Kost Putri Reunion

Kost Putri Reunion
Aku butuh pelukan


__ADS_3

Suara deru mobil truk pengangkut pasir, mengundang perhatian warga yang sedang berkumpul di musholla. Mereka melongok ke luar musholla lewat jendela musholla. Pasalnya jarang sekali ada truk pengangkut pasir melintasi kampung mereka. Baru saja truk pengangkut pasir lewat, kini muncul lagi truk pengangkut semen dan bata. Mereka pun mulai bertanya-tanya, kemana truk tersebut hendak pergi.


"Tumben ado truk lalu di siko," Ucap seorang ibu yang sedang melongok dari jendela musholla.


"Oh, itu... itu ka pai ka rumah si Halimah," Jawab bundo Niar, yang baru saja selesai memimpin pengajian ibu-ibu di Desa itu.


"Oh, ka di bangun baliak rumah si Halimah?" Tanya ibu itu lagi.


"Iyo. Si Batra nan ka mambangun," Jawab bundo Niar.


"Banyak pitih minantu si Halimah ruponyo? Salamo ko kecek si Halimah, minantu nyo tu dak do pitih, alias miskin."


"Hus! Indak elok awak mangecek mode tu doh!" Tegur bundo Niar.


Ibu itu langsung terdiam. Selama ini orang di kampung itu termakan omongan bundo Halimah, bila menantunya tidak ada uang atau miskin. Pilihan Batra untuk membangun kembali rumah keluarga Siti yang terbakar, otomatis membuat semua orang terkejut. Pasalnya membangun rumah itu sangat membutuhkan uang yang banyak dan kata 'miskin' dari Halimah, kini tidak lah terbukti.


"Doakan sajo, semoga rumah mereka capek selesai. Jadi, Halimah bisa baliak tingga di sinan." Sambung bundo Niar.


.


Batra berdiri di depan puing-puing rumah milik mertuanya, seraya memperhatikan para pekerja yang sedang menyingkirkan puing-puing bekas kebakaran rumah keluarga Siti. Deru mesin truk mengalihkan pandangannya dan menatap truk yang berjalan mendekat tersebut dengan sorot mata yang terlihat penuh harapan.


"Akhirnya datang juga," Batin Batra, seraya tersenyum puas.


Pengemudi truk tersebut pun turun, setelah memarkirkan truk nya. Lalu ia turun menghampiri Batra yang sedang tersenyum kepada dirinya.


"Uda Batra?" Tanya supir truk tersebut.


"Iya, saya," Sahut Batra.


"Iko ka di latakan dima?" Tanya pengemudi truk tersebut.


"Di sana saja, da." Jawab Batra, seraya menunjuk lahan kosong yang merupakan masih bagian dari tanah keluarga Siti.


"Oh, siap," Sahut pengemudi truk tersebut. Lalu ia memerintahkan beberapa anak buahnya, untuk menurunkan muatannya.


Seorang Mandor bangunan pun menghampiri Batra yang sedang menandatangani surat terima dari toko bangunan di mana ia membeli bahan bangunan.


"Da," Panggil Mandor tersebut.


Batra menoleh dan menatap Mandor yang sedang memegang sebuah gulungan kertas panjang di tangannya.


"Ya," Sahut Batra.

__ADS_1


"Iko sudah fix yo, da. Jadi, di bangun sesuai dengan denah nan ado di gambar iko yo, da," Ucap Mandor itu.


"Iya, da," Sahut Batra, seraya tersenyum.


Setelah selesai menandatangani surat penerimaan bahan bangunan, Batra pun kembali tersenyum. Ia begitu puas saat melihat tumpukan pasir, semen dan batu bata yang kini mulai berjejer di lahan kosong, tepat di samping puing rumah yang baru saja di singkirkan.


"Alhamdulillah... Akhirnya datang juga. Semoga bundo dan Siti suka sama rumahnya nanti." Batin Batra.


Diam-diam, Batra menggambar design rumah yang selama ini di impikan oleh Siti. Walaupun saat ini Batra belum bisa membeli rumah seperti yang Siti idam-idamkan, setidaknya Batra berusaha membangunkan rumah untuk Siti, walaupun itu di tanah keluarga Siti.


Cukup lama Batra berada di sana. Hingga sore hari menjelang, akhirnya ia pun pulang ke rumah kontrakan yang sengaja ia kontrak untuk dirinya dan keluarganya. Sesampainya ia di rumah kontrakan nya, adzan Maghrib baru saja berkumandang. Lalu ia beranjak untuk mandi dan menunaikan sholat Maghrib.


Sedangkan Siti masih berada di rumah sakit, untuk menjaga bundo Halimah yang kini sudah mulai membaik. Walaupun lelah, Siti masih saja mengurus ibunya setelah ia mengurus dan mengantar kedua anaknya ke rumah salah satu keluarga dekatnya.


"Anak-anak biar bersamaku saja," Ucap Batra, seraya menatap Siti yang tampak kelelahan saat pulang ke rumah, setelah seharian menjaga ibunya di rumah sakit.


"Jangan lah da, uda kan sedang mengurus rumah. Di sana banyak puing dan paku. Nanti anak-anak di luar pengawasan uda, takutnya terjadi apa-apa. Jadi, biar aku bawa saja ke rumah sakit," Jawab Siti.


"Tapi kamu menjaga bundo yang sakit. Pasti kamu lelah seperti ini dan kerepotan," Ucap Batra.


Siti terdiam. Ia teringat betapa rewelnya si bungsu, saat di rumah sakit. Hal itu tentu saja membuat beberapa pasien merasa terganggu dengan tangisan anaknya.


"Ya sudah, nanti aku titipkan saja sama tek Liza," Ucap Siti.


"Minta tolong, da. Kan beberapa hari lagi bundo akan pulang."


Batra mengangguk paham. Lalu ia mengusap punggunh Siti dengan lembut.


"Ya sudah, nanti kita berikan tek Liza uang, untuk jajan anak-anak dan juga belanjanya," Ucap Batra.


Siti tersenyum puas. Lalu ia menatap Batra dengan seksama.


"Terima kasih ya da,"


"Sama-sama. Sekarang kamu aku pijetin ya... biar tidurnya enak."


"Gak usah da, uda juga capek membantu para pekerja. Jadi lebih baik kita tidur saja," Jawab Siti.


"Gak apa, aku gak capek. Sini aku pijetin," Batra berusaha meyakinkan Siti.


Siti tersenyum sendiri, saat mengingat betapa perhatiannya Batra kepada dirinya. Rasa syukur tidak pernah putus dari hati dan lisan Siti, karena Allah sudah memberinya lelaki yang begitu baik dan setia kepadanya.


"Ya Allah. Semoga suamiku panjang umur, segat selalu, di berikan banyak rezeki atas segala kebaikan dan keikhlasannya. Aamiin," Batin Siti.

__ADS_1


Melihat Siti yang tersenyum sendiri, membuat bundo Halimah bertanya-tanya. Ia pun menyentuh lengan Siti yang tampak sedang termenung seraya tersenyum sendiri.


"Manga kau?" Tanya Bundo Halimah.


Siti terperanjat dan menatap ibunya dengan seksama.


"Tidak apa-apa, bun," Sahut Siti.


"Sanang bana nampak den,"


"Enggak kok," Jawab Siti, seraya membetulkan selimut Halimah yang tersingkap di bagian kakinya.


"Dima lakik jo anak kau?" Tanya bundo Halimah.


"Anak-anak ado jo tek Liza. Uda Batra sadang ado urusan." Jawab Siti.


Halimah pun tertawa kecil, lalu dengan raut wajah tak sukanya ia mencoba untuk kembali merendahkan menantunya.


"Ado urusan apo nyo? Bantuak urang penting sajo! Bukan nyo merawat anak-anak, anak-anak malah di titipkan ke si Liza," Ucap bundo Halimah dengan nada sinisnya.


"Astaghfirullah, bun. Kenap sih, bundo selalu indak suko jo suami ambo?" Tanya Siti.


"Gak akan den suko jo lakik kau tu! Gak berguna! Gak bisa di andalkan!"


"Astaghfirullah bundo... ngucap bun... Apo bundo pikir uda Fadly bisa bundo andalkan? Sedangkan inyo anak bundo juo? Apo inyo peduli mancaliak amak nyo sakik?"


Pertanyaan Siti membuat bundo Halimah merasa tersinggung dan marah. Ia pun melotot kepada Siti yang terlihat sedang berusaha mengendalikan emosinya.


"Ingek bun, uda Batra itu anak bundo juo! Minantu itu anak bagi mintuo nyo! Ibu nyo uda Batra se elok jo Siti. Tapi tibo di amak Siti, indak pernah elok jo uda Batra. Jadi urang, jan sombong bana, bun. Beko bundo malu!" Sambung Siti.


Siti memang belum memberitahukan kepada Halimah, bila Batra sedang membangun kembali rumah mereka. Niat hati Batra dan Siti adalah, mereka ingin memberikan kejutan kepada Halimah. Karena tidak tahu apa-apa, bundo Halimah masih di dalam kesombongannya.


"Elok-elok kau mengecek! Aden ibu kau! Aden nan mengandung kau! Hanya demi laki-laki gak berguna itu kau mode tu jo amak kau! Anak durhako kau!" Ucap bundo Halimah dengan raut wajah yang tampak begitu marah.


"Naudzubillah.. bundo!" Siti hampir saja meneteskan air matanya, kala mendengar ucapan bundo Halimah kepadanya.


"Pulang lah kau lagi! Aden indak butuh kau di siko!" Ucap bundo Halimah dengan lantang.


Siti yang terpengaruh emosi pun beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan tersebut. Siti berlari seraya menyeka air matanya yang terjatuh. Ia tampak begitu kecewa dengan ucapan bundo Halimah yang terlalu menyakitkan baginya.


"Ya Allah... Astaghfirullahalazim..."


Siti terus berusaha memadamkan amarahnya, hingga sebuah taksi berhenti tepat di depannya. Siti pun menyetop taksi tersebut untuk mengantarkan dirinya pulang dan bertemu dengan Batra. Ya, hanta Batra yang mampu membuat dirinya kembali berpikir positif terhadap ibu kandungnya. Batra lah yang selalu berusaha menyabarkan dan menyemangatkan Siti, atas segala perlakuan buruk bundo Halimah kepada dirinya dan suaminya.

__ADS_1


"Uda... aku butuh pelukan, uda..." Batin Siti, yang terus menangis di dalam taksi yang kini bergerak meninggalkan halaman rumah sakit tersebut.


__ADS_2