
"Capek kali, tapi senang kali aku, mak, pak," Ucap Moana, saat Moana, Butet, dan Moan baru saja sampai di vila, setelah mereka seharian jalan-jalan di kebun teh dan juga berwisata kuliner di daerah puncak.
"Syukurlah nang, kalau kau senang," Ucap Butet, seraya membuka pintu vila mereka.
pintu vila pun terbuka, mereka bertiga masuk dan duduk di ruang tamu vila untuk melepas penat setelah seharian mereka berwisata. Moan menyenderkan punggung nya di sandaran sofa, sedangkan Moana merebahkan tubuhnya di sofa dan kepalanya berbantalkan paha Moan. Dan Butet sendiri, duduk di depan Moan dan Moana.
Butet terus menatap bapak dan anak itu dengan tatapan yang begitu bahagia. Pasalnya kebahagiaan Moana adalah kebahagiaan nya setelah ia menjadi seorang ibu. Butet menyadari bila dirinya cukup egois selama ini. Seolah ia seperti tidak memikirkan kebahagiaan putrinya sendiri. Namun tidak ada satupun wanita yang tidak emosi, saat menemukan aplikasi dan bukti perselingkuhan di ponsel suaminya.
Amarah Butet bukan semerta dirinya egois atau tidak mau mencari kebenaran terlebih dahulu. Setiap wanita punya caranya sendiri untuk memanage emosinya. Bila hanya masalah ringan, mungkin Butet tidak semarah ini pada Moan. Namun pasalnya seluruh bukti mengarah pada Moan dan itu bukanlah masalah ringan bagi Butet. Memesan wanita malam, bukanlah hal yang baik.
Berbeda kasus dengan Sri, Sri hanya mendapatkan suaminya dengan satu wanita yang mungkin cukup terjaga kesehatannya. Namun ini adalah wanita malam. Selain penghianatan, Butet merasa takut bila Moan seperti kebanyakan lelaki yang tidak memikirkan kesehatan istrinya. Bila sudah terkena penyakit menular, maka seluruhnya akan menjadi korban suami yang tidak dapat menahan nafsu di luar sana.
Namun saat ini emosi Butet sudah banyak mereda. Ia mulai menaruh kepercayaan pada Moan yang selalu gigih untuk meyakinkan Butet. Walaupun belum seratus persen dirinya percaya, namun Butet dan Moan sepakat untuk mencari fakta, atau mencari kebenarannya setelah liburan mereka selesai. Logikanya, lelaki bersalah akan selalu menghindar saat membahas kesalahannya. Namun tidak dengan Moan, ia terus membahas dan meyakinkan Butet bila dirinya tidak bersalah. Dan satu lagi, Moan mau membantu Butet untuk mencari fakta, bila dirinya tidak bersalah. Hal itulah yang membuat Butet mulai kembali menaruh kepercayaan pada Moan.
"Pipis lah aku, sekalian aju mau cuci mukak," Ucap Moana, seraya beranjak dari sofa dan bergegas menuju ke kamar mandi.
"Ya, sana. bersih-bersih lah kau," Ucap Butet, seraya tersenyum menatap Moana yang sedang berjalan meninggalkan ruang tamu.
Butet meraih ponselnya. Karena seharian ia belum membuka media sosialnya. Maksud hati dirinya ingin membagikan postingan tentang liburan keluarganya. Walaupun dalam **posting**an tersebut tidak ada satupun foto Moan di ikut sertakan.
Setelah membagikan postingannya dengan sang buah hati, Butet pun langsung mendapatkan komentar dari Nella, mantan teman kuliahnya. Mereka pun berbalas komentar dengan candaan-candaan segar, yang biasa mereka lontarkan saat mereka bertemu. Butet pun tertawa sendiri, saat mengetik komentar balasan untuk Nella.
"Kok senyum-senyum kau dek. Chat sama siapa kau?" Tanya Moan.
Butet menatap Moan sejenak, lalu ia kembali menatap ponselnya.
"Sama Nella." Sahut Butet.
"Nella? Oh, kawan kau itu? Yang mana sih orangnya?" Tanya Moan, seraya berpindah duduk ke samping Butet.
"Ngapain kau pindah? Kau kan bisa liat di medsos ku!" Ucap Butet seraya melirik Moan yang kini duduk di sampingnya.
"Ngedrop hape aku dek. Kau tau sendiri, dari tadi siang kau mintak foto teross sama si Moana. Hape aku jadi korban, belom kau mintak kirim fotonya," Keluh Moan.
Butet menghela napas panjang dan menatap Moan dengan tatapan sebal.
"Yang mana orangnya. Cok tengok aku," Pinta Moan.
Butet pun bergegas untuk membuka profil media sosial milik Nella. Lalu ia memberikan ponselnya pada Moan.
"Nah, kau tengok sendiri," Ucap Butet.
Moan pun meraih ponsel Butet dan melihat foto Nella.
"Oh... dia.. Ya.. ya.. ya.. ingat aku. Kawan kau yang di semester akhir ya?" Tanya Moan.
"Iya. Kawen sama orang Batak juga dia. Tapi aku gak pernah nengok lakiknya. Gak pernah dia post di medsos. Sibuk ngaku janda aja ku tengok," Ucap Butet.
__ADS_1
"Gak bekawan mungken dia sama lakiknya di medsos," Ucap Moan.
"Gak tau lah aku bang. Status-statusnta pun kek janda kesepian ku tengok. Mungken jugak dia lagi ada masalah sama lakiknya." Terang Butet.
"Tapi kek nya aku pernah liat dia ini." Celetuk Moan.
"Ya, tadi kan udah kau bilang. Kau bilang kau nengok dia di kampus waktu kita kuliah dulu," Ucap Butet.
"Bukan loh..., kek nya ada aku nengok dia, tapi di mana ya.." Moan tampak berpikir keras, mencoba merecall kembali ingatannya.
"Sebentar," Ucap Moan, seraya beranjak dari duduknya dan mencari charger untuk mengisi daya ponselnya.
"Kenapa kau bang?" Tanya Butet.
"Gak, aku mau isi batre hape ku dulu. Ada, aku pernah nengok dia. Makanya aku mau nengok di medsosku. Kek nya dia itu binik salah satu kawanku," Ucap Moan.
"Yang betol kau bang. Kau perhatikan kali binik kawanmu itu?" Tanya Butet.
"Bukan kek gitu loh... Justru tumben-tumbennya kawanku post biniknya itu. Padahal di medsos kami, cuma aku lah yang paling rajen post mukak binik ku," Ucap Moan.
"Gaya kau lagi bang.. bang.., kenapa gak kek kawan-kawan mu aja kau bang? Biar di kira bujangan aja teross," Sindir Butet.
"Jadi salah lagi aku? Gak ku posting nantik salah lagi. Aku posting salah pulak. Tah apa mau perempuan ini lah," Keluh Moan.
"Aku kan cuma nanyak!" Ucap Butet yang mulai terlihat kesal.
"Kenapa rupanya?" Butet pun menatap Moan dengan seksama.
"Ha, kau dengar ini ya Butet, istriku yang cantek. Aku itu banyak yang dekati. Kalok aku gak pernah posting mukak binik ku, nantik orang kira aku bujangan tampan."
"Iiihhh, gaya kau lagi Moan!" Ucap Butet, seraya tersenyum geli dan menjambak rambut Moan.
Moan pun tertawa dan kembali menatap Butet dengan seksama.
"Ada satu lagi alasanku," Ucap Moan.
"Apa?" Tanya Butet penasaran.
"Karena aku punya binik cantek. Makanya aku posting mukak kau di medsos. Kalau kau jelek, malas aku posting," Seloroh Moan.
"Mulut kau lagi..!" Butet tersenyum malu-malu. Pun dengan Moan yang ikut tertawa seraya terus menatap Butet dengan tatapan yang sangat mengagumi istrinya tersebut.
"Udah idop nya hapemu. Cepat kau tengok bang!" Pinta Butet, seraya menunjuk ponsel Moan.
"Iya." Sahut Moan, seraya meraih ponselnya dan membuka media sosialnya.
Sementara Moan berselancar di media sosialnya, Butet pun beranjak menyusul Moana yang sedang berganti pakaian.
__ADS_1
Selang beberapa saat kemudian, Butet pun muncul bersama dengan Moana yang sudah memakai pakaian tidur. Moana tampak kelelahan dan ingin berpamitan untuk tidur kepada Moan.
"Pak, aku tidor dulu ya," Ucap Moana.
Moan menatap Moana dan menaruh ponselnya di atas meja.
"Iya nang. Kau ciom dulu bapakmu," Pinta Moan.
Moana pun beranjak mendekati Moan dan lalu memeluk serta mencium Moan dengan penuh kasih sayang. Pun dengan Moan yang membalas pelukan dan ciuman dari putri semata wayangnya itu.
"Selamat tidur ya nang. Istirahat, besok kita pulang," Ucap Moan.
"Iya pak," Sahut Moana, seraya beranjak meninggalkan ruang tamu, menuju ke kamarnya. Sementara Butet ikut mengantarkan Moana ke kamarnya dan Moan kembali berselancar di media sosialnya, untuk membunuh rasa penasarannya tentang teman Butet yang seperti pernah ia lihat di salah satu postingan temannya.
"Mau ku kawanin kau nang?" Tanya Butet.
"Gak usah lah mak. Aku udah besar. Mamak sana aja, sama bapak. Kasian bapak sendirian," Ucap Moana, yang kini sudah berbaring di atas ranjang.
"Tumben kali kau gak mintak aku kawani?" Tanya Butet, seraya mengerutkan keningnya.
"Mak,"
"Apa?"
"Aku mau nanyak dulu mak," Ucap Moana.
"Nanyak apa kau?"
"Kawan-kawan ku banyak yang udah punyak adek. Ada jugak yang perot mamaknya besar kali. Yang mau aku tanyak sama mamak, kek mana bisa orang tu punyak adek mak? Kok bisa adek nya masok dalam perot mamaknya?" Tanya Moana dengan memasang wajah yang tampak begitu serius.
"Mampos aku!" Batin Butet.
"Jawab lah. Dari semalam penasaran kali aku. Kok mamak gak mau belik adek? Apa mamak takot perot mamak buncet kek mamaknya kawan-kawan aku?" Desak Moana.
"Ng.... kek mana mamak mau jelasinnya sama kau ya nang. Hmmm.. jadi kek gini, masalah adek itu, masalah rejeki. Nah, karena mamak kawanmu mau punya anak lagi. Jadi rajin-rajin dia berdoa. Teros, doanya di kabulkan Tuhan. Nah, pas mamaknya tidor, mimpi dia, Tuhan masokkan adek dalam perotnya. Makin lama, makin besar adek dalam perot. Sampek dia lahir. kek gitu ceritanya," Terang Butet.
"Ooo.. sekarang aku tau kenapa mamak gak punyak-punyak anak lagi," Celetuk Moana.
"Kenapa rupanya?" Tanya Butet, seraya menatap Moana dengan seksama.
"Pertama mamak ribot teross sama bapak. Jadi mamak gak di kasih rejeki. Kedua, mamak pelit kali, gak mau kasi aku adek. Jadi mamak gak mau berdoa minta adek," Ucap Moana, dengan kepolosan nya, tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Omakjanggg... tajam kali muncong mu itu ya Moana!" Ucap Butet, dengan wajah yang memerah.
"Teros, apa lagi?" Tanya Moana.
"Dahlah! Tidor kau!" Butet terlihat kesal, lalu ia beranjak keluar dari kamar Moana.
__ADS_1
"Kok marah pulak mamak? Kan betol nya apa yang aku bilang," Batin Moana.