
"Moan!" Panggil Risma, seraya melambaikan tangannya, setelah ia baru saja selesai makan.
Moan yang sedang duduk tak jauh dari meja kasir pun menoleh. Lalu ia terlihat tersenyum canggung, seraya menunjuk layar laptopnya, dengan harapan Risma paham bila ia sedang tanggung dan ingin menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.
Risma mengerutkan dagunya dan mulai meraih gelas minuman yang ada di depannya. Seraya meneguk minuman melalui sedotan, Risma terus memperhatikan Moan dari kejauhan yang sedang duduk membelakangi dirinya.
"Berbeda kali nampak sama ku si Moan sekarang, bah!" Batin Risma.
Di bandingkan dengan saat Moan berkuliah dan masih bersama dengan Risma dulu, tentu saja perubahan yang terjadi pada Moan sangat jauh berbeda. Seperti apa kata orang di jaman sekarang, Moan terlihat jauh lebih glow up. Bagaimana tidak, selain lelaki yang dulu hanya seorang mahasiswa dengan uang seadanya, kini menjelma menjadi pengusaha cafe yang sukses dan memiliki banyak cabang di mana saja. Di daerah Jakarta sendiri, Moan memiliki sepuluh cabang. Moan juga memiliki usaha cafe dengan nama lain di daerah kelahirannya dan daerah wisata lainnya.
Tidak hanya usaha cafe yang di miliki Moan. Moan juga memiliki usaha lainnya, seperti restoran, sablon baju, percetakan dan usaha cemilan yang cukup terkenal di kalangan para remaja dan ramah di kantong anak kost. Pundi pundi rupiah tersebut ia dapatkan bukan karena kehebatan dirinya sebagai seseorang yang mengerti peluang usaha. Namun di samping Moan ada Butet yang berjasa sebagai pencetus ide dalam berbisnis.
Di samping keuangan yang stabil, penampilan Moan lebih baik karena adanya istri yang selalu memperhatikan mana yang pantas dan yang tidak pantas Moan kenakan. Butet juga merawat Moan dengan sangat baik. itulah yang kerap di lupakan oleh para wanita yang merasa silau saat melihat perubahan mantan kekasihnya saat sekolah atau berada di Universitas dulu.
Merasa menunggu Moan cukup lama, akhirnya Risma merasa gelisah. Tanpa ia sadari, ia sudah menghabiskan segelas minuman seraya terus menatap Moan yang sedang memunggungi dirinya. Risma pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke arah kasir. Lalu ia memesan satu minuman lagi dan langsung membayar semua tagihannya. Setelah membayar, Risma kembali menatap Moan yang sedang asik dengan laptopnya.
"Aku samperin aja kali ya, sibuk kali ku tengok. Kalau kek gini terus, gak ada harapan dia mau nyamperin aku loh," Batin Risma.
Risma pun bergegas menuju ke meja Moan dan menarik bangku yang berada tepat di depan Moan. Moan menatap Risma dengan canggung. Lalu ia tersenyum tipis saat membalas senyuman manis dari Risma.
"Lama kali.." Ucap Risma, seraya meletakkan tas tangan miliknya di kursi sampingnya.
"Lagi input stock loh aku, Ris," Ucap Moan, seraya kembali berpura-pura sibuk di depan layar laptopnya.
Risma menghela napas panjang dan mencoba untuk tersenyum. Ia cukup sadar diri, bila ia tidak lagi menjadi prioritas bagi Moan. Karena kisah cintanya dengan Moan sudah cukup lama berakhir. Tidak sepantasnya ia meminta Moan untuk memperhatikan dan mendahului dirinya saat ini. Namun sikap acuh Moan membuat Risma merasa Moan kini menjadi sosok yang sangat menarik di matanya. Bagaimana tidak? Moan tampak sangat sulit untuk di gapai saat ini. Terlepas dari segala kemewahan yang kini melekat di tubuh lelaki tersebut.
"Moan, aku mau cerita lah," Ucap Risma.
Moan kembali menatap Risma sejenak. Lalu ia menghela napas panjang dan kembali menatap layar ponselnya.
"Cerita apa?" Tanya Moan.
"Aku lagi pusing kali Moan. Aku mau cerai sama lakik ku."
Moan mengangkat kedua alis nya, seraya kembali menatap Risma.
__ADS_1
"Iyah, udah nikah rupanya kau?" Tanya Moan.
"Udah loh.. udah dua pun anak ku." Jawab Risma.
"Dua anak mu?" Moan terperangah seraya menatap Risma dengan tatapan tak percaya.
"Iya, kenapa rupanya? Heran kali ku tengok. Gak nampak rupanya?" Tanya Risma.
Moan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, seraya sekilas menatap tubuh Risma.
"Kek gadis ku tengok," Ucap Moan, seraya tersenyum.
"Ish, bisa aja kamu Moan. Itulah, suka kali aku ngegym, jadi tetap mantap walaupun udah punyak anak dua loh.." Ucap Risma, seraya tersipu malu.
"Oh," Moan mengangguk paham. Lalu ia kembali menatap layar laptopnya.
"Gak kamu tanya aku kenapa mau cerai, Moan?" Tanya Risma.
Moan terdiam beberapa saat. Lalu ia kembali menatap Risma.
"Eh iya, kenapa kau mau cerai?" Tanya Moan.
Moan kembali tersenyum canggung. Ia merasa cukup bingung saat menghadapi Risma yang kini duduk di hadapannya dengan dress bodycon yang memiliki potongan dada yang sangat rendah. Sehingga membuat pemandangan di depan Moan terasa begitu panas dan menantang.
"Gak bisa lah, kau kan udah bukan cewek ku. Udah basi nya cerita kita. Udah bertahun-tahun yang lalu pun," Ucap Moan.
"Iya.. iya.." Risma tersenyum dengan sorot mata yang menggoda.
Moan menghela napas panjang dan menutup laptopnya. Lalu Moan menyimpan laptop tersebut dan kembali menatap Risma yang baru saja menerima minuman yang ia pesan, dari seorang pelayan.
"Jadi, kenapa kau mau cerai? Kok cerita sama aku pulak kau?" Tanya Moan.
"Gak tau aku ya, tadi pas lewat sini, tiba-tiba aja aku ingat kamu. Kebetulan aku lapar juga. Jadi mampir aja. Gak nyangka aja aku, rupanya ini masih punyamu. Karena aku gak ada kawan bicara, ya udahlah.. pas pulak jumpa sama mu di sini. Jujur pening kali aku loh," Terang Risma.
"Kemana rupanya kawan kawanmu?" Tanya Moan.
__ADS_1
"Ya udah nikah semua lah. Gak mungkin jugak aku bisa ngajak ngajak orang-orang itu buat dengar curhatku kan. Tapi ku tengok kamu kan boss di sini. Jadi pasti kamu punyak waktu."
"Tapi sebenarnya.."
"Sedih kali aku Moan.. Aku sama lakik ku kan LDR sekarang. Dia di Jayapura. Aku di Jakarta. Payah ku rasa LDR ini loh." Potong Risma.
"Jayapura? Ngapain jaoh kali dia?" Tanya Moan, yang mulai penasaran.
"Dia kan kerja tambang di sana. Tau kan kamu, tambang yang terkenal itu?" Tanya Risma.
"Oh..." Moan mengangguk paham. Lalu ia melihat penampilan Risma yang terlihat memakai pakaian dan perhiasan yang bisa di bilang tidak murah.
"Terus?" Tanya Moan.
"Iya, awalnya kan tiga bulan sekali dia pulang. Terus enam bulan sekali. Terus, sembilan bulan sekali, sekarang setahun sekali dia pulang. Ya kadang aku juga ke sana. Tapi curiga aku dia punya cewek lagi loh."
"Ya kau selidiki lah." Celetuk Moan.
"Udah loh. Akhirnya aku diam-diam ke Jayapura kan. Nah, ternyata sebenarnya dia libur loh tiga bulan sekali. Kemana dia pulangnya itu? Apa gak naik sasak ku," Ucap Risma yang mulai menangis.
Melihat Risma mulai menangis, Moan pun terlihat mulai panik.
"Eh, jangan nangis lah.. nantik di kira aku pulak yang buat kau nangis..." Ucap Moan seraya melihat ke kanan dan ke kirinya.
"Capek hati aku Moan. Sedih aku. Terus aku cobak kan buka hapenya waktu dia pulang semalam. Ternyata betol, udah ada dia cewek di luar sanan. Geger lah aku kan, mintak cere aku Moan. Gak mau dia cerekan aku. Tapi ngotot aku mau cere aja. Gadak setia-setianya jadi laki-laki pon!" Tangisan Risma semakin kencang, sehingga menarik perhatian dari para pegawai Moan.
Moan pun semakin panik. Niat hati ingin mengambil tisu yang berada di atas meja, untuk Risma. Tanpa sengaja, Moan menyenggol gelas minuman Risma hingga membuat minuman di dalam gelas itu tertumpah dan membasahi dada dan pakaian Risma.
"Aaaahhh...! Dingin Moan..." Pekik Risma.
"Alamak! Maaf ya Ris!" Karena merasa panik, Moan pun beranjak dari duduknya dan tanpa sengaja ia mengusap dada Risma dengan tisu yang ada di tangannya.
"Halomoan Pangaribuannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn....!!!!!!!!!!!"
Seketika dua telinga Moan terasa terangkat keatas, saat mendengar namanya di sebut dengan lantang oleh seseorang dari arah pintu masuk cafe tersebut.
__ADS_1
Sontak saja, Moan dan semua yang berada di dalam cafe tersebut pun menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Mamposss lah aku.." Batin Moan, setelah melihat Butet yang tengah bersiap untuk melemparkan rantang ke arahnya.