengan sigap dan jiwa keibuan, Sri pun mendekap dan mengusap Kimberly, agar Kimberly merasa tenang. Semua itu di saksikan oleh Dewa dan tentu saja membuat hati Dewa semakin merasa bersalah dengan Sri.
"Ya Allah. Sebaik ini istriku, selembut ini, sebijak ini. Hal itulah yang membuat aku tidak dapat jauh dan meninggalkannya. Aku mohon, berikanlah hasil yang memang Engkau kehendaki. Karena setiap rahasia, hanya Engkau yang maha mengetahui." Doa Dewa, di dalam hati kecilnya.