
Sri menyilang tanggal hari ini dengan spidol berwarna merah di kalender. Lalu ia menaruh spidol itu kembali di atas meja. Sri menghela napas panjang, lalu menundukkan wajahnya dalam-dalam. Empat hari lagi hasil test DNA Dewa dan Kimberly akan keluar. Menunggu hasil tersebut, bagaikan menunggu hukuman mati, bagi Sri. Sri beranjak dari duduknya dan berjalan mondar mandir di tangannya.
Sampai hari ini Kimberly masih di rawat di rumah sakit, dan saat ini juga Dewa masih kerap bergilir menunggu Kimberly di rumah sakit, saat Dewa pulang dari kantornya. Sri tidak tahu bagaimana hubungan Dewa dengan Grazia saat ini. Berbagai pikiran negatif mulai menyerangnya. Apakah Dewa semakin dekat dengan Grazia? Apakah demi anak (Kimberly) Dewa akan melanjutkan pernikahannya dengan Grazia? Apakah... apakah.. dan apakah, semua pertanyaan itu terus berkecamuk dalam diri Sri.
Dreettt...!
Dreettt..!
Tiba-tiba saja ponsel Sri berbunyi. Sri terperanjat dan langsung meraih ponselnya yang berada di atas meja nakas. Terlihat notifikasi pesan dari Dewa. Sri pun segera membacanya.
"Sayang, pulang kerja nanti aku singgah dulu di rumah sakit ya. Gak usah nunggu aku. Kalau mengantuk, tidur duluan saja. Aku akan pulang larut malam."
Begitulah bunti pesan dari Dewa.
Sri hanya mampu menghela napas panjang dan membalas pesan tersebut dengan berat hati.
"Baik lah mas. Jangan lupa makan." Balas Sri.
Sri yang merasa bosan pun metasa ingin memiliki teman pada malam ini. Namun ia tidak banyak memiliki teman dekat, kecuali Butet, Cempaka dan Siti. Namun Siti sudah tidak berdomisili di Jakarta, sedangkan Cempaka sudah sibuk dengan dunianya sendiri, sebagai seorang istri dari tiga orang anak. Hanya Butet lah yang bisa ia ganggu kapan pun saat ia butuhkan.
Sri pun mencoba menghubungi Butet. Benar saja, Butet langsung menerima panggilan darinya.
"Halo!" Sapa Butet.
"Astaghfirullah, pelankan suaramu wahai Butet!" Seru Sri.
"Hahahahahhaha..! Maaf maaf. kek gini lah orang Batak, wahai saudaraku yang berasal dari Yogyakarta!" Ucap Butet.
Sri tertawa dan mulai mengutarakan keinginannya untuk bertemu dengan Butet.
"Koe di mana Tet?"
"Rumah, kenapa?" Sahut Butet.
"Gak apa. Gimana si Moana di hari pertama sekolah nya?" Tanya Sri.
"Ish! Itulah yang mau aku ceritakan Sri..! Malu kali aku!"
"Onok opo?"
"Kita ketemuan aja kalok gitu. Ayok! semangat kali aku! Anak ku buat malu!" Ucap Butet dengan berapi-api.
"Ayok. Tapi... dimana?" Tanya Sri.
"Ish, aku tiba-tiba pengen kali makan ketan susu."
Sri membulatkan kedua matanya. Sudah lama sekali ia tidak makan ketan susu. Tiba-tiba saja air liurnya terasa menetes di sela bibirnya.
"Mantap itu!" Ucap Sri dengan bersemangat.
"Gas kan lah! Anak kau udah tidor?" Tanya Butet.
"Sudah. Anakmu?"
"Udah dari tadi." Jawab Butet.
"Ok lah kalau begitu. Aku jemput ya Tet."
"Ok!"
Dan percakapan itu pun berakhir.
"Ketan susu! Ketan susu!" Seru Sri, seraya meraih kunci mobilnya.
Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, Sri pun sudah berada di depan rumah Butet. Sedangkan Butet sudah berdiri di depan pagar rumahnya untuk menunggu Sri.
Sri menghentikan laju mobilnya dan menurunkan kaca mobilnya dan menatap Butet dengan seksama.
"Kok nunggu di luar toh Tet?" Tanya Sri.
"Bingung aku tah mau ngapain di dalam." Keluh Butet, seraya membuka pintu mobil Sri dan beranjak masuk ke dalam mobil tersebut.
Sri memandang pakaian Butet dan lalu menatap sahabatnya itu.
__ADS_1
"Koe yakin mau begini keluar?" Tanya Sri.
Butet mengerutkan keningnya dan memandangi pakaiannya.
"Kenapa rupanya? Malas aku ganti pakean!" Ucap Butet.
"Tet, ini malam loh, koe pake hot panta begitu. Nanti di tawar gadun loh!" Celetuk Sri.
"Kalok di tawar, ku makan dia! Jalan cepat!"
Sri hanya menghela napas dan langsung melajukan mobilnya.
"Tah kenapa, malas kali aku dandan sekarang. Kalok kata Moana, malah aneh aku sekarang kalau bermakeup!" Jelas Butet. Lalu ia menatap Sri yang sedang fokus dengan kemudinya.
"Eh, kau kok tumben kalai cuma pakek daster, gak makeup jugak nya kau!" Ucap Butet.
Sri pun mengerem mendadak. Lalu ia melihat pakaiannya dan lalu melihat wajahnya lewat spion mobilnya.
"Astaga! Ini gara-gara koe Tet!"
"Kok aku pulak!"
"Iyo! Gara-gara koe bilang makan ketan susu, aku wes gak miker mau dandan atau ganti baju!"
"Halaahh.. bilang aja kau malas, sama kek aku!" Celetuk Butet.
Sri menghela napas panjang dan kembali melajukan mobilnya.
"Ntah lah Tet, akhir-akhir ini aku yo mualeeeessss banget. Apa karena menunggu test DNA itu yo Tet?"
"Mungkin," Sahut Butet.
"Lah, kamu sendiri, knopo kok males malesan?" Tanya Sri.
"Ngapain aku cantek-cantek? Buat siapa? Lakik pun gak mau pulang. Ah..! Mati lah situ! Capek aku!" Jawab Butet.
"Iyo yo, enak simple aja gini," Ucap Sri.
"Wah Tet! Masih sama yo, ruameeeee..!" Seru Sri.
"Ho oh." Sahut Butet, seraya beranjak turun dari mobil Sri.
Mereka berdua pun memesan ketan susu dan duduk di lesehan yang tersedia di samping warung tersebut.
"Jadi ingat aku, kita makan berempat di sini sama si Cempaka dan Siti," Ucap Butet, seraya mengenang masa-masa indah mereka saat masih kuliah.
"Iyo. Eh, telepon si Cempaka yuk! Barangkali dia bisa datang. Kan rumahnya dekat dari sini."
Butet mematap Sri dengan tatapan tak percaya.
"Knopo koe ndelok aku begitu Tet?"
"Cempaka kau harapkan ke sini? Lagi kelonan dia sama laliknya!" Ucap Butet.
Sei tertawa kecil dan mengingat sosok Cempaka yang begitu polos.
"Dulu jaman kuliah, kalau gak ada Cempaka, kayaknya ada yang kurang yo. Polos nya dia itu loh.. hahahahaha! Kadang aku sakit perut kalau lihat dia ngomong Tet." Kenang Sri.
"Iya. Tah paok tah apa anak itu. Tapi syukur kali dia nikah sama bang Rozi!"
"Iya." Timpal Sri.
"Tapi, mungkin dia mau atau di izinkan kali, kalau kita ajak ke sini. Bilang aja minta anterin bang Rozi. sekali-kali ya kan?"
Butet terdiam, lalu ia berpikir mungkin saja Cempaka akan di izinkan Rozi untuk bertemu di warung ketan susu itu.
"Ok lah. Aku telepon dulu ya."
"Ok." Sahut Sri.
Butet langsung meraih ponselnya dan menghubungi Cempaka.
"Halo!"
__ADS_1
"Halo, assalamu'alaikum Tet." Sahut Cempaka dari seberang sana.
"Waalaikumsalam. Lagi ngapain kau?" Tanya Butet.
"Habis ngelonin anak-anak atuh Tet." Jawab Cempaka.
"Jadi sekarang giliran bapaknya anak-anak lah ya. Huakakakaka...!"
Semua orang yang berada di warung tersebut pun melirik Butet dan Sri, karena suara Butet yang terdengar kencang sekali.
"Hust! Tet, alon-alon..!" Bisik Sri, yang mulai merasa malu, karena mereka menjadi pusat perhatian sekitarnya.
Butet menutup mulutnya dan menyapukan pandangan nya ke sekeliling. Lalu Butet mengangguk sungkan kepada setiap orang yang beradu pandang dengan dirinya.
"Ada apa atuh Tet?" Tanya Cempaka.
"Kami ada di warung ketan langganan kita dulu. Bisa kau kesini?" Tanya Butet.
"Hmmm.. sebentar, warung ketan yang di depan itu?" Tanya Cempaka.
"Iya, mau yang di mana lagi? Kau pun ada aja!"
"Hehehe, saya teh hanya memastikan atuh."
"Ya udah, bisa gak kau kesini? Cerita-cerita kita!"
"Saya tanya dulu sama a' Rozi ya Tet."
"Iya lah, masok neraka kau kalok gak izin sama suamimu."
"Hahahaha, kamu teh bisa saja Tet. Ok, nanti kalau bisa saya susul ya. Kalau tidak bisa teh, pasti saya kabarin Tet."
"Ok." Sahut Butet.
"Soleha kali dia bah!" Celetuk Butet, saat ia baru saja mengakhiri percakapan nya dengan Cempaka.
Sri hanya tertawa kecil dan menerima ketan susu pesanannya yang baru saja di antarkan oleh sang penjual.
"Ngomong-ngomong, gimana Moana?" Tanya Sri.
"Ish... malu kali aku!" Butet pun mulai menceritakan kejadian di sekolah pada hari ini.
Sri pun terkekeh dan tampak puas sekali menertawakan Butet, karena kelakuan Moana.
"Wis tak kandani koe Teeeettt Teeettt.. Makanya, jangan bertengkar di depan anak!"
"Iya, ajab kali aku di buatnya." Sesal Butet.
Ting!
"Sebentar, mungkin ini pesan dari Cempaka," Ucap Butet, seraya mengambil ponselnya dari dalam tasnya.
"Betol kan, dari dia!" Seru Butet, seraya mulai membaca pesan dari Cempaka.
"Apa katanya?" Tanya Sri.
"Nah kau baca lah sendiri. Udah gaul dia wee..!" Seloroh Butet, seraya memberikan ponselnya kepada Sri.
Sri pun mulai membaca pesan dari Cempaka.
"Girls, saya teh lagi OTW."
Begitulah bunyi pesan dari Cempaka.
"Buahahahahahaha...!" Sontak saja Sri tertawa hingga perutnya terasa kaku.
"Gilrs.. !" Ucap Sri, dengan mimik wajah yang terlihat konyol.
"Hahahaha! Makin tua makin lucu ku tengok si Cempaka!" Seru Butet.
"Hahahahaha..!"
Mereka tertawa tah henti-hentinya hanya karena pesan dari Cempaka yang terlihat konyol bagi Sri dan Butet.
__ADS_1