
"Ish, pintar kau ya bang, jebak aku kau!" Butet memarahi Moan yang baru saja masuk ke dalam mobil milik Butet.
"Apanya?" Moan pura-pura tidak mengerti apa yang tengah Butet katakan kepada dirinya.
"Biar kau bisa ikot kan? Biar kau bisa teros sama aku?" Tuduh Butet.
Moan menatap Butet dengan seksama, lalu ia tertawa terbahak-bahak.
"Memang," Jawab Moan, dengan raut wajah yang terlihat menyebalkan di mata Butet.
Butet pun mendengus kesal dan lalu membuang pandangannya ke luar jendela.
"Hati-hati bu, pak," Ucap asisten rumah tangga Moan dan Butet.
"Hati-hati ya mak, pak!" Ucap Moana, seraya melambaikan tangannya kepada kedua orangtuanya itu.
"Kau baek-baek di rumah ya boru ku. Jaga dia ya bik.." Pesan Moan kepada Moana dan asisten rumah tangganya.
"Baik pak," Sahut Moana dan asisten rumah tangga tersebut.
Lalu Moan melajukan mobil dan meninggalkan halaman rumahnya.
Di mobil, Butet terus melemparkan pandangannya ke luar jendela. Sedangkan Moan, terus tersenyum penuh kemenangan. Hatinya terus berbunga, karena malam ini ia bisa terus bersama dengan Butet.
"Sampek simpang sanan, kau turun lah. Kemana kek kau bang!"
Moan mengerutkan keningnya dan melirik Butet yang menatap Moan dengan tatapan yang terlihat begitu kesal kepada dirinya.
"Mau kemana aku? Aku gak bawak mobil, gak bawak honda," Ucap Moan.
"Ya, mintak jemput sama kawan kau tu.. siapa namanya? Choky?" Tanya Butet.
"Ish, malas kali aku. Udah lah dek, pasrah aja kau. Anggap aju ini supir mu. Mau kau anggap apapun aku, pasrah aku dek. Yang penting, aku bisa jaga kau," Ucap Moan.
Butet mengerutkan dagunya dan memajukan bibirnya. Ia benar-benar merasa kesal dengan Moan yang terus menerus ingin berada di dekatnya.
Tepat pukul tujuh malam, akhirnya Butet dan Moan sampai di rumah Sri. Sri pun menyambut mereka berdua dengan senyum di wajahnya. Sedangkan Butet terlihat kesal dengan semua orang. Pertama, ia kesal dengan Moan yang merasa menang darinya. Kedua, Butet membenci senyuman Sri, yang seakan sedang menertawakan dirinya.
"Apa kabar bang Moan?" Tanya Sri, dengan ramah.
"Baek aku, Sri. Kabarmu gimana?" Tanya Moan, berbasa basi.
"Alhamdulillah bang, baik." Sahut Sri, seraya kembali tersenyum dan melirik Butet dengan lirikan nakalnya.
__ADS_1
Butet kembali mendengus kesal, karena Sri yang kini sedang menertawakan dirinya.
"Mana bang Dewa?" Tanya Butet, yang berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ada, di dalam." Sahut Sri.
"Bolehnya sama dia kita pigi?" Tanya Butet lagi.
"Dia belum tahu sih, nanti tak kasih tahunya." Jawab Sri.
Tak lama kemudian, terlihat Dewa yang baru saja muncul dari ruang keluarga.
"Eh, apa kabar Moan?" Dewa berjalan ke arah Moan dan lalu menyalami Moan dengan sikapnya yang tak pernah berubah dari dahulu. Dewa tetap menganggap Moan adalah bagian dari keluarganya. Karena kedekatan istrinya dengan Butet yang memang sudah bersahabat, jauh sebelum ia menikahi Sri.
"Baek aku. Kau apa kabar?" Tanya Moan, seraya membalas jabatan tangan Dewa.
"Alhamdulillah, baik." Dewa tersenyum lebar dan lalu ia bergegas menyalami Butet.
"Apa kabar, Tet?" Sapa Dewa.
"Baek bang. Abang apa kabar?" Tanya Butet, berbasa basi.
"Alhamdulillah. Sudah lama gak ketemu ya," Ucap Dewa, seraya beranjak duduk di samping Sri, seolah tidak ada hal yang serius yang sedang terjadi di antara mereka berdua.
Kini senyum meledek beralih ke wajah Butet. Ia merasa puas, bila Sri juga terjebak situasi, sama seperti dirinya. Bahkan, Dewa tidak canggung merangkul pundak Sri, di depan Butet dan Moan. Meskipun kini wajah tak nyaman terlihat jelas di wajah Sri.
"Si bibik mana ya sayang? Kok tidak di sediakan minuman?" Tanya Dewa, kepada Sri yang terlihat malas kepada dirinya.
"Hmmm, begini, sebenarnya kami mau langsung pergi kok, mas." Sahut Sri.
"Pergi?" Dewa terperangah dan lalu menatap Sri dengan seksama.
"I-iya bang, ada kumpul-kumpul reoni kami loh.." Sambung Butet.
"Loh, kok tumben. Biasanya suami-suami di ajak." Celetuk Dewa.
"Ini juga rencananya mau ninggalin si Moan di sini. Biar abang ada kawannya. Ya kan bang Moan?"
Moan menelan saliva nya dan menatap Butet dengan raut wajah yang tak percaya. Sedangkan Butet langsung tersenyum penuh kemenangan.
"Ah, iya betul!" Timpal Sri.
"Ng.. rencananya tadi gak kek gitu loh.." Protes Moan.
__ADS_1
"Udah bang. Lagipulak, ngapain lah kau mau ikot-ikotan sama mamak-mamak. Bagos kau di sini sama bang Dewa, gak ada kawan dia.., ya kan bang Dewa?"
Dewa pun tersenyum kikuk, lalu ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Pun dengan Moan, yang merasa gagal untuk terus berada di samping Butet.
"Udahlah bang, balek nya kami nantik," Ucap Butet.
"Kau di sini aja bang. Kau gali lah informasi dari si Dewa. Biar ada gunanya kau ikot!" Bisik Butet.
Moan menatap Butet yang tersenyum penuh kemenangan.
"Malas lah aku." Balas Moan.
"Besok mau liburan gak kau?" Tanya Butet, dengan memasang wajah yang tampak sedang mengancam.
"I-iya. Aduhh.. ya udahlah." Akhirnya Moan pun pasrah.
"Ha, kami pigi dulu lah ya. Nantik jam sembilan kami balek. Paling sampek sini jam sepuluh. Ok?" Ucap Butet.
Dua lelaki di ruangan itu pun terpaksa mengiyakan ucapan Butet. Lalu dengan berat hati, Moan dan Dewa pun terpaksa melepaskan para istri pergi.
...
Di dalam mobil, Butet dan Sri tertawa terbahak-bahak. Mereka merasa para suami terlihat bodoh di mata mereka, saat di minta tinggal berdua di rumah Sri. Terutama Butet, ia terlihat begitu puas dan lega, karena tidak terus di awasi oleh Moan. Pun dengan Sri, ia merasa bebas pergi tanpa membuat banyak alasan pada Dewa.
"Tak sawang-sawang, koe wis akrab karo si Moan, yo Tet. Kayo ne, sitik maneh wis isok damai," Ucap Sri, seraya mencolek lengan Butet yang sedang mengendarai mobil.
"Cakap apa lah kau Sriiii Sriiii..!" Butet mendengus kesal, seraya melirik Sri dengan tajam.
Sri tertawa terbahak-bahak, melihat ekspresi sahabatnya itu.
"Gosah banyak cakap kau Sri, kau pun udah nyaman kali di rangkul-rangkul manja sama bang Dewa!"
Sri mendadak terdiam dan memasang wajah kesal.
"Hahahahahaha... udah akrab rupanya? Udah gak ada rasa kek mana gitu ya? Udah rindu rawa-rawa kau itu?"
"Opo sih, Tet!" Protes Sri.
"Hahahahaha..! Mampossss lah kau!" Butet terus tertawa geli. Sri yang awalnya kesal, kini ia mulai tersenyum sendiri dan mencubit lengan Butet dengan keras.
"Adohhh..!" Jerit Butet.
"Kowe yo, Tet. Onokk wae!"
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua tertawa cekikikan, mengingat betapa lucunya kisah mereka berdua.
Benci, namun tidak mau kehilangan suami. Itulah Butet dan Sri.